Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mata Dibalas Mata oleh Meutia Swarna Maharani

Posted on Ming, 03 Nov 2019

Saat Dinda memutuskan sudah saatnya untuk ia menikah, syarat dari Mama hanya satu; wali nikahnya haruslah Daim. Bagi Mama, Daim dilangkahi adiknya dalam urusan jodoh merupakan satu yang haram.

Walau Daim sudah bilang berkali-kali bahwa ia tak ambil pusing soal siapa yang menikah duluan, Mama tetap tidak mau tahu urusan. Daim wajib untuk datang menjadi wali nikah Dinda sebagai bentuk restunya.

Jadilah dua hari sebelum ijab kabul, Daim kembali ke rumah. Tidak terkira senangnya hati Mama melihat si sulung ternyata masih ingat jalan pulang setelah tahunan lamanya merantau di ibukota. Dinda pun tak kalah berseri-seri menyambut Daim. ”Kukira kau sudah tak sayang aku!” serunya sambil bergelayutan manja di lengan Daim.

Hanya aku yang diam termangu di teras, bingung harus bersikap bagaimana. Apakah aku harus mengecup punggung tangannya lalu bermanja-manja seperti yang Dinda lakukan? Ataukah meniru tindakan Mama yang langsung memeluknya? Akhirnya kuputuskan untuk mencium punggung tangannya dan sekadar berbasa-basi menanyakan perjalanan di pesawat tadi, agar aku tak dilihatnya sebagai si bungsu yang tak tahu adab sopan santun pada kakak tertua. Daim masuk ke dalam, dengan tiap selangkah sekali membaui udara seolah berusaha mengingat apa saja yang masih tersisa di rumah ini.

”Tak apa kau tak datang saat baantaran1 – ada Amang Zul yang bisa menggantikan posisimu sementara. Kecuali jika kau tak ada ketika Dinda ijab kabul. Hm, lebih baik tak usah dilanjutkan perkawinannya,” guyon Mama, disahuti rajukan Dinda dan gumaman maklum Daim.

Di malam kepulangan Daim, Mama menggoreng patin dan membuat semangkuk besar sayur bening. Makanan kesukaan Daim dan almarhum Abah, ingat Mama yang diucapnya berkali-kali saat aku ikut membantunya di dapur. Makan malam sederhana, dibuat oleh Mama dengan cinta yang luar biasa.

”Tak ada yang bisa menggoreng patin selezat Mama,” puji Daim.

Dusta, batinku. Warung di ujung gang yang sering kusinggahi untuk makan malam bersama pacarku itu punya patin goreng dengan kulit yang lebih renyah dan bumbu yang lebih meresap. Tapi dengan cepat aku menggeleng. Mungkin di ibukota sana memang tak ada yang bisa membuat patin goreng dengan lezat.

”Makanya cepat menikah, Daim. Berapa usiamu sekarang? Kau sudah kalah dari Dinda. Setidaknya bawa calon untuk Mama, biar bisa kuajarkan dia cara menggoreng patin supaya kau betah di rumah,” ujar Mama sembari mengambilkan seekor patin goreng lagi untuk Daim. Aku menikmati pergerakan tangan Mama dengan hati-hati, agar Mama tak tahu hatiku dalam artian sebenarnya sedang menyahuti perkataan Mama barusan setengah meledek; ”Bahkan patin goreng yang katanya favorit Daim saja dulu tak mampu menahannya minggat dari rumah, Ma!”

Daim menggeleng-gelengkan kepala mendengar perkataan Mama barusan. Setelah mengucapkan terima kasih atas patin goreng yang diambilkan Mama, matanya sibuk mengitari ruangan, mencari-cari entah apa sebelum akhirnya terhenti padaku. Kulihat ia tersenyum sekilas sebelum kutundukkan kepala. Bodoh, bodoh – jangan-jangan ia sudah pernah belajar ilmu baca pikiran?

Kami melanjutkan makan dengan sunyi. Maksudnya, hanya aku dan Daim yang saling diam. Mama dan Dinda masih bersemangat berbicara tentang rangkaian acara yang sudah dan akan berlangsung. Besok adalah acara bamandi-mandi2, lusa pagi ijab kabul dan dilanjutkan resepsi di sore harinya. Daim pun merespons sesekali dengan tidak kalah antusiasnya.

”Danum, kalau bamandi-mandi besok, jangan diam di kamar saja. Coba kau tunjukkan sedikit kepedulian pada kakakmu. Lagipula, kan ada Daim juga di sini. Keluarlah sesekali.” Mama menyentuh lenganku tiba-tiba, membuatku mendongak dan dengan enggan mengangguk. Aku benci keramaian, dan melihat banyak orang hilir-mudik di rumah beberapa minggu belakangan membuatku pusing. Aku lebih senang di kamar, bercakap dengan foto almarhum Abah guna membunuh rindu.

Pandangan Mama kemudian kembali teralih pada Daim. Raut wajahnya yang semula agak keras padaku, kini meraut khawatir menatap Daim. ”Betul tak apa kau?”

Kudengar helaan panjang napas Dinda. Ia terdengar begitu letih di sampingku, namun suara Mama tadi terdengar jauh lebih lelah untuk diabaikan.

”Ma, namanya jodoh siapa yang tahu. Kalau memang waktunya Dinda menikah lebih cepat dariku, ya sudah. Aku sungguh tak apa. Aku juga sudah pernah bilang ini berkali-kali kan?” Daim tersenyum menenangkan Mama. ”Jika setelah ini ternyata giliran Danum yang mau menikah juga, aku pun tak keberatan jadi wali.”

Daim menatapku lagi, kini tanpa kedip sampai aku jengah dibuatnya. Sumpah mati, aku tak mau dia jadi wali nikahku nanti.

”Nanda dan Danum belum sarjana,” gumam Mama, mengisyaratkan penolakan.

Kini aku yang ganti menatap Daim, menunggu reaksinya. Tapi ia terlihat biasa, mulutnya malah lanjut mengunyah.

”Nanda malam ini jadi datang, Ma. Dia mau bantu Danum mengecek kue untuk besok di rumah Amang Zul.” Aku mengatakannya pada Mama, namun mataku tak lepas dari Daim.

”Cepatlah. Jangan kemalaman biar kalian tidurnya tidak larut juga.”

”Iya, Ma, tidak akan lama. Daim juga sepertinya ingin temu kangen dengan Nanda.”

Pancinganku berhasil. Daim menatapku tajam—hanya sedetik sebelum tatapan itu kembali melunak. Ia menatapku seperti orang mengaku kalah, seperti minta ampun. Sayangnya aku belum puas.

”Pastilah Daim rindu sekali. Bagaimana tidak, jika dulu saja tiap sore ia mengajari Nanda matematika cuma-cuma. Aku juga minta diajari waktu itu, tapi ia minta upah lima ribu. Daim membelikan Nanda layang-layang, padahal aku juga ingin –” aku menahan napas sebentar, menahan getar di suaraku.

” – padahal aku adiknya.” Kuselesaikan kalimatku dengan tawa getir.

Mendadak suasana di meja makan terasa dingin membekukan. ”Kau kenapa, sih?” pecah Dinda kemudian, menatapku heran.

Aku menggeleng, lalu kembali menunduk seperti yang biasa kulakukan. Aku terbiasa menunduk dalam menghadapi siapapun, dan itu membuatku terlihat lemah. Sungguh, aku benci disangka lemah.

Aku juga benci saat-saat dulu kudapati Daim memberikan Nanda es krim. Tak kalah menyebalkannya jika adegan Daim menyeka sisa es krim di sudut bibir Nanda terulang jelas dalam otakku. Waktu Daim dengan sengaja mengelus rambut Nanda saat jawaban soal matematikanya benar – ck, rasanya seluruh amarahku memuncak saat itu juga.

Dan lihatlah sekarang, si sulung kebanggaan Mama dan Dinda masih memilih untuk pura-pura bodoh.

Atau perlu kuingatkan lagi padanya ketika selesai ujian akhir sekolah dasar, aku dan Nanda saling membalap karena ingin memperlihatkan padanya nilai kami adalah dua yang terbaik dari siswa lain. Ia hanya menyambut Nanda, mengecup pipinya ringan sebagai bentuk selamat seolah itu bukan perkara besar.

Mataku memerah. Aku menangis karena aku suka Nanda, tetangga yang juga teman sekelasku yang teramat menyebalkan karena suka mengganggu. Aku bahkan belum datang bulan saat itu dan aku ingin pula mengecup pipi Nanda. Tapi aku lebih sayang Daim – dulu ia juga si sulung yang selalu kupuja, aku tidak suka melihat Daim lebih sayang Nanda. Jadi aku lari ke pelukan Abah, mengadu sambil tersedu.

Abah kala itu menenangkanku. Diangkatnya tubuhku tinggi dan pipiku dihujaninya kecupan tak terhitung. Janggut yang Abah biarkan tumbuh panjang membuatku geli, lalu aku tertawa dibuatnya. Abah ikut tertawa bersamaku sambil berbisik, ”Daim juga sayang kau, Danum!”

Malamnya, aku terbangun karena gelegar suara Abah. Di rumah saat itu hanya ada Abah beserta aku dan Daim. Mama dan Dinda tengah menginap di rumah Amang Zul menjenguk Nini yang sedang sakit. Aku tidak berniat mencuri dengar pembicaraan Abah dan Daim. Tapi telingaku memang dirancang untuk bisa mendengar, suara mereka juga tidak cukup pelan untuk tidak didengar.

”Kau laki-laki, Daim!”

”Aku juga tidak meminta lahir seperti ini, Abah!”

Abah meraung frustrasi. Kudengar beberapa benda jatuh yang entah apa dan kenapa. Antara penasaran dan takut, aku mengintip dari lubang kunci. Abah terduduk di lantai, Daim sedang berdiri menghadap Abah. Keduanya sama-sama tengah mencengkeram rambut masing-masing. Beberapa buku berserakan di sekitar mereka. Pastilah itu suara benda-benda yang terjatuh atau dijatuhkan tadi.

”Kenapa harus laki-laki… bocah ingusan pula!” Bahu Abah berguncang. Abah terisak-isak sambil mengucap nama Tuhan berkali-kali. ”Aku tadinya cuma mau memintamu memperlakukan Nanda dan adikmu dengan adil. Tidak kusangka akan mendapat pengakuan seperti ini.”

Aku ingin sekali berlari memeluk Abah, mengingatkannya agar tidak menangis berlebihan. Abah tidak boleh stres, kalau tidak sakit jantungnya akan muncul lagi. Terlebih lagi, Abah menangis membawa namaku. Abah tidak boleh menangis karenaku.

Nyatanya, kakiku tetap terpaku di tempat. Apalagi saat napas Abah mulai terlihat tidak beraturan, rasanya seperti ada perekat yang sangat kuat di bawah kaki hingga aku tak bisa bergerak. Abah jatuh begitu saja. Daim hanya melihat dengan datar. Beberapa detik setelah Abah rebah dengan sempurna, aku teriak begitu kencang. Kubawa tubuhku berlari untuk memanggil tetangga, namun Daim langsung memerangkapku dalam pelukannya terlalu cepat sebelum aku sempat menolak.

”Jangan bilang siapa-siapa soal ini, Danum!” Aku berani bersumpah, ia hampir saja meremukkan tulang-tulang kecilku.

Para tetangga pikir, aku masih terlalu muda untuk dimintai keterangan. Jadilah mereka bertanya pada Daim. ”Abah kena serangan jantung,” jawab Daim berulang-ulang pada siapapun yang bertanya.

Selepas tujuh harian Abah, Daim memutuskan untuk pergi. Waktu itu ia belum tahu ke mana, yang penting ke tempat jauh katanya. Orang-orang pikir Daim merupakan anak yang paling patah hati atas kepergian Abah hingga memutuskan untuk pergi jauh. Mereka selalu menitipkan belasungkawa hanya pada Daim jika berpapasan dengan keluarga kami. Mereka mungkin tidak tahu bahwa Dinda selalu membawa-bawa sarung salat Abah ke mana pun ia pergi selama setahun penuh sejak meninggalnya Abah. Mereka lupa perihal aku yang sampai sekarang masih suka berbicara sendiri dengan foto Abah.

Sejak saat itu, aku selalu menyumpah-nyumpahi Daim lewat segala doa yang kupanjatkan. Di antara harapan-harapan baik tentang kelapangan kubur Abah, juga bahagia hidup Mama dan Dinda, serta sedikit pesan cinta pada Nanda, selalu kuselipkan sumpah serapah barang satu atau dua kata khusus untuk Daim. Tuhan Maha Mengerti, maka aku yakin pasti dipahami.

Ketika sekarang sedang menyumpahinya lewat mata, kurasakan getaran telepon genggamku di permukaan meja makan. Nama Nanda beserta simbol hati yang kusimpan tertera jelas di layar, membuat Mama bersuara, ”Nanda sudah sampai di depan, mungkin? Angkat teleponnya dulu sana.”

Kugeser layar untuk menjawab panggilan telepon. Mulutku berbicara dengan Nanda, menyuruhnya langsung masuk saja karena memang ia sudah menunggu di luar. Tapi kedua mataku tak bisa dikontrol. Mereka malah memilih untuk bilang pada mata Daim seperti ini, ”Aku sudah tidak punya kamu sejak kita kecil. Kamu merebut Abah dariku. Sekarang, Nanda punyaku – aku tidak akan membiarkanmu merebut apapun dariku lagi.”

Untuk pertama kalinya, aku puas melihatnya menatapku nanar – aku merasa menang.

Depok, 7 Oktober 2019

1 Prosesi hantaran adat Banjar sebelum melangsungkan pernikahan

2 Prosesi siraman adat Banjar

Meutia Swarna Maharani : akrab disapa Ara, lahir di Jakarta, 6 September 2001. Ia tumbuh besar di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dan kini tengah menempuh pendidikan Sastra Indonesia di Universitas Indonesia. Menulis satu buku kumpulan cerpen berjudul Melukis Pelangi (2011) dan novel berjudul Langkah Kecil (2017). Cerpennya “Baruna” termasuk dalam buku Cerpen Pilihan Kompas 2018.

Antonius Kho : lahir tahun 1958 di Klaten, Jawa Tengah. Menempuh pendidikan seni rupa di Bandung, melanjutkannya di Koln, Jerman. Menerima sejumlah penghargaan, antara lain 1st Prize “Mask in Venice” Art Addiction Annual di Venesia (1998) Gold Masks “Diploma of Excellence”, Palazzo Correr di Venesia (1989). Sejak 2004 , mendirikan Liang Art Space (Wina Gallery), di Ubud, Bali.

sumber : harian Kompas edisi 03 November 2019 di halaman 16 dengan judul “Mata Dibalas Mata”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme