Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Setahun Sunyi Gamelan oleh S Prasetyo Utomo

Posted on Sab, 14 Des 2019

Benarkah Ayah dan teman-temannya memainkan gamelan? Setahun sepeninggal Ibu, Ayah memilih hidup dalam sunyi. Gamelan dikerudung kain merah, berlapis debu. “Biar aku merenungi semua kebaikan ibumu,” kata Ayah.

“Sejak nikah, aku terlalu sibuk dengan diriku sendiri.” Kini gamelan itu kembali ditabuh. Sekar berhenti memetik celo, memasuki pendapa, menemui pandangan yang hilang selama setahun: teman-teman Ayah menabuh gamelan, mengepulkan asap rokok, dan mencecap harum kopi.

Dalam gelap malam, kabut tipis, harum kenanga tanaman Ibu di pelataran, suara gamelan itu menyusupi desa lereng Gunung Merapi. Wajah-wajah memendam senyum para penabuh gamelan itu, baru diketahui Sekar kini, alangkah memancarkan ketenteraman. Untuk pertama kalinya dalam hidup Sekar, ia terlibat kegairahan menabuh gamelan: bonang penerus. Begitu cepat ia bisa mengikuti irama gamelan. Ia turut meneguk kopi, memakan pisang rebus dan kacang. Yang tak dilakukannya hanyalah merokok. Tetapi ia sangat menikmati aroma rokok: kebiasaan yang tak pernah diketahui kapan mulai tumbuh dalam hatinya. Ia dulu benci mendengar suara gamelan, tak suka meneguk kopi dan menghirup asap rokok.

Dalam hati Sekar mulai menimbang-nimbang: benarkah perubahan perilakuku belakangan ini terjadi setelah mimpi itu? Tiga kali gadis ini memimpikan almarhumah eyang buyut putri yang mendesaknya, “Boleh aku turut denganmu? Hanya ibumu dan kau yang kuat kuikuti.”

Sekar terpikat dengan irama gamelan itu, dan seperti baru saja menemukan suatu keindahan yang menyingkap rahasia hati. Ia makin hanyut dalam irama gamelan, hingga tengah malam, ketika aroma bunga kenanga di pelataran kian pekat terhirup sampai ke pendapa.

Masih duduk di antara gamelan, Sekar seperti menemukan pencarian hasratnya bermain musik selama ini. Para penabuh gamelan sudah meninggalkan pendapa. Tinggal Ki Broto, lelaki berumur 55 yang mengenakan blangkon, duduk menemani Sekar. Ki Broto berjenggot, sudah memutih seluruhnya, selalu bicara dengan tersenyum, “Kau sekarang diikuti eyang buyutmu.”

“Bagaimana Ki Broto tahu?”

“Ia serupa bayangan yang bisa memisahkan diri darimu.”

“Ki Broto melihatnya?”

“Kadang tampak begitu jelas, ia menjelma dalam tubuhmu.”

Sekar tak mau mempedulikan Ki Broto, yang dianggap meledeknya.

“Kau akan jadi pribadi yang penuh daya pikat,” kata Ki Broto.

Sekar merasa diolok-olok. Tubuh dan jiwanya bisa diamati seseorang dan dipergunjingkan. Tetapi Sekar tak peduli. Ia tersenyum-senyum memandangi jenggot Ki Broto yang memutih. Hanya lelaki berjenggot putih itu di antara penabuh gamelan yang memperhatikan Sekar dan mau mengajaknya berbincang-bincang. Yang lain pelan-pelan berpamitan pada Ayah, meninggalkan pendapa begitu selesai menabuh gamelan.

***

Di dalam kamarnya, asyik memetik celo, Sekar merasakan dingin angin pagi, dan masih menyanyikan lagu-lagu keroncong. Ia senantiasa merenungkan perilaku Ayah, dan diam-diam menandai kegairahannya yang bangkit sejak kematian Ibu setahun silam. Tiap saat Sekar memikirkan kepergian Ibu yang tak terduga. Ibu tak pernah sakit, tak pernah mengeluh, tak pernah periksa dokter dan minum obat. Ibu berbaring usai salat subuh, lunglai, pucat, dan tanpa daya, meninggal seperti orang tidur, damai sekali. Sekar memandanginya dengan takjub.

Kesadarannya terhisap, dan ia baru menyadari makna ketulusan Ibu sepanjang hari pernikahannya – memilih tak bekerja di kantor mana pun, mengasuh anak-anak – dan Ayah, seorang guru besar yang senantiasa bepergian hampir setiap hari.

Tak ada Ayah hari itu. Ayah diundang menguji sidang terbuka promosi doktor dan keesokan harinya mengisi ceramah di sebuah kampus ibu kota. Sekar belum bisa beranjak dari kamar Ibu. Ia masih memandangi tubuh yang dingin itu, tubuh yang tak bergerak, tubuh yang terlelap: bening, tulus, penuh terimakasih pada kehidupan yang ditinggalkannya. Yu Jah, pembantu setengah baya, gugup memasuki kamar, memekik. Dialah yang berlarian ke rumah-rumah tetangga. Sekar masih memandangi Ibu, tenang serupa danau biru.

Perempuan-perempuan tetangga berdatangan, bersimpuh di depan tubuh Ibu yang terbaring. Terisak-isak tangis. Sekar tak mengerti, kenapa perempuan-perempuan tetangga bersimpuh, terisak-isak tertahan, dan tertunduk. Sekar yang tak memahami kehidupan keseharian Ibu, tak mengerti perilaku perempuan-perempuan tetangga setengah baya itu.

“Mohon maaf, Ibu, saya belum bisa melunasi utang-utang selama ini.”

“Saya juga masih memiliki utang. Belum bisa saya lunasi.”

“Bertahun-tahun saya selalu ngutang, tak pernah ditagih. Bagaimana saya mesti melunasinya?”

Perempuan-perempuan tetangga itu masih bersimpuh, menundukkan kepala, tak berani memandangi wajah Ibu yang sebening danau, seperti takut melihat pantulan raut muka sendiri. Mereka sangat menghormati Ibu, dan sangat mengasihi Ibu. Tangan-tangan yang keriput itu memandikan Ibu, membalutnya dengan kain kafan, membujurkannya di atas meja ruang tengah. Mereka tahlil.

Menjelang ashar, Ayah bergegas turun dari taksi yang membawanya dari bandara, dengan tubuh bergetar, gugup, menguasai diri agar tetap tenang. Sekali ini dalam hidupnya, Sekar melihat Ayah – seorang guru besar yang menjaga kewibawaan di depan para mahasiswa – tampak lapuk, dan mudah dirubuhkan.

Ayah duduk di kursi kayu kegemarannya, dekat seperangkat gamelan, dan para pelayat menyalaminya: menyampaikan bela sungkawa. Tamu-tamu terus berdatangan, memenuhi pelataran, memenuhi jalan kampung di lereng Gunung Merapi. Jajaran karangan bunga dari pintu gerbang rumah memanjang hingga jalan raya. Lepas ashar, Sekar mengikuti iringan jenazah dengan wangi dupa dibakar dan taburan bunga. Di belakangnya berderet memanjang para pelayat yang mengantarkan pemakaman Ibu.

Malam itu, ketika orang-orang sudah pulang tahlil, kerabat yang menginap mencari tempat untuk membaringkan tubuh di kamar, lantai, dan kursi panjang. Sekar melihat Ayah terdiam. Duduk seorang diri. Merokok dan minum kopi. Tak beranjak hingga subuh dini hari.

***

Kini Sekar yang tak dapat memejamkan mata. Ia masih bersila di pendapa, di antara seperangkat gamelan, memetik celo, menyanyi lagu keroncong. Sekar merasa heran dengan dirinya sendiri. Ia menjadi anggota musik keroncong di padepokan Ki Broto. Pertemuannya dengan Ki Broto, sahabat akrab Ayah, menenteramkan jiwanya.

Ia memainkan celo di pendapa, di antara seperangkat gamelan, dan tak beranjak ke mana pun, kecuali ke kamar mandi. Yu Jah yang mengantarkan teh hangat, jadah dan tempe bacem kesukaannya. Siang hari ia makan nasi pecel dan shalat di pendapa. Tertidur. Ia terbangun menjelang ashar. Mandi. Melihat Ayah mau bepergian setelah senja.

“Ayah mau ke mana?”

“Menabuh gamelan di padepokan Ki Broto.”

“Ikut!”

“Ayolah!” Ayah menyerahkan kunci mobil pada Sekar.

Gadis itu mengendarai mobilnya dengan santai, menyusuri jalan ke arah Kaliurang, berbelok ke jalan kampung, melintasi ladang sayur dan rimbunan bambu di tepi sungai kecil. Patung Ki Broto dengan mulut menganga lebar tertawa jenaka menyambut Sekar memasuki pelataran. Di sinilah Padepokan Ki Broto didirikan. Ki Broto, istri, dan tiga anaknya – semua lelaki – menempati sebuah rumah kayu yang besar. Di depan rumah utama itu terdapat joglo terbuka, tempat para penabuh gamelan bersila. Sebelah kanan joglo ruang gamelan terdapat ruang pergelaran musik. Sebelah kiri joglo berdiri ruang latihan tari atau teater. Pergelaran kuda lumping biasa dilakukan di tanah lapang.

Ki Broto terlihat bahagia menerima kehadiran tamu-tamunya. “Sekar datang juga untuk menabuh gamelan?” selorohnya. “Biasanya kau menyanyi keroncong.”

Hampir semua lelaki yang datang ke padepokan seumur Ayah, berpembawaan tenang, perokok, pecinta kopi, dan tidak suka ngobrol. Sepertinya mereka orang-orang yang berbicara dengan hati: cuma dengan memandang mata lawan bicara, mereka bisa memahami perasaan masing-masing.

Sekitar joglo tempat Sekar menabuh gamelan, terasa terselubung udara berkabut gaib, yang melindungi orang-orang dari malapetaka – seperti ketika Gunung Merapi meletus, awan dan abu panas tak pernah menyentuh padepokan. Ki Broto seperti telah menebar mantra yang menyelubungi tiap jengkal tanah sanggar ini, agar tak tersentuh malapetaka.

***

Sekar membaca gelagat yang tak wajar pada perilaku Ayah, ketika bertemu dengan seorang perempuan setengah baya yang diperkenalkan padanya. Mereka berbincang, dan sesekali perempuan setengah baya itu tersipu-sipu. Sekar menandai, mereka – Ayah dan perempuan setengah baya itu – baru pertama kali bertemu. Atau, mungkin, mereka sengaja dipertemukan Ki Broto? Sekar tak ingin menjadi penghalang bagi pertemuan Ayah dengan perempuan setengah baya itu. Inikah yang terjadi setelah setahun kesunyian Ayah, sepeninggal Ibu?

Berkali-kali Sekar mencuri pandang perempuan setengah baya, yang diperkenalkan padanya, bernama Tante Arum. Ia menimbang-nimbang kepribadian Tante Arum, bila dibandingkan dengan Ibu. Dalam hati, Sekar memastikan: Ibu lebih tangguh, lebih kuat menahan guncangan jiwa.

Tante Arum – sekretaris perusahaan yang ditinggal mati suami – berpamitan, meninggalkan padepokan. Semua orang yang hadir di joglo melanjutkan menabuh gamelan. Sekar memainkan gamelan kesukaannya: bonang penerus. Tante Arum, perempuan yang berpembawaan tenang, seperti menjaga penampilannya. Ia mengendarai mobil sendiri, menyetir dengan hati-hati, seperti enggan kehilangan harga dirinya.

Hampir tengah malam, tak terdengar lagi irama gamelan dalam kabut tipis yang menyekap rumpun bambu di sekitar padepokan. Ayah dan Sekar berpamitan pada Ki Broto, meninggalkan rumah joglo yang dinaungi rumpun-rumpun bambu dan kabut gunung yang menghalangi terang lampu mobil. Sekar mulai cemas, ketika Ayah membebaskan diri dari kesunyiannya, dan kembali menabuh gamelan, bersamaan dengan hadirnya seorang perempuan yang menggantikan posisi Ibu.

“Apa Tante Arum akan menggantikan posisi Ibu?” tanya Sekar, ingin memperoleh kepastian.

Ayah tersenyum-senyum. Berdiam diri. Memberi kesempatan pada gadis sulung itu untuk berpikir. Mobil menuruni jalan berkelok, dan Ayah seperti telah merenungkan pertempuran batin Sekar. “Kaupikir semudah itu aku melupakan seluruh pengabdian ibumu?”

_____________________________

S Prasetyo Utomo : lahir di Yogyakarta, 7 Januari 1961. Menyelesaikan program doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes pada 9 Maret 2018 dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”.  Sejak 1983  ia menulis cerpen, esai sastra, puisi,  novel, dan artikel di beberapa media massa. Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa”, yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

sumber : kompas.id, 14 Des 2019.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme