Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Raudal Tanjung Banua oleh Ayu Prawita

Posted on Sab, 15 Jun 2019

Hanya ada satu laki-laki yang bisa membantumu. Dia belum begitu tua, namun kesaktiannya telah menyebar seantero negeri. Kata orang-orang dia titisan makhluk suci. Sejak lahir memiliki kemampuan di luar nalar manusia. Jadi ya jangan coba-coba mencernanya dengan akal sehatmu yang hanya selebar daun mangga itu, jelas kau tidak akan mampu.

Tapi, tidak akan mudah menemukannya. Dia tinggal di ujung pulau ini. Menuju kediamannya butuh waktu berjam-jam dengan jalan darat, sebab tak ada bandara di sana. Dengan kapal pun tak bisa karena dia masih satu kepulauan. Satu-satunya cara memang harus melintasi bermil-mil jalan yang kadang beraspal, namun lebih banyak tanah bergelombang dengan batu-batu besar yang siap membuatmu terjatuh, tersungkur.

Jangan lupakan pula hutan-hutan yang harus kau lewati. Tanaman-tanaman yang rimbun, sinar matahari yang sangat pelit, suara tonggeret yang tak pernah putus. Namun, jangan khawatir, udara segarnya akan membuatmu bertahan. Di antara semua organ tubuhmu, tetap hidung dan mulut yang terpenting bukan? Jadi hiruplah banyak-banyak angin yang bertiup di sekitarmu.

Seorang lelaki mengangguk-anggukkan kepalanya dengan penuh semangat hingga membuat perut buncitnya bergoyang. Matanya yang semula redup kini bersinar-sinar. Wajahnya yang muram berubah cerah. Seakan-akan dia telah sembuh dari penyakit ganas.

Laki-laki satunya kini juga tersenyum. Dia puas informasinya berguna. Di waktu-waktu yang lain, dia juga memberikan informasi yang sama. Memberitahukan pada orang-orang yang membutuhkan bantuan mengenai sosok sakti nun jauh di sana yang kesaktiannya tiada batas. Soal hasil, ah biarlah menjadi kejutan. Laki-laki itu melamun tatkala di tangannya ada 10 lembar uang seratusan ribu rupiah dari si lelaki berperut buncit.

Informasi itu ternyata menghasilkan uang lumayan. Ia namai itu uang kejutan. Benar dugaannya. Berjualan informasi adalah salah satu cara menghasilkan uang cepat di zaman yang sinting ini.

Ah, dengan uang itu ia nanti bisa membeli makanan enak dengan wanita incarannya yang selalu menunggu di dekat terminal bus di pinggiran kota. Wanita dengan pinggul besar dan dada hangat yang rambutnya hitam sebahu itu begitu manis dan menggoda. Ia sibuk membayangkan bagaimana panasnya pelukan dari si wanita bermata lebar itu. Dua hari ke depan dia akan hidup di surga dunia.

Tak ada suara yang keluar di antara kedua laki-laki itu. Hening yang menggigit dengan keriuhan senyap yang bergeliat di pikiran masing-masing. Laki-laki berperut buncit itu juga melamun. Pikirannya penuh. Ia menghitung kasar uang yang sudah disiapkan dalam pertarungan nanti. Jumlah Rp 1 miliar rasanya cukup. Namun, suara-suara gaib yang tiba-tiba muncul seakan tertawa. Mana bisa hanya menyiapkan Rp1 miliar untuk pesta demokrasi seakbar itu. Lha wong pilihan kepala desa saja bisa butuh uang Rp1 miliar sampai jadi. Jadi ya jangan heran banyak kepala desa yang kemudian ngembat dana desa yang nilainya miliaran rupiah itu.

Wajah laki-laki itu sejenak muram. Titik-titik keringat bermunculan di keningnya yang lebar dan putih. Tangannya gemetar dan perutnya mulas seakan ada pengaduk di dalamnya.

Namun, suara gaib lain seakan menengahi. Kalau memang yang ada hanya Rp 1 miliar, mau bagaimana lagi. Bukankah ada laki-laki sakti di ujung pulau sana yang bisa menggandakan uang. Apa gunanya dia? Mintalah pada laki-laki itu untuk menggandakan uangmu menjadi Rp 1,5 miliar, atau jika kau beruntung karena laki-laki sakti itu kasihan padamu, uangmu menjadi Rp 2 miliar. Yakinlah kursi parlemen ada di genggamanmu begitu uang-uang itu meluncur di tanganmu. Jadi tunggu apalagi? Segeralah menemui laki-laki tua itu karena jarum waktu juga terus melaju.

Kedua laki-laki itu bangkit dengan pikiran masing-masing. Tanpa tegur sapa terakhir, keduanya melangkah ke arah yang berbeda.

***

Butuh waktu lebih dari sehari semalam dengan jalan darat menuju kediaman laki-laki sakti itu. Wajah cerah dan pakaian rapi lelaki berperut buncit tersebut kini berubah kusam dan kusut. Ratusan keraguan kini telah terkubur dalam-dalam di antara kelelahan yang menyerang. Tak ada satu pun yang muncul, kecuali tekadnya untuk segera sampai dan mendapat uang yang ia butuhkan.

Satu hal yang membuatnya bertahan. Dia adalah rivalnya di daerah pemilihan sama yang ia benci dengan sepenuh hati. Sungguh ia heran melihat rivalnya itu yang seolah tak pernah kekurangan uang. Seakan setiap ia bicara, semua kata yang jatuh menjadi uang seketika itu juga.

Tak heran rumahnya selalu ramai dengan orang. Sejak pagi hingga dini hari pintu depan selalu terbuka. Apa pun yang terjadi, selalu saja warga mencari laki-laki itu. Dulu lelaki berperut buncit itu mengira rivalnya membuka toko kelontong karena warga yang pulang selalu membaca berbagai macam barang. Ada yang membawa dua kilogram beras, seliter minyak, beberapa kilo gula, bahkan juga susu untuk anak balita. Rivalnya itu sungguh menyebalkan karena ia tak ubahnya pemimpin wilayah di dapilnya. Lelaki itu selalu muncul saat hajatan warga dan acara apa pun yang digelar pemerintah desa.

Rasa iri muncul pelan-pelan di hatinya. Sejak itu ia bertekad untuk mengalahkan rivalnya dengan perolehan suara yang signifikan. Dengan uang apa pun bisa terjadi bukan? Begitu kata iri hati itu padanya di suatu malam yang sepi dan dingin.

Ia juga telah menuruti semua nasihat tim suksesnya jauh hari sebelum pemilu digelar. Pertama dan yang utama, kata tim suksesnya itu, jangan pernah absen di acara warga, entah itu mantu, ngunduh mantu, tetak, bahkan takziah. Sejak saat itu mulailah lelaki berperut buncit itu berburu informasi mengenai orang yang mantu meski hasilnya lebih banyak orang yang meninggal. Tak terhitung berapa kali ia hadir di upacara permakaman yang demi Tuhan jangankan namanya, wajah yang meninggal saja tak pernah ia tahu sepanjang hidupnya. Dari takziah ke takziah itulah ia mulai memperkenalkan diri dan membagi-bagi uang secukupnya.

“Berapa isi amplop tetangga sebelah,” tanya laki-laki itu suatu kali pada tim suksesnya.

“Rp 50.000 Pak,” jawab dia.

“Serangan fajar berapa biasanya?”

“Sama Pak.”

“Baiklah, sounding ke warga kalau isi amplopku nanti Rp 70.000, tidak kurang dan tidak lebih.”

“Baik Pak.”

***

Uang Rp 3 miliar kini tersimpan di mobilnya. Laki-laki berperut buncit itu tersenyum puas. Ia cepat-cepat kembali ke rumah dengan kecepatan penuh. Tinggal lima hari lagi pemilu digelar. Ia harus cepat-cepat menaruh uang-uang itu di amplop untuk dibagikan pada warga.

Sepanjang perjalanan ia tersenyum sendiri. Laki-laki sakti itu sungguh baik hati. Semula ia hanya akan menukar Rp 1 miliar dengan imbalan Rp 1,5 miliar. Namun, laki-laki sakti itu menawarkan penukaran Rp 1,5 miliar menjadi Rp 3 miliar. Dari tangan laki-laki sakti itu, tiba-tiba muncul gambar para tokoh politik kawakan di Tanah Air yang wajah mereka wira-wiri di televisi.

“Tidakkah kamu ingin seperti mereka?” tanya laki-laki sakti itu. Dan lelaki berperut buncit tersebut mengangguk kuat-kuat. Tentu saja dia ingin seperti mereka semua. Uang Rp 3 miliar tak hanya bisa untuk modal maju maju di parlemen daerah, namun juga bisa untuk bersenang-senang sejenak dengan istri Pak Camat yang sejak dulu sudah ia incar. Sepertinya perempuan itu juga memberikan sinyal sama. Sama-sama tertarik. Mereka akan bersenang-senang sebelum pelantikan. Yah, tidak apalah periode ini dia maju sebagai legislator di tingkat daerah. Lima tahun lagi, saat uangnya sudah tumbuh, ia akan maju ke Senayan.

***

“Uang sudah dibagikan,” lapor salah satu anggota tim suksesnya.

“Tidak ada yang terlewat?”

“Tidak. Saya jamin!”

“Bagus. Pastikan semua saksi juga sudah siap. Berapa kira-kira suaraku?”

“Dengan amunisi ini, saya yakin 200.000 pemilih bisa Pak. Bapak tenang saja. Satu kursi di DPRD Provinsi.”

“Bagus.”

***

Suara ayam berkokok membangunkan laki-laki berperut buncit yang baru saja terlelap. Wajahnya kesal. Dia bangun dengan sebuah gerutuan panjang. Ayam-ayam itu benar-benar mengganggu dengan kokokannya yang memekakkan telinga. Tak biasanya para ayam jantan berkokok sekencang itu. Dini hari ini kokokan mereka benar-benar bergemuruh. Suaranya nyaris membuat dinding rumah bergetar dan gerbang depan rumah ambruk. Benar-benar membuat pusing kepala.

“Puluhan orang Pak,” kata Syamsul, orang kepercayaan lelaki buncit itu, dengan napas terengah-engah. Wajahnya ketakutan sangat saat masuk ruang kerjanya. Lelaki berperut buncit itu rupanya tertidur di ruang kerja saking lelahnya.

“Apanya? Puluhan orang apa?”

“Yang datang ke rumah Bapak. Satpam masih berusaha mencegah mereka masuk rumah. Satpam-satpam minta warga tenang. Tapi entah sampai kapan. Orang-orang lainnya juga terus berdatangan. Saya takut Pak. Halaman depan sesak dengan orang.”

“Ada apa Sul? Ada apa sebenarnya?”

“Orang-orang kampung Pak. Mereka datang. Protes. Teriak-teriak. Marah-marah.”

“Kenapa?”

“Uangnya. Uang yang Bapak bagikan kemarin, semuanya berubah jadi daun mangga. Warga marah sekali, mereka merasa ditipu. Tidak mau memilih Bapak kecuali diberi uang asli. Warga merasa dipermainkan. Semua uang yang saya bagikan kemarin berubah menjadi daun mangga,” kata Syamsul seperti mau menangis.

Lelaki berperut buncit itu melotot. Sekali lagi, perutnya tiba-tiba mulas seperti ada pengaduk di dalamnya. Bergegas ia mengintip dari jendela di lantai dua. Ia sibakkan korden perlahan. Di bawah seratusan orang tampak berteriak-teriak marah. Masing-masing dari mereka membawa selembar daun mangga. Mereka acungkan daun-daun mangga itu sambil berusaha masuk rumah.

Para satpam dan beberapa pengawalnya sibuk menghalau warga yang murka. Namun, mereka tampak kerepotan. Warga ingin laki-laki berperut buncit itu keluar dan memberi penjelasan. Lelaki berperut buncit itu kini ketakutan. Ia tak lagi bisa membayangkan kursi parlemen. Yang ia tangisi adalah uangnya yang hilang bersamaan dengan denyut jantung yang melemah ketika ia tiba-tiba tersungkur di ubin yang dingin sambil memeluk korden di lantai dua. Uang di saku kemejanya berhamburan, menjadi daun-daun mangga yang berserakan.

________________

Ayu Prawita : lahir di Jember dan menetap di Karanganyar, Jawa Tengah. Penyuka buah mangga ini juga seorang jurnalis dan pengajar.

sumber : kompas.id, 15 Jun 2019

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme