Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Seharusnya Dul Tak Perlu Pulang oleh Rinrin Indrianie

Posted on Kam, 05 Sep 2019

Seandainya Dul tahu apa yang akan ditemuinya malam itu, mungkin dia akan menunda kepulangannya hingga esok pagi, atau minggu depan, atau tak usah pulang saja sekalian.

Perasaannya memang sudah tak enak sejak pagi. Entah kenapa. Seperti segala sesuatu di sekitarnya tidak berada pada tempatnya atau tidak berjalan seperti seharusnya, atau tidak terjadi sesuai keinginannya. Dul nyaris uring-uringan sepanjang hari, hingga memutuskan mungkin itulah saatnya dia pulang pada Marni. Mungkin, rindunya sudah terlampau menumpuk.

”Memangnya sudah berapa lama kau tak pulang, Dul?” tanya Paijo saat mereka baru saja memindahkan sepiring penuh nasi rames ke dalam perut. Paijo termasuk teman dekat Dul, hingga dia bisa tahu, hari itu Dul sedang senewen berat.

”Lima bulan, Jo, lima bulan!”

”Halah, baru juga segitu, Dul. Hawong aku aja cuma pulang tiap Lebaran, kok.”

Dul hanya menanggapi ejekan Paijo dengan senyuman. Dalam hati dia balas mengejek, mungkin istri Paijo tidak terlampau ngangenin seperti istrinya.

”Enggak tahan kepengen itu, Dul?” tanya Paijo selanjutnya seraya mengedipkan sebelah mata.

Dul hanya tergelak mengelak. Mengerti apa yang dimaksudkan Paijo, sekaligus enggan mengakui bahwa ”itu” memang salah satu alasannya ingin segera pulang pada Marni. Dibiarkannya saja Paijo yang terbahak mengartikan kebisuan Dul sebagai pertanda iya. Di kepala Dul kini sesak oleh imaji rumah dan Marni yang setia menunggunya.

Biasanya setiap akhir bulan Dul pulang. Perjalanan dari tempatnya bekerja ke rumah memang tidak terlampau jauh, hanya sekitar enam jam dengan bus, bisa lebih cepat jika Dul naik kereta (meskipun pilihan ini jarang sekali Dul lakukan karena jauh lebih mahal). Tapi pada kepulangannya yang terakhir, ada sebuah permintaan Marni yang membuatnya ingin menghemat uang hingga terpaksa tak pulang hingga berbulan-bulan.

”Mas, kapan kita punya sepeda motor lagi, Mas?” rajuk Marni malam itu.

Dul tahu, permintaan Marni yang satu itu telah dilontarkan mungkin sudah untuk yang ketiga ratus enam puluh sembilan kalinya dalam pernikahan mereka yang belum sampai dua tahun. Dul juga tahu, Marni tidak akan bosan meminta kecuali motor impiannya itu sudah bisa termiliki. Maka Dul hanya memeluk Marni lebih erat, seraya membisikkan kalimat janji yang dia sendiri tak tahu kapan bisa ditepati, ”Iya, nanti Mas beli sepeda motor lagi, Sayang.”

Perihal kenapa Marni memimpikan sebuah motor sesungguhnya Dul tahu betul alasannya. Dulu Dul memang sudah memiliki motor, bukan motor keluaran terbaru dan paling mahal, tapi karena dirawat dengan baik (terima kasih pada profesinya yang adalah montir kawakan seantero kampung), motor itu masih terlihat sangat bagus. Dul bahkan sangat paham, motor itu seperti jimat keberuntungan baginya, karena dari sekian bujang di kampung, Marni merelakan dirinya untuk dinikahi Dul.

Menikahi seorang kembang semacam Marni memang butuh pengorbanan, Dul paham betul itu. Dan dia rela seikhlas-ikhlasnya menjual motor si jimat keberuntungannya itu, untuk membangunkan rumah sederhana di kampung mereka, demi perempuan yang telah menjadi istrinya itu. Satu-satunya penyesalan Dul adalah dia terlambat tahu, bahwa bagi Marni, memeluk pinggangnya di boncengan motor rupanya serupa surga yang bisa dirasakannya di dunia. Maka saat itu tak bisa lagi dia lakukan, perempuan itu pun menjadi rungsing.

Itulah kenapa Dul terpaksa menerima pekerjaan di kota sebelah meskipun harus meninggalkan Marni sendiri. Meskipun sama-sama montir, gaji di kota jauh lebih besar daripada di kampungnya. Mungkin karena di kota orang-orang memang lebih kaya, atau orang-orang yang bisa memperbaiki mesin semacam Dul terlampau sedikit atau entahlah apa alasannya. Satu hal yang pasti, penghasilannya di kota bisa tiga-empat kali lipat lebih banyak! Dul tak bisa mengelak.

Sayangnya, Marni tak mau ikut dirinya merantau ke kota. Sejak dulu Marni tak suka hiruk-pikuk kota, kemacetan jalan raya, dan seterusnya yang menempel pada sebuah kota. Marni terlalu mencintai kampungnya yang tenang dan nyaman, juga rumah kecil mereka di ujung kampung yang sunyi menyendiri.

”Kalau aku ikut ke kota, biayanya lebih mahal, Mas. Kalau cuma sendiri Mas bisa sewa kamar bersama-sama teman lain, iya, toh?” Dul hanya bisa sepakat karena memang dia pun sependapat. Meskipun saat itu dia tetap merajuk meminta Marni ikut, sementara Marni pun geming ingin tetap tinggal.

Walau bagaimanapun, Dul memang harus mengalah untuk memenangkan hati Marni. Cinta harus selalu diperjuangkan, Dul tahu betul itu. Dul juga paham, bagi Marni pun, menanti suami di rumah sendirian sekian hari adalah perjuangan tak mudah bagi perempuan.

Satu hal yang membuat Dul mensyukuri keputusannya meninggalkan Marni ke kota adalah percintaan mereka yang selalu hebat setiap kali dia pulang, seolah kerinduan dan jarak telah membuat mereka menjadi dua pribadi yang sama-sama haus untuk saling menyentuh, atau saling mencumbu, atau saling-saling yang lainnya. Dan satu hal ini, tak bisa Dul bagi, kepada Paijo sekalipun.

Entah rindunya yang terlalu menggebu, Dul menghiraukan nasihat Paijo untuk berangkat selepas subuh esok pagi.

”Jumat malam begini macet sudah semacam simulasi neraka, Dul.” Dul hanya mengangguk-angguk mendengar kalimat teman sekerja yang sekaligus juga teman satu kamar sewanya itu.

”Tiap hari juga macet, Jo,” ujar Dul datar. Memang demikianlah adanya. Pulang malam itu juga atau besok pagi, terkadang macet, ya, tetaplah macet, tak peduli waktu, bukan?

Paijo hanya geleng-gelengkan kepala sambil menarik sarungnya. Tak lama dengkurnya mulai terdengar, giliran Dul yang geleng-geleng kepala melihatnya. Sebenarnya dia pun mengantuk, tetapi dia ingin mengejutkan Marni dengan kepulangannya hari ini.

Sengaja, dia tak memberi tahu istrinya itu kalau dia akan pulang. Dul juga merahasiakan sejumlah uang yang bisa mereka gunakan sebagai uang muka untuk menyicil sepeda motor impian Marni, tersimpan aman di tasnya. Dul tahu, untuk berbulan-bulan ke depan, dia harus tetap menghemat untuk bisa membayar cicilannya. Tapi membayangkan Marni yang berseri-seri bisa mengendarai sepeda motor keliling kampung membuat Dul rela berhemat hingga bertahun-tahun.

Seandainya Dul tahu, dia tak perlu terimpit berdesak di bus yang sesesak neraka. Dul juga tak perlu lelah berjalan kaki pada malam buta yang gelapnya terlampau keparat.

Tapi yang sudah terjadi telanjur terjadi. Dul hanya bisa terkejut saat didengarnya desahan laknat suara lelaki bersahut lenguhan istrinya di kamar yang seharusnya hanya miliknya. Di pinggir rumah, dilihatnya sebuah sepeda motor—yang berjenis persis sama dengan yang diinginkan Marni—terparkir diam seolah menertawakan Dul yang terlampau muntab.

Dul tak bisa apa-apa. Tangannya hanya terkepal, rahangnya hanya mengeras menahan gusar. Ditatapnya penuh murka si sepeda motor yang terparkir angkuh itu. Detik berikutnya, Dul mengeluarkan tas perkakas kesayangan yang selalu berada di ranselnya. Mirip kumpulan pisau milik para chef, obeng-tang-kunci dan teman-temannya itu adalah sahabat terbaik Dul yang selalu dibawanya kemana pun dia pergi. Khususnya malam ini, mereka benar-benar sahabat terbaik Dul.

Susah-payah bekerja tanpa suara, dipotongnya kabel penghubung tangki motor, bensin yang mengalir ditampungnya dengan botol air mineral yang sudah lama kosong. Dalam diam, dia berjalan mengitari rumah seraya mengguyur dindingnya dengan bensin. Ditariknya pot-pot besar berisi kuping gajah dan berbagai tanaman untuk mengganjal pintu depan. Dicabutnya bambu tiang jemuran susah payah, lantas menggunakannya sebagai pengganjal pintu belakang dan jendela-jendela.

Lenguhan dan desahan napas dari dalam kamarnya masih terdengar. Membuat Dul terus melakukan apa yang harus dilakukannya. Hingga tak ada lagi bensin yang keluar dari kabel yang terpotong tak sempurna. Hingga tak ada lagi jalan keluar bagi mereka yang berada di dalam.

Dul tak bisa apa-apa, sungguh. Sekali lagi didengarnya suara Marni yang baru saja menjerit nikmat. Awalnya Dul penasaran ingin tahu siapa lelaki pemilik sepeda motor yang telah membuat Marni-nya sedemikian laknat. Tapi sungguh, itu tak ada artinya lagi.

Dul sudah berhenti merokok sejak lama untuk alasan yang dia sendiri sudah lupa, tapi pemantik api di ranselnya masih ada, lengkap dengan sekotak rokok yang tak pernah lagi disentuhnya. Malam itu, Dul kembali menyelipkan batang kecil putih di antara kedua bibirnya. Ujungnya yang memerah setelah terbakar api entah kenapa membuatnya tersenyum lebar. Tak lama dilemparkannya kemeja tipis miliknya yang telah dia bakar ujungnya pada dinding yang telah juga dia sebarkan rumput kering.

Api menjalar perlahan dibantu angin kemarau yang kering. Hanya berkaus singlet Dul jongkok di depan kamar sambal menikmati rokok. Kamar Marni (yang dulu adalah juga kamarnya) kini senyap, hanya sayup suara napas teratur dari dua orang manusia yang mungkin saja kini tengah saling memeluk telanjang. Dul tersenyum, membayangkan dua orang itu akan terbakar bahkan sebelum mereka tiba di neraka.

Seandainya Dul tahu, seharusnya tadi dia tak usah pulang, seharusnya dulu dia tak perlu menikahi Marni, seharusnya dia … Ah, sudahlah. Dul hanya memandangi saja rumah di depannya yang kini tengah terbakar hebat, lengkap dengan dua calon mayat gosong di dalamnya yang sebentar lagi akan melolong minta tolong.

Mungkin, seharusnya Dul tak perlu pulang.

______________

Rinrin Indrianie : punya nama pena Orin. Ia menempuh pendidikan di Sastra Jepang. Telah Menerbitkan antologi kumpulan cerpen bertajuk Little Stories (2014), Yesterday in Bandung (novel kolaborasi, 2016), dan novel Pulang, Mereka yang Pergi Pasti Kembali (2018).

sumber : kompas.id, 05 Sep 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme