Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Hari-hari Kehidupan oleh Wilson Nadeak

Posted on Sab, 17 Agu 2019

Agak mengejutkan surat Mama. Mungkin karena masa mudanya ia guru bahasa Indonesia, renungan dan kenangan masa lampau mencuat kembali dalam benaknya. Usia pada dekade kedelapan, membuatnya cerah kembali pada masa lampau. Bahkan ia mengingat masa lampau lebih cerah daripada masa kini. Kejutan dalam surat Mama dimulai dengan cukilan puisi Sitor Situmorang yang rada “diplesetkan”: Jika tiba musimmu nanti/jemputlah Ibunda di rumah sendiri.Aku segera menelepon Mama.

“Memangnya Mama di mana sekarang?”

“Ya, Mama ada di rumah sendiri.”

“Maksud Mama?”

“Ya, Mama ada di sini.”

Aku terhenyak. Diam agak lama.

“Mengapa diam?” tanya Mama.

“Aku tidak mengerti, Ma.”

“Mama ada di rumah sendiri.”

“Bukankah Mama ada bersama abang, di Jerman?” tanyaku.

Kini Mama yang diam. Lama tidak menjawab.

“Mama sudah ada lagi di Bandung?” tanyaku.

“Sejak satu minggu yang lalu, Nak.”

“Mama langsung dari bandara ke Bandung?”

“Prita menjemput Mama dan minta supaya langsung saja ke Bandung. Dengan bus.”

Aku merasa pasti ada sesuatu yang kurang beres. Biasanya Mama datang bergilir ke rumah kami. Sebulan di rumahku, sebulan di rumah adikku yang bungsu, Prita, dan sebulan di rumah abang Tri. Belakangan ini Tri tinggal beberapa lama di Eropa, terutama di Jerman. Ia dan keluarga dalam tugas belajar di sana. Karena penasaran aku bertanya kepada Mama mengapa begitu cepat pulang dan memberitahukan kepulangannya. Mama bertutur:

Sejak aku tiba di sana, cuaca bagiku tidak ramah. Angin dingin yang menusuk kulit menembus beberapa lapis baju. Baju hangat rasanya tidak membantu. Pemandangan di sekitar tampak memutih karena salju yang mulai turun. Orang-orang bergegas memasuki kendaraan. Rasanya, tidak ada pejalan kaki, bahkan di trotoar yang mulai ditutupi salju, butir-butir salju yang berserakan di mana-mana.

Sesampainya di rumah, aku berdiang di tengah-tengah rumah yang ada cerobongnya, menjulurkan kaki untuk mencari kehangatan dari kayu yang menyala. Persis seperti di dalam cerita Cinderella, Nak. Keluarga abangmu sibuk dengan urusan masing-masing. Tampaknya mereka telah menyesuaikan diri dengan lingkungan seperti itu. Kedua anaknya sesekali menemaniku berdiang, ngomong dengan bahasa Indonesia yang kerap diselipi kosa kata Jerman. Ibu-bapanya muncul dengan baju musim dingin yang tebal dengan tutup kepala yang menutupi kuping. Anak-anak segera diberi baju yang tebal untuk menahan dingin, dan aku pun dibebani mantel musim dingin yang tebal dengan kaus tangan yang menutupi seluruh tangan. Aku melihat jam dinding menunjuk pukul tujuh malam setempat. Segala sesuatu berjalan dengan cepat setelah mereka mematikan perapian.

Tri dan istrinya menarik tangan kedua anaknya dan mengajakku keluar. “Ayo,” katanya, “kita harus cepat.”

Aku tidak mengerti. Aku baru saja turun dari pesawat, dengan jam penerbangan yang cukup tinggi. Aku mengikut saja masuk ke dalam mobil yang ada di dalam garasi. Tri menekan tombol dan pintu garasi segera terbuka. Garasi itu tertutup dengan sendirinya.

“Ke mana, Tri?” tanyaku.

“Kita makan malam. Ke restoran yang ada dua blok dari sini.”

Mobil masuk parkir lantai bawah. Kemudian kami naik lift dan muncul di pintu restoran. Tri mengatur tempat duduk bagi kami berlima, dan pelayan restoran menyerahkan daftar menu makanan. Menu makanan yang ditaruh di atas meja sungguh asing bagiku. Kulihat Tri dan istrinya serta kedua anaknya segera melahap makanan yang hangat itu.

Tri mengajariku untuk memakan mana makanan yang pertama harus dimakan. Begitu seterusnya. Rasanya aku kembali seperti anak kecil yang belum tahu bagaiman harusnya makan, dan cara makan. Bagaimanapun rasanya, aku berusaha mengunyah makanan asing itu, menelannya secara pelahan. Seumur hidupku, aku baru merasakan makanan asing seperti itu. Kau tahu, bahwa aku jarang makan di restoran, karena ayahmu mengatakan bahwa makanan yang kumasak adalah makanan yang paling cocok bagi lindahnya. Kecuali ketika menghadiri undangan makan, aku dan ayahmu tidak pernah makan di luar. Sampai ayahmu pensiun dan meninggal dunia, ia selalu memintaku untuk memasak makanan sendiri—juga tanpa bantuan pembantu. Jadi, makan di luar rumah sungguh asing bagiku, dan setelah memasuki usia kedelapan puluh, aku harus merasakan makanan asing di negeri asing pula.

Sejam kemudian kami meninggalkan restoran karena begitu banyak orang yang antre menunggu giliran.

Sesampai di rumah, kami duduk di ruang tamu. Baju musim dingin digantung di belakang, dekat dapur. Kedua anak Tri mendekatiku dan duduk di tangan kursi yang kududuki. Keduanya mengelus punggungku dan bertanya ini-itu tentang Indonesia. Tri dan istrinya senyum-senyum saja sambil menghidupkan televisi yang menyiarkan warta berita dalam bahasa Jerman dan Inggris. Mereka kemudian menanyakan tentang kau dan keluargamu, juga tentang keluarga adikmu, Prita, suami dan anak-anaknya. Aku bercerita banyak sampai mataku terasa mengantuk. Istri abangmu masuk kamar dan kemudian memberitahukan kepada anak-anak sudah waktunya untuk tidur. Aku dituntun istri Tri ke kamar yang rasanya hangat. Di kamar itu ada tempat tidur yang empuk, selimut yang tebal. Sangat nyaman.

Karena aku tiba hari Jumat sore, mereka punya waktu luang. Mereka membawaku ke pelbagai tempat bersejarah, tetapi yang sangat mengesankan bagiku ialah mengunjungi bekas rumah kediaman Karl May yang terkenal dengan karangan-karangannya Winnetou, Di Sudut-sudut Balkan, dan bagaimana ia menulis kisah-kisah petualangan orang Indian sekalipun ia belum pernah pergi ke tempat yang dikisahkannya itu, khususnya Amerika. Kisah-kisah petualangan yang sangat menarik ketika aku masih muda. Banyak bukunya yang kubaca dan tetap tinggal dalam kenangan. Pada hari Minggu aku dibawa ke pelbagai tempat wisata yang menarik seperti yang pernah kulihat di gambar-gambar kartu pos yang populer tahun tujuh puluhan dan delapan puluhan.

Keluarga abangmu sangat ramah, khususnya pada hari libur. Tetapi pada hari-hari tidak libur, mereka sangat sibuk. Abangmu kuliah, istrinya juga bekerja paruh waktu, sesudah itu antar jemput anak-anak. Nyaris tidak ada waktu hari siang bersama mereka. Aku sibuk dengan diriku sendiri, melihat televisi yang tidak kumengerti bahasanya, kecuali siaran bahasa Inggris. Dua minggu berlalu seperti sebulan rasanya. Tidak ada tetangga yang dapat diajak bicara. Di sini aku lebih banyak diam. Juga ketika petang hari tidak libur, karena anak-anak dan orang tuanya sibuk. Di luar angin musim dingin tidak ramah. Gerimis pun tidak dapat ditahan.

Minggu ketiga aku benar-benar tidak tahan menanggung hari-hari kesepian dan rasa rindu pulang ke rumah. Mengapa aku harus dikurung di rumah ini? Dikurung? Tanyaku kepada diriku sendiri. Bukankah di sini tidur dengan nyaman, segalanya serba tanpa kerja? Rasanya hari terlalu lambat bergulir. Dua minggu yang sunyi, memasuki minggu ketiga yang sepi. Aku tidak tahan lagi. Tri dan anak-anaknya harus bergerak dengan cepat, sementara aku di sini tinggal diam merajut kesunyian. Aku rindu keramaian Bandung, keramahan udaranya, dan keceriaan hidup. Aku ingin pulang ke rumah. Pulang. Hanya itu yang ada dalam pikiranku, kepada Tri dan istrinya kukatakan bawa aku ingin segera pulang. Mereka terkejut. Aku menjelaskan seperti apa yang kurasakan. Mereka maklum, dan segera mengatur tiket kepulanganku.

(… . Begitulah Mama bercerita tentang kegalauan hatinya di negeri asing. Tetapi masih ada lanjutannya mengapa ia langsung ke Bandung).

Lirik puisi yang dikutip dengan utuh, hanya satu bait saja dari penyair A. Hasyimi, penyair dari Aceh dan mantan gubernur: Pagiku hilang sudah melayang/Hari mudaku sudah pergi/Sekarang petang datang membayang/Batang usiaku sudah tinggi …

Ayahmu meninggal 15 tahun yang lalu, Nak. Beberapa tahun sesudah ia pensiun dan kalian menanjak dewasa dan baru membentuk keluarga masing-masing. Pesannya sebelum meninggal, ia katakan kepadaku (Mama) supaya jangan pilih kasih kepada anak-anak. Kalau ada anak yang kekurangan – sementara kedua anak yang lain hidup mencukupi dan membantu aku – berikanlah kepada anak yang kekurangan tanpa memberitahukan kepada anak yang mengirimkan uang kepadamu. Usahakan supaya jangan timbul kecurigaan di antara anak-anak, bahwa bantuan mereka kepadaku diberikan kepada anak yang lain. Kunjungilah mereka secara berkala, tetapi jangan terlalu lama dan mencampuri urusan keluarga mereka. Biarkan mereka membentuk masa depan mereka sendiri. Kita orangtua hanya memberi sedikit petuah, dan biarkan mereka menjalani hidup menurut kodratnya.

Ayah almarhum mengatakan kepadaku supaya selalu mandiri. Dan manakala kalian mengatakan supaya rumahku dijual dan biarlah tinggal dengan kami, hatiku pedih. Aku tidak ingin menggusari kalian, tetapi biarkanlah aku tetap di rumahku. Di sini aku membentuk masa depan kalian. Di sini aku membesarkan kalian. Aku memberi makan kalian dan membesarkan kalian, dan kala kalian masuk sekolah, aku kembali mengajar dan belajar bersama-sama kalian, dan mengajar kalian atas segala sesuatu yang berkaitan dengan pengetahuan dan pendidikan. Satu demi satu kalian pergi dan kini aku menjadi sendiri, karena ayahmu melalui kehidupan ini sesuai kehendak Tuhan. Lagi-lagi rumah ini menjadi kenangan seumur hidupku. Ayah pergi untuk selamanya, dan aku pun menjalani hidup masa tua. Aku menoleh ke masa kecil, menoleh ke masa remaja, dan merasakan kebahagiaan bersama kalian dan anak-anak kalian.

(Mama menuturkan masa kini dan masa lalu dalam periode hidup seorang diri…)

Sejak kepergian ayahmu, kesedihan yang mendalam merasuk ke dalam hatiku. Tetapi itu sudah selesai. Tahun-tahun kenangan dan air mata telah hilang pelahan-lahan. Tetapi kehadiran itu, dalam kematangan waktu, membuat Mama sadar – seorang diri kini, tetapi kehadiran ayahmu terasa di sini, memberi aku semangat hidup mandiri.

Aku bahagia atas kehadirannya, dan kehadiran kalian, dengan anak-anak kalian, tetapi aku merasa bahagia dalam mimpi yang senantiasa menggema – bahwa kalian telah menjadi bagian dari kalbuku, mengingat kalian berarti mengingat ayahmu. Keberadaannya suatu kali dalam kehidupan ini, menjadi bagian dari kehidupanku. Aku menyibukkan diri dalam keseharianku, memasak nasi untuk diriku sendiri – bukankah pensiun ayahmu hadir dalamnya?

Aku mencuci pakaianku, bukankah dia dahulu yang memilihkan warna pakaian untukku? Aku mengepel rumah seorang diri, bukankah setiap batu bata yang tertindih satu demi satu adalah bagian dari tetes keringatnya, dan atap bagian dari upahku mendidik dan mengajar anak-anak sebaya kalian? Hari-hari kebersamaan itu sudah berlalu, dan matahari sudah meninggi bagiku, dalam usia dekade kedelapan ini, aku sering bermimpi di sini, tanpa kuundang – kehadiran anak lelaki kecil yang selalu memanggil-manggil namaku. Aku mengusiknya, dan ia pergi untuk datang kembali. Berkali-kali. Ia bukan dari salah seorang anak kalian, cucuku. Barangkali bunga-bunga mimpi, Nak.

Tadi malam terlewat dalam benakku, sajak Sanusi Pane: Alun membawa bidukku pelahan/Dalam kesunyian malam waktu/Tidak berpawang tidak berkawan/Entah ke mana aku tak tahu.

Kuikuti segala kegiatan arisan, kumasuki ruang-ruang kumpulan orang-orang manula, kuisi waktu luang membaca sesuatu yang bermakna, dan kadangkala orang memintaku memberi ceramah bagaimana menghadapi hari-hari tua. Tampaknya mereka gagap, dan sebagian dari antara mereka meninggalkan hidup ini secara mendadak begitu lepas dari jabatan sehari-hari. Kukatakan kepada mereka supaya jangan terlalu berharap kepada siapa-siapa pun, kecuali kepada Tuhan. Juga kepada anak-anak (jangan terkejut, Nak). Bukankah harta orangtua warisan anak-anak? Tetapi harta anak-anak bukanlah warisan bagi orang tua? Harta mereka untuk membentuk masa depan mereka, dan orang tua harus tegar melangkah sendiri sampai hari-hari keletihan menjadi tantangan tersendiri.

Sebagian dari mereka memahami ceramahku, sebagian lagi tidak mengerti dalam kantuk-kantuk yang tidak tertahan. Sebagian lagi optimistis dan melakukan sesuatu yang berlebih-lebihan seolah-olah mereka tidak memerlukan bantuan orang lain, sekalipun untuk menyeberangi jalan.

Ciri kanak-kanak tampak juga dalam diri orang yang lanjut usia, Nak. Percaya diri masih kuat, sementara tubuh tidak lagi mendukungnya. Sebagian lagi dalam suasana pesimisme, mengeluhkan keluarga yang tidak ada peduli. Kukatakan kepada mereka, jikalau bepergian ke mana-mana, pahamilah batas kemampuan tubuh. Aku sendiri berkunjung kepada kalian secara tiba-tiba. Seorang diri naik mobil travel. Tiba di kota tujuan, aku telepon kalian. Kalian menjemputku sambil mengomel mengapa tidak memberitahu agar kami menjemput? Menjemput ke rumah dan mengatur hari libur kami bersama Mama? Nak, itu yang kuhindari. Tidak ingin menyusahkan kalian. Contoh seperti ini tidak masuk akal kawan-kawan sebaya. Terlalu berisiko tinggi, kata mereka.

Reuni guru-guru, teman masa lalu. Amat menyenangkan. Membuat aku lupa waktu. Kawan-kawan yang telah dimakan usia, dengan tampang wajah keriput, sibuk membicarakan berapa anak dan cucu. Memang lucu, masa lalu dan masa depan muncul dalam reuni. Kawan yang sudah tiga puluh tahun tidak pernah bertemu, setelah bertemu lalu belajar kenal lagi. Bertukar kisah, bertukar rupa. Semuanya tenggelam dalam timbang waktu yang melaju, tanpa disadari – tahu-tahu ada kawan yang sudah lama tiada.

Canda-canda masa muda yang secara spontan bermunculan dalam gurauan gaya lanjut usia. Yah, masa lalu hadir pada masa kini, suka atau tidak suka. Inilah dunia orang yang manula. Tiba-tiba, setelah reuni usai, kami tinggal sendiri, menyadari bahwa perahu kehidupan telah berlayar jauh menyusuri lautan waktu tanpa tahu di mana berlabuh. Kehidupan memang gaung waktu. Salam, Nak.

Biarkan Mama dalam kesendirian. Kalian, jalani kehidupan dalam corak waktumu.

Salam untukmu, dan anak-anakmu!

__________________

Wilson Nadeak : lahir tahun 1942. Telah menulis sejumlah buku kumpulan cerpen, puisi, prosa. Kini tinggal di Bandung.

sumber : kompas.id, 17 Agt 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme