Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Anak Mercusuar oleh Mashdar Zainal

Posted on Ming, 31 Mar 2019

Ayahku sebuah mercusuar di dekat dermaga. Mercusuar tua bertubuh jangkung, berkemeja putih, dan bertopi coklat tahi karat.

Ketika malam sorot matanya masih bekerja dengan baik, menyala dan menelanjangi semesta pantai: kapal-kapal yang berayun di tepi dermaga, para nelayan berkalung sarung yang sibuk membetulkan mesin, sepasang kekasih yang duduk saling merapat di sebuah bangku panjang, seekor kepiting yang kehilangan ibunya—yang merangkak gegas meninggalkan garis-garis tipis di atas pasir.

Ayahku sebuah mercusuar di dekat dermaga. Kakinya tak pernah mengenakan alas. Hanya menapak bebas di atas batuan cadas. Anak-anak kepiting dan binatang-binatang kecil tanpa nama selalu suka bersembunyi di bawah kakinya. Menggelitikinya sepanjang waktu. Namun ayah tak pernah tertawa, alih-alih beranjak dari tempatnya. Karena ayah adalah sebuah mercusuar.

Dan sebuah mercusuar harus menyepakati dua sumpah, yang pertama ia harus teguh berdiri di tempat yang ditentukan, dan kedua ia tak boleh memejamkan mata di waktu malam. Dan ayahku tak pernah menyalahi sumpah. Ia akan tetap menjadi sebuah mercusuar, bahkan setelah cinta pertama menemukannya.

Ayahku adalah sebuah mercusuar di dekat dermaga. Ayah dan ibu bertemu pada sebuah malam yang penuh garam. Ibu tengah sekarat terombang-ambing ombak di atas sebuah sekoci ketika sorot mata ayah menemukannya. Sepasang mata itu bertemu. Mata ayah menatap mata ibu, dan mata ibu menangkap sorot mata ayah. Dan sorot mata ayah yang berkedip-kedip itulah yang kemudian menyelamatkan ibu dari rengkuhan malam dan udara dingin penuh garam.

Ayahku sebuah mercusuar di dekat dermaga. Ibuku yang menceritakan semuanya.

Suatu malam, segerombolan orang menuntun ibu dari lepas pantai sebuah dusun—dan membawa ibu bertamasya ke tengah laut dengan sebuah kapal pencari ikan berukuran besar. Ibu mengingat nama dusun itu dan juga orang-orang itu, namun ibu sudah berjanji tak hendak lagi menyebut nama-nama itu. Ibu hanya akan menyebutnya sebagai segerombolan hantu dalam kapal hantu. Sebab, sesampainya di tengah laut, orang-orang itu memang berubah menjadi hantu yang menyekap ibu.

Waktu itu, ibu tengah hamil muda. Dan hantu-hantu itu menghendaki diriku—yang ketika itu masih begitu mungil dan enggan terbangun dari tidur lelap di perut ibu. Kata ibu, hantu-hantu itu memaksa ibu membangunkanku secara paksa. Ibu tak mau melakukan itu. Karena itu akan sangat menyakitiku—dan menyakiti diri ibu sendiri.

Karena ibu tak mau menuruti kata-kata mereka, hantu-hantu itu pun marah besar dan ingin menghukum ibu dengan melempar ibu ke laut. Sebab, barangkali ibu akan berubah menjadi ikan duyung setelah terjun ke dalam air.

Segerombolan hantu itu bersorak, bahwa ibu akan lebih baik menjadi ikan duyung daripada menjadi manusia. Namun, sesosok hantu lelaki yang sangat ibu benci—ibu selalu menangis ketika sampai pada bagian ini—mencegah hantu-hantu lain yang telah bersiap melempar tubuh ibu ke kedalaman air.

Segerombolan hantu itu kemudian berdebat, namun sepertinya sosok hantu lelaki yang sangat ibu benci itu adalah ketua dari para hantu, maka hantu-hantu lain pun menuruti perintahnya. Hantu lelaki itu menyuruh hantu-hantu lain untuk mengangkat tubuh ibu dan memasukkannya ke dalam sebuah sekoci. Lantas sekoci itu dilepaskan perlahan ke tengah laut.

Kata ibu, hantu lelaki itu tak sampai hati melihat ibu menjadi ikan duyung di depan matanya, tapi barangkali ia akan sampai hati kalau beberapa saat kemudian sekoci kecil itu terguling dan tubuh ibu ditemukan oleh seekor hiu yang lapar. Intinya, hantu lelaki itu tak ingin melihat ibu menghilang begitu saja di depan matanya, ia hanya ingin melihat ibu pergi perlahan. Menghilang begitu saja dan pergi perlahan mungkin memang berbeda.

Malam itu, ibu meraung-raung seperti orang gila dalam sebuah sekoci. Memohon-mohon agar ia tidak ditinggalkan seorang diri di tengah lautan lepas penuh garam dengan udara dingin menggigit, dan hanya dengan sebuah sekoci. Sekoci yang begitu kecil, seperti sebuah peti mati, kata ibu.

Ibu terombang-ambing penuh kepasrahan dalam sekoci itu selama satu hari satu malam. Berusaha menyelami kata-kata laut. Berusaha memahami bisik-bisik angin. Dan menyimak baik-baik, percik-percik yang disampaikan langit.

Dan apa yang dilakukan ibu dalam sekoci mirip peti mati itu selama sehari semalam?

Menangis. Hanya menangis sampai air matanya menjadi garam. Sampai ludahnya menjadi garam. Sampai rambutnya menjadi garam. Dan kulitnya bersisik-sisik penuh serbuk daki, benar-benar seperti ikan dilumuri garam.

Dengan tenggorokan sepat bagai tercekik, ibu berbaring pasrah dalam sekoci yang barangkali akan benar-benar menjadi peti matinya. Ibu tak lagi memikirkan kemana sekoci tanpa layar itu pergi disetir angin, atau di manakah sekoci rapuh itu nantinya akan terjungkal memuntahkan tubuh ibu yang sekarat. Ibu hanya menelentang menghadap langit dan telah siap menjadi ikan apa pun, entah ikan duyung, entah ikan kembung, entah ikan julung… Sebab, detik itu ibu merasa dirinya telah hampir menjadi ikan asin yang puas dijemur udara dingin.

Beruntunglah, malam itu laut berkata lain, langit berujar lain. Malam itu mata ayah menemukan ibu, menangkap sekoci ibu, hingga kemudian segerombolan orang menyelamatkannya. Malam itu, tubuh ibu yang lunglai dibawa ke lepas pantai, dan di ambang kesadaran yang pasang-surut, ibu melihat ayah berdiri tegap, gagah, berkemeja putih, dengan sorot mata yang setia dan kelewat tajam mencincang kegelapan.

Hari-hari berikutnya, ibu tak pernah bisa jauh dari ayah. Ia jatuh hati pada ayah sejak pandangan pertama pada malam penuh garam itu. Selanjutnya, ibu tinggal dan tidur di mana saja, di sekitar dermaga. Orang-orang menyebut ibu sebagai gelandangan gila yang hamil tua di dermaga. Namun ibu tak pernah menggubris, kata ibu hanya ayah yang paham mengapa ibu melakukan itu.

Ibu rela makan dan tidur di mana saja: di bawah pohon ketapang yang berjajar di sepanjang pantai, atau di bangku beton penuh coretan yang menatap ke laut lepas, bahkan ibu rela tidur di hamparan pasir, asalkan setiap hari ia bisa melihat tubuh ayah yang gagah serta menatap sorot matanya yang jeli ketika langit mulai gulita.

Pada hari ketika aku terbangun dari perut ibu, ibu pergi tergopoh-gopoh menuju kaki ayah. Ibu ingin aku terbangun di bawah naungan ayah. Menatap wajah ayah saat tiba di muka bumi untuk pertama kali. Malam itu, orang-orang begitu gaduh. Berseru satu sama lain. Gelandangan yang hamil tua itu melahirkan di bawah menara… Gelandangan yang hamil tua itu melahirkan di bawah menara…

Dan hari itu ibu sangat bahagia. Hanya bahagia. Dan rupanya, orang-orang baik di muka bumi ini masih cukup banyak. Semenjak hari itu, ibu tinggal di sebuah rumah mungil milik orang baik di dusun tepi dermaga. Di seberang kios pelelangan ikan. Ibu tak perlu membayar uang sewa. Ibu hanya butuh merawat rumah mungil itu dengan baik.

”Segerombolan hantu membuang ibumu di laut lepas, dan ayahmu serta segerombolan orang baik menemukan ibumu di sini, atau ibumu yang menemukan mereka,” ibu terkekeh.

Maka, sampai detik ini, ketika aku bertanya di mana ayah, ibu akan membawaku ke tepi dermaga, di sepanjang jalan, mulut ibu akan bercerita. Sedang sepasang matanya yang menyala, menyorot tajam ke depan.

”Ayahmu adalah sebuah mercusuar di dekat dermaga. Mercusuar tinggi berkemeja putih dan bertopi coklat tahi karat. Ketika malam, sorot matanya masih bekerja dengan baik, menyala dan menerangi seluruh pantai. Kaki ayahmu tak pernah mengenakan alas. Hanya menapak bebas di atas batuan cadas. Anak-anak kepiting dan binatang-binatang kecil yang tak kutahu namanya suka bersembunyi di bawah kakinya. Menggelitikinya sepanjang waktu. Dan ayahmu tak pernah tertawa, atau beranjak dari tempatnya…”

Karena ayah adalah sebuah mercusuar. Dan sebuah mercusuar harus menyepakati dua sumpah, yang pertama ia harus teguh berdiri di tempat yang ditentukan, dan kedua ia tak boleh memejamkan mata di waktu malam. Dan ayah tak pernah menyalahi sumpah. Ia akan tetap menjadi sebuah mercusuar. Juga menjadi ayah. Sampai kapan pun.

Jadi begitulah! Kalau ada yang bertanya padaku, siapa ayahku, akan kujawab: ayahku adalah sebuah mercusuar di dekat dermaga. Ibuku yang menceritakan semuanya.***

Mashdar Zainal : lahir di Madiun, 5 juni 1984, suka membaca dan menulis puisi serta prosa. Tulisannya terpercik di beberapa media. Buku kumpulan cerpen terbarunya, Dongeng Pendek Tentang Kota-Kota dalam Kepala, 2017. Kini bermukim di Malang.

Deka Dermawan : punya nama lengkap Anissa Dermawan Kunaefi, lahir di Bandung, 1994. Menyelesaikan kuliah S-1 di Program Studi Seni Rupa Studio Dwimatra Seni Lukis Institut Teknologi Bandung (ITB). Kini bekerja sebagai pengajar yunior di kursus Gambar Villa Merah Bandung.

sumber : harian Kompas edisi 31 Maret 2019 di halaman 20 dengan judul “Anak Mercusuar”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme