Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Tali Darah Ibu oleh Farizal Sikumbang

Posted on Ming, 06 Jan 2019

Sebelum meninggal, ibu kerap berpesan agar aku selalu menjaga hubungan baik dengan semua saudara tiriku. Dan setiap ibu menyampaikan pesannya itu, aku selalu menganggukkan kepala sebagai tanda mengiyakan kata ibu.

Tapi aku tidak tahu, apakah ibu juga pernah menyampaikannya kepada masing-masing  saudara tiriku  perihal pesan itu. Sebab, setahuku, ibu tidak pernah mengucapkan pesan  itu di depan kami.

Ibu memiliki anak tiga. Aku yang tertua dari dua saudaraku yang berbeda ayah itu. Kata ibu, ayahku adalah seorang pelaut. Kata ibu lagi, ayah juga pemabuk dan suka main judi. Ayah pergi meninggalkan ibu di saat aku baru berusia  lima  tahun. Kabar yang ibu dapatkan selanjutnya dari pelaut lainya adalah bahwa ayahku telah kawin lagi dengan seorang  janda muda di pulau seberang.

Aku sendiri luput mengingat wajah ayahku sendiri serupa apa. Usiaku terlalu kecil untuk  mampu mengingat kenangan bersama ayah. Apalagi memang ayah kuingat jarang pulang.  Di dalam rumah kami yang sederhana, tak satu pun terpajang foto ayahku. Sampai usiaku dewasa, di rumah itu, yang terpajang hanya tiga bingkai foto, yang pertama foto ibu, lalu foto aku dan dua saudaraku dengan latar halaman rumah, dan yang ketiga foto ayah tiriku.

Di masa sepeninggal ayah, ibu mengurusiku seorang diri. Untuk mencukupi  kebutuhan ekonomi, ibu berjualan sarapan pagi di depan rumah kami. Para pelanggan  ibu kebanyakan para lelaki yang bekerja sebagai pelaut dan penjual ikan. Bila pagi hari, aku sering kali mendengar para lelaki tertawa-tawa di kedai ibu dengan maksud yang tidak kupahami. Sebagian lagi berbicara dengan intonasi tinggi bila mereka berkomunikasi dengan lawan bicaranya. Terkadang bila dagangan ibu telah habis, beberapa pelaut bermain batu domino di kedai ibu.

Aku cukup terhibur dengan kehadiran para pelanggan ibu yang mayoritas kaum laki-laki itu. Tidak hanya candaan yang mereka berikan. Aku pun sering diberikan permen atau makanan ringan untuk seusiaku. Yang paling sering memberikan aku permen adalah Uda Bahar.

Uda Bahar orangnya baik. Bila ada yang mengusili hingga aku menangis, ia akan memarahi orang itu dan lantas menggendong tubuhku, lalu diberikannya aku pada ibu. Pada masa-masa itu, dari semua para pelanggan ibu, hanya Uda Bahar yang sangat memperhatikanku.

Aku ingat, ketika duduk di kelas I sekolah dasar, ibu menikah dengan Uda Bahar. Ada pesta pernikahan. Ibu dan Uda Bahar duduk di pelaminan, sedangkan aku tidak pernah beranjak duduk pula di samping ibu. Ibu sering kali tersenyum kepada para tamu yang hadir pada pesta pernikahan di rumah kami. Aku yakin ibu sangat senang sekali saat itu.

Aku pun sangat bahagia dan senang pada pernikahan ibu. Sejak kehadiran Uda Bahar, suasana rumah kami menjadi riang. Malam hari menjadi ceria. Malam hari juga tidak lagi menjadi kecemasan ibu karena lingkungan rumah yang sunyi.

Aku pun merasa terlindungi dengan kehadiran Uda Bahar di rumah. Bukan hanya merasa terlindungi, melainkan aku juga seperti menemukan tempat  mengadu. Di kampung yang terletak di pesisir pantai itu, sering kali kawan-kawanku mengejek karena aku tak punya ayah. Dan sejak kehadiran Uda Bahar, tak satu pun dari mereka yang berani lagi mengejekku.

Aku merasa begitu beruntung karena ibu telah menikah lagi. Sebab, dengan begitu, aku memiliki seorang ayah. Namun, harus kuakui, pada mulanya aku terkadang masih begitu canggung bila memanggil Uda Bahar dengan panggilan ayah. Namun, Uda Bahar dengan sabar menyuruhku agar belajar terus memanggilnya dengan sebutan ayah.

”Ya, anak kecil, mulai sekarang kamu harus terus membiasakan diri agar memanggil ayah, ya,” kata Uda Bahar kepadaku, waktu itu.

Dan kuingat ibu tersenyum melihat kegugupanku. Dan tidak lama kemudian kepalanya mengangguk-angguk kepadaku.

Di hari-hari berikutnya, aku terkadang masih salah juga memanggilnya dengan sebutan ayah. Sering aku memanggilnya dengan sebutan Uda Bahar. Berulang kali pula ibu dan Uda Bahar kembali menasihatiku. Dan sampai satu bulan kemudian aku baru mahir memanggilnya dengan ayah.

Satu tahun kemudian, ibu melahirkan adikku yang pertama. Ia berjenis kelamin laki-laki. Kulitnya hitam.  Rambutnya hitam. Ia mirip wajah ayah. Dan  ayah memberinya nama Samsir.

Ibu  dan ayah sangat senang karena kehadiran Samsir. Ibu sangat telaten merawatnya. Ayahku sangat perhatian sekali pada adikku. Jika adikku menangis, ayah akan dengan cepat menyuruh ibu agar menyusuinya. Atau ayah akan memarahi ibu jika adikku terus menangis.

Ketika adikku itu telah berumur tiga tahun, ia sering kali membuat ibu berada dalam masalah. Sering ia terjatuh di rumah karena kenakalannya. Memecahkan perabotan rumah. Dan ibu sering jadi sebabnya karena dianggap  lalai menjaga adikku itu. Tidak hanya ibu, aku pun mulai jadi sasaran ayah jika ia menangis sehabis bermain denganku.

Kehadiran adikku semakin lama membuat ibu dan ayah mulai sering bertengkar. Ibu tidak suka jika ayah memarahiku. Apalagi jika ibu melihat ayah menarik kupingku hingga aku menangis.

”Jangan pernah kau mengasari anakku,” kuingat ibu bersuara keras kepada ayah  suatu malam yang berhujan.

”Kenapa memangnya. Aku yang memberi makannya. Sudah pantas ia kumarahi jika ia menjengkelkanku.”

”Tanpa kamu beri, aku tetap bisa memberi makannya. Kamu harus tahu itu,” kata ibu dengan suara yang semakin tinggi.

”Maksudmu apa?”

”Maksudku, jika kamu ingin pergi, aku tetap bisa memberi makan anakku. Paham?”

Peristiwa itu adalah pertengkaran ayah dan ibu yang terakhir setelah adikku yang kedua lahir. Adikku yang kedua perempuan. Ayah memberinya nama Diva. Sama seperti kelahiran adikku yang pertama, ibu dan ayah juga sangat senang pada kehadiran adikku ini.

Namun, kebahagiaan di rumah kami kurasakan tidak berlangsung lama. Pertengkaran-pertengkaran antara ibu dan ayah mulai kembali terjadi. Pemicunya karena ayah sering kali menganggap ibu tidak mampu mengurus dua adikku. Dan juga tentang ayah yang sering membedakan aku dengan dua adikku.

Kehadiran dua adikku membuat ayah memang tidak peduli lagi kepadaku. Sikap ayah sangat berubah setelah kehadiran mereka. Tidak jarang ayah lebih mendahulukan mereka daripada aku. Jika ayah membeli makanan ringan, misalnya, ayah tak pernah memberikannya kepadaku. Ayah juga  hanya mengajak dua adikku ke pantai pada hari minggu.  Aku merasa bahwa ayah benar-benar mengucilkanku dari dua adikku. Dan perlakuan ayah itu membuat aku begitu sedih.

Dalam kesedihan, aku melamun. Dan berpikir mengapa ayah berubah.

”Ibu harap kamu jangan bersedih jika ayahmu kurang memperhatikanmu,” kuingat kata ibu dulu.

Aku tidak menyahut kata- kata ibu itu selain dua mataku semakin berair. Lalu ibu menghapus air mataku dengan tangannya. Pada masa itu, aku sudah duduk di kelas VI sekolah dasar.

Namun, apa yang kualami pada hari-hari berikutnya tetap tidak pernah berubah, ayah masih saja menyayangi dua adikku dan mengesampingkanku. Dua adikku juga mulai tidak suka kepadaku. Mereka sering menghindar dan seperti tidak menganggap lagi aku sebagai kakaknya.

”Kata ayah, uda bukan kakak kandung kami, jadi jangan coba-coba  melarang-larang kami, ya,” kata itu diucapkan Samsir ketika aku pernah melarangnya bermain di pantai pada  sore hari.

”Iya, ayah bilang begitu. Nanti kami lapor ayah baru tahu,” si kecil ikut pula menimpalinya saat itu.

Saat itu, aku benar-benar bersedih. Mereka tidak menyukaiku dan tidak menghormatiku. Padahal, aku sangat menyayangi  mereka.

Mungkin ibu sudah tidak tahan melihat aku dikucilkan oleh ayah dan dua adikku. Sebab, suatu hari ibu begitu marahnya kepada ayah.

”Jika kamu tidak suka pada Dika, bagiku tak ada masalah. Tapi, yang tidak aku suka jika kamu menghasut adik-adiknya untuk membencinya.”

Aku tidak mendengar ayah menyahut kata-kata ibu di malam itu. Aku begitu bersyukur karena ayah diam saja sehingga tidak terjadi pertengkaran. Tapi, paginya, sesuatu yang mengejutkanku terjadi juga. Ayah pergi membawa pakaiannya yang cukup banyak. Bagiku tak lazim jika ayah pergi ke laut dengan membawa pakaian begitu banyak.

Kuingat ayah membawa satu tas pakaian ditambah dua bungkus plastik berukuran besar dengan pakaiannya yang berantakan. Pasti sesuatu terjadi pada ayah. Dan kecurigaanku semakin bertambah ketika ibu berujar di depan pintu rumah dengan nada marah, ”Pergilah jika itu maumu, dan kupastikan aku bisa membesarkan anak-anakku.”

Lalu ayah terus berlalu tanpa melihat ke belakang. Dia hanya sejenak melihatku. Pagi itu hanya ada aku dan ibu. Dua adikku masih tertidur pulas di kamar.

Satu minggu setelah kepergian ayah, ibu kembali berjualan nasi pagi di rumah kami. Seperti beberapa tahun yang lalu, para pelanggan ibu kebanyakan dari pelaut dan pedagang ikan. Rumah kami kembali riuh oleh suara dan tawa para lelaki. Sesekali, mereka mencandai ibu. Mencubit lengan ibu.

Lalu, apakah dua adikku menyayangiku setelah ayah pergi dan tidak pernah pulang? Bagiku sungguh celaka, ketidakpulangan ayah menurut adikku adalah karena aku. Samsir dan Diva terus membenciku sampai ia remaja. Ibu berulang kali pula menghiburku dengan mengatakan bahwa mereka masih remaja dan belum berpikir dewasa. Namun, aku sungguh tidak tahan hidup dalam pusaran kebencian dua saudaraku itu. Aku sering bersedih. Aku sering menangis.

Ibu meninggal pada suatu pagi. Sebelumnya, ia hanya bisa terbaring dengan tubuh agak panas. Dua adikku menyalahkanku kenapa ibu bisa sakit dan meninggal. Aku sungguh marah dan sedih pada mereka. Tapi, kesedihan lebih kuat bergayut di hatiku.

Dua minggu setelah ibu di- makamkan, aku pergi meninggalkan rumah. Seperti kebanyakan lelaki di kampungku, aku berpikir pilihan merantau adalah solusi mengatasi masalah. Rantau bagiku adalah pilihan. Dan aku memilih merantau. Dan di rantau ini, kata-kata ibu sering kali  terngiang di telingaku, ”Kamu harus terus menjaga hubungan baik dengan saudaramu, nak.”

”Ah, ibu.”

Farizal Sikumbang : lahir di Padang. Bekerja sebagai pengajar di daerah pedalaman Kabupaten Aceh Besar. Tinggal di Kota Banda Aceh. Cerpennya dipublikasikan di media nasional dan daerah. Kumpulan cerpennya Kupu-Kupu Orang Mati (2017).

Ketut Endrawan : lahir di Klungkung, 12 Maret 1974. Menyelesaikan studi seni rupa murni di PSSRD Universitas Udayana (sekarang ISI Denpasar) tahun 1999. Selain sebagai perupa, ia juga pengajar. Karya-karyanya menjadi finalis Indofood Art Awards 2003 dan Jakarta Art Awards 2008.

sumber : harian Kompas edisi 06 Januari 2019 di halaman 19 dengan judul ” Tali Darah Ibu”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme