Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Kilometer 74 oleh Haryo Pamungkas

Posted on Kam, 05 Des 2019

Aku bisa melihat bunga-bunga yang ditabur sepanjang Kilometer 74 ini ….

Seminggu sebelumnya, salah satu bus yang mengantar turis oleng, kehilangan kendali dan menabrak pembatas jalan, terjun ke jurang bersama seluruh muatannya. Tiga puluh orang meninggal dan 20 orang sisanya terluka dan sopir beserta kondekturnya—yang juga merangkap sebagai pemandu—selamat. Tidak ada kesalahan teknis, kata polisi, kecelakaan murni akibat kesalahan sopir yang tidak melambatkan laju dan membunyikan klakson sebanyak tiga kali di Kilometer 74 itu.

Sebab, sebulan sebelum kecelakaan itu terjadi, salah satu bus mini yang juga mengantar turis mengalami hal serupa. Bahkan, sekitar 3 bulan dan setahun lalu kecelakaan juga menimpa bus dan mobil van keluarga. Tepat di Kilometer 74 dan satu-satunya alasan yang dikemukakan selalu sama: mereka tidak melambatkan laju dan membunyikan klakson tiga kali di awal kilometer.

Aku bisa melihat bunga-bunga itu dengan jelas sebab bus yang kutumpangi ini benar-benar melambatkan lajunya—bahkan sangat pelan hingga terasa nyaris berhenti—kemudian membunyikan klakson sebanyak tiga kali. Kulihat beberapa penumpang agak kebingungan. Barangkali, pikir mereka, sesuatu telah menghalangi jalan bus ini.

Tapi jika kukatakan kilometer ini berhantu, barangkali mereka justru akan tertawa.

Penumpang di sampingku, seorang pelancong dari Sisilia, Italia, bernama Luigi—aku berkenalan dengannya saat kebingungan mencari meja sarapan dan wajah ramahnya (wajahnya cukup lucu; kadang memerah seperti lobster kukus dan berpipi gembul) seakan-akan menyuruhku menempati kursi kosong di depannya dan kami mengobrol cukup akrab meski bahasa Inggrisnya cukup payah dan akhirnya kami sepakat duduk di kursi yang sama di dalam bus—justru sedang asyik membaca buku.

”Kau sedang membaca apa, Luigi?” Aku memberanikan diri membuka obrolan sebab kukira perjalanan tanpa obrolan sama dengan sia-sia. Alih-alih menjawab, Luigi justru bertanya kepadaku mengapa wajahku pucat dan berkeringat?

”Tidak apa-apa, perutku sedikit mual,” jawabku, ”barangkali karena aku makan cukup banyak saat sarapan tadi.” Kemudian ia tertawa kecil dan pada saat itulah wajahnya memerah seperti lobster kukus—Luigi memang mudah tertawa dan ketika kukatakan ia memiliki wajah ramah, kupastikan itu karena ia mudah tertawa.

Tentu saja aku berbohong, perutku sama sekali tidak mual, tetapi menjelaskan perjalanan menegangkan dan hantu kepada orang seperti Luigi ini hanya akan membuatku ditertawai, bahkan mungkin hingga terbahak-bahak. Aku yakin itu.

Selepas tertawa—aku cukup khawatir seandainya tawanya dapat mengganggu penumpang lain sebab, meski hanya tertawa kecil, suaranya cukup keras hingga badan suburnya terlihat bergetar-getar—ia menunjukkan sampul bukunya kepadaku.

”Cerita-cerita Luigi Pirandello dan aku telah sampai pada Perjalanan Terakhir-nya.”

”Kau menyukainya, cerita-cerita Luigi Pirandello itu?” tanyaku lebih lanjut dengan suara pelan. Aku khawatir mengganggu para penumpang lain.

Sejujurnya, selain karena bosan dalam perjalanan, aku membuka obrolan karena kukira itu juga dapat mengurangi kecemasanku dalam perjalanan ini. Dan memang itu cukup membantu pada akhirnya. Tapi … bus yang kutumpangi ini masih berjalan pelan. Sial memang.

”Benar, aku sangat menyukainya karena selain namaku hampir sama dengannya, bahkan sewaktu kecil aku bermimpi ingin sebesar Luigi Pirandello …” Kemudian ia berhenti sejenak untuk tertawa—kali ini, aku mulai merasa terganggu dengan sifatnya yang mudah tertawa itu!

”Satirenya sangat menarik dan cukup eksperimental,” pungkasnya.

Kemudian setelah menyipitkan matanya memandangiku, ia bertanya, ”Hei, mengapa wajahmu semakin pucat begitu? Apa kau sedang sakit? Perutmu semakin mual?”

Ya, tentu saja aku semakin pucat. Aku sedang dalam perjalanan yang cukup menegangkan dan orang konyol di sampingku ini justru membaca Perjalanan Terakhir-nya Luigi Pirandello yang konon ditulis beberapa minggu sebelum penulisnya meninggal. Semacam mendapat firasat!

”Tidakkah kau merasa janggal, Luigi, membaca Perjalanan Terakhir saat perjalanan begini?” Tanyaku dengan nada gurau, sebab si konyol di sampingku ini membacanya tanpa kecemasan apa pun! Namun, aku berusaha tidak terlalu menampilkan kecemasanku kepadanya.

Lagi-lagi, seperti yang sudah kutebak: Luigi malah tertawa.

Untuk menguatkan ’bahwa ini hanya sekadar candaan’ aku ikut-ikutan tertawa sejenak. Di luar, daun-daun berdesir digesek angin, beragam pohon menjulang, di sisi kanan dan kiri adalah jurang; sesekali lampu kendaraan yang lewat dari arah berlawanan terlihat dan bus ini masih saja berjalan pelan.

Dan Luigi, ia masih belum selesai tertawa ….

”Ha-ha-ha-ha.”

Aku mulai tidak nyaman sebab beberapa penumpang menoleh ke belakang; barangkali mereka sedikit gusar atau merasa terganggu.

***

Dua ratus meter lagi kurang lebih, Kilometer 74 akan berakhir. Aku bisa melihat papan pengumuman itu di sisi jalan meski di luar cukup gelap. Sekitar lima menit lalu Luigi sudah berhenti tertawa, kini matanya kembali tertuju pada buku yang ia bawa.

Malam begitu pekat di luar. Dan rasa-rasanya bus ini mulai berjalan lebih cepat.

Tiba-tiba seorang turis yang duduk di kursi tengah beranjak, berjalan ke arah kondektur kemudian membungkuk; membisikkan sesuatu kepada kondektur itu. Kemudian mereka sama-sama menatap ke arah kami, bahkan penumpang itu menunjuk-nunjuk dengan jarinya. Sangat jelas arahnya. Tentu saja aku merasa ada yang janggal. Ah, benar, pikirku, ini pasti karena tawa si konyol Luigi sebelumnya! Barangkali penumpang itu telah benar-benar terganggu dan memutuskan melapor kepada kondektur agar si Luigi ini lebih bisa menahan tawanya.

Aku cukup setuju. Sebab aku pun merasa terganggu.

Tak lama, mereka sama-sama beranjak. Berjalan melewati kursi-kursi penumpang dan benar dugaanku sebelumnya; mereka menuju ke arah kami. Luigi tak menyadarinya sebab matanya masih fokus pada buku Luigi Pirandello itu. Ah, gara-gara si konyol ini, sesalku, perjalanan ini malah semakin ruwet. Untuk itu, aku pura-pura memejamkan mata. Biar Luigi seorang yang menyelesaikan urusan ini, sebab ini memang ulahnya.

Saat kondektur dan penumpang sudah berada di depan Luigi—aku sedikit mengintip untuk itu—mereka mulai dengan berdeham. Tapi Luigi masih tak menyadari kedatangan mereka … astaga, benar-benar seorang batu! Aku terus mengintip dan si kondektur dengan hati-hati menyentuh bahu Luigi lalu menggoyang-goyangnya dengan perlahan. Barulah kemudian ia sadar; matanya membulat, dan dengan wajah ramahnya—meski aku merasa terganggu dengan tawanya, tapi aku cukup menaruh hati untuk wajah ramahnya—ia tersenyum lalu menanyakan ada apa, seperti tanpa dosa. Si kondektur mulai dengan mengenalkan diri kemudian berbicara mengenai keluhan penumpang di sampingnya. Mereka—kondektur dan Luigi—bicara dengan bahasa Inggris yang patah-patah dan penumpang yang memiliki keluhan itu hanya menyaksikan seperti patung dengan tatapan nyalang.

Tak butuh waktu lama—aku sudah menebak sebelumnya, Luigi pasti segera meminta maaf untuk itu dan berjanji akan menahan diri setelahnya—mereka kembali ke tempat duduk masing-masing. Aku masih pura-pura terlelap sampai Luigi menoleh ke arahku dan menyentuhkan tangannya pada lenganku yang terbuka.

”Hei, apakah kau sudah baikan? Barusan kondektur dan seorang penumpang datang menegurku. Wahh, badanmu cukup dingin ya …” katanya. Dengan akting sempurna aku membuka mata perlahan, sedikit menggeliat, kemudian menatap Luigi dengan tatapan ada apa?

”Barusan kondektur menegurku. Ada penumpang yang terganggu dengan tawaku. Ah, mereka payah!” Ulangnya.

Tentu saja aku sudah mengerti, tapi demi menggenapi aktingku, aku sedikit berbasa-basi.

”Apa yang mereka katakan?”

”Entah, kondektur itu konyol,” bisiknya, ”bicara soal hantu, kilometer ini berhantu katanya dan aku harus menahan diri supaya sopir bisa berkonsentrasi, setidaknya sampai melewati kilometer ini.”

”Badanmu begitu dingin,” tambahnya cepat, ”dan wajahmu semakin pucat. Apa kau benar baik-baik saja?”

Aku tak menjawab untuk itu, tapi kubilang kepada Luigi kemudian.

”Hei Luigi, sejujurnya dari tadi aku pun ingin memperingatkanmu: kilometer ini berhantu dan telah memakan banyak korban. Semestinya kita tenang dalam perjalanan yang …”

Tiba-tiba, tanpa kuduga sebelumnya, wajah Luigi malah memerah dan pipi gembulnya semakin mengembang. Ia menahan tawa! Melihat itu aku cukup menyesal memberitahunya. Dan … lepaslah kemudian! Ia tertawa terbahak-bahak dan para penumpang menoleh ke arahnya, semuanya.

Cukup sudah, pikirku, lagi pula papan Kilometer 75 sudah terlihat.

Maka cepat-cepat aku melenggang lewat jendela dan setelahnya, adakah yang lebih pucat dari wajah Luigi dan lebih patung dari badan Luigi saat melihatku melenggang lewat jendela itu?

Sebagai kalimat perpisahan, kutambahkan kepada Luigi,

”Hei, kenapa kau berhenti tertawa …” Dan tak lupa, kututup dengan gelak tawa,

”Ha-ha-ha-ha.”

Dan aku, sejak setahun lalu memang selalu bisa melihat bunga-bunga yang ditabur di sepanjang Kilometer 74 ini, menghitung secara pasti jumlah kecelakaan yang terjadi setelahnya ….

____________________________

Haryo Pamungkas : lahir di Jember. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNEJ. Cerpennya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring.

sumber : kompas.id, 05 Des 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme