Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Angin Tak Berumah oleh Handry TM

Posted on Sab, 17 Agu 2019

/1/

Lereng Merapi, di bulan Oktober.

Sekolah Dasar itu menjadi satu-satunya bangunan tertinggi di antara satu dua rumah penduduk di bawahnya. Terletak di lereng perbukitan yang bertanah subur dan pertanian menghijau.

Keramaian terdengar riuh di sana, bahkan dari bawah pun tawa-canda anak-anak menyerupai para peri di balik awan. Meski tinggal di permukiman terpencil di lereng gunung yang dikenal kerap meletupkan lahar dan api, anak-anak itu tak bisa menyembunyikan rasa kebahagiaannya.

Terlebih sejak Bu Guru Ratri, satu dari sekian banyak ibu guru mereka, menjadi guru baru di sekolah dasar itu. Perempuan muda berwajah cantik alami tersebut seolah dikirim Tuhan melalui Malaikat ke tempat ini.

“Ibu adalah pengganti matahari di kala awan menebal dan menutupi cahaya yang sebenarnya,” kata Lintang, salah seorang siswi paling cerdas yang dimiliki sekolah ini.

Ratri tidak bisa berkata-kata. Hanya bisa menatap lekat mata muridnya, kemudian mengelus ubun-ubun rambut Lintang dengan rasa kagum yang sempurna.

“Siapakah yang mengajarimu pintar berkata-kata?”

Gigi Lintang menyeringai. Nampak putih rata, bersih dan memesona.

“Bapak saya.”

“Ha?”

“Iya, Bapak saya adalah laki-laki penjaga lereng di perbukitan ini. Di malam hari ia suka nembang dan berkata-kata dengan para lelembut penjaga Gunung Merapi. Ia laki-laki pemberani, suaranya indah jika bernyanyi.”

Dari kata-katanya itu, Lintang terlihat bangga sekali dengan bapak yang sedang dikisahkannya.

“Bu Guru Ratri…,” tiba-tiba Lintang bertanya seperti menekan.

“Iya, Nak?”

“Maukah Bu Guru Ratri bertemu Bapak saya?”

“Tentu saja, tapi untuk apa?”

“Biar Bapak saya tahu, perempuan seperti apa yang Lintang inginkan sebagai pengganti Ibu.”

Ratri harus hati-hati menanggapi kisah muridnya yang satu ini. Belum sempat ia bertanya lebih jauh, buru-buru Lintang sudah menyambung ceritanya sendiri,

“Ibu meninggal saat melahirkanku dulu.”

Itulah pertemuan pertama dengan Lintang yang membuat Ratri mulai sulit memejamkan mata.

Terhadap anak seperti Lintang, apakah ia harus mengajarkan satu ditambah satu sama dengan dua? Bagaimana kalau tiba-tiba ia bertanya, “Bu Guru Ratri, mengapa satu ditambah satu harus sama dengan dua?!” Membayangkan pertanyaan itu Ratri ngeri sendiri.

/2/

Kabut masih tersisa di kawasan lereng perbukitan ini. Menyerupai helai kapas yang sebagian menutup ruas jalan dan pohon-pohon di kiri kanannya. Sebagaimana kebiasaan orang-orang yang tinggal di gunung, kesibukan dimulai sejak matahari menampakkan diri.

Di manakah tanaman padi yang biasanya terlihat hijau di persawahan? Di mana pula sekumpulan petani yang berteriak riuh sembari menghalau burung dengan hantu-hantuan?

Hantu-hantuan itu terbuat dari karung goni atau kain lusuh yang dibentuk menyerupai tubuh manusia. Di atasnya dipasangi caping, jika digerakkan tali, sosok hantu-hantuan itu akan bergerak menakutkan.

Sasaran utama keberadaan hantu palsu itu adalah burung-burung sawah. Orang menyebutnya Bondol Peking, nama latin burung itu adalah Lonchura punctulata. Tubuhnya yang kecil mampu hinggap cepat di ujung padi. Meski gerakannya lincah ia takut pada gerakan si hantu palsu.

Jerih payah para petani dilakukan tanpa henti. Di hampir dua pertiga hari mereka menghalau si Bondol Peking di hamparan sawah yang tanahnya mulai mengering. Di manakah timbunan padi menguning setelah dipanen? Tidak banyak orang yang tahu, kecuali mereka menyaksikan sejumlah truk membawanya pergi dari lereng perbukitan ini.

Baru pukul 06.00 ketika Ratri tergopoh-gopoh memasuki halaman SD tempatnya mengajar.

“Bu Ratri, Lintang sudah berada di kelas,” kata Pak Sarto, tukang kebun sekolah.

“Lintang?“

Pak Sarto menganguk.

Buru-buru langkah Ratri diayun menuju ke kelas. Seluruh jendela ruangan sudah terbuka.

Pada celah jendela kedua, Ratri telah menangkap wajah Lintang yang masih membaca sebuah buku di mejanya.

Serta-merta wajah Lintang menoleh ke arahnya. Kedua mata perempuan berbeda usia itu beradu.

“Bu Guru Ratri…,”

Lintang pun memberi hormat atas kehadiran ibu gurunya dengan berdiri. Lintang mengangguk, ia terlihat gembira atas kehadiran Ratri.

“Benar, kan, kata-kata Lintang. Bu Guru Ratri akan menjadi pengganti cahaya matahari,” sambung Lintang tanpa ada rasa takut.

“Matahari akan memberimu cahaya penuh hari ini. Bu Guru Ratri tidak perlu menjadi pengganti matahari.”

“Di hati Lintang, kadang matahari tidak mencahayai kehidupan. Cahayanya redup sekali.”

Mata Lintang tidak berkedip, ia berani menatap Ratri sambil bibirnya setengah membuka.

“Apa yang sedang kau pikirkan?”

“Ibu tidak hanya rembulan dan matahari, Ibu adalah alam semesta. Bu Guru Ratri, hari ini anak-anak akan bertanya tentang ancaman gunung berapi. Bapak Kepala Sekolah mengumumkan, kemungkinan sekolah kita akan libur panjang untuk menghindari meletusnya Gunung Merapi.”

“Oh, iya? Kapan itu?”

“Ketika upacara bendera hari Senin. Bu Guru Ratri belum mengajar di sekolah ini.”

“Apa ruginya kalau kita libur panjang sambil menunggu letusan besar berhenti?”

“Tidak mau! Kami tetap akan tinggal di rumah-rumah, kami tidak akan meninggalkan sekolah.”

“Sangat membahayakan, Lintang. Batu-batu panas dan bergulung lahar dari puncak gunung akan menggulung desa-desa yang dilewati.”

“Tidak, Bu Guru! Kata Bapak saya, desa kami sudah ada yang menjaga. Kami akan tetap tinggal di rumah, hingga letusan Merapi mereda.”

“Tapi Lintang…”

“Tidak, Bu Guru Ratri!! Tidaaak!!!”

Kali ini Lintang berteriak keras sekali. Matanya nyalang dan tidak bersahabat. Ia tampak sedang marah karena ibu gurunya tidak berpihak padanya.

“Semua guru mendukung libur panjang itu. Hanya Bu Guru Ratri harapan terakhir kami.”

Perbincangan hampir tidak berkesudahan. Ketika air mata Ratri ikut menitik, ketika itu pula suasana di luar kelas mulai ramai. Kendaraan, sepeda dan obrolan guru serta murid sudah terdengar.

Menyadari hal itu, Lintang segera menyusut air matanya, demikian juga Ratri. Satu dua murid mulai masuk ke kelas ini. Mereka terkejut, mengapa Lintang dan Bu Guru Ratri sudah berada di kelas.

“Selamat pagi, Bu!” mereka memberi hormat saling bersahut-sahutan. Sambil kemudian mengambil duduk di tempat biasanya.

“Selamat pagi, anak-anak, Ibu izin ke kantor dulu,” Ratri bergegas meninggalkan kelas.

Air matanya masih tersisa.

/3/

Angin tiba-tiba menderu kencang dari arah gunung menuju ke tanah lapang. Anak-anak bersorak, tangan-tangan kecil itu melakukan gerakan seperti menghalau agar angin segera pergi dari tempat mereka berdiri.

Tanah lapang ini terletak persis di sebelah sekolah mereka, bersebelahan dengan pertanian sayur dan ubi-ubian. Posisinya agak ke atas dari gedung sekolah, sehingga menjadi kawasan tertinggi di lereng perbukitan. Agak ke bawah, hamparan sawah membentuk petak-petak padi yang mulai menguning.

“Bu Guru Ratriii!! Ayo menghalau angin, di sini anginnya kencang!!!” Seorang murid laki-laki berteriak. Yang lain ikut mengajak.

Ratri mengangkat dahi, matanya membelalak lebar. Ia menganggukkan. Nampaknya mereka memang sedang berbahagia. Itu terlihat dari raut muka mereka.

Tapi tidak terlihat Lintang di antara mereka. Murid pintar yang kemarin pagi berdebat panjang di kelas itu tidak bersama teman-temannya. Ia duduk menyudut, di bawah sebatang pohon kelapa. Sendiri. Tatapan matanya kosong, hanya sesekali ikut tersenyum ketika teman-temannya melakukan tingkah lucu di lapangan.

Setengah menyesal, Ratri segera menghampiri Lintang dengan langkahnya yang cepat.

Anak itu kurang begitu menyadari kalau Ibu Guru yang dijulukinya sebagai matahari mendekatinya.

“Anak cantik, kenapa hanya berdiam? Teman-temanmu sedang menghalau angin di tanah lapang,” tegur Ratri dan ikut merapat di bawah pohon kelapa.

Lintang menoleh ke Ratri, senyum kecutnya terulas.

“Saya sedang membayangkan sekolah ini libur panjang, kami mengungsi di tempat yang berpencaran.”

Ratri tidak bisa berkata-kata lagi. Rupanya perbincangan pagi kemarin masih membekas.

Dan Ratri adalah satu-satunya murid yang paling keras menentang rencana libur panjang sekolah.

“Sebelum libur panjang, kalian harus memanfaatkan suasana gembira ini,” rajuk Ratri.

Lintang menggeleng.

“Teman-teman tidak mengerti bagaimana rasanya sepi. Sekolah ini akan kosong jika libur panjang benar-benar terjadi. Mungkin lahar panas akan menghancurkan sekolah ini, dan mereka sulit sekolah lagi.”

“Belum akan terjadi, Lintang. Ayo, ikut bersenang-senang bersama mereka!”

“Bu Guru Ratri harus menjadi matahari bagi ketakutan anak gunung seperti saya.”

Keras kepala Lintang, di satu sisi memunculkan kekaguman, namun di sisi lain memakan hati luar biasa.

Ketika anak-anak menghambur ke tempat Ratri dan Lintang berdiri, keduanya tak berdaya apa-apa, karena anak-anak itu menariknya ke tengah tanah lapang.

“Ibu harus menggiring angin itu sampai pergi. Jika dibiarkan berputar-putar, ia akan jahat sekali,” kata salah satu dari murid-murid itu.

Mereka sudah tidak bisa dikendalikan. Anak-anak ingin melihat Ratri membuktikan janjinya.

“Ayo, Bu Guru!!” Salah satu dari mereka berseru, yang lain mengikuti.

Suara serempak anak-anak itu memunculkan irama gaduh yang enak didengar telinga.

Mereka seperti menyerukan sebuah koor yang rancak, kompak dan berirama. Sampai beberapa guru menyempatkan diri melongok ke arah tanah lapang itu. Apa yang sebenarnya terjadi, di sekolah ini belum pernah kekompakan antara guru dan murid seindah ini.

“Mari kita ke tengah!” Ratri memerintah.

“Horeee!!” Murid-murid membalas dengan sorak-sorai.

“Berdiri membentuk lingkaran. Ibu akan berada di tengah-tengah kalian.”

“Horeee!!”

Kebahagian serupa apakah yang sebenarnya sedang mereka rasakan, sampai anak-anak itu mengeluarkan air muka yang bercahaya. Lintang yang semula muram pun ikut tertawa lebar bersama teman-temannya.

“Seperti yang Ibu janjikan kemarin, hari ini kita akan menggiring angin.”

“Horeee!!”

“Angin itu tidak berumah, ia senantiasa berada ruang terbuka, ia sedang mencari di tempat mana harus singgah. Di saat cuaca buruk, sekumpulan angin bisa saja lenyap dari lereng-lereng gunung. Ia akan turun perlahan menuju ke pantai dan bertemu laut. Karena angin tidak berumah, maka ia akan bertualang di tempat mana dirinya aman.”

“Jadi…??” tanya Lintang seperti memprotes.

“Kita sudah menggiringnya turun hingga ke pantai.”

Ratri mengangguk, meyakinkan. Anak-anak kecewa, namun pikirannya mengelana.

“Selagi Gunung Merapi ini tidak memunculkan bencana, sekumpulan angin akan kembali menuju ke sini dan kita akan bersua.”

Semua diam, tapi hanya ada seorang murid sejak tadi wajahnya tegak menatap ibu gurunya.

“Tapi, Bu Guru Ratri….”

“Kenapa Lintang?”

“Saya tetap akan masuk sekolah seorang diri, meski sekolah diliburkan. Saya akan menyapa jagung dan padi, juga kebun ubi yang sedang tumbuh subur di sini.”

Ratri hanya bisa membalas tatapan Lintang dengan perasaan yang tidak berdaya.

_____________________

Handry TM : selain pernah menjuarai berbagai sayembara cerita pendek, ia juga menulis novel dan skenario film. Cerpen-cerpennya antara lain, Cinta yang Dilupakan masuk 10 besar Sayembara Cerpen Nasional yang diselenggarakan Universitas Padang dan Daikin University Australia (tahun 2000), “Pasar Gang Baroe”  terpilih 10 besar Lomba Cerpen Nasional yang diselenggarakan Yayasan Obor (2014) dan ” Di Bawah Kaki Gunung Pesagi”  masuk 10 besar Sayembara Cerpen Nasional Krakatau Awards 2018.

sumber : kompas.id, 17 Agt 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme