Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Apa Bapak Wafat? oleh Radhar Panca Dahana

Posted on Ming, 21 Jan 2018

Bapak adalah seorang tradisionalis sejati, pengikut ajaran Taman Siswa yang belajar langsung dari Ki Hajar Dewantara. Secara politis, ia mengikuti orientasi ayahnya yang nasionalis tulen ala Tan Malaka, teman seperjuangan sang kakek walau berasal dari komunitas yang berbeda. Jadi dapat dibayangkan, bagaimana sepanjang hidup Bapak bangun jam empat sebelum Subuh, bebenah rumah—terutama kamar mandi plesteran yang selalu rapi dan bersih—tiba di kantor, instansi negara, pukul tujuh, kembali pukul 5 sore, berkebun, mengawasi anak belajar hingga sembilan petang, membereskan rumah pukul 10 malam, mendengarkan wayang di radio dua band pukul 11 dan tertidur antara pukul satu dini hari.

Tidak merokok, tidak ngopi, juga tak suka kongkow dengan tetangga, makan pepaya dua kali sehari untuk tidak memperparah ambeiennya yang sudah seperempat abad: Bapak bisa dibilang sangat konservatif, kolot boleh anak muda bilang begitu. Tapi penyakit berat, karena usia tentu saja, lebih utama lagi karena—kata orangtua—kepaten obong, setelah istrinya meninggal tujuh tahun lalu, tentu saja membutuhkan perawatan agak lebih. Kami berdua, kakak beradik, mengambil pilihan untuk menjalankan tugas itu. Lebih dari kewajiban kakak sebagai istri dari seorang pegawai negeri juga, dengan satu anak. Atau aku, karyawan perusahaan media yang sangat dituntut kinerja dan loyalitasnya.

Kami habiskan hampir semua waktu di luar kewajiban sosial-formal yang ada untuk Bapak. Bapak tentu tahu. Walau sudah tiga tahun lebih ia yang hanya bisa berbaring memilih memejamkan mata sepanjang hari. Seolah dengan begitu ia lebih bisa ”melihat”, antara dunia nyata yang masih dihidupinya atau dunia baqa yang seakan menghidupinya. Kami sangat paham. Tak menuntut lebih dari itu. Sudah hampir sepuluh windu ia hidup, sebagian besar untuk anak dan keluarga, tentu tidak berarti apa-apa pengabdian yang kami berdua berikan. Tanpa harus cemburu dengan lima saudara kami yang lain, sibuk dengan kehidupan mereka masing-masing di kota berbeda.

Apa yang kami bingung harus bersikap bagaimana, adalah hal kecil terjadi sore kemarin. Bapak membuka matanya, menatap kakakku dengan seksama. Tentu tanpa bicara, seperti sudah ia lakukan sekitar 5,5 tahun terakhir. Aku datang dan kulihat matanya pun beralih padaku. Entah apa arti pandangan itu. Hingga jam 11 malamnya, saat ia dahulu biasa mulai mendengarkan wayang kulit, ia minta dibangunkan, hanya untuk mandi di kamar mandi. Kami bukan hanya bingung dengan permintaan itu, tapi juga malu karena ketekunan kami belum ada apa-apanya dibanding cara Bapak dahulu merawat kamar mandi.

”Kamar mandi masih kotor, Pak,” kakak coba menutupi rasa malunya. Bapak berkeras. Ia malah seperti coba bangkit dengan mengangkat kepalanya. Sejak momen itu, Bapak banyak meminta atau melakukan sesuatu yang tidak ”biasa”, bahkan luar biasa. Esok paginya, ketika aku terbangun karena azan Subuh, kulihat Bapak sudah duduk di pinggir tempat tidur. Bahkan ia minta sarapan bersama di meja makan.

Kami tidak pernah berani berpikir tentang ”keajaiban”, ketika matahari mulai tinggi Bapak berjalan keluar rumah menikmati kehangatannya. Kakakku masak, aku bolos kerja untuk mendampingi ”keluarbiasaan” Bapak hari ini. Sampai tengah hari, kehidupan seolah kembali “normal” seperti dulu. Bapak baca koran sambil minum teh hangat pada jam delapan pagi, tradisinya setelah pensiun. Sampai siang ia sibuk dengan dokumen, arsip hingga kepustakaan yang selama ini ia kelola dengan rapi. Makan siang diisi obrolan ringan yang —jarang sekali—sesekali ditingkahi candaan dan tawa.

Tidak berani kami menggambarkan situasi menjelang sore, ketika Bapak mulai masuk kebun, menyapu, membersihkan sampah dedaunan dan merawat pepohonan seperti merawat keluarganya sendiri. Bahkan kami harus melongo melihat Bapak membawa dua ember air untuk menyirami tanaman di kebun itu. Kakak cuma berdiri terpaku, seperti lupa atau tidak tahu harus mengucap istighfar atau hamdalah, sebagaimana refleks ia katakan dalam menghadapi se-

suatu.

Aku sendiri hampir tidak tahan untuk bertanya, ”apa yang terjadi pada Bapakku?”. Ingin rasanya langsung bertanya pada yang bersangkutan. Tapi ketika aku tidak tahan menyampaikan langsung pertanyaan itu, telepon selularku berbunyi. Sebuah pesan singkat masuk. Aku ingin tidak peduli, tapi karena selintas terbaca pesan singkat itu berasal dari adik bungsu, anak yang merasa paling mencintai dan dicintai Bapaknya, aku terpaksa membuka pesan itu.

”Ya Allah….Ya Allah…” begitu awal pesan itu, ”Innalillahi wainna ilaihi roji’un….(emotikon tanda orang bersedih sangat). Kenapa bukan Mas dan Mbak yang kasih tahu pertama, malah tetangga. Bagaimana sih? Ya Allah…Bapak…Bapak…”

Aku terhenyak. Belum mengerti apa maksud dari SMS adikku itu. Namun setelah itu berduyun pesan singkat datang, dari semua saudara, kerabat, hingga kenalan dekat. Begitupun yang diterima oleh kakakku. Telepon yang menyatakan belasungkawa begitu luar biasa, mungkin bukan karena banyaknya, tapi lebih karena kekagetan kami berdua: ”Bapak sudah meninggal??” Bagaimana orang-orang itu semua tahu, dari mana info itu semua, sedangkan Bapak sendiri….

Belum selesai pikiran kami menyelesaikan kalimatnya, tubuh keropos tua itu lewat di depan kami, dengan dua ember air di kanan kirinya. Kedua matanya memandang kami, seakan tersenyum dan menegur ”Ayo hidup jangan kebanyakan bengong…kerja!”. Tapi kami benar-benar bengong. Semua peralatan tubuh tidak mampu kerja.

Namun akhirnya kami bergerak. Meminta Bapak istirahat, dengan alasan antara lain hari telah mendekati maghrib. Bapak tentu bersedia, duduk di kursi rotan yang setengah tidur, meminum air putih segar dan menghela nafas panjang. Pisang tanduk rebus hangat di sisinya, tidak ia sentuh. Matanya terpejam. Kami memandangnya tajam. Sedang apakah ia? Benarkah ia masih hidup, atau mungkin ia sudah…jadi mayit seperti banyak SMS dan telepon yang masuk?

”Bapak…” kakak saya coba menegur. Bapak diam. Kami berpandangan. “Ini banyak SMS dan telepon yang…” Belum habis kata-kata kakak, Bapak membuka sedikit matanya, seperti menegur, ”Aku tahu…”

Tapi…tapi…mengapa…

”Aku tahu…” sekali lagi Bapak menegur dengan pandangnya.

Kami tetap tak bisa menjawab. Kenapa…atau…apakah benar Bapak sebenarnya…

Kedua mata tua itu menutup perlahan seperti menyatakan, ”Benar…”

Lalu…kenapa…kenapa…

”Kenapa Bapak tidak buktikan bahwa itu tidak benar?! Bapak sehat, sehat sekali!” aku tidak tahan untuk bicara, bahkan agak keras.

Kali ini bibirnya yang bicara. Ia senyum kecil. Satu peristiwa langka dalam hidup kami. Tapi bermakna banyak, tentu saja, apalagi di saat ini. Senyum itu seperti mengatakan, ”Bapak memilih yang benar.”

Kami tidak tahu harus berbuat apa, bahkan berkata apa. Bapak tetap diam terbujur di kursi rotan itu. Posisi setengah rebah yang semeleh. Mata terkatup rapat tanpa ketegangan, bibir berjungkit sedikit mencipta senyum yang langka. Kami tak sempat lagi hendak berbuat. Ketukan pintu, tetangga, teman dan kerabat terdekat hingga saudara-saudara akhirnya membanjir datang. Menciptakan dengung, orkestra tangisan, hingga jeritan.

Aku yang masih bingung, membuka kembali selular yang memberi tanda pesan masuk. Kulihat pesan itu tiba pukul 06.17 PM. Kalau orang-orang ini berdatangan selama seperempat jam terakhir, berarti Bapak tersenyum terakhir sekitar pukul enam petang. Lalu SMS adik bungsu, yang pertama kali masuk menangisi kepergian Bapaknya, kuperiksa seksama, pukul 06.25 PM. Eh?!! Pukul berapa sekarang sebenarnya? Kutengok penunjuk waktu di selular itu, menunjuk angka digital: 05.50 PM. Yang benar saja? Yang benar saja?!!

Tapi…angka digital itu…ternyata tidak bergerak. Jam itu mati, sudah mati di angka yang ditunjukannya. Bapak…

Radhar Panca Dahana, terpilih sebagai Tokoh Budaya dari Badan Bahasa Kemdikbud dan terakhir dianugerahi harian Kompas, Cendekiawan Berdedikasi. Cerpennya Sepi pun Menari di Tepi Hari menjadi Cerpen Terbaik Kompas 2014.

RE Hartanto, lahir di Bandung tahun 1973. Lulus Jurusan Seni Murni FSRD Institut Teknologi Bandung tahun 1998. Hartanto membuka akun Klinik Rupa dr Rudolfo di Instagram, didedikasikan bagi mereka yang ingin berlatih menggambar dengan langgam realisme secara gratis.

sumber : harian Kompas edisi 21 Januari 2018 di halaman 28 dengan judul “Apa Bapak Wafat?”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme