Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mereka Mengeja Larangan Mengemis oleh Ahmad Tohari

Posted on Ming, 15 Sep 2019

Mereka lima anak tanggung dan hanya Gupris yang perempuan. Kelimanya jarang mandi, dan lebih jarang lagi berganti pakaian. Di antara mereka, Gupris yang paling banyak bergerak dan usil. Juga cerewet. Hanya Gupris pula yang pernah bersekolah meski hanya sebentar.

Dan sekarang kelima anak itu telah berlompatan ke atas bak truk tak berdinding yang mulai bergerak meninggalkan pangkalan. Setiap pagi mereka berkumpul di pangkalan truk yang dikelilingi warung-warung, paling banyak warung nasi. Empat anak laki-laki memang selalu tidur di situ, di lantai emper warung yang sudah tutup atau di mana saja sesuka mereka. Di malam hari mereka sudah terbiasa dengan banyaknya nyamuk. Tetapi mereka sering tidak bisa tidur ketika perut lapar. Gupris tidak ikut tidur jadi gelandangan di pangkalan. Dia lain. Dia punya rumah kecil di belakang pangkalan. Ada emak, tapi tidak ada ayah.

Jam tiga pagi adalah waktu yang paling dibenci Gupris. Dia sering terbangun oleh bau wangi. Dia sering melihat emaknya dini hari sudah mandi, berdandan, pakai bedak, dan bergincu. Lalu mengambil keranjang tenteng dan bilang mau belanja ke pasar. Pada mulanya Gupris tidak peduli. Tapi kemudian dia jadi benci karena emaknya selalu pulang dengan keranjang kosong. Menornya sudah berantakan. Gupris benci dan makin benci. Jadi sekarang tiap jam setengah tiga pagi dia bangun dan pergi ke pangkalan, bergabung dengan empat teman sebelum emaknya pulang.

Gupris dan keempat temannya duduk bersila di atas bak truk kosong yang meluncur menuju pabrik semen. Truk itu besar sekali, jumlah rodanya empat belas, baknya berlantai baja, tidak berdinding. Satu anak main gendang kecil, satu anak main kecrek, dan satu lagi main gitar butut. Jadi ada panggung dangdut berjalan. Para sopir truk tidak pernah marah meskipun lima anak jalanan itu sering bikin berisik dengan memukul-mukul lantai bak. Gupris biasanya nyanyi dangdutan, tapi kali ini dia lebih suka asyik dengan HP-nya. Dia sudah suka nonton gambar cabul. Rambut Gupris masih dikucir dua.

Mendekati perempatan Karangasu, Gupris bangkit dan berdiri oleng. Dia mengajak keempat temannya bersiap turun. Bila mereka beruntung, lampu di perempatan pas menyala merah. Tapi kali ini tidak. Maka seorang anak yang tidak sabar terjun lewat sisi samping. Dia terbanting dan langsung mengaduh. Gupris lari ke depan untuk memukul-mukul atap kabin truk. Akhirnya truk berhenti setelah menyeberang perempatan. Sopirnya melongok ke belakang, tapi tidak marah. Empat anak melompat turun. Mereka mau menolong teman yang duduk kesakitan, tapi kendaraan sangat ramai. Gupris bertindak, bergerak ke tengah jalan. Dia mengangkat tangan tinggi-tinggi dan minta peluang untuk menyeberang. Panas matahari mulai menyengat.

Lima anak tanggung yang jarang mandi itu berjalan menyingkir dari perempatan. Yang satu dituntun menuju tempat yang terlindung dan ditinggal sendiri di sana. Gupris mengajak tiga teman kembali ke sudut perempatan. Gendang dari pipa pralon dengan membran karet ban mulai berdebam. Kecrek dan gitar butut mulai berbunyi. Gupris siap dangdutan. Tetapi tiba-tiba dia berhenti bergerak. Dia melihat sesuatu; ada yang berubah di sudut perempatan itu. Di dekat mereka telah terpancang sebuah papan pengumuman. Tulisannya hitam di atas papan kayu bercat putih. Berbeda dengan teman-temannya yang tidak tertarik karena tidak bisa membaca, Gupris lain. Dia ingin membaca tulisan itu. Dia mulai mengeja. Teman-temannya mendekat dan berdiri di belakangnya untuk menguping.

”Ba-ran-g si-a-pa me-nge-mis dan me-ng-a-men… di-pi-da-na… ku-ru-ng-an…”.

Gupris berhenti, lalu berbalik menghadap teman-teman.

”Dipidana itu apa? Dipidana kurungan artinya apa?” tanyanya.

Keempat anak laki-laki itu nyengir lalu bergantian menggeleng. Semua tidak tahu. Mereka hanya saling pandang. Gupris kesal dan jadi merasa percuma. Maka Gupris mengajak teman-temannya pergi. Tetapi mereka mendadak berhenti.

”Nah, baca itu! Kalian anak-anak liar yang kerjanya keluyuran, harus baca itu. Harus!”

Gupris dan teman-temannya serentak menoleh ke samping. Ada seorang hansip keluar dari warung nasi sambil membersihkan mulut dengan punggung tangan. Di atas saku kanan bajunya tersulam jelas nama Karidun. Dia bergerak setengah berlari. Dan berhenti, pasang gaya. Suara kerasnya mengatasi bunyi mobil dan motor. Masih ada remah nasi atau ampas kelapa di sudut bibirnya. Sisa makanan terus berjoget mengikuti gerak mulut ketika hansip itu bicara. Itu pemandangan yang membuat Gupris menahan tawa.

”Teruskan baca. Harus!” kata hansip Karidun. Tangannya menunjuk ke papan di sana dengan gaya komandan. ”Aku petugas keamanan, eh, sekuriti dari Dinas Sosial. Aku yang memasang papan itu tadi pagi. Untuk orang-orang semacam kalian. Tahu? Ingat, aku sekuriti dari Dinas Sosial, tahu?”

Lengang. Gupris berhenti, wajahnya buntu. Lalu menoleh ke belakang ke arah teman-temannya.

”He, kenapa berhenti. Baca terus. Aku ini sekuriti. Dan menyuruh kamu membaca. Ayo terus,” seru hansip Karidun, kali ini dengan suara lebih keras.

”Di-pi-da-na, itu artinya apa, Pak?” tanya Gupris dengan gaya yang biasa saja. Meskipun masih gadis kecil yang jarang mandi, Gupris berani cengar-cengir kepada hansip Karidun yang maunya disebut sekuriti.

Lengang lagi. Hansip Karidun kelihatan tidak siap menjawab pertanyaan Gupris. Wajahnya berubah-ubah. Seperti orang gagap, bingung, tapi alisnya mengeras. Kemudian memutar badan sampil mengusap-usap kening. Akhirnya dia kembali tegak menghadap kelima anak jalanan itu. Dia juga menggagah-gagahkan diri.

”Aku ini petugas sekuriti. Iya, kan?”

”Ya!” jawab Gupris cepat sekali.

”Jadi, menurut saya, dipidana pasti tidak sama dengan diberi dana. Dipidana mungkin sama dengan dihukum. Ya. Dipidana kurungan sama dengan dihukum kurung, dibui, dipenjara. Tahu? Itulah, maka kalian jangan ngemis dan ngamen terus. Seharusnya kalian bersekolah. Jadi kalian bisa seperti saya yang sekuriti dan tahu dipidana itu artinya apa.”

Gupris diam sejenak. Lalu berbalik lagi menghadap teman-teman. ”Kalian dengar, kita seharusnya sekolah.”

”Sekolah dapat uang apa tidak?” potong seorang anak.

”Ah, dasar! Sekolah, ya, tidak dapat uang, malah bayar,” jawab Gupris.

”Wah, susah kalau begitu? Tidak dapat uang? Lalu kita beli makan pakai apa? Enakan ngamen terus, ngemis terus, bisa makan terus.”

”Hai, apa?” seru hansip Karidun dengan muka dibuat galak. ”Kamu sudah saya kasih tahu, mengemis dan mengamen dipidana kurungan. Di-pi-da-na ku-ru-ngan 30 hari dan didenda 50 juta rupiah! Kamu dengar itu?”

Wajah Gupris ciut. Tapi kemudian tersenyum samar karena melihat sisa makanan di sudut bibir Karidun berjoget-joget lagi.

”Mengapa bisa begitu?” tanggap Gupris lagi. ”Mengemis bukan nyopet atau mencuri, kan?”

”Ya, tapi melanggar larangan. Siapa saja yang melanggar larangan pasti dipidana, ya dihukum.”

”Mengapa bisa begitu? Siapa yang membuat larangan?”

”Nah, saya sekuriti. Maka saya tahu siapa yang membuat larangan mengemis itu: Bapak Wali Kota dan para dewan.”

”Wali Kota itu apa?”

”Dasar anak liar. Wali Kota adalah pejabat penting.”

”Para dewan itu orang juga?”

”Iyyya. Nah dengar, saya sekuriti mau menerangkan semua. Dewan itu wakil rakyat, jadi wakil kalian juga.”

Alis Gupris merapat. Bingung dia. Tapi setidaknya dia sudah tahu, dewan itu sejenis manusia juga. Dan mereka bersama wali kota membuat larangan, siapa mengemis dan mengamen dipidana kurungan. ”Ya, ya. Kami mengemis dan mengamen saban hari. Tapi kami belum pernah dihukum.” Gupris nyengir. Empat temannya tertawa.

”O, jadi kalian minta dihukum, ya?” Karidun sibuk mencari HP di sakunya. Mulutnya komat-kamit dan ampas itu belum tanggal juga dari sudut bibirnya. Gupris dan keempat temannya tertawa lagi. ”Tunggulah, saya akan panggil mobil satpol PP buat menggaruk kalian. Tunggu saja. Saya sekuriti yang memanggil satpol PP. Jadi mereka akan datang segera.”

”Satpol PP itu apa?” Gupris menatap Karidun. Tapi tak ada jawaban.

Ketika Karidun sibuk ber-HP, Gupris berbalik menghadap ke teman-temannya. Dia berbisik-bisik. Empat temannya mengangguk bersamaan. Mereka kemudian melirik ke samping. Lampu jalan sedang menyala merah. Dua truk besar yang kosong dengan bak terbuka dan satu mobil bagus berhenti. Lampu berganti menyala kuning, lalu hijau. Gupris bergerak paling cepat, diikuti yang lain. Mereka melompat cekatan seperti munyuk, naik ketika truk besar dengan bak tanpa dinding itu mulai bergerak. Mereka kemudian ramai-ramai melambaikan tangan kepada hansip Karidun.

”Hai Pak Hansip, kami mau ke Tegal, terus Cirebon. Terus ke…, terus, terus…. Kalau mau menghukum, kejar kami ke sana, ya, Pak?” Gupris berseru sekerasnya sambil tertawa tergelak. Keempat temannya berjoget ria di atas truk yang terus berlari. Suara Gupris terus terdengar, tapi makin lama makin samar. Truk pengangkut semen itu menjauh, terus menjauh ke utara menuju Tegal.

Perempatan Karangasu tetap ramai, tetapi telah ditinggalkan oleh Gupris dan empat orang temannya. Kelima anak jalanan yang masih bocah itu telah pergi berkelana. Mereka akan keluyuran Tegal, Cirebon, atau entah di mana lagi. Hansip Karidun masih berdiri di sudut perempatan. Dia lama menatap papan pengumuman larangan mengemis yang baru dipasangnya tadi pagi. O, begitu dipasang papan berukuran enam puluh kali seratus sentimeter itu langsung terbukti keampuhannya. Lima anak jalanan telah menyingkir dari perempatan Karangasu. Hansip Karidun bangga karena merasa telah melaksanakan tugas dengan baik. Atau, entahlah. Karena bayangan wajah Gupris yang imut-imut dengan dua kepang rambut terus hadir di rongga mata. Suara Gupris ketika mengeja dengan suara terbata-bata, ”… dipidana kurungan itu apa?”, juga masih terngiang-ngiang di dalam telinga.

Ahmad Tohari : lahir di Banyumas, 13 Juni 1948. Sekarang menetap di Desa Tinggarjaya, Jatilawang, Purwokerto, Jawa Tengah. Karyanya yang paling populer novel trilogi Ronggeng Dukuh Paruk. Kumpulan cerpennya, Senyum Karyamin, Nyanyian Malam, dan Mata yang Enak Dipandang. Buku-buku lainnya berupa novel: Kubah (1982), Di Kaki Bukit Cibalak (1977), Bekisar Merah (1993), Lingkar Tanah Lingkar Air (1995), Belantik (2001), dan Orang-orang Proyek (2002).

Nasirun : lahir Cilacap, 1 Oktober 1965, menamatkan pendidikan di Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Yogyakarta pada 1994. Meraih sejumlah penghargaan, antara lain Sketsa dan Seni Lukis terbaik ISI Yogyakarta, McDonald Award pada Lustrum ISI Ke-10, dan Philip Morris Award 1997. Aktif berpartisipasi dalam berbagai pameran karya seni sejak 2004.

sumber : kompas.id, 15 Sep 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme