Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ziarah Terakhir Gus Dar oleh Triyanto Triwikromo

Posted on Ming, 25 Feb 2018

Setelah shalat tahajud, Gus Dar merasa mendapat pesan yang sudah lama ditunggu: kau akan mati pada saat berziarah di salah satu makam wali.

Kiai 81 tahun itu gemetar. Bukan karena takut. Ia justru takjub pada kedatangan pesan yang terduga itu. Ia sama sekali tidak ingin menghindar dari kematian. Karena itulah, sesungguhnya, ia tak hendak melacak dari mana asal pesan. ”Tetapi kalau berasal dari iblis, bahaya juga. Mati dalam rengkuhan tangan perkasa sang iblis bukanlah kenikmatan yang kuinginkan.”

Gus Dar, pemimpin Pondok Pesantren Kalipungkur yang meskipun telah uzur tetap dipanggil dengan sebutan Gus itu, lalu membayangkan bagaimana pesan kematian tersebut sampai kepadanya. Mungkin mula-mula Allah berbisik kepada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad berbisik kepada merpati. Merpati berbisik kepada angin. Angin mengulang berkali-kali kemudian menyampaikan kepada hujan. Kata Hujan: aku tidak sanggup menyampaikan sendiri. Aku akan segera membisikkan pesan ini kepada Sunan Kalijaga.

Karena itulah, menurut Gus Dar, Sunan Kalijaga pun menerima pesan itu. Sebelum itu, Sunan Kalijaga menyibak kerumunan seribu sunan dan nabi, menembus lapisan tujuh langit, dan akhirnya hanya berhadapan dengan Hujan.

”Di makam wali yang mana ia akan mati?” tanya Sunan Kalijaga.

Hujan tak menjawab. Hujan hanya membisikkan pesan berantai itu.

”Bagaimana jika ternyata Hujan merupakan penjelmaan iblis?” batin Gus Dar, ”Bagaimana jika ternyata pesan itu berbunyi: kau akan mati sesaat setelah mimpi buruk, sesaat setelah kau pulang dari Makam Sunan Bonang?”

”Tak ada cara lain aku harus sowan ke Pondok Pesantren Kiai Rahtawu,” kata Gus Dar, ”Aku harus bertanya apakah aku akan mati pada usia 81 tahun pada saat sujud di Makam Sunan Bonang?”

Gus Dar yakin setelah bertanya kepada kiai berusia 101 tahun itu misteri kematiannya akan tersibak. Gus Dar membayangkan: Allah telah mengirimkan pesan kematian itu kepada Izrail, sang malaikat pencabut nyawa. Izrail lalu membisikkan pesan itu kepada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad berbisik kepada merpati. Merpati berbisik kepada angin. Angin mengulang berkali-kali kemudian menyampaikan pesan itu kepada hujan. Hujan lalu berbisik kepada Sunan Kalijaga. Kata Sunan Kalijaga: Hanya Rahtawu yang sanggup membisikkan perihal kematian itu kepada Gus Dar.

”Mengapa?” tanya Hujan.

”Karena Gus Dar berguru kepada Rahtawu.”

”Hanya karena itu?”

”Karena Rahtawu itu Al Hallaj dan Gus Dar apinya. Karena Rahtawu itu Simurg dan Gus Dar 30 burung pencari raja. Karena Rahtawu cermin dan Gus Dar sepasang mata.”

Hujan tidak terlalu memahami ungkapan-ungkapan Sunan Kalijaga. Hujan hanya bilang kepada Sunan Kalijaga: di balik kematian masih ada langit, di balik kematian masih ada laut, di balik kematian masih ada hutan. Apakah telah kau siapkan juga semacam buraq semacam cahaya untuk siapa pun yang akan dibunuh Izrail agar ia bisa terbang ke langit? Apakah telah kau siapkan semacam perahu kencana? Apakah telah kau siapkan kereta kuda terindah?

Gus Dar tahu Sunan Kalijaga tidak akan pernah mau menjawab pertanyaan semacam itu. Gus Dar tahu Sunan Kalijaga justru akan segera meminta dia ke Pondok Pesantren Kiai Rahtawu.

Diantar sopir terkasih, Gus Dar meluncur ke Kota Suci. Mereka kemudian menuju ke Pegunungan Rahtawu.

Akan tetapi, tidak mudah bertemu Kiai Rahtawu. Untuk bertemu sang kiai, Gus Dar harus berhadapan dengan Jamal Juaim. Jamal adalah penjaga pintu pondok pesantren yang sangat mengetahui situasi Kiai Rahtawu. Jamal tahu apakah Kiai Rahtawu sedang sujud atau membaca Al Quran. Jamal paham Kiai Rahtawu sedang tidur atau berzikir. Jamal juga paling mengerti apakah Kiai Rahtawu ingin menolak atau berkenan menerima tamu. Namun, Jamal tak tahu Gus Dar adalah murid terkasih Kiai Rahtawu.

”Apakah aku bisa bertemu dengan Kiai Rahtawu?” tanya Gus Dar begitu berada di Pondok Pesantren Kiai Rahtawu.

”Mungkin bisa,” kata Jamal Juaim, ”Tetapi menunggu waktu yang tepat.”

”Aku murid Kiai Rahtawu,” kata Gus Dar.

”Murid atau bukan murid tidak bisa bertemu dengan Kiai Rahtawu sekarang.”

”Apakah Kiai Rahtawu sedang berzikir?”

”Bisa, ya, bisa tidak.”

”Apakah Kiai Rahtawu sedang membaca Al Quran?”

”Bisa, ya, bisa tidak.”

”Apakah Kiai Rahtawu tidak pernah berpesan kepadamu: bakal datang seseorang untuk menanyakan kapan ia akan mati dan di mana ia akan dikuburkan?”

”Kiai Rahtawu tidak berpesan apa-apa.”

Gus Dar terdiam sesaat. ”Pasti ada yang tak beres,” pikirnya, ”Sunan Kalijaga bisa saja belum mengatakan apa-apa kepada Kiai Rahtawu. Bisa juga Sunan Kalijaga sudah mengatakan segalanya tetapi Kiai Rahtawu lupa.”

Gus Dar lalu bertanya lagi kepada Jamal Juaim, ”Apakah semalam Kiai Rahtawu tidur?”

”Kiai Rahtawu nyaris tidak pernah tidur.”

”Apakah Kiai Rahtawu tidak bermimpi tentang kematian lelaki berusia 81 tahun?”

”Sejak lima tahun lalu Kiai Rahtawu tak bisa bermimpi lagi.”

Gus Dar terdiam lagi. ”Pasti ada yang tak beres,” pikirnya, ”Barangkali Allah memang tidak pernah mengirim pesan kematian. Barangkali Izrail ingin memainkan nyawaku. Barangkali Nabi Muhammad juga tidak pernah membisikkan apa-apa kepada merpati. Merpati juga tidak pernah berbisik kepada angin. Angin tidak pernah mengulang pesan kematian itu berkali-kali kemudian menyampaikannya kepada hujan. Hujan juga tidak pernah bercakap-cakap dengan Sunan Kalijaga.

Gus Dar lalu bertanya lagi kepada Jamal Juaim, ”Apakah kau pernah bermimpi bertemu Sunan Kalijaga?”

”Pernah.”

”Apa yang pernah dikatakan oleh Sunan Kalijaga kepadamu?”

”Sunan Kalijaga bilang: seseorang akan mati indah pada saat berziarah di salah satu makam wali.”

”Apakah kau mengenal siapa yang akan mati?”

Jamal Juaim menggeleng. ”Kiai Rahtawu-lah yang tahu siapa yang bakal mati siapa yang bakal hidup hingga sembilan hari mendatang.”

”Kalau begitu,” kata Gus Dar, ”Sekali lagi izinkan aku bertemu Kiai Rahtawu. Aku akan bertanya siapa yang akan mati pada sembilan hari mendatang?”

”Mungkin kau akan bisa bertemu Kiai Rahtawu,” kata Jamal Juaim, juga sekali lagi, ”Tetapi menunggu saat yang tepat.”

Sebenarnya Gus Dar ingin marah. Akan tetapi, ia memilih bersabar. Malah tiba-tiba Gus Dar merasa Jamal Juaim, sebagaimana Kiai Rahtawu, tahu siapa akan mati siapa akan hidup sembilan hari mendatang.

Karena itu, Gus Dar mengurungkan niat bertemu dengan Kiai Rahtawu.

”Apakah sembilan hari mendatang aku akan mati?”

Jamal Juaim terdiam. Jamal Juaim kaget. ”Mengapa tidak kau lontarkan pertanyaanmu itu kepada Kiai Rahtawu?”

Kini ganti Gus Dar yang terdiam. Ia merasa berhadapan dengan tembok yang tidak bisa ditembus. Karena itu, ia ingin pulang saja. Jika masih memiliki sembilan hari untuk hidup, ia memutuskan hari itu juga mulai berziarah ke Makam Sunan Ampel. Lalu meneruskan secara acak ke Makam Sunan Giri, Makam Syekh Maulana Malik Ibrahim, Makam Sunan Drajat, Makam Sunan Bonang, Makam Sunan Muria, Makam Sunan Kudus, Makam Sunan Gunung Jati, dan diakhiri ke Makam Sunan Kalijaga.

Akan tetapi, niat Gus Dar terhalang oleh sopir yang tiba-tiba menghilang. Tidak. Tidak menghilang. Sopir itu diusir oleh sepasang laki-laki berusia 40 tahunan, yang sangat tampan. Sopir itu akan ditembak jika tidak segera pergi.

”Tidak perlu mencari sopir Sampean. Kami akan mengantar ke mana pun Sampean pergi,” kata salah seorang kepada Gus Dar.

”Aku akan ke makam para wali.”

”Akan kami antar.”

Mereka kemudian mengantar Gus Dar ke makam para wali. Sembilan hari. Selama itu pula Gus Dar tidak pernah bertanya siapakah mereka. Gus Dar yakin kedua pria tampan itu bagian dari kisah kematian dirinya yang dirancang agak berbelit-belit dan rumit oleh Allah. Hanya, pada hari kesembilan Gus Dar masygul. ”Mengapa aku tidak mati-mati?”

Kini Gus Dar berada di Makam Sunan Kalijaga. Ia berharap akan mati setelah melakukan wasilah terakhir. Ia berharap pesan Allah terwujud.

”Apakah jika aku mati hari ini kalian akan memakamkan aku di dekat makam para wali?”

”Siapa bilang Sampean akan mati?” tanya salah seorang.

”Aku merasa akan mati.”

”Mungkin Sampean akan mati,” kata salah seorang, ”Tetapi menunggu saat yang tepat.”

”Aku akan mati saat berziarah di salah satu makam wali.”

”Siapa yang memberi pesan Sampean akan mati saat mengunjungi makam wali?”

”Tentu saja Allah.”

”Yakin?”

”Yakin.”

”Bukan iblis?”

Gus Dar terperanjat mendapat pertanyaan semacam itu. ”Tetapi aku yakin aku akan segera mati. Usiaku sudah 81 tahun.”

”Ya, kau mungkin akan mati,” kata salah seorang, ”Tetapi tidak di makam ini.”

”Lalu aku akan mati di makam siapa?”

Kedua pria tampan itu tidak menjawab. Mereka bergegas memapah Gus Dar yang kian lama kian kelelahan. ”Akan kalian ajak ke mana lagi aku?” tanya Gus Dar.

Kedua pria tampan itu membisu. Mereka kemudian meninggalkan Makam Sunan Kalijaga. Jip mereka kini menuju ke arah Tanjungrasung. Dalam ingatan samar Gus Dar, di Tanjungrasung memang ada makam kecil. Makam di ujung tanjung.

”Apakah itu Makam Syekh Siti Jenar?” Gus Dar membatin, ”Apakah aku akan mati setelah berziarah di makam itu? Apakah Syekh Siti Jenar wali paling wali? Apakah…”

Jip terus melaju ke Tanjungrasung.

”Kami akan membunuhmu sekarang,” kata salah seorang, setelah jip berhenti di ujung tanjung yang sepi.

Meskipun telah cukup lama mempersiapkan kematian, Gus Dar terperanjat juga. Gus Dar tak tahu akan mati dengan cara apa. Apakah kedua orang itu akan berebutan memukul kepala Gus Dar dengan pentungan kasti? Apakah kedua orang itu akan membentangkan tangan Gus Dar di tiang lalu menusukkan lembing di jantung? Apakah seseorang akan meletuskan pistol tepat di lambung atau hanya memintanya tafakur di antara keheningan daun-daun yang gugur? Gus Dar tak tahu. Gus Dar sudah tak berhasrat mengetahui apa pun saat meninggalkan dunia yang fana dan kian karut-marut itu.

Triyanto Triwikromo : telah menulis Kematian Kecil Kartosoewirjo yang memungkinkan ia memperoleh penghargaan Tokoh Seni 2015 Pilihan Majalah Tempo. Ia juga menulis Ular di Mangkuk Nabi (pemeroleh Penghargaan Sastra 2009 Pusat Bahasa). Selain sebagai jurnalis, ia mengajar Penulisan Kreatif di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro. Sastrawan ini memperoleh Penghargaan Kesetiaan Berkarya Kompas 2017.

_________________________

Sito Pati : lahir 6 Agustus 1966 di Pati, Jawa Tengah. Menempuh pendidikan seni di STSRI/ISI Yogyakarta. Sito menjadi finalis Philip Morris Indonesia Art Award tahun 1995, 1996, dan 1998. Ia juga memperoleh penghargaan Karya Terbaik dalam pameran Rambut Putih, Tahun Mas (2015). Kini menetap di kota Yogyakarta.

sumber : harian Kompas edisi 25 Februari 2018 di halaman 21 dengan judul “Ziarah Terakhir Gus Dar”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme