Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kari Mak Qori oleh Ayi Jufridar

Posted on Kam, 11 Apr 2019

Sebagai komandan gerilyawan yang disegani, dada Pang Min terasa membara ketika mengetahui Mak Qori memberi makan tentara musuh sebanyak tiga kali sehari, 21 kali dalam sepekan, atau 90 kali sebulan.

Perbuatan terlarang itu sudah berlangsung selama dua bulan dan baru diketahui pada pekan pertama bulan ketiga. Pang Min murka kepada Mak Qori sekaligus anak buahnya yang tidak melaporkan kejadian itu pada kesempatan pertama.

”Coba bayangkan, sudah berapa piring nasi dan lauk yang disumbangkan kepada musuh. Dari makanan yang mereka santap itu, mereka dapat tenaga, otak mereka bisa berpikir untuk menyiksa kita. Berapa banyak saudara kalian dibunuh dengan tenaga yang mereka dapatkan dari makanan yang dimasak Mak Qori. Dan kalian membiarkan saja itu terjadi! Berbulan-bulan!”

Pang Min memiliki sepuluh regu gerilyawan. Kekuatan setiap regu berbeda, demikian juga persenjataannya. Satu regu terkadang berjumlah 10 orang, terkadang hanya lima saja, tergantung kebutuhan, situasi, dan musim.

Di musim tanam padi, jumlah anggotanya berkurang sebab mereka harus turun ke sawah dan menjadi warga sipil biasa. Atau ketika terjadi operasi besar-besaran, semuanya menjadi warga sipil. Siang menjadi sipil, malamnya menjadi militer.

Kelompok itu memiliki senjata api laras panjang jenis AK-47 tujuh pucuk, tetapi sering berpindah tangan kepada setiap anggota untuk mengesankan semua gerilyawan menyandang AK-47 agar kelompok mereka lebih disegani.

Sejak masuk dalam garis perjuangan tiga tahun silam, Pang Min sudah terlibat dalam sejumlah serangan terhadap iring-iringan kendaraan tentara. Beberapa tentara terbunuh, tetapi anak buahnya mengembuskan kabar bahwa sudah puluhan tentara mengembuskan napas terakhir di tangan Pang Min.

Ditambah lagi dengan cerita yang sengaja disampaikan kepada masyarakat dengan sedikit keraguan tentang mitos Pang Min yang kebal. Kesaktian itu dibuktikan banyaknya codet di tubuhnya. Bahkan proyektil peluru pun hanya melukai permukaan kulit saja, tidak mampu menembus dagingnya yang sekeras baja.

Dengan kewibawaan sementereng itu dan mitos-mitos yang melingkupinya, Pang Min merasa hukuman terberat harus dijatuhkan kepada Mak Qori. ”Tembak saja kalau ia mengantar rantang lagi kepada musuh!”

”Apa tidak sebaiknya kita ingatkan saja, Pang?” tatap seorang anak buah Pang Min yang masih muda.

”Tak ada peringatan lagi. Dan tak ada pertanyaan lagi. Jangan sampai aku sendiri yang turun tangan.”

Sesungguhnya, beberapa anak buah Pang Min sudah lama tahu tentang rantang yang keluar masuk dengan bebas kepada perwira di pos komando tentara. Bahkan sudah ada yang mengingatkan Mak Qori agar berhenti memberi makan musuh. Tapi Mak Qori memberikan jawaban yang membuat mereka tidak punya alasan untuk mendebat.

”Baiklah, mulai besok aku berhenti menjual nasi kepada mereka. Sebagai gantinya, kalian saja yang membayarku dengan harga yang lebih rendah dari tentara itu.”

Terhadap orang lain, anak buah Pang Min bisa saja mengeluarkan kalimat sakti: ”Patuhi perintah kami atau tanggung sendiri risikonya.”

Tetapi, kepada Mak Qori, mereka masih segan. Mak Qori memiliki tiga anak gadis, dan ketiganya cantik pula. Anak buah Pang Min sudah menyenter ketiganya untuk calon istri. Bukan saja para lajang, yang sudah menikah pun mengincar anak Mak Qori untuk dijadikan istri kedua, ketiga, atau keempat.

Masalahnya, ketiga anak Mak Qori masih belia, yang tertua masih kelas tiga SMA, kedua masih kelas satu SMA dan yang bungsu masih SMP. Pernah ada yang nekat melamar si sulung, tetapi Mak Qori menolak dengan halus. ”Tunggulah dia jadi sarjana dulu.”

Anak buah Pang Min juga menghormati Mak Qori karena perempuan itu sering membantu warga sekampung memasak kari kambing ketika ada acara kenduri, baik untuk perkawinan, Maulid Nabi, turun tanah anak warga, sampai pada peringatan tujuh hari kematian. Ketika orang ingin makan kari kambing dengan daging empuk dan aroma rempah yang melekat abadi di rongga hidung, warga ingat Mak Qori.

Ketika gerilyawan merayakan milad, Mak Qori pula yang memasak kari kambing. Puluhan kilo daging kambing segar dicincang para lelaki, puluhan liter santan kental juga disiapkan para lelaki. Demikian juga dengan rempah lain seperti bunga lawang, kayu manis, kepulaga, cengkih, lada, jintan manis, dan ketumbar, semuanya sudah tersedia dalam jumlah cukup, termasuk biji ganja yang diyakini akan membuat daging kambing menjadi lebih empuk.

Tapi, Mak Qori-lah yang mengolah semua bumbu tersebut dalam takaran yang pas. Aroma kari kambing yang menggugah selera menguar sejauh angin mampu membawanya. Banyak yang mengaku, hanya dengan mencium aromanya saja air liur sudah menetes.

Waktu itu, panglima gerilyawan juga hadir dan terkesan dengan kari kambing racikan Mak Qori. Dia menghabiskan satu kepala kambing seorang diri setelah puas menghirup kuah kari dari piring. Bisa dibilang Mak Qori sudah berjasa dalam perjuangan, bahkan Pang Min juga ikut menikmati kari Mak Qori. Tak pantas ia ditembak hanya karena menjual nasi untuk tentara.

Dua anak buah Pang Min memberanikan diri melawan perintah komandannya dengan mengingatkan Mak Qori untuk kedua kalinya. Senjata belum pantas meletus bagi Mak Qori. Mereka meminta Mak Qori berhenti mengantar nasi untuk komandan tentara. ”Kalau tidak, kami tak bisa membendung amarah Pang Min.”

”Oh, begitu?” seru Mak Qori. ”Jadi aku bersalah karena jual nasi untuk tentara. Bagaimana dengan penjual rokok, air, Wak Sabi yang jual kopi harusnya dilarang juga. Setiap pagi, belasan tentara ngopi di warungnya. Kenapa mereka tidak dilarang?!”

Kedua anak muda itu sadar, Mak Qori benar. Namun, mereka tetap menyarankan Mak Qori tidak lagi mengantar nasi kepada para perwira tentara, setidaknya untuk sementara waktu. ”Atau kalau mau,” saran seorang di antara anak muda itu, ”campurkan saja sedikit racun dalam kari. Setelah itu, kami akan melindungi Mak Qori sekeluarga, bahkan sampai anak cucu.”

Tatkala mendapat laporan Mak Qori masih mengantar rantang kepada tentara, Pang Min kembali murka. Sore itu juga dia turun ke kampung dekat dengan lokasi pos tentara. Tak ada yang mengenalinya di sana, seperti juga para pentolan gerilyawan yang lain yang bebas bergerak kemana saja bahkan terkadang tanpa penyamaran sedikit pun. Para tentara yang ditugaskan beberapa bulan, hanya mendengar nama mereka saja.

Sebelum gelap turun, ia sudah duduk di warung kopi yang terletak tak jauh dari pos tentara dengan ditemani beberapa anak buahnya. Dia harus menunggu Mak Qori dan seorang anak gadisnya keluar dari pos tentara dan mengikutinya sampai agak jauh.

Semakin jauh dari pos, semakin bagus karena suara tembakan akan mengundang tentara datang lebih cepat. Pang Min sering bermimpi mendapatkan pistol berperedam seperti dalam film, tetapi sejauh ini impian tersebut belum terwujud.

Dengan sepeda motor, Pang Min dan seorang anak buahnya menguntit motor Mak Qori. Perempuan bertubuh agak tambun itu duduk di belakang, dengan kedua tangannya memegang empat rantang, dua di kiri dua di kanan. Mereka melalui jalanan kampung yang berbatu dan becek di musim hujan serta berdebu di musim kemarau. Sebelum gelap turun, warga mulai bergegas pulang ke rumah sebab baku tembak antara tentara dengan gerilyawan sering terjadi pada malam hari.

Diam-diam Pang Min memegang erat pistol yang tersembunyi di balik kemeja. Saat mendekati motor Mak Qori yang dikendarai anaknya, seketika motor Mak Qori membentur batuan besar. Motor agak oleng, tetapi Mak Qori selamat. Hanya keempat rantang aluminium yang berada di tangannya terjatuh dan berserakan di jalanan berbatu.

Anak buah Pang Min juga kaget menghindari rantang yang berserakan. Dia berhenti persis di belakang motor Mak Qori yang kini mengumpulkan rantangnya kembali. Tatapan Mak Qori sempat mengarah kepada Pang Min dan anak buahnya, tetapi ia tidak merasa terganggu, apalagi terancam.

Aroma kari kambing dari rantang yang belum dicuci menguar sampai ke hidung Pang Min, mengingatkan dia pada masa-masa akrab bersama panglimanya yang kini entah berada di hutan mana. Kian lama, aroma kari itu tercium kian kental seiring dengan kian mengendurnya genggaman pistol di tangan Pang Min.

AYI JUFRIDAR : bekerja sebagai jurnalis dan penulis fiksi di Lhokseumawe, Aceh. Empat novel yang sudah terbit, Alon Buluek (2005), Kabut Perang (2010), Putroe Neng (2011), dan 693 KM Jejak Gerilya Sudirman (2015).

I WAYAN ARIS SARMANTA : lahir di Gianyar, 8 April 1995. Seniman bergaya batuan ini belajar dari karya kakeknya, I Regug. Ia kemudian menempuh pendidikan di SMKN 1 Sukawati, kemudian IKIP PGRI Bali, Jurusan Pendidikan Seni Rupa.

sumber : harian Kompas edisi 14 April 2019 di halaman 16 dengan judul “Kari Mak Qori”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme