HUJAN dan angin benar-benar marah. Perahu kami diayun makin keras, seperti dibanting-banting, serasa mau pecah. Seisi perahu merasa keder, khawatir ombak besar membalik perahu bermesin diesel 24 PK itu. “Kita berlindung dulu…
Tag: Ahmadun Yosi Herfanda
Cerpen : Burung Ayah oleh Ahmadun Yosi Herfanda
AKU telah membulatkan tekad untuk menghabisi burung perkutut ayah hari ini juga. Mungkin memotong kepalanya, atau mencekik lehernya. Biar harganya mahal, tak peduli. Yang penting, burung itu harus lenyap dari sangkarnya. Sadis…
Cerpen : Perempuan Pemanggul Berhala oleh Ahmadun Yosi Herfanda
Enteng saja perempuan itu memanggul berhala seukuran tubuhnya. Berhari-hari ia memanggulnya sambil berjalan menyusur kompleks pertokoan, swalayan, namun kadang-kadang ia beristirahat di teras toko karena kelelahan. Ia bermaksud menjual berhala yang disebutnya…
Cerpen : Berlindung di Bawah Payung yang Robek oleh Ahmadun Yosi Herfanda
Gerimis menderas. Bu Lurah mengernyitkan dahi di bawah payung yang robek terkena sabetan golok. Di matanya gubuk-gubuk liar yang menjadi ”pasar tiban” itu berderet makin panjang di tepi jalan masuk ke kompleks…
Cerpen : Ombak Berdansa di Liquisa oleh Ahmadun Yosi Herfanda
Ombak berdansa di Pantai Liquisa. Lidah-lidahnya menari dalam gemuruh hujan yang mengguyur pepohonan di sepanjang pesisir. Dan, dalam cuaca dingin malam Minggu berkabut, di dalam sebuah gedung sederhana di tepi pantai, orang-orang…