Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Pria Legendaris Berkaki Cacat oleh Ranang Aji SP

Posted on Sab, 15 Feb 2025

Langit di atas kantor militer di Jakarta diselimuti awan mendung saat Kusni Kasdut berdiri antre bersama para pria lain dengan harapan baru yang lebih kuat. Tangannya mencengkeram surat rekomendasinya. Selama empat tahun ia telah berjuang untuk kemerdekaan. Selama itu ia merasa punya arti mengingat masa kecilnya yang suram.

Ia tidak saja berjuang untuk negara barunya, tetapi juga dirinya sendiri. Bergabung dalam milisi yang terdiri dari para begundal, perampok, dan orang-orang yang melihat dunia sebagai penjara, ia mengotori tubuhnya dengan darah dan kematian demi kemerdekaan bangsanya. Dalam sebuah pertempuran, kakinya terluka dan cacat seumur hidup oleh peluru. Oleh karena itu, ia berharap republik yang baru berdiri akan memberikannya pengakuan sebagai seorang tentara.

Kakinya melangkah maju dengan sedikit pincang. Petugas di belakang meja itu hampir tidak mendongakkan kepalanya.

”Nama?”

”Kusni. Kusni Kasdut.”

Petugas itu membolak-balik daftar, mengerutkan kening, lalu matanya melihat kakinya yang pincang. Kemudian, matanya menatap Kusni seakan-akan ia adalah sesuatu yang nista seperti kentut yang segera akan tertiup angin.

”Tidak ada tempat untukmu.”

Kata-kata itu menusuknya. ”Tapi, saya berjuang untuk Indonesia. Saya…”

”Kau adalah seorang gerilyawan. Itu berbeda. Kakimu cacat. Tentara dengan kaki seperti itu tidak akan berguna.”

Orang-orang sepertimu. Kata-kata itu seolah menancap persis di hatinya, menghina rasa keadilannya. Suara kata-kata itu seperti mata bor yang berputar, semakin lama semakin merusak suasana hatinya. Otak di kepalanya seolah mengecil dan menghilang dalam gema kata-kata itu. Tinta pada kertas proklamasi baru saja mengering, tapi bahkan sudah ada orang-orang seperti dirinya dan orang-orang yang bertempur dalam bayang-bayang kematian, yang telah mencabik-cabik musuh mereka dengan pisau berkarat ketika peluru habis, disingkirkan.

Petugas itu mengibaskan tangannya dan memanggil nama berikutnya. Kusni Kasdut tertegun sejenak sebelum kemudian seorang anak muda menggesernya. Dengan berat hati, ia kemudian berjalan ke jalan, tangannya terkepal. Berdiri di jalan dengan wajah mengeras sembari tangannya meremas-remas surat rekomendasinya hingga langit menurunkan hujan. Dengan gerakan yang masygul, ia membuang kertas di selokan hingga air melenyapkan tintanya sekaligus kertasnya.

(++)

Saat itu, ia pernah percaya pada masa depan. Ketika berusia sembilan belas tahun, saat berbaring di hutan dengan senapan di dadanya, dan membayangkan dirinya berbaris menuju Jakarta, sebagai pahlawan dalam sebuah peperangan. Bersama rekan-rekannya berjalan ke kota dengan angin di belakang mereka, dengan jalan-jalan dipenuhi oleh orang-orang yang mengalungkan karangan bunga dan melemparkan bunga ke kaki mereka.

Namun, bahkan negara baru yang diperjuangkannya tidak mengingatnya. Seperti orang tua yang kehilangan ingatan, seperti anak durhaka yang mengusir ibunya. Hutan telah meludahkannya, menghapus jejak sejarahnya yang terancam kematian. Mereka telah melupakan bagaimana ia berjuang untuk kemerdekaan, tetapi kini, kemerdekaan itu tidak memberinya tempat baginya. Kemerdekaan, pikirnya. Semua itu membuatnya tertawa, tapi itu bukan komedi –itu adalah ironi yang tragis baginya.

Dalam beberapa waktu, ia menghabiskan bulan-bulan pertamanya di Jakarta dengan berpindah-pindah dari satu pekerjaan kasar ke pekerjaan kasar lainnya. Menjadi kuli angkut di dermaga. Menjadi penjaga malam di sebuah gudang. Menjadi sopir seorang pengusaha yang tidak pernah ingat namanya. Hingga kemudian, di suatu malam, dengan perut kosong dan kantong melompong yang hanya berisi angin, ia berdiri di depan sebuah toko perhiasan kecil dan melihat bayangannya sendiri di kaca. Matanya menatap lurus. Rasanya ia tidak terlihat seperti seorang pahlawan seperti seharusnya. Ia hanya terlihat seperti pria malang yang telah dilupakan dunia.

++

Namun, hidup dengan membawa kecewa adalah masalah. Dan masalah hidup selalu menjadi berlipat-lipat. Lalu, ia sadar hidup adalah medan perang yang lebih mengerikan bagi orang-orang tanpa kemerdekaan seperti dirinya. Setidaknya itu yang dia rasakan ketika hidup di masa kemerdekaan sebagai bangsa. Bertahun-tahun ia berjuang untuk bangsanya, tetapi tak mampu menikmatinya. Sepanjang hidupnya ia telah belajar cara bertahan dan bertempur. Namun, semua yang dihadapinya saat ini adalah perang terbuka yang tak terlihat. Semua itu bisa membunuhnya kapan saja.

Jadi, pertama kali ia mencuri, itu terjadi mungkin hanya karena takdir sedang membuka pintunya. Seorang pria di pasar menjatuhkan dompetnya dan ia memungutnya. Untuk sesaat, ia berniat untuk mengembalikannya. Tapi, kemudian ia melihat uang kertas yang masih segar di dalamnya dan celakanya perutnya berniat lain dan berteriak lapar. Malam itu, ia makan seperti seorang raja. Tapi, makanan itu berubah menjadi debu di mulutnya. Ia bukan pencuri, katanya pada dirinya sendiri. Harga dirinya terganggu. Seharusnya ia melakukan yang lebih dari sekadar mencuri. Itu pikirannya. Maka, untuk kedua kalinya ia melakukannya dengan sengaja. Sesuatu yang lebih bermartabat dan jahat, menjadikan dirinya seorang kombatan seperti ketika ia bergerilya untuk republik ini. Sebuah toko gadai diserbunya dengan membongkar jendela dan memecahkan kacanya, lalu beberapa cincin ia rampas. Selanjutnya, ia mempersenjatai dirinya dengan senjata api dan selanjutnya ia membunuh dan belajar bagaimana menghilang.

++

Pada akhir tahun 1960-an, Kusni Kasdut telah menjadi legenda. Koran-koran menyebutnya sebagai hantu, hantu kota. Ia merampok bank dengan berpakaian seperti polisi, berjalan melewati pos pemeriksaan tanpa menoleh, dan lenyap sebelum tinta mengering di poster-poster buronan. Orang-orang miskin memujanya karena ia selalu membagikan rampokannya kepada mereka.

Suatu malam, ia melihat dirinya di cermin dan melihat dirinya bukan sebagai pahlawan yang terlupakan, tetapi seseorang yang melawan hukum pemerintah yang telah membuangnya. Ia bukan lagi Kusni Kasdut, pahlawan kemerdekaan yang dipuja oleh kaum miskin, tetapi tidak diinginkan negaranya. Tapi, saat ini, ia bisa menjadi siapa pun yang ia inginkan.

Tapi, legenda tidak akan bertahan selamanya. Hidup itu fana.

++

Perampokan yang akan mengakhiri semuanya dimulai pada suatu sore yang hangat di tahun 1970-an. Museum Gadjah sepi, lantai marmernya terasa sejuk di balik seragam polisi yang dipakainya. Berlian itu terletak di balik kaca di lantai atas, bersinar seperti janji kehidupan yang lebih baik. Dengan cermat, ia telah merencanakan segalanya: masuk, melarikan diri, dan menukarkannya dengan uang yang akan memberinya nama baru dan negara baru.

Yang tidak ia rencanakan adalah saat setelah perampokan dan itu ia sadari ketika ia tidak punya tempat untuk lari.

Ia tertangkap beberapa minggu kemudian, dikhianati oleh seseorang yang pernah memanggilnya saudara. Ia diseret di jalanan dengan tangan diborgol, melewati orang-orang yang pernah membisikkan namanya dengan penuh kekaguman. Sang legenda yang terbang seperti dewa telah menjadi manusia lagi dan manusia tentu saja hanya makhluk biasa yang bisa berdarah.

++

Di dalam penjara, waktu kehilangan bentuknya. Hari-hari melebur satu sama lain dan dinding-dindingnya seakan bernapas dengan beban semua orang yang telah menunggu di sini sebelumnya. Ia teringat akan hutan, akan perang, akan surat yang telah menentukan nasibnya bertahun-tahun lalu. Kusni Kadut tertawa bersama tembok dan terali besi. Ia telah berjuang untuk Indonesia, tapi Indonesia tidak berjuang untuknya.

Mereka datang menjemputnya sebelum fajar. Dan ia bangkit tanpa ragu, seolah mematuhi perintah yang diberikan sejak lama. Koridor itu berbau tanah lembap, berkarat, dan pesing kecoak. Sesuatu yang suram dan lebih tua dari kematian itu sendiri. Ia berjalan seperti saat ia berjalan melewati hutan, melewati medan perang, melewati tahun-tahun yang telah membawanya ke sini.

Ketika berjalan menuju kematiannya, ia teringat akan hujan yang telah membasuh tinta dari suratnya bertahun-tahun lalu. Dengan rasa penasaran yang masygul, ia bertanya-tanya apakah ada pejuang-pejuang lain yang terlupakan seperti dirinya, sedang berdiri dalam antrean, menunggu harapan yang tidak akan pernah datang.

Langit awan hitam menggantung dan hujan lebat turun dari langit ketika tembakan itu terdengar. (*)

—

RANANG AJI SP : Penulis fiksi dan nonfiksi, tinggal di Magelang

sumber : JAWAPOS, Sabtu, 15 Februari 2025

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme