Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Requiem Burung Gereja oleh Nana Sastrawan

Posted on Sab, 20 Jul 2019

Marbot mengambil sapu dari pojok masjid lalu dia menyapu, dari ujung dalam masjid hingga ujung luar. Dia telah menekuni pekerjaan ini setengah dari usianya yang sekarang sudah tidak muda lagi. Rambut, kumis dan janggut telah memutih. Dia tidak terlalu pandai merawat diri, padahal dia selalu membuat masjid bersih dan rapi sehingga orang-orang yang akan beribadah merasa nyaman. Jari-jari keriput menggenggam tangkai sapu dengan erat, matanya sudah terlatih melihat bagian-bagian kotor dan berdebu, tak terkecuali kotoran-kotoran burung yang mengering di lantai masjid.

Sudah sejak lama burung-burung gereja hidup dan bersarang di atap masjid atau di sudut-sudut tiang masjid. Sejak Marbot masih kecil, masjid itu selalu ramai oleh cicit burung gereja jika pagi dan sore, hingga sekarang belum banyak berubah. Struktur bangunan masih kuno, atap dan tiang terbuat dari kayu-kayu jati. Tembok-tembok menara sudah retak menampakan bata-bata merah. Di atas menara ada toa, warnanya pun sudah memudar. Jika tak ada Marbot, masjid ini mungkin terlihat akan sangat kumuh, untunglah Marbot selalu tepat waktu untuk membersihkan.

Dia mengambil kain pel dan ember, kemudian mengepel lantai masjid. Waktu shalat duhur sudah dekat, dia tak ingin orang-orang yang akan shalat terganggu dengan kotoran dan debu. Tercium aroma sabun pembersih lantai, sesekali dia berhenti kemudian perlahan menegakkan badan, wajahnya meringis dan tangannya memegang pinggang menahan rasa sakit. Penyakit tua, pinggang sering terasa nyeri jika terlalu lama membungkuk. Setelah beberapa saat berdiri, dia melanjutkan pekerjaan mengepel lantai hingga tuntas. Kemudian, dia mengibas-ngibas karpet yang dijemur di halaman masjid, debu-debu berterbangan membuat terbatuk. Setelah merasa cukup bersih, karpet digulung lalu dipanggul. Sambil menahan rasa sakit di pinggang, dia membawa karpet ke dalam masjid, lalu menggelarnya.

Burung gereja bercericit. Kita tak pernah paham kicauan burung gereja itu, mereka menggunakan bahasa yang tidak kita kenal. Yang kita saksikan hanya burung-burung yang lompat dari tiang-tiang atap masjid, sesekali menyisir bulu-bulu, atau lompat ke sarang, memberi makan anak-anaknya kemudian terbang keluar masjid, mencari biji-bijian. Sementara Marbot menyelesaikan pekerjaannya. Setelah karpet tergelar dengan rapi, kipas-kipas yang dinyalakan meniupkan aroma pengawi lantai. Masjid ini terasa sejuk meskipun di luar matahari bersinar terik.

“Marbot!” panggil Pak Kyai.

Seorang lelaki berjanggut, memakai sorban putih dan tutup kepala putih. Marbot begitu hormat kepada lelaki itu, dia berjalan menghampiri, kemudian bersalaman sambil mencium tangan.

“Iya Pak Kyai, ada apa?” tanya Marbot.

“Kamu bisa jaring burung-burung itu?” tanya Pak Kyai.

“Dijaring Pak Kyai?”

“Iya. Minggu depan ada pasangan calon gubernur akan meninjau masjid kita ini, dan mereka berencana akan mendanai pembangunan masjid.”

“Tapi kan… burung itu tidak menggangu Pak Kyai.”

“Sudahlah, tugasmu hanya ikuti perintah.”

Marbot terdiam. Sedangkan Pak Kyai pergi ke tempat wudu, meninggalkan Marbot yang masih terdiam. Di dalam hati ada perasaan lain, dia merasa burung-burung gereja tidak pernah mengganggu, justru burung itu membuat dirinya nyaman, dia seolah memiliki teman di dalam masjid ini ketika sedang bersih-bersih. Tak ada orang yang betah di dalam masjid ini, sebab memang sudah sangat tua, dan jika tidak dirinya yang setiap hari membersihkan masjid, pasti masjid ini akan terlihat semakin tua dan kumuh.

***

Setelah azan dan melaksanakan shalat berjamaah, Marbot berjalan menyusuri gang sempit di antara rumah penduduk. Tujuannya jelas, menuju rumah Pak Kempling, seorang pemancing. Dia sangat gemar memancing dan menjala ikan. Meskipun sungai-sungai sudah tidak bersih lagi, tetapi Pak Kempling selalu setia kepada pekerjaan itu. Meskipun pulang dia tidak membawa ikan sama sekali, tetapi dia selalu bangga pulang ke rumah dengan badan tegapnya. Walaupun, sesampai di rumah istrinya akan marah-marah. Marbot akan meminjam jala ikan milik Pak Kempling untuk menjaring burung-burung gereja yang semakin banyak dan beranak-pinak di atap masjid.

“Ambilah di samping rumah!” suruh Pak Kempling.

Marbot berjalan menuju samping rumah petak Pak Kempling, matanya kemudian mencari benda yang dia cari, setelah ditemukan segera Marbot mengambil, kemudian pergi menuju masjid dengan perasaan yang tak menentu. Dia masih gelisah akan nasib burung-burung gereja yang tak berdosa, pikirnya, burung-burung gereja itu memiliki hak hidup dan menghuni masjid. Bukankah masjid adalah rumah Tuhan? Burung-burung gereja adalah makhluk Tuhan.

Sesampainya di dalam masjid. Marbot menyaksikan burung-burung gereja yang terbang ke sana-kemari, bercicit. Memberi makan anak-anaknya di sarang, kemudian mereka terbang lagi. Masjid ini ramai oleh burung-burung gereja, Marbot merasakan gembira dalam hati. Tidak pernah hatinya segembira ini, biasanya setelah membersihkan masjid, dia mencari pekerjaan sampingan. Menjadi tukang gali got, kuli proyek, mengumpulkan barang bekas, atau apa saja yang dapat menghasilkan uang untuk kehidupan keluarganya sehari-hari. Ya, menjadi penjaga masjid itu tidak bisa diharapkan secara penghasilan. Tetapi bagi Marbot, mengabdi menjadi penjaga sekaligus tukang kebersihan masjid adalah sesuatu hal yang sangat menggembirakan, apalagi setiap burung-burung gereja itu bercicit. Marbot menemukan suatu kedamaian yang tak terhingga. Kedamaian di kota yang terlalu berisik, sibuk dan berpolusi.

“Biarlah mereka di sini!” ucap Marbot sambil membanting jaring.

Dia kemudian melangkah meninggalkan masjid. Di dalam dirinya berkecamuk. Ada rasa takut jika Pak Kyai marah, ada perasaan simpati yang teramat besar untuk burung-burung itu, ada perasaan yang begitu yakin bahwa apa yang dia lakukan adalah sesuatu hal yang benar.

Kota, memang cerminan harapan bagi penduduk di suatu negeri, mereka berbondong-bondong hijrah ke sana untuk mencari kehidupan. Kita berada di sini, menyaksikan itu semua meskipun kita harus tersingkir, tak ada taman-taman hijau, tak ada pepohonan teduh, tak ada bahan makanan cukup. Kita hidup dalam bayang-bayang kematian, jika tidak bergerak maka pasti akan terlindas oleh roda kehidupan.

“Marbot!” teriak Pak Kyai.

Marbot berlari tergopoh-gopoh, tubuh renta sudah tak kuasa untuk bergerak cepat dan lincah. Malam itu, Pak Kyai marah besar. Esok, calon gubernur akan datang mengunjungi masjid. Namun, burung-burung gereja masih nyaman menyisir bulu-bulunya di setiap sarang di sudut atap masjid. Pak Kyai sudah tak kuasa menahan hawa nafsu, sebagai manusia tentu amarah tersimpan dalam hati, apalagi perintahnya dilawan oleh seorang penjaga masjid, secara pendidikan dia lebih rendah daripada dirinya.

“Saya tak sanggup untuk menangkap burung gereja itu Pak Kyai.”

“Tapi ini perintah!”

“Jika saya telah dianggap melawan perintah Pak Kyai, silakan pecat saya sebagai penjaga sekaligus pembersih masjid ini.”

Pak Kyai terdiam. Hanya giginya saja terdengar, gemerutuk saling beradu. Matanya melotot menatap Marbot. Sepanjang hidup menjadi Kyai, baru kali ini ada orang yang membantah perintahnya.

“Ya sudah. Kau kupecat!”

Marbot menundukkan kepala, dalam hati ada perasaan getir. Dia harus merelakan pekerjaan yang dicintainya, harus pasrah kepada takdir, melupakan kenangan bersama masjid, burung-burung dan sejarah bangunan kuno itu. Namun, tak ada yang dapat dipertahankan. Dia berpamitan, mencium tangan Pak Kyai dengan begitu khidmat, lalu melangkah gontai meninggalkan segalanya yang telah dia ukir di masjid itu.

Setelah kepergian Marbot, Pak Kyai mengumpulkan seluruh santri, mereka merencanakan gerakan rahasia untuk mengepung burung-burung gereja yang sedang terlelap tidur di atap masjid setelah seharian mencari makan. Tidak hanya itu, mereka pun menyiapkan panggangan, arang dan bumbu. Malam ini mereka akan berpesta daging burung gereja. Segala cara dihalalkan untuk menangkap burung-burung itu, sebab sudah tak ada waktu, esok calon gubernur akan meninjau lokasi ini dan memberikan bantuan yang sangat besar demi pembangunan masjid.

***

Kita berhamburan dari sarang. Menyaksikan Pak Kyai dan para santri berang, membabi-buta. Anak-anak kami yang masih bayi ditanggkap, lalu dipanggang di atas unggunan api. Burung-burung gereja lain yang tak beruntung mengalami nasib sama, malam gelap membutakan pandangan kita, sehingga sulit terbang jauh. Jiwa-jiwa mereka melayang dari unggunan, kita menyaksikan itu semua dengan hati rawan, sebab suatu saat jiwa kita akan dipanggang dalam kobaran api yang sangat panas. Tak ada yang selamat, sebab kita hanya burung gereja yang hidup di tengah kota, di mana penduduknya merasa lapar setiap hari…

Nana Sastrawan : nama pena dari Nana Supriyana, lahir, 27 Juli 1982. Pernah menjadi peserta MASTERA CERPEN (Majelis Sastra Asia Tenggara) dari Indonesia bersama para penulis dari Malaysia, Brunei, Singapura. Meraih Penghargaan Acarya Sastra IV dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tahun 2015.

sumber : kompas.id, 20 Jul 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme