Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Wakyat oleh Putu Wijaya

Posted on Ming, 28 Apr 2019

Bu Amat tiba-tiba menodong suaminya.

”Sejatinya Wakyat itu siapa, Pak?”

Amat tertegun. Berpikir, lalu menggeleng.

”Bapak tidak tahu.”

”Ah, masak tidak? Kita kan yang memilihnya?”

”Memilih? Memilih siapa?”

”Wakyat.”

”Siapa dia?”

”Pilihan kita, kan!”

”Kita siapa?

”Kita yang memilih!”

”Kita ini?”

”Ya dan tidak.”

Amat ketawa. ”

Putu Wijaya

Ibu ini dulu kan guru bahasa indonesia, sekarang kok bahasanya mundur sekali! Ngomongnya yang bener, dong! Jangan seperti orang bingung. Ya, ya, ya! Tidak, ya, tidak. Tidak bisa ya dan tidak.”

Bu Amat tersenyum.

Amat berdiri mau cari angin di teras.

”Tunggu dulu, Bapak belum menjawab itu karena tidak tahu atau setuju?”

”Ya dan tidak!”

Bu Amat cemberut. Amat ketawa besar lalu ke teras. Tapi belum sempat duduk, pikirannya seperti menyengat. Ia cepat kembali masuk.

”O, maksud Ibu….”

Tapi Bu Amat sudah ngeloyor ke dapur. Amat jadi penasaran. Ia sekarang ingat sama Pak Wakyat.

Orang itu sempat dipilih oleh pengurus lingkungan untuk mengaspal ulang jalan di seluruh kompleks yang rusak tergerus hujan. Soalnya, proposal penawarannya yang terbilang paling murah.

Hanya saja ia memberi persyaratan. Sebelum jalanan diaspal, selokan air harus diperbaiki.

”Sebab kalau selokan rusak seperti sekarang ini, perbaikan jalan tidak ada gunanya,” katanya tegas waktu itu, ”Biar kata dibeton sekali pun, kalau hujannya gila seperti sekarang ini, sekali byur saja, pasti banjir lagi, banjir lagi sampai satu bulan. Karena airnya tidak tahu harus pergi kemana! Jalan yang baru diaspal pasti hancur lagi. Nanti kami yang merenovasi kena getahnya. Dianggap korupsilah atau kurang profesional! Ya, enggak?”

Warga menganggap alasan itu masuk akal. Tapi siapa yang paling tepat memperbaiki selokan?

”Terserah,” kata Wakyat, ”asal orangnya punya track recordbener-bener dan bukan cuma mahal tapi kerjanya betul! Soalnya untuk apa murah tapi sebentar-sebentar jebol, jatuhnya bisa 2 kali lipat mahal. Mending mahal sekalian, hasilnya bisa diwariskan ke anak cucu. Tapi ini hanya sekadar masukan dari orang lapangan. Keputusan 100 persen di tangan owner, bapak-bapak warga di sini. Ya, enggak?”

Warga manggut-manggut menyimak. Wakyat lantas mendesak.

”Tapi karena ini jelas akan langsung menyangkut keselamatan proyek jalan, menyangkut langsung kredibilitas kami sebagai pelaksana proyek, mohon ada jaminan jangan sampai pekerjaan kami terganggu karena proyek saluran air got tidak beres. Karena itu kami ingatkan, ramalan cuaca sekarang sudah bingung karena perubahan cuaca yang ekstrim. Kita tidak tahu kapan hujan akan turun. Kelihatan terang, tahu-tahu mendadak hujan besar menggempur kita habis! Ya, enggak?! Ya kami blak-blakan saja bicara pahitnya, sebelum nasi keburu jadi bubur! Ya, enggak!”

Pengurus kompleks terpaksa rapat lagi. Akhirnya dengan suara bulat memutuskan: perbaikan selokan juga dipercayakan pada Wakyat sendiri.

”Wah kami kok jadi seperti telor di ujung tanduk. Kami terus terang bilang, kunci perbaikan jalan ini bukan terletak pada renovasi jalannya, bukan, Pak. Tapi pada penyebab yang merongrong jalan rusak. Ya got-got brengsek itu. Konsentrasikan alokasikan dana harus diprioritaskan ke situ dulu! Karena biayanya memang sangat, sangat mahal! Tapi itu bukan dimaksudkan agar proyek itu diserahkan ke kami! Bukan! Sama sekali bukan! Tapi kalau memang begitu keputusannya, ya apa boleh buat. Oke, oke saja. Sebagai profesional saya bersedia. Tapi dengan satu syarat mutlak. Kekuatannya harus sesuai dengan tuntutan kami, kami yang akan merenovasi jalan! Karena sekali lagi, itu akan langsung menyangkut keselamatan proyek renovasi jalan! Ya, enggak?”

Semua membenarkan. Lalu Wakyat mengulurkan sebuah proposal yang nampak sudah dipersiapkannya dengan rapi. Di proposal itu diuraikan dengan teliti bagaimana air akan digiring keluar hunian begitu jatuh ke tanah. Sangat profesional, tetapi biayanya juga tak terbayangkan.

Dua bulan warga dan pengurus lingkungan membahas proposal got dari Wakyat itu. Mula-mula hampir semua menentang hingga nyaris ditolak. Karena itu terasa terlalu pesimistik, ketakutan dan didramatisir.

Tapi tiba-tiba seorang warga vokal sekali membela sampai menggebrak meja.

”Kita sekarang sudah memasuki era kota metropolitan dengan berbagai problem milenial! Waktu dan berbagai perubahan terjadi sangat cepat di kampung, apa yang terjadi 50 tahun lalu sekarang masih sama. Tapi di era milenial besok itu bukan 24 jam yang akan datang tapi keadaan yang dulu 5 tahun baru datang, sekarang, besok begitu kita bangun tidur, sudah di sebelah kita. Nah! Kalau kita lalai, telat tidak cepat tanggap kita akan mati konyol, dilalap perubahan zaman! Kita akan tenggelam hidup-hidup! Karena itu jangan berhitung dengan uang yang bisa kita cari setiap hari. Berhitunglah dengan nyawa yang hanya satu kita punya. Jangan sayangi duit, sayangi nyawa! Berapa pun biayanya kalau menyangkut nyawa, ikhlaskan! Duit bisa dicari tapi nyawa?”

Warga itu tak sanggup melanjutkan. Tubuhnya gemetar. Ia menangis lalu pingsan. Semua jadi syok. Sejak itu skors mulai bergeser. Dan pada bulan ketiga, proposal Wakyat, baik mengenai renovasi jalan maupun pembangunan got di-acc.

Tapi Wakyat menghilang. Sementara langit mulai cenderung muram-muram seakan memberi isyarat akan curah hujan gila.

Warga cemas. Pengurus lingkungan terpaksa rapat lagi. Keluar gagasan untuk mencari pemborong baru. Ide awal dihidupkan. Lupakan got, jalan diprioritaskan jangan sampai keburu dijegal hujan. Tender pun dibuka, beberapa pemborong berebutan mau mencaplok. Terjadi perebutan untuk memilih yang terbaik.

Tetapi warga yang dulu sempat dicurigai sebagai sekutu di bawah selimut, kembali mempertahankan Wakyat.

”Inilah akibatnya kalau demokrasi itu dijadikan hobi. Berunding lagi berunding lagi sampai mati! Bikin keputusan untuk arsip sudah kerja, padahal tidak ada karya. Apa gunanya dulu berunding berbulan-bulan, meniru DPR ya! Cari Pak Wakyat. Dia orang profesional, pasti tidak mau menunggu kita selesai pidato! Dia ada di proyek! Saya ada WA-nya! Jangan tunggu banjir merendam permukiman kita! Aduh, apa saya perlu nangis lagi?”

Tapi dia sudah menangis. Dan hampir saja pingsan. Untung rapat memutuskan membatalkan tender. Dan memanggil kembali Wakyat!

”Oke, oke empati kami sepenuhnya untuk warga di sini,” kata Wakyat dalam rapat bersama warga pengurus lingkungan.

”Kita sudah ada histori. Tetapi sayang waktu tidak mau menunggu. Sebagai profesional kami tidak bisa melawan kewajiban. Sekarang kami sedang terikat proyek dengan investor asing. Tapi sebagai profesional yang kreatif, kita masih bisa memungkinkan yang tak mungkin. Hanya itu perlu biaya. Kalau kami bisa mengontrak orang untuk mengawasi proyek di situ, kami bisa kembali kepada kesepakatan kita dulu. Kami akan lakukan dengan cepat. Nah sekarang solusinya tinggal, cepat turunkan dananya, besok juga kita bisa mulai. Tapi kalau masih menunggu hasil rapat, maaf, sorry kami tak sanggup. Jam 20.00 kami take off. Ini nomor rekening kami.”

Wakyat menyerahkan nomor rekening, lalu bersalam-salaman. Setelah itu pergi, takut dijegal kemacetan rush hour orang pulang kerja. Pengurus hunian masih perlu rapat kilat. Tapi kemudian membuka kas dan mengirim dana sejumlah yang tertulis di bawah nomor rekening yang diberikan Wakyat.

Itulah yang kemudian membuat nama Wakyat melangit, jadi sangat populer. Ia jadi ”man of the year”, karena sejak itu menghilang, entah ke mana. Warga yang suka nangis dan pingsan itu pun ikut kabur.

Begitu memalukannya lakon penipuan yang canggih, dramatis, tertata rapih, lucu dan mengobarkan marah itu, sehingga seluruh warga berusaha melupakannya. Karena setiap teringat, semua orang jadi merasa dirinya begitu konyol.

Amat pernah diam-diam minta Ami menelusuri di dunia maya, siapa itu Wakyat. Soalnya kasus sejenis beberapa kali terjadi di banyak tempat. Dan reaksi masyarakat hampir sama. Karena malu, mereka mencoba mengalihkan dengan melupakannya. Kasus itu jadi tenggelam.

Jadi kalau Bu Amat mencoba mengorek lagi, ”Berarti malu kita sudah mulai hampir kikis. Sekarang kita berangsur sembuh dan harus mengusut peristiwa kriminal itu tuntas! Kita harus potong mati. Kalau tidak, percuma kita mengaku negara hukum! Percuma! Kebangkitan memang biasa dimulai dari kaum perempuan,” bisik Amat dalam hati. ”Malu itu konyol, kita harus bertindak sekarang!”

Amat bergegas menyusul istrinya ke dapur.

”Bu! Bapak baru sadar, baru mengerti sekarang!”

Bu Amat menjawab acuh tak acuh.

”Sadar apa? Bapak kok semangat sekali!”

”Habis bagaimana tidak, kaum perempuan selalu jadi pelopor kebangkitan!”

Bu Amat melengos sinis.

”Kalau sudah memuji pasti ada maunya. Bilang saja mau apa. Tapi kan semalam sudah?!”

”Bukan! Ini soal Pak Wakyat! Menurut Ami modus itu adalah…”

”Sudah tahu! Wak Kiat itu sudah ditangkap!”

Amat terkejut.

”Lho sudah ditangkap?”

”Sudah! Bapak selalu ketinggalan!”

”Kapan?”

”Bulan lalu!”

”Siapa bilang?”

”Ami. Anakmu, Pak! Di koran juga ada!”

Amat bengong.

”Lho, kalau sudah tahu, Ibu kok tadi nanya?”

”Habis. Wakyat itu kan sejatinya wakil rakyat, wakil seluruh rakyat! Tapi kenapa prakteknya hanya wakil partai, wakil kelompok yang kurang peduli nasib rakyat keseluruhannya?!”

Amat terpukau.

Putu Wijaya : lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali. Putra ketiga (bungsu) dari pasangan I Gusti Ngurah Raka dan Mekel Erwati. Setelah tamat dari SMAN Singaraja dan Fakultas Hukum UGM, pindah ke Jakarta. Pernah menjadi wartawan Tempo, Zaman, dan Warisan Indonesia. Mendirikan Teater Mandiri, menyutradarai film dan sinetron, serta menulis cerpen, esai, novel, dan lakon.

Muhammad Hafiz Asyraf : lahir di Kota Bogor, 13 Desember 1995. Menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung Fakultas FSRD Jurusan Desain Interior, lulus pada tahun 2019. Kerap kali mengikuti sayembara ilustrasi dan juga ilustrator freelance. Kini aktif dalam kegiatan mural di Bandung dan Kota Bogor.

sumber : kompas.id, 28 Apr 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme