Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Imarai dan Bulir Cahaya oleh Yudhi Herwibowo

Posted on Kam, 09 Jan 2020

Ia berputar-putar di sekelilingnya bagai kunang-kunang. Menyala terang, lalu sesekali redup. Tapi karena tak yakin, ia pun tak mau terlalu memikirkannya.

Sampai suatu hari, di hari ketiga ia keluar dari rumah sakit, yang juga merupakan hari ketujuh setelah kematian ibunya, ia merasa begitu ketakutan. Teriakan laki-laki mengerikan itu didengarnya. ”Kemana kau, Anak sialan? Berani sekali kau menghabiskan semua makanan di kulkas?”

Ini membuat Imarai hanya bisa bersembunyi di lemari tua yang ada di kamar kosong. Di situ ia menangis. Dalam hati ia mencoba membela diri, bagaimana ia tak menghabiskan makanan di kulkas? Sejak ibunya meninggal, ia tak diizinkan lagi pergi ke sekolah. Itu artinya sepanjang hari ia ada di dalam rumah. Tentu tanpa uang, sehingga hanya bisa makan makanan yang ada di dalam rumah.

Di tengah ketakutannya menyatu dalam kegelapan itulah, bulir cahaya itu muncul di depan wajahnya. Berpendar perlahan-lahan, seakan sengaja menemaninya.

Sejak itu, bulir cahaya itu terus bersama Imarai. Ia akan terus berpendar sepanjang berdua saja dengan Imarai, namun begitu ada orang lain di sekitarnya, cahayanya akan redup.

Imarai biasanya berdiam diri cukup lama di lemari. Ia baru berani keluar saat mendengar suara mobil laki-laki itu meninggalkan rumah. Keadaan ini begitu menyiksa. Ia rindu ibunya. Kadang ia ingin sekali pergi dari rumah ini. Tapi kemana? Umurnya masih 10 tahun, dan sama sekali tak memiliki uang sepersen pun.

Jadi yang bisa diharapkan Imarai hanyalah agar laki-laki itu pergi selama mungkin. Sama seperti dulu sebelum ia datang ke rumah ini. Ya, setahun lalu, laki-laki itu pindah ke rumah ini, setelah menikahi ibunya. Tentu waktu itu, ia ramah dan baik hati. Namun hanya perlu satu minggu saja, Imarai tahu kalau laki-laki ini adalah sosok mengerikan. Hanya sebulan berselang, ia sudah berani merampas uang di dompet ibunya, dan hanya dua bulan berselang, ia berani menampar ibunya berkali-kali.

Rumah kecil yang dulu terasa begitu nyaman, seperti berubah menjadi neraka. Tapi setiap Imarai ingin berkata sesuatu, ibunya akan berkata lebih dulu,

”Ayahmu hanya sedang lelah, Sayang. Nanti ia akan kembali baik….”

Tapi Imarai tahu, laki-laki itu tak pernah kembali menjadi baik. Tabiatnya memang seperti itu.

Imarai merasa bulir cahaya yang selalu ada di dekatnya seperti makhluk hidup. Ia bisa bermain-main dengan rambutnya yang panjang, juga mau berdiam diri di telapak tangannya, bagai lovebird. Ini membuat Imarai tak lagi takut berada di rumah sendirian. Kegelapan yang dulu selalu membuatnya menangis tak lagi ditakutinya. Kini, yang ia takutkan hanyalah tamparan laki-laki itu.

Kala hanya seorang diri bersama bulir cahaya itu, Imarai selalu mengajaknya bercakap-cakap.

”Apakah kamu… kunang-kunang?” tanyanya.

Bulir cahaya itu meredup. Imarai menebak, itu artinya: tidak.

”Apakah kamu… malaikat?”

Bulir cahaya itu meredup lagi.

”Apakah kamu… peri?”

Kembali bulir cahaya itu meredup.

Imarai menghela napas panjang. ”Lalu siapa kamu sebenarnya?” tanya Imarai kehabisan pertanyaan.

”Tapi siapa pun kamu… kamu akan terus menemaniku kan?” tanyanya lagi.

Kali ini bulir cahaya itu berpendar lebih terang.

Di hari kedua puluh sejak ibunya meninggal, laki-laki itu pulang sambil membawa seorang perempuan yang memakai sepatu hak tinggi berwarna merah menyala, juga lipstik dengan warna yang sama.

Dari sekali melihat senyumnya, Imarai tahu ia pasangan serasi laki-laki itu. Sesama orang yang mengerikan!

”Jadi dia anak istrimu yang mati itu?” tanya perampuan itu masih sempat didengar Imarai.

”Kau tak berpikir mengajakku tinggal di sini bersama anak itu kan?”

”Sudahlah, jangan berlebihan! Bagaimana pun ini rumah ibunya. Aku tak bisa mengusirnya begitu saja. Apalagi… paman-pamannya masih rutin mengiriminya uang. Percayalah, dia tak akan menganggu kita. Aku akan menempatkannya di gudang belakang.”

Imarai terpaku. Kata terakhir laki-laki itu membuatnya bergidik. Gudang belakang yang ada di bagian paling belakang rumah ini, adalah bagian rumah yang paling mengerikan. Ia bahkan tak pernah ke sana. Melalui lorongnya saja, sudah membuatnya ketakutan.

Tapi laki-laki itu benar-benar melakukan apa yang diucapkannya. Ia menyeret Imarai ke belakang dengan paksa. Tak diperdulikan tangisan dan rontaannya.

”Mulai sekarang, kamarmu di sini! Kau boleh keluar kamar, kalau aku sedang tak ada di rumah. Kalau kau melawan, kugampar kau!”

Imarai hanya bisa menangis.

Saat laki-laki itu pergi, Imarai hanya bisa terduduk di sudut gudang. Sambil menghapus air matanya, ia mengeluh pada bulir cahaya yang ada di dekatnya,

”Kenapa ia bisa begitu kejam?”

Tapi tentu itu pertanyaan yang tak bisa dijawab bulir cahaya itu.

”Aku tak habis pikir, kenapa ibu bisa jatuh cinta pada orang seperti itu!”

Cahaya itu tetap tak bereaksi. Namun sesaat kemudian, ia bergerak ke sebuah buku. Dengan satu sentakan, buku itu terbuka di halaman tengah. Imarai melihat cahaya itu berputar-putar di satu kata yang ada di tengah buku itu: pergi…

”Kau ingin… aku pergi dari sini?” Imarai balik bertanya dengan ragu.

Bulir cahaya itu menjawab dengan memancarkan cahayanya lebih terang. Lalu ia bergerak lagi ke sebuah peti yang ada di sudut gudang. Imarai membukanya, di situ dilihatnya tumpukan surat untuk ibunya. Pengirimnya dua adik ibunya, paman-pamannya.

Imarai tersadar. Ya, hanya dua pamannya ini yang bisa menyelamatkannya. Selama ini keduanya baik padanya, sering membelikannya macam-macam mainan. Memang paman pertama tinggal jauh di luar negeri, sehingga ia tak mungkin mengunjunginya. Tapi paman kedua tinggal di kota lain. Walau tidak dekat, tapi sangat memungkinkan untuk didatangi.

Bisakah ia ke sana? Rasanya tak mungkin. Ia sama sekali tak memiliki uang.

Saat itulah bulir cahaya itu kembali berputar di atas buku yang terbuka tadi. Ia melingkari dua kata yang ada di situ: tunggu dan besok….

Saat suara mobil laki-laki itu terdengar meninggalkan rumah, bulir cahaya bergerak ke kamar laki-laki itu. Imarai yang mengikuti dari belakang, hanya bisa melihat bulir cahaya itu menyentuh lemari baju ibunya.

Imarai segera paham. ”Kau ingin menunjukkan sesuatu di sini?” ia segera membukanya.

Bulir cahaya menyala terang. Ia segera bergerak ke bagian paling bawah. Di situlah, Imarai menemukan sebuah laci tersembunyi. Ada sebuah kotak kecil di situ yang segera saja dibuka Imarai. Awalnya ia hanya menemukan barang-barang lama ibunya, seperti jam tangan rusak, kacamata yang kacanya sudah pecah, penjepit rambut, dan lainnya. Namun di bawah barang-barang itulah sebuah amplop berisi beberapa ikat uang terselip.

Imarai terkejut. Ia tahu, ini bukan uang yang sedikit. ”Aku… bisa pergi dengan uang ini!” serunya.

Bulir cahaya itu menyala terang.

Tanpa membuang waktu, Imarai berlari ke kamarnya. Diambilnya tas dan baju secukupnya. Ia juga tak lupa membawa makanan yang ada dan botol minumannya. Setelah semuanya siap, ia segera melompati jendela kamarnya, karena semua pintu di rumahnya memang dikunci laki-laki itu.

Begitu berada di luar, Imarai berlari secepat mungkin meninggalkan rumah. Dadanya terasa berdesir. Ini pertama kalinya ia keluar rumah seorang diri. Ada sedikit perasaan takut, namun selebihnya ia merasa begitu gembira. Satu-satunya kesedihannya hanyalah ia harus meninggalkan rumahnya, di mana semua kenangan tentang ibunya ada di situ.

Imarai menguatkan hatinya. ”Apakah aku harus menuju terminal?” tanyanya sambil mendekap sebuah buku, yang dirasa akan diperlukannya selama perjalanan nanti.

Bulir cahaya itu menyala terang.

Imarai pun segera berlari menuju ke terminal. Detik-detik kemudian terasa lancar, seakan Tuhan ingin membayar derita yang dialaminya selama ini. Hingga akhirnya Imarai tiba di kota yang dituju. Malam sudah begitu larut, tapi bulir cahaya terus menuntunnya menuju sebuah rumah. Di situlah, Imarai mengetuk pintu.

Seorang laki-kaki yang nampak terkantuk-kantuk membuka pintu. ”Siapa ya?” tanyanya sambil memicingkan mata. ”Kau… Imarai?”

”Paman…” Imarai sudah menghambur memeluknya.

Malam ini, Imarai tertidur dengan sangat lelap. Ia tak menyadari bulir cahaya yang semula ada di sampingnya, pelan-pelan meredup dan lenyap tak berbekas.

Empat puluh hari yang lalu, sebuah truk bermuatan penuh semen menabrak sebuah mobil hingga hancur tak berbentuk. Perempuan yang mengendarai mobil itu terluka sangat parah, namun ia masih mencoba keluar dari mobilnya yang ringsek, dengan darah yang tak henti mengalir.

Seiring itu, sesosok bayang-bayang samar berwarna putih turun dari langit, mendekati perempuan itu.

Perempuan yang menyadari kehadiran itu, menengadah dengan sisa tenaganya.

”Jangan ambil… nyawaku dulu…” suaranya tercekat. ”Anakku… anakku… aku harus melindunginya…”

Bayang-bayang putih itu tak bereaksi. Sudah kerap ia melihat orang-orang yang enggan meninggalkan dunia ini. Tapi entah kenapa, perempuan ini nampak berbeda. Ia bukan ketakutan karena harus meninggalkan dunia ini, ia ketakutan dengan alasan yang lain.

Bayang-bayang putih itu menengadah sejenak, di depannya seakan muncul layar yang mengulang seluruh kehidupan perempuan ini. Sejak kelahirannya, masa kecilnya, hingga kematiannya hari ini. Satu bayangan yang terekam dengan jelas adalah saat ia berenang sepanjang malam untuk menyelamatkan penumpang-penumpang kapal yang terbalik.

Bayang-bayang putih itu terdiam, ”Kau sudah menyelamatkan 40 nyawa manusia selama hidupmu…” suaranya terdengar pelan. ”Aku akan memberi kesempatan padamu…”

Lalu bayang-bayang putih itu lenyap. Perempuan itu tersenyum, namun belum tuntas senyumnya, napasnya tersentak. Detik selanjutnya, kepalanya sudah terkulai. Dari mulutnya yang setengah terbuka, keluar sebulir cahaya yang langsung mengangkasa. Bulir cahaya itu bergerak menuju sebuah rumah, tempat seorang gadis kecil yang sedang meringkuk ketakutan dalam lemari tua di kamar kosong…

***

Yudhi Herwibowo : Menulis cerpen dan novel. Novel terbarunya: Sang Penggesek Biola, sebuah roman Wage Rudolf Supratman (Imania)

sumber : kompas.id, 09 Jan 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme