Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sebelum Berjalan Sendiri oleh Luhur Satya Pambudi

Posted on Sab, 08 Jun 2019

Baru kupahami kini mengapa mendiang Bapak, Ibu, Paklik Totok, maupun Mbak Nia dahulu paling enggan hadir dalam pertemuan keluarga besar yang menyinggung masalah warisan. Bahkan mereka memilih menuruti apa pun keputusan yang bersedia membahasnya secara terperinci. Sepeninggal mereka, terasa benar bahwa harta peninggalan nenek moyang bisa menjadi problema kompleks yang tak mudah mendapatkan solusi. Harta tersebut secara kasat mata tak terlalu berlimpah, hanya sebuah rumah tua besar berhalaman luas di kota kecil tempat keluarga Mbah Kakung tinggal puluhan tahun silam.

Di situlah tempat Ibu, Paklik Totok, dan saudara-saudaranya beserta kedua orangtuanya pernah tinggal. Bapak, Ibu, dan sejumlah kakakku pernah pula menempati rumah tersebut tatkala diriku belum lahir. Ketika Mbah Kakung dan Mbah Putri masih hidup, aku pun telah hadir di dunia, kerap sekali kudatangi rumah tersebut. Aku masih ingat saban liburan sekolah tiba, kami selalu bercengkrama bersama anak cucu Mbah seluruhnya. Tak heran jika hubunganku dengan paklik dan bulikku, juga dengan adik-adik sepupuku terjalin hangat sejak dahulu. Ibuku sendiri merupakan anak sulung Mbah Kakung berdua.

Sesungguhnya aku malah sempat tinggal di sana menemani Mbak Nia yang masih melajang, yang sebelum Mbah Putri tutup usia sudah menempatinya, berhubung dia bekerja di kota itu. Semula Mbak Nia berniat menemani Mbah Putri, sedangkan aku bersedia ikut dengannya karena ingin belajar mandiri. Namun, nenekku kemudian malah pindah ke kota lain guna menemani anak-anak Bulik Nunik, yang ditinggal ibunya bersekolah di mancanegara karena mendapat beasiswa. Suami Bulik Nunik sendiri sudah wafat sekian tahun sebelumnya. Mbah Putri akhirnya tutup usia di rumah Bulik Nunik, tidak di rumahnya sendiri. Lantas, begitu kakak perempuanku itu menikah, aku langsung memiliki sejumlah keponakan. Lelaki yang memperistri Mbak Nia adalah seorang duda beranak lima. Kakak iparku beserta anak-anaknya lalu tinggal bersama Mbak Nia dan diriku di rumah Mbah Kakung. Yang lucu, salah satu keponakan baruku sudah kukenal lebih dulu sebagai teman sekolahku. Maka wajar belaka jika kumiliki kedekatan yang lebih emosional dengan rumah tersebut ketimbang saudaraku lainnya. Begitu banyak kenanganku bersama rumah besar yang kini tak lagi berpenghuni tersebut. Hanya ada sebuah keluarga sederhana yang baik hati, yang selama sepuluh tahun terakhir menyewa bagian paviliunnya.

***

Masalah mulai mengemuka, kira-kira dua tahun semenjak Ibu kembali ke hadirat Ilahi. Sementara itu, Paklik Totok telah tutup usia tiga tahun sebelumnya. Mbak Nia berpulang ke Rahmatulllah tiga bulan menjelang Ibu wafat. Kepergian kakak perempuan dan ibuku menjadi masa yang cukup berat bagi keluarga kami. Maklumlah, baik Ibu dan Mbak Nia, demikian pula Paklik Totok, adalah orang-orang yang paling konsisten menjaga rumah peninggalan Mbah Kakung sebagai sesuatu yang sangat bernilai. Mereka pula yang selalu berinisiatif supaya anak cucu Mbah Kakung bisa kerap berkumpul di mana saja, tapi terutama di rumah itu. Saban kami bisa kembali berjumpa, rasanya wajah semua orang tampak riang gembira.

Paklik Totok dan Mbak Nia merupakan yang paling sibuk menjaga serta merawat rumah Mbah Kakung, sedangkan Ibu sudah tentu yang paling getol mendukung aktivitas positif adik dan putrinya tersebut. Boleh dikata, mereka merupakan tokoh pemersatu keluarga Mbah Kakung. Sesudah Paklik Totok wafat, masih ada Ibu dan Mbak Nia yang membuat persaudaraan kami tetap erat dan hangat. Bahkan rencana pertemuan keluarga besar kami di rumah Mbah Kakung tetap terselenggara, kendati Paklik Totok baru meninggal tiga bulan menjelang acara berlangsung. Namun, pada waktu itulah sepertinya terakhir kali sekitar seratus orang yang memiliki hubungan darah yang sama, biar pun berasal dari berbagai kota, bisa berkumpul di rumah berhalaman luas tersebut.

Selama ketiga tokoh pemersatu keluarga besar kami masih ada, tak pernah sedikit pun tercetus gagasan menjual rumah Mbah Kakung. Aku beserta seluruh kakak dan adikku pun masih ingin mempertahankan harta warisan itu, kendati tak seorang pun dari kami bisa menempatinya. Setelah Ibu wafat, kami lantas menyerahkan segala keputusan kepada adik-adik mendiang Ibu yang masih ada, yaitu Bulik Tatik, Bulik Nunik, dan Bulik Menik. Sebagai keturunan langsung Mbah Kakung yang masih hidup, rasanya mereka yang paling berhak menentukan nasib harta peninggalan orangtua mereka. Sementara itu, mendiang Paklik Totok melajang sepanjang hayatnya. Namun, barangkali justru itulah kesalahan kami yang terlalu pasrah dan percaya begitu saja.

***

Tak pernah ada kabar apa-apa soal rumah Mbah Kakung, hingga pada sebuah hari Bulik Menik ditemani Tora putranya datang ke rumah kami. Bulik Menik meminta kami berkumpul karena ada hal penting yang akan diutarakannya. Mereka bermaksud meminta tanda tangan semua anak mendiang Ibu untuk menyetujui penjualan rumah peninggalan Mbah Kakung. Bukan main terperanjatnya kami.  ”Maaf, Bulik. Terus terang, kami terkejut sekali dengan rencana penjualan rumah Mbah Kakung. Bagaimana ceritanya, kami mohon klarifikasi dari Bulik Menik,” ujar Mas Haryo, kakak laki-laki tertuaku.

”Sebenarnya kami sudah bernegosiasi dengan calon pembeli. Tora yang kami tunjuk sebagai wakil keluarga. Harga sudah disepakati, tetapi mereka ingin semua ahli waris menandatangani persetujuan penjualannya, sebelum nantinya akta jual beli dibuat oleh notaris,” kata Bulik Menik, seperti tanpa beban.

”Sebentar, Bulik. Kenapa setelah Ibu wafat, kami tidak pernah diajak rembukan tentang rumah Mbah Kakung? Mohon maaf, kami rada tersinggung selama ini dianggap tidak ada, lantas tiba-tiba disuruh tanda tangan begini,” ucapku menanggapi ujaran adik bungsu ibuku tersebut.

”Seingat saya, mendiang Ibu dan Paklik Totok tidak pernah berencana menjual rumah itu. Kenapa Bulik Menik mendadak mau menjualnya?” gugat Mas Haryo.

”Rencana penjualan rumah itu juga sudah disepakati Bulik Tatik dan Bulik Nunik, bukan hanya saya yang menentukannya!” sahut Bulik Menik yang tampak mulai emosional mendengarkan respons para keponakannya. Bisa jadi ia menduga bahwa kami akan menyetujui rencana penjualan rumah tersebut. Sudah pasti tidak demikian, lantaran kami -anak-anak mendiang Ibu- masih ingin menjaga rumah itu seutuhnya, kendati entah bagaimana caranya. Memang tinggal ketiga adik perempuan Ibu yang merupakan ahli waris langsung kakekku yang tersisa sepeninggal Paklik Totok dan Ibu, tapi apakah kami sama sekali tidak memiliki hak suara?

***

Bermula dari rencana penjualan rumah Mbah Kakung yang kami tolak itu, hubungan persaudaraan kami dengan ketiga adik perempuan Ibu menjadi renggang. Demikian pula koneksi kami dengan adik-adik sepupu jadi kurang nyaman. Hangatnya kasih sayang yang terjalin puluhan tahun berangsur meluntur. Iba hatiku sejatinya melihat kenyataan yang ada. Mas Haryo -sebagai wakil anak-anak Ibu- mengusulkan supaya nasib rumah Mbah Kakung dibahas dari awal oleh semua pihak, tidak hanya oleh ketiga bibi kami dan anak-anaknya. Sekiranya nanti rumah tersebut akhirnya dijual, lantaran memang tiada solusi lainnya, kami siap melepasnya asalkan nilainya sepadan. Tetapi sekali lagi, jika memang tidak ada kemungkinan lainnya, maka dijual merupakan jalan pamungkas.

Kami menengarai rumah tersebut dihargai terlalu rendah dalam rencana penjualan sebelumnya. Tentu amat disayangkan jika dijual murah, kendati bukan harapan kami mendapat jatah bagi waris. Sebenarnya kami masih mampu menghidupi diri dengan pekerjaan masing-masing selama ini. Ketiga bibi kami bersedia menerima ide Mas Haryo. Berbilang bulan kami telah berkumpul sekian kali, berbicara dari hati ke hati, mencoba mencari penyelesaian terbaik, tapi tak kunjung ketemu. Kusempatkan diri hadir dalam rapat keluarga besar dan memberikan sejumlah alternatif solusi. Namun, yang selalu ada malah perdebatan sia-sia yang mengobrak-abrik perasaan belaka.

Sejatinya aku masih ingin kembali sekadar menyumbang saran, yang barangkali mampu menjadi jawaban atas masalah yang ada. Apa yang pernah dilakukan Ibu, Paklik Totok, dan Mbak Nia semasa hidupnya masih ingin kulanjutkan dengan segenap ahli waris Mbah Kakung, yaitu mempertahankan rumah Mbah Kakung sebagai milik bersama. Namun, tanpa bisa kuduga Sang Maha Pencipta menghendaki diriku agar kembali ke hadirat-Nya. Tak punya kuasa apa pun diriku menolaknya dan tinggal bisa menerimanya belaka. Aku mesti berjalan sendiri menuju pada-Nya. Sebatas dapat kuharap, mereka yang kutinggalkan mampu menemukan jalan keluar bagi problema yang telah menjadi duri dalam daging keluarga besar kami.

Kemesraan hubungan segenap anak keturunan Mbah Kakung pun semoga dapat terjalin kembali dengan indah. Yang terang, lepas sudah segala beban hidupku di atas buana. Akan kurasakan kebahagiaan yang lain lantaran segera kutemui mereka yang kusayangi, yang telah lama nian kurindukan. Ada Bapak, Ibu, Mbak Nia, Paklik Totok, juga pastinya Mbah Kakung dan Mbah Putri yang telah lebih dahulu melangkah ke alam sana.

Luhur Satya Pambudi : lahir di Jakarta dan tinggal di Yogyakarta. Cerpennya pernah dimuat di Horison, Tribun Jabar, Suara Merdeka, basabasi.co, dan sejumlah media cetak dan daring lainnya. Kumpulan cerpen perdananya berjudul Perempuan yang Wajahnya Mirip Aku (Pustaka Puitika).

sumber : kompas.id, 08 Jun 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme