Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : LOP oleh Putu Wijaya

Posted on Ming, 27 Okt 2019

1.

Seorang mantan bromocorah meninggal sebagai orang pintar. Desa Sepi yang biasa tenang itu mendadak jadi hiruk-pikuk dikerubuti mereka yang ingin memberi penghormatan terakhir. Nama Bolong memang telah melambung menembus mancanegara sebagai pakar pengobatan alternatif.

Puluhan tahun yang lalu, Bolong pernah tersohor sebagai momok yang paling biadab. Karena ia telah memakan manusia hidup-hidup.

Apakah itu hanya kemasan bahasa, bagian dari sihirnya untuk menghipnotis penduduk agar tak berani melawan, entahlah. Tak ada yang pernah buka mulut mengungkapkan misterinya.

Ketika keluar dari penjara, Bolong sempat kelimpungan beberapa tahun. Terpental ke sana-kemari bersama keluarganya mencari tempat berteduh. Tapi di mana-mana, ia ditolak. Siapa yang berani mengambil risiko, hidup memelihara macan?

Aku sudah putus asa! Saat itu, kami nyaris mau bunuh diri. Istri dan kedua anakku yang masih kecil, sudah setuju. Habis dari pada tak ada harapan, katanya menceritakan masa lalunya.

Tapi malam itu, mendadak ada tsunami. Kami tunda dulu bunuh diri untuk menolong mereka.

Ternyata banyak anak kecil jadi yatim piatu. Tidak ada yang peduli, karena semua sibuk ngurus nasibnya sendiri. Akhirnya terpaksa kami ngurus dan keterusan sampai sekarang.

Untung juga ada tsunami, kalau tidak, kami sudah mati. Berkat itulah, kami diizinkan tinggal setelah bersumpah tobat. Aku diawasi terus siang-malam agar tidak kambuh. Memang dulu bekas-bekas anak buahku sering datang mengajak membahas proyek. Kontan aku tolak. Aku tak suka proyek-proyekan lagi. Aku sudah kenyang makan batu.

Sekarang anak-anak itu sudah waktunya ngisi perut. Mereka berhak kenyang, menentukan nasibnya sendiri. Jangan sampai aku gondeli. Aku tidak mau mereka makan manusia seperti aku.

Mereka tidak boleh nyontek aku. Untuk tidak menambah dosaku yang sudah tidak bisa ditebus, aku ajari mereka kebajikan. Bukan karena aku ingin diampuni, tapi untuk mencegah mereka mengikutiku.

Tapi apa yang terjadi? Saat kepergianku justru jadi momentum reuni, mengumpulkan mereka kembali yang sudah berserak dalam masyarakat. Balik lagi menyulut api untuk mengibarkan bendera hitam.

2

Entah datang dari mana kepintarannya, Bolong telah banyak menyembuhkan orang. Memberikan solusi yang tepat yang dengan jitu membukakan pintu mereka yang minta dibantu. Dan untuk itu, ia tak minta imbalan apa-apa. Tidak juga berharap akan dipuji atau menuntut dihormati sakti.

Semua itu kebetulan yang lebih banyak diciptakan oleh kesungguhan kalian sendiri, yang bertekad keluar dari perangkap itu, kata Bolong selalu dengan rendah hati.

Bukan hanya itu yang membuat kehadiran Bolong makin seru. Bolong sama sekali tak pernah menarik riak ombak ketenarannya untuk mencuci masa lalunya.

Aku dulu bandit. Sekarang pun tetap bandit. Meskipun sudah sempat menjalani hukuman, tidak berarti aku jadi bersih. Aku tetap bekas bromocorah. Hukuman itu pembayar dosa bukan membuat mentalku suci! Aku tidak mungkin menghapus yang sudah terjadi. Aku juga bukan orang pintar. Aku hanya bola polos di atas meja bilyar, untuk menggasak bola bernomor masuk lubang.

Tapi apa daya semua keterangan Bolong itu jadi tak penting. Karena yang kemudian berkibar, ketenaran Bolong jadi katrol pamor pemutih semua kejahatannya. Mantan anak buahnya pun keluar dari sarangnya dan dengan berani unjuk gigi bahwa mereka tetap ada dan tak takut untuk terus beraksi.

3

Saya hadir tetapi terpaksa minggir. Hormat saya pada Bolong berbeda dengan luapan magma yang menggelegak mendobrak dada para sahabat lamanya. Mereka terbakar oleh kobaran solidaritas satu nasib dalam penjara. Mereka bukannya sedih, tapi malah beringas. Ingin bangkit lagi setelah menahun tersekap kebekuan mendalam.

Entah dapat halusinasi, lamat-lamat kuping saya menangkap senandung Bendera Hitam. Itu lagu anonim yang dinyanyikan oleh seorang superstar dangdut yang melejit jadi lagu kebangsaan para narapidana.

Nampaknya mantan anak buah Bolong serasa berada di rimba Sherwood bersama Robin Hood. Mungkin mereka mengidentifikasi dirinya sebagai begal budiman yang merampok orang kaya, untuk derma bagi kaum miskin.

Para mantan narapidana itu juga tak rela duka kami, sahabat-sahabat baru almarhum, terlalu dekat. Seakan takut kebangkitan mereka bisa terkontaminasi oleh pikiran kami yang mereka anggap lawan. Tapi saya tak ingin mengganggu. Saya memahami perasaan mereka yang tak mau membuang peluang itu. Tapi meskipun menyisih, saya tak ingin dihapuskan. Karena kita semua bersama bagian dari nasi rames dalam satu piring untuk selamanya.

Lalu saya cari istri Bolong. Dia sedang melipat pakaian-pakaian yang ditinggalkan suaminya. Sesuatu yang sebetulnya bisa dilakukan lain waktu. Kenapa mesti dilakukan saat penguburan suaminya? Pasti ada sesuatu.

Saya yakin dia sedang menghindar. ”Maaf,” katanya mendahului, ”Saya sudah tegur mereka. Ini bukan penjara, tapi mereka tetap saja menyanyikan itu. Saya kan jadi malu pada tamu-tamu yang layat.”

”Kami maklum, Bu. Persahabatan itu lebih kuat dari persaudaraan. Saudara belum tentu sahabat.”

”Tapi itu kan dulu. Bapak sudah bukan pengusung bendera hitam lagi, Mas tahu, itu, kan?”

”Ya.”

”Kami sudah tua. Almarhum selalu bilang mau menghabiskan sisa hidupnya untuk menolong orang. Kenapa mereka selalu datang?”

”Berarti pengaruh Bapak masih kuat, Bu.”

”Almarhum pernah bilang mereka semua berharap bahkan mendesak dia jadi corong.”

”Bapak, Bu?”

”Ya. Tapi almarhum tidak meladeni.”

Sekarang kesempatan mereka memaksakannya.”

Perempuan yang sedang duka itu mengusap air matanya. Aku tak sanggup melihat. Tapi mencoba menenangkannya, sebelum melangkah mundur.

”Kami paham, Bu.”

4

Seorang yang tak mau disebutkan namanya, tapi mudah diduga siapa dia, menulis surat pembaca:

”Saya tak mewakili siapa pun. Tapi saya merasa saya memaparkan apa yang ingin disampaikan oleh banyak orang. Terutama oleh mereka yang sudah sempat ditolong oleh almarhum. Saya beruntung belum pernah berutang budi oleh kebaikannya, jadi tak bisa dicurigai sebagai iklan murahan. Tetapi seorang manusia biadab yang telah menganibal manusia tak berdosa meskipun alasannya sedang kerasukan setan, hanya pantas dihukum mati.

Dan memang sudah dipenalti begitu. Tapi keajaiban terjadi. Setelah dia dieksekusi dan tim dokter sudah menyatakan dia secara medis, klinis, mati, tetapi ketika liang lahatnya mau diuruk, mendadak dia bangun dan hidup lagi. Setelah perdebatan bertahun-tahun dengan hasil tetap buntu, apakah dia perlu ditembak mati sekali lagi, dia mati secara alami.

Kebingungan kita pun senyap. Tapi mendadak sekali lagi terjadi keajaiban. Malam hari ada yang mendengar suara dari kuburnya. Ketika dibongkar ternyata dia masih hidup. Sejak itu, hukum tidak lagi menyentuhnya. Dia hidup bebas seperti kita semua. Dan yang sangat mengagumkan, almarhum dari makhluk biadab yang menyantap manusia hidup-hidup, berubah total, menjadi warga yang santun, kooperatif, selalu membantu, menolong, mendorong kita semua untuk berbuat baik, toleran, mengamalkan gotong-royong dan hidup damai dalam berbeda.

Almarhum sama sekali bukan bajingan biadab yang sudah makan orang hidup-hidup itu. Hanya tubuhnya memang itu-itu juga. Tapi jangan salah, almarhum adalah orang pintar yang sudah menolong nyawa ribuan orang. Satu kalimat saja yang ingin saya ucapkan dengan lirih supaya jangan berbau provokasi: ”Mbok jangan melupakan sejarah, Bo!”

Putu Wijaya : lahir di Puri Anom, Tabanan, Bali. Putra ketiga (bungsu) dari pasangan I Gusti Ngurah Raka dan Mekel Erwati. Setelah tamat dari SMAN Singaraja dan Fakultas Hukum UGM, pindah ke Jakarta. Pernah menjadi wartawan Tempo, Zaman, dan Warisan Indonesia. Mendirikan Teater Mandiri, menyutradarai film dan sinetron, serta menulis cerpen, esai, novel, dan lakon.

Emmy Go, pernah belajar melukis Chinese painting di Beijing Art School tahun 2010, mengikuti workshop di Australia 2002, dan belajar melukis kepada pelukis palet terkenal, Mozes Misdy, tahun 1984-1992. Emmy juga telah berpameran sejak tahun 1991 dan kemudian diteruskan dengan pameran-pameran di sejumlah galeri di Jakarta, Semarang, Surabaya, Australia, Malaysia, dan Thailand.

sumber : kompas.id, 27 Okt 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme