Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ayat Kopi oleh Joko Pinurbo

Posted on Ming, 09 Des 2018

Kedai kopi bermunculan di mana-mana, tetapi warung kopi Bu Trinil tetap menjadi favorit saya. Kopi bikinan Bu Trinil tetap paling jos rasanya; saya sudah merasakan khasiatnya bagi kesehatan jiwa saya.

Di warung Bu Trinil saya bisa berkenalan dan mengobrol dengan berbagai macam orang. Petang itu, misalnya, saya berkenalan dengan seorang pria berbaju batik biru, namanya Marbangun. ”Panggil saja Bang Bangun,” ujarnya.

Marbangun bercerita, saat ini dia sedang menata hidupnya. Sudah bertahun-tahun dia mencari peruntungan di dunia politik, tetapi belum juga membuahkan hasil. Dia pernah dua kali nekat ikut mencalonkan diri sebagai anggota badan legislatif di kotanya dan kedua-duanya gagal.

”Semoga sampean tidak terjerumus ke dalam kancah politik. Politik itu keras, penuh muslihat. Orang lugu seperti sampean akan celaka,” katanya.

Untuk menuruti ambisinya, banyak harta benda yang telah dia korbankan. Dia sudah menjual tanah dan sapi di kampung, mobil, perabotan furnitur, dan barang-barang berharga lainnya. Bahkan, katanya, ”Seandainya saya punya kucing, mungkin saya akan jual kucing juga.”

Setelah didera berbagai kegagalan, Marbangun memutuskan untuk berserah kepada Tuhan, menjauhkan diri dari godaan duniawi. Dia ingin ikut membangun masyarakat yang bertakwa dan berakhlak mulia.

”Tak ada lagi yang bisa saya jual,” katanya. ”Satu-satunya yang masih bisa saya jual ialah….”

Dengan agak tergesa-gesa Marbangun beranjak dari duduknya, membayar jajanannya, lalu pamit pergi; katanya dia akan menengok dan mendoakan temannya yang sakit. Pada saat bersamaan merebak bau kentut yang menyengat. Saya dan beberapa orang saling memandang curiga, seakan-akan saling menyelidik siapa yang telah melepaskan kentut tanpa bunyi itu. Sambil memencet hidungnya, Bu Trinil mengarahkan telunjuknya kepada Marbangun yang sedang melangkah pergi. ”Orang itu memang suka kentut sembarangan,” cetusnya.

Sepulang dari warung Bu Trinil, saya bersiap menyambut kedatangan Paman Yusi, senior saya. Saya dan teman-teman menyebutnya ”paman” karena sifat kebapakan dan dedikasinya yang besar sebagai guru dan penasihat spiritual penulis-penulis muda.

Paman Yusi baru saja pulang dari Amerika. Seusai menjalani residensi selama enam bulan di sana, dia berhasil merampungkan sebuah novel yang telah bertahun-tahun dikerjakannya—sebuah novel yang tebalnya melebihi Alkitab, yang untuk membacanya dengan khidmat dan meresapkannya ke dalam kalbu diperlukan retret minimal sebulan.

Paman Yusi mengajak beberapa teman merayakan rezeki dengan pesta puisi dan kopi di kos saya. Tentu saja Paman Yusi yang bertanggung jawab atas ketersediaan kopi, rokok, kacang rebus, singkong, dan pisang goreng.

Kegiatan iseng yang diprakarsai Paman Yusi ini menarik perhatian beberapa remaja setempat. Mereka bergabung dengan kami dan kami oke-oke saja.

Para remaja itu tampaknya ikut terserang virus puisi. Mereka jadi hafal baris puisi saya: Kurang atau lebih, setiap rezeki perlu dirayakan dengan secangkir kopi. Entah siapa di antara mereka yang mengubahnya menjadi Rayakanlah setiap rezeki dengan ngopi agar bahagia hidupmu nanti. Kata-kata ini mereka kumandangkan dan dendangkan di mana-mana. Kami gembira karena usaha kami menghaluskan jiwa melalui sastra di kalangan anak-anak muda mulai membuahkan hasil.

Paman Yusi kembali mengadakan pesta kopi dan puisi di kos saya ketika novelnya yang lebih tebal dari Alkitab itu terbit. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini tidak ada remaja setempat yang datang dan bergabung. Mereka pasti sedang sibuk belajar untuk menghadapi ujian sekolah.

Di tengah kegembiraan kami merayakan rezeki Paman Yusi, serombongan pemuda setempat tiba-tiba mendatangi kami sambil menyerukan kata-kata bernada ancaman. Ternyata mereka mau menemui dan meringkus saya. Saya dianggap dan dituduh telah menyebarkan ajaran sesat.

Saya bingung, ajaran sesat mana yang saya sebarkan. Komandan pemuda setempat menunjukkan sesobek kertas bertuliskan Rayakanlah setiap rezeki dengan ngopi agar bahagia hidupmu nanti.

”Oh, itu puisi, kak, bukan ajaran,” saya menjelaskan.

Komandan pemuda setempat: ”Pokoknya, gara-gara ayat yang anda sebarkan ini, anak-anak di sini jadi rusak kerohaniannya.”

”Puisi itu menghaluskan jiwa, kak, bukan merusak,” timpal saya.

”Menghaluskan jiwa bagaimana? Karena terpengaruh oleh ayat ini, orang-orang di sini jadi keranjingan kopi. Dikit-dikit ngopi. Anak-anak jadi betah melek semalaman, lalu bangun kesiangan. Kita jadi susah ngebangunin mereka buat sekolah. Dikasih duit buat bayar sekolah malah dipake buat ngopi-ngopi.”

Paman Yusi melirik ke arah saya sambil pura-pura batuk-batuk, entah maksudnya apa.

”Yang tua-tua ikutan keranjingan juga. Suami-suami habis gajian sibuk ngopi. Istri-istri dikasih uang belanja malah dipake ngopi. Rusaklah pokoknya.”

Subagus, teman kami yang sering berperan sebagai ”seksi keamanan”, menyimak dengan tegang. Untung dia memakai kacamata gelap sehingga kegalauan matanya tidak kelihatan.

”Kalau dapat rezeki, mestinya kan berdoa dan bersyukur kepada Tuhan, bukan malah ngopi-ngopi. Yang bisa kasih kebahagiaan kan cuma Tuhan, bukan kopi.”

Saya tak tahu lagi harus bilang apa.

”Intinya kami minta pertanggungjawaban. Bisa jadi urusan polisi nih.”

Mendengar ”urusan polisi”, hati saya terguncang. Saya membayangkan hal-hal buruk akan menimpa saya.

Paman Yusi memberikan kode kepada Subagus agar segera menangani komandan pemuda setempat.

Subagus bangkit, mengajak komandan pemuda setempat bicara empat mata. Oleh komandan pemuda setempat, Subagus dibimbing untuk menemui pemimpin gerakan yang menunggu di seberang sana, di bawah pohon mangga. Ya ampun, ternyata itu Marbangun, pria tampan berbaju batik biru itu.

Saya tak tahu perundingan macam apa yang mereka lakukan. Saya hanya melihat Subagus berbicara dengan pemimpin gerakan dan komandan pemuda setempat sambil memiringkan telunjuk di jidatnya. Pasti dia bilang saya ini sinting, tidak waras. Saya juga sempat melihat dia merogoh saku celananya.

Setelah melalui perundingan yang cukup alot, pemimpin gerakan memerintah komandan pemuda setempat membubarkan rombongan.

Mungkin karena dianggap sinting, setelah itu saya dicuekin orang-orang. Hanya beberapa remaja yang tetap segan kepada saya. Saya sempat bertanya, benarkah orang-orang jadi keranjingan kopi gara-gara puisi saya. Mereka bilang tidak tahu.

Ketika suatu sore saya keluar untuk cari angin dan beli rokok, saya melihat Marbangun sedang duduk manis menyeruput kopi dan melahap pisang goreng di warung Bu Trinil.

Pada suatu kangen, setelah berhari-hari pergi mengerjakan proyek penulisan naskah film dokumenter, saya singgah ngopi di warung Bu Trinil. Bu Trinil senang saya muncul lagi. Dia mengira saya pergi untuk tidak kembali.

Bu Trinil bercerita bahwa selama saya pergi telah terjadi sesuatu yang menggemparkan.

”Ada sosok laki-laki enggak pake celana muncul di gardu ronda. Ngeri deh. Kelaminnya luka, berdarah. Dia merintih Sakit, Jenderal! Sakit, Jenderal!”

”Oh, eltece,” saya menyela.

”Eltece?”

”Iya, itu namanya eltece, laki-laki tanpa celana.”

Bu Trinil tertawa mantap.

”Saat mau ditangkap, hantu itu lari ke gang, dikejar, dikepung, tapi lolos.”

Saya menyeruput kopi.

”Malam berikutnya ia nongol di rumah Marbangun. Marbangun teriak-teriak ketakutan, ia malah ketawa-ketawa.”

Eltece konon menghadang Marbangun malam-malam dalam perjalanan ke kamar mandi. Marbangun digertak: Piye kabare? Ngeri zamanku to? Eltece kemudian mencubit-cubit pipinya sambil berseru Beri aku kopi! Beri aku kopi!

Saya tidak terkejut mendengar cerita Bu Trinil.

Pada suatu malam, saat sedang bermain ketoprak, ayah saya dijemput oleh beberapa orang tak dikenal dan sejak itu saya tak pernah lagi melihatnya. Waktu itu sedang berlangsung gerakan pembersihan terhadap orang-orang yang dianggap kiri. Di kemudian hari saya mendengar cerita tentang para seniman dan aktivis yang diculik, disiksa, bahkan ada yang dikerat kemaluannya. Ayah ikut diciduk atas rekomendasi seorang temannya yang merasa punya masalah pribadi dengan Ayah. Sesungguhnya Ayah hanyalah orang lugu yang punya hobi bermain ketoprak.

Saya pernah dihadang eltece—dengan darah mengental di ujung kelaminnya—saat mau menyepi di kamar mandi menjelang dinihari. Dia merintih Sakit, Jenderal! Saya tatap wajahnya yang memelas. Ia memandang saya dengan heran. Saya membungkuk dan mengucapkan kalimat, Kita adalah cinta yang berjihad melawan trauma. Setelah itu ia menghilang.

Sosok eltece tampaknya benar-benar menghantui Marbangun sehingga dia sulit tidur dan tidak berani ke kamar mandi sendirian. Atas anjuran Bu Trinil, secara diam-diam dia menemui saya. Dia menduga, kemunculan eltece di rumahnya ada hubungannya dengan saya.

”Hantu itu teriak Beri aku kopi! Beri aku kopi! Saya lantas teringat ayat kopi yang sampean bikin dan disebarkan anak-anak remaja itu.”

Marbangun bertanya, apakah saya tahu cara mengusir hantu eltece.

”Wah, Bang Bangun salah alamat. Masak orang sinting seperti saya ngerti cara mengusir hantu.”

”Sudahlah. Yang bilang sinting itu kan bukan saya.”

Ya sudah, saya katakan saja kepada Marbangun, ”Kalau eltece muncul lagi, sambutlah dengan ramah, kasih hormat, lalu bikinkan kopi. Setelah itu, berjanji akan bertakwa secara benar, mencari rezeki secara halal, dan tidak kentut sembarangan.”

Marbangun terdiam.

Saya pikir, setelah Marbangun menemui saya, persoalannya dengan eltece selesai. Ternyata ada kelanjutannya.

Malam itu orang-orang di warung Bu Trinil geger melihat Marbangun berlari kencang sambil berteriak-teriak minta tolong seperti sedang dikejar seseorang. Katanya dia mau ditangkap eltece. Orang-orang bingung karena tidak melihat sosok yang memburunya.

Marbangun terus berlari menuju kos saya. Dia minta perlindungan. Dia sembunyi di kamar saya. Sesaat kemudian Eltece datang: ”Mana Marbangun? Marbangun mana?” Saya terima dia dengan baik. Saya tanya, mengapa dia mau menangkap Marbangun. Ternyata dia cuma mau memberikan dompet Marbangun yang dia temukan di depan ATM. Saya terima dompet Marbangun dari eltece seraya mengucapkan banyak terima kasih. Setelah itu, dia pergi sambil tertawa.

Marbangun tertegun sembari menenangkan jantungnya. Saat itulah dia merasa mantap untuk menempuh jalan kerohanian yang bersih dan mewartakan hal-hal baik kepada sesama. Saya mendukung niat sucinya.

Niat suci Marbangun mulai kelihatan ketika keesokan harinya dia mengajak saya ngopi di warung Bu Trinil. Bu Trinil heran melihat saya datang berdua dengan Marbangun. Namun, diam-diam saya tetap waspada. Siapa tahu kebaikannya hanya modus.

Sikap saya untuk tetap waspada terbukti tepat. Di tengah kenikmatan kami—para pengunjung warung Bu Trinil—minum kopi dan menyantap pisang goreng, tiba-tiba merebak bau kentut yang menyengat. Meskipun aromanya agak berbeda, saya sudah yakin itu pasti kelakuan Marbangun. Seketika itu pula saya kehilangan respek lagi terhadapnya. Orang semacam itu memang sulit berubah.

Sewaktu saya bergegas pergi, Bu Trinil dengan cepat menggamit lengan saya dan berkata pelan, ”Aduh, maaf ya tadi. Saya sudah enggak kuat nahan. Perut saya kembung. Untung enggak bunyi.”

Joko Pinurbo : alias Jokpin telah menerbitkan sejumlah buku puisi dan beroleh berbagai penghargaan. Buku puisinya antara lain Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016), Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu (2016), dan Buku Latihan Tidur (2017). Cerpennya dimuat dalam buku kumpulan Cerpen Pilihan Kompas tahun 2013, 2014, dan 2015.

Made Gunawan : lahir di Apuan, Tabanan, 14 Juli 1973, dan menempuh pendidikan di STSI Denpasar (1995-2001). Tahun 1999 ia pernah pameran Sketsa dan Lukisan di rumah indekosnya, sebuah gang sempit dan kumuh di Kota Denpasar. Tahun 1997 mendapat penghargaan Sketsa Terbaik dari STSI Denpasar. Tahun 2001 sebagai 10 Besar Karya Seni Terbaik dari STSI Denpsar. Tahun 2003 sebagai pemrakarsa Lukisan 1000 Kotak (Perempuan & Bunga) dari Museum Rekor Indonesia (MURI).

sumber : harian Kompas edisi 09 Desember 2018 di halaman 23 dengan judul “Ayat Kopi”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme