Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dilarang Makan Babi oleh Wika G Wulandari

Posted on Kam, 12 Des 2019

Tapi Mama, meski sempat mengungsi ke rumah sanak keluarga satu hari setelah kejadian, tetap kembali ke rumah asal. Menetap di sana. Seorang diri. Menua, melihat anaknya satu per satu merantau membawa trauma.

Kami sepakat untuk selalu merayakan Natal di kampung halaman. Bersama suami dan anak-anak kami. Tidak peduli semahal apa pun tiket pesawat, kami akan pulang dua-tiga hari sebelum natal. Karena itulah satu-satu cara merawat kenangan kami bersama Bapak, dan mengobati luka Mama yang tak pernah betul-betul kering.

***

Sejak Bapak meninggal dalam kerusuhan agama tujuh belas tahun silam, Mama enggan menikah lagi. Dibesarkannya kami dengan telaten, merangkap menjadi sosok ayah yang membuat kami mengaguminya lebih dalam. Bahkan, ketika satu per satu dari kami merantau, entah karena pendidikan atau karena suami, Mama melepas dengan lapang dada.

“Ose mau pergi jauh pun, ose tetap pulang ke sini,” ujarnya saat melepas kepergian saya mengikuti suami ke tanah Jawa tiga tahun silam.

Rumah tempat saya dibesarkan adalah rumah berdinding batu bata merah. Tidak seberapa luas. Dapur tempat Mama memasak terpisah dari bangunan utama, dekat dengan para-para tempat mencuci piring. Di dapur ini terdapat dua tungku yang biasa digunakan untuk memasak air dan nasi. Saya masih ingat dengan jelas bagaimana kami mengumpulkan kayu bakar dari kebun-kebun tetangga. Atau ketika salah satu dari kami dipukul dengan kayu bakar yang susah payah kami dapatkan, hanya gara-gara kami tidak berangkat ke gereja di minggu pagi.

Kebiasaan kami saat natal tidak berbeda jauh dengan para tetangga. Berdoa di gereja lalu berkumpul bersama, menghabiskan waktu hingga tahun baru. Tidak ada satu pun di antara kami yang begitu jelas mengingat suasana natal bersama Bapak. Kejadian naas tahun 1999 seperti menghapus semua kenangan menyenangkan bersama Bapak. Jadilah bertambah satu kebiasaan Mama di malam natal, menceritakan kembali kisah-kisah masa kecil kami bersama Bapak.

Malam itu, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, Maria, anak bungsu saya, tiba-tiba merengek kencang di dekat pohon natal.

Mama yang pertama menghampirinya dengan senyum hangat sambil bertanya.

“Nona manis, ale kenapa?”

“Beta ingin makan babi. Tapi Mama seng kasih izin.”

Ini aturan lama, bahkan sebelum kami menikah. Mama melarang kami mencicipi daging babi, bahkan untuk memegangnya pun tidak boleh. Cerita yang dibangun dari aturan itu adalah Mama jijik melihat tubuh babi berserakan dalam perjalanan meninggalkan Mardika. Ketika orang-orang lari untuk berlindung dari serangan pasukan putih, Mama turut di dalamnya. Masih sempat pun ia memperhatikan jalanan di sekitarnya. Sejak itulah, bila melihat daging babi, ingatan Mama tiba-tiba melayang ke hari paling naas dalam hidupnya.

“Nona manis, Oma belikan sate kambing saja. Lebih sedap. Lebih bergizi,” Mama berusaha membujuk cucunya.

Saya bersama saudara yang sedang berbincang di dapur tiba-tiba terdiam lama. Kepala saya memanas menahan amarah. Tidak hanya pada Maria, kami pun dengan gamblang menjelaskan pada anak-anak kami bahwa keluarga ini tidak memakan babi. Meskipun tetangga yang juga merayakan natal menyantapnya. Tapi, seperti kata Mama, anak-anak memang selalu punya kemauan yang kuat.

“Rosalina!”

Saya terperanjat, bangkit dari kursi, nyaris menjatuhkan gelas bening yang sering digunakan Bapak untuk minum kopi sehabis menarik angkot.

“Belikan sate kambing di Mas Jawa.”

Tangis Maria makin melengking. “Beta seng mau sate. Beta mau babi kecap!” rengeknya makin jelas.

Mama hanya menarik napas dalam. Meninggalkan anak dan cucunya, masuk ke kamar lalu mengurung diri di sana.

Tak tunggu waktu lama. Saya menghantam pantat Maria habis-habisan. Tanpa berkata apa pun, saya menghajarnya berkali-kali. Rumah yang seharusnya dipenuhi canda ceria untuk menyambut natal, justru dipenuhi tangis kesakitan anak bungsu saya.

***

Maria demam satu hari setelah natal. Badannya panas tinggi dan seperti tak bertenaga. Bibirnya pucat. Saya khawatir. Dokter langganan kami di kampung halaman tidak membuka praktik, karena sedang berlibur bersama keluarganya.

“Bisa jadi itu gara-gara keinginannya tidak dipenuhi,” ujar kakak ipar saya, Samsul. “Belikanlah satu mangkuk untuknya. Biarkan ia makan di dalam kamar.”

Saya terdiam, berpikir. Kejadian ini pernah terjadi pada kami berlima. Tapi Mama sama sekali tidak memenuhi keingan kami. Mau seberapa lama pun kami merengek, hingga tertidur, Mama tidak peduli. Biasanya ia akan pergi ke pasar atau ke rumah tetangga untuk menghindar dari suara rengek kami yang menjengkelkan.

Setelah mempertimbangkan usulan Samsul, saya bergegas ke warung makan di ujung gang. Membeli satu porsi babi kecap dengan perasaan campur aduk. Takut bila langkah ini justru memicu kenangan pahit Mama dan membuatnya marah.

Tapi Mama tidak pernah memarahi cucu-cucunya. Selama kami berlibur di rumahnya, Mama selalu merawat dan memperlakukan anak-anak kami dengan manja. Bahkan ketika foto Bapak dipecahkan salah satu keponakan saya, Mama hanya tersenyum sambil membereskan beling yang berserakan. Barulah ketika malam tiba, saat cucu-cucunya sudah lelap, Mama meluapkan amarahnya dalam tangis.

Kepulangan saya disambut Maria dengan wajah cerah. Seperti sakitnya lari kocar-kacir saat ia mencium bau makanan yang saya jinjing.

“Beta pung babi kecap!” teriaknya girang.

Dari arah belakang, Mama berdiri kaku memandang tajam ke arah saya. Seketika itu pula senyum saya hilang. Maria sudah merampas bungkusan babi kecap dari tangan saya. Tidak ada satu kata pun yang mampu saya ucapkan pada Mama. Saya tahu, saudara-saudara saya tahu bahwa kehilangan suami adalah luka yang tak akan pernah bisa sembuh dari ingatan Mama. Dan babi adalah pemicu timbulnya perasaan nelangsa itu.

Malam itu, setelah berdoa bersama, Mama mengurung diri lagi. Salah satu kakak saya mulai menyindir, menyalahkan keputusan saya. Beberapa keponakan menangis karena tahu Maria baru saja menghabiskan satu mangkuk babi kecap diam-diam. Rupanya semua orang doyan babi kecap. Dan rupanya kami sama-sama berusaha untuk menghormati aturan Mama selama tujuh belas tahun ini. Maria adalah orang pertama yang melanggar aturan.

“Sudah tujuh belas tahun dan Mama masih begitu,” saya membuka percakapan. Anak-anak sudah lelap setelah lelah menangis.

“Kau seharusnya tidak meninggalkan rumah terlalu cepat,” ujar kakak tertua saya, Magdalena. “Mama bercerita banyak di malam terakhir saya di rumah.”

Magdalena adalah saudara saya yang paling dekat dengan Mama, karena harus bekerja membantu Mama membiayai sekolah adik-adiknya. Dia meninggalkan rumah dua tahun lalu saat harus melanjutkan pendidikan magister di Malang.

***

Mardika, Ambon 1999

Magdalena masih berumur sepuluh tahun saat kejadian naas menimpa keluarga dan sebagian besar masyarakat Mardika. Bapak, seperti biasa, pamit menarik angkot jalur Pasar Mardika ke Batu Merah. Setelah menyeruput kopi tanpa gula, Bapak pergi hingga petang datang. Biasanya setiap kali pulang, Bapak selalu membawa sesuatu untuk kelima anak-anaknya. Seperti gula-gula, arum manis, buku bacaan, dan pakaian yang kami pakai bergantian.

Tapi hari itu, tidak ada tanda-tanda suara angkot Bapak dari ujung gang. Magdalena berkali-kali mengecek di pinggir jalan, sedangkan kami menunggu di teras rumah. Tetap saja Bapak tidak pulang. Padahal kami sudah menunggu barang apa yang akan Bapak bawa hari itu.

Penantian kami membawa kecemasan tersendiri, terlebih ketika Mama muncul di pintu rumah dengan wajah pucat pasi. Ujung celananya meneteskan air, tangannya penuh busa sabun. Rambutnya dililit handuk yang biasa Bapak pakai saat menarik angkot.

“Ose punya bapak sudah pulang?” tanyanya panik.

Kami serentak menggeleng. Tanpa menjelaskan apa pun, Mama menarik kami masuk ke rumah. Mengunci pintu dan mengganjalnya dengan lemari kayu peninggalan nenek. Kami bersembunyi di gudang. Mama berkali-kali menyeka air matanya. Menyuruh kami diam, jangan bersuara sedikit pun.

Keadaan di luar sangatlah ramai. Orang-orang berteriak kencang. Ketika seseorang menggedor pintu depan, kami berenam panik bukan main. Tidak ada yang berani melepas genggaman. Mama menyuruh kami menggigit baju agar tidak mengeluarkan suara sedikit pun. Gedoran terus terjadi selama lima menit. Tak lama setelah itu, seseorang memecahkan jendela. Tapi untungnya tidak ada tanda-tanda mereka mendekati gudang.

Josep, adik bungsu saya, memerah matanya karena menahan tangis. Di antara saudara saya, hanya Magdalena yang terlihat tenang, meski berkali-kali menyeka air matanya. Semalaman kami bersembunyi di gudang hingga Paman Julius datang menjemput kami sebelum fajar. Itu pertama kalinya saya melihat Mama menangis meraung-raung di pelukan Paman Julius, dan terakhir kalinya. Karena sejak malam itu, hingga saat ini, Mama tak pernah lagi meraung-raung. Bila merindukan Bapak, Mama hanya berdoa, menangis sebentar, lalu melanjutkan hidup.

Perjalanan kami mengungsi ke kampung Paman Julius sedikit menegangkan. Kami disembunyikan di dalam kardus lalu ditutupi daun kasbi, kecuali Mama. Mobil yang kami tumpangi melewati perbatasan kampung pasukan putih, namun berkat kawan Paman Julius, kami tidak dicurigai apa pun. Dalam perjalanan inilah Mama melihat babi berserakan di jalanan dalam keadaan menjijikkan. Kepala yang terpental jauh dari tubuh, usus yang berserakan di dekat rumput, darah yang bercecer di sepanjang setapak. Tidak ada satu pun anak-anaknya yang melihat hal serupa, itulah sebab kami patuh dan percaya pada ceritanya selama belasan tahun.

***

“Tapi bukan itu alasan Mama melarang kita untuk makan babi,” ujar Magdalena setelah terdiam lama sehabis bercerita.

Saya menangis tanpa suara, sambil memandang jendela kamar Mama yang tertutup gorden merah bata. Josep berdiri, derik kursinya memecah keheningan. Sambil mengelap kacamata, ia berdeham pelan.

“Satu bulan sebelum Bapak dibunuh di pangkalan angkot Batu Merah, Bapak berjanji pada Mama akan membelikan satu ekor babi untuk dihidangkan di perayaan natal tahun itu. Hari-hari setelahnya, Mama tak pernah berhenti membayangkan meja makan dengan daging babi di atasnya. Tak lupa pula Mama bertanya ke para tetangga resep-resep olahan babi, padahal itu masih satu bulan lagi sebelum natal. Melihat Mama yang begitu senang dijanjikan satu ekor babi, Bapak makin semangat mencari uang,” Magdalena melanjutkan ceritanya.

“Hari itu, sebelum berangkat menarik angkot, Bapak pamit dan berkata bahwa pulangnya tak akan dengan tangan kosong. Akan ada satu ekor babi di kursi penumpang. Itulah sebabnya Mama membersihkan rumah, mencuci semua pakaian, agar bisa memasak babi tanpa perlu memikirkan pekerjaan lain,” Magdalena berhenti. Tak lagi melanjutkan ceritanya.

Saat sedang mengais-ngais kenangan tentang Bapak, lampu kamar Mama sudah mati. Masing-masing dari kami mulai menata perasaan dan mimik, karena selepas meninggalkan teras ini, selepas mendengarkan cerita kelam di balik peristiwa naas, kami tetap harus tegar. Sepahit apa pun rasa yang kami dapat setelah tahu alasan Mama melarang kami makan babi, tak akan bisa mengalahkan pahitnya kehilangan suami di hari ketika kebahagiaan seharusnya bertandang.

________________________________

Wika G. Wulandari : lahir di Tidore, 2 Desember 1996. Saat ini sedang mengenyam ilmu Biologi Murni di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta semester delapan. Pendengar yang baik di Komunitas Sastra Jejak Imaji.

sumber : kompas.id, 12 Des 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme