Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mahar Kematian oleh Zainul Muttaqin

Posted on Kam, 20 Feb 2020

Laki-laki bertubuh kurus serupa batang lidi itu berjalan keluar, ke teras rumahnya, kemudian ia duduk pada sebuah kursi berwarna kusam. Sesekali terdengar suaranya merintih, rupanya rasa sakit di lehernya semakin menjadi-jadi ketika ia coba sandarkan kepalanya.

”Lehermu sakit?” kata ibunya bertanya pada Mustofa. Perempuan tua itu tiba-tiba berdiri di bibir pintu.

Perempuan tua dengan tubuh yang nyaris bengkok itu memegang kepala anaknya, dirasakannya hawa panas oleh tangan keriputnya. Ia menggeleng berkali-kali, seraya mengucap istighfar. Ia menyeret kursi, disejajarkan posisinya dekat Mustofa. Terlihat perempuan tua itu membendung air yang hendak keluar dari mata cekungnya.

”Apa tak sebaiknya kau batalkan saja rencana pernikahan itu?” Mustofa langsung memutar kepala untuk memandang wajah ibunya.

”Hati-hati nanti lehermu semakin sakit,” kata perempuan tua itu. Mustofa tak berkedip. Jantungnya berdetak seirama dengan jarum jam di atas dinding.

”Apa yang sudah diucap, pantang ditarik. Lelaki harus memegang kata-katanya sendiri. Harga diri dipertaruhkan.” Mustofa mengembuskan napasnya dalam-dalam. Terbayang wajah Halida, perempuan yang akan dinikahinya bulan depan.

”Apa kau sanggup memberikan mahar yang diminta? Kau pikir-pikirlah. Perempuan yang benar-benar mencintaimu tak akan menyulitkanmu.”

Hening sejenak, hanya terdengar suara angin menggesek pohon siwalan di samping rumah. Mustofa memegang tangan ibunya, mohon doa agar ia sanggup memberi mahar yang disepakati semalam di rumah Halida. Mustofa sudah mengucap, bersedia memenuhi mahar yang diminta Halida, meskipun ia merasakan jantungnya berhenti sejenak ketika Halida mengatakan jumlah mahar yang dimintanya.

Perempuan tua itu melihat Mustofa, anaknya yang belum bereaksi apa pun saat mahar disebut. Mustofa masih mengatur laju napasnya, pelan ia mengembuskannya. Bulan mengintip dari balik pelepah janur. Mustofa mengedarkan senyum, terlihat ragu-ragu bibirnya merekah. Keningnya berkeringat, diusapnya terlebih dulu, kemudian dengan berusaha tenang ia menjawab.

”Saya sanggup memenuhi mahar itu. Demi cinta saya pada Halida.” Nada suara Mustofa bergetar. Berbinar-binar wajah Halida. Selanjutnya, hari dan bulan baik ditentukan, semua bersepakat bulan depan akan digelar pesta pernikahan.

Siapa pun mengetahui hidup Mustofa bergelantungan di garis kemiskinan sejak bapaknya meninggal belasan tahun lalu. Mustofa ditinggal sang bapak ketika ia baru menginjak usia lima tahun. Kematian bapaknya di penjara dianggap sebagai suratan dari Tuhan. Lelaki itu dijebloskan ke penjara, setelah ia menebas leher Samsuri, seorang lelaki yang kerap mengedipkan matanya pada ibu Mustofa.

Mustofa kecil, selalu bertanya waktu itu, ”Bapak ke mana Bu? Kenapa belum pulang?”

”Bapakmu sedang kerja di tempat jauh. Ia pasti pulang.”

Benar saja, setelah beberapa tahun kemudian, Saniman, bapak Mustofa tersebut pulang ke rumah. Ia kembali tanpa embus napas dari hidungnya, malaikat Izrail menemuinya di penjara. Desas-desus keluar dari mulut para tetangga, sebagian beranggapan Saniman mati bunuh diri karena tak sanggup menjalani hukuman seumur hidup, sebagian lagi berkeyakinan Saniman meninggal secara wajar, mati karena takdir.

Tinggal berdua bersama ibunya, Mustofa tidak jelas mata pencariannya. Pekerjaan laki-laki yang sekarang sudah berusia dua puluh tujuh tahun itu serabutan, apa saja dikerjakannya. Keuangan keluarga terpaksa mengakhiri pendidikannya sampai di bangku sekolah dasar. Mustofa hanya tersenyum, menahan sesak di dadanya setiap kali ibunya mengatakan, tak akan malang nasib Mustofa jika bapaknya tidak bertikai dengan Samsuri.

***

Tinggal lima belas hari lagi, akad nikah sekaligus resepsi akan dilangsungkan. Setiap kali berjumpa Mustofa di mana pun, Halida pasti menanyakan mahar yang dimintanya, apakah sudah disiapkan atau masih belum ada kepastian. Mustofa menghilangkan rasa was-was di hati Halida, tegas ia mengatakan, mahar itu akan dipenuhi, bulan dan bintang pun akan Mustofa penuhi, andai Halida memintanya.

Gelap membungkus langit, gerimis sedang liris. Mustofa duduk berdua bersama ibunya, keduanya tampak bingung. Perempuan tua itu mengusap-usap kepala Mustofa, berlinang air matanya, jatuh ke pipi tirusnya. Mustofa membungkus tubuhnya dengan kain sarung, melindugi diri dari serangan dingin.

”Apakah ini bukan isyarat kalau Halida menolakmu?” Mustofa mendapat pertanyaan itu dari ibunya. Ia mengerutkan kening, seperti garis terombang-ambing.

”Tak ada alasan Halida menolak saya. Kami sudah lama menjalin hubungan.”

”Dulu, saya pernah menolak cinta Samsuri. Saya menolaknya dengan meminta mahar yang tak sanggup ia penuhi. Samsuri pun mengundurkan diri, tak sanggup ia memberi saya mahar yang menurutnya di luar akal.”

Beberapa saat, perempuan tua itu berhenti sejenak. Lalu ia kembali berkata, ”Dan ketika bapakmu melamar saya. Saya minta mahar yang sangat ringan. Dan kami pun menikah.”

Pikiran Mustofa bercabang-cabang, gelisah hatinya mendengar kisah percintaan ibunya sewaktu muda. Apakah benar mahar yang diminta Halida sebagai isyarat cintanya pada Mustofa sudah pudar? Mustofa menduga-duga kemungkinan Halida memang sudah mengubur perasaannya, tak mau hidup dengan laki-laki melarat. Tapi, mungkinkah Halida seperti itu? Mustofa pusing memikirkannya, kepalanya sakit lagi.

Beberapa hari yang lalu, tanpa sengaja Mustofa lewat depan rumah Halida, awas mata Mustofa melihat seorang lelaki seumuran dirinya sedang duduk berdua dengan ayah Halida. Keduanya bermain catur, tertawa terbahak-bahak, keakraban mengalir di antara mereka, seolah tak ada sekat antara tamu dan tuan rumah.

Dengan rasa penasaran, Mustofa coba mendekat secara diam-diam, mengangkat kakinya pelan-pelan agar tak terdengar keresak sandalnya, mengintip dari balik rimbun pohon pisang. Mustofa tercenung dan berpikir macam-macam ketika ia mengetahui lelaki di hadapan ayah Halida itu adalah Faisal anak dari Samsuri, seorang juragan sapi yang kaya raya dari desa sebelah.

Tak lama kemudian, Halida datang mengantar minuman. Dari jauh, Mustofa melihat Halida buru-buru masuk lagi ke dalam, Faisal melirik, tersenyum melihat Halida. Ayah Halida menepuk pundak Faisal, memintanya fokus ke permainan catur. Faisal minum teh buatan Halida, segar kelihatannya. Mustofa menahan gejolak dalam dadanya, pergi dengan perasaan bercampur aduk.

”Jodohmu adalah gambaran dari dirimu. Tuhan tak akan pernah menukar jodoh seseorang. Percayalah, lelaki yang baik akan berjodoh dengan yang baik pula. Janganlah kau risau hanya karena seorang perempuan semata.” Mustofa diam mendengar kata-kata ibunya. Sudah ia jelaskan pada perempuan tua itu, apa yang dilihatnya beberapa hari lalu.

”Apakah Faisal dendam sama saya karena bapaknya mati di tangan bapak?” Mustofa bertanya, menerka-nerka.

”Bapakmu membela saya. Membela martabat keluarga.” Perempuan tua itu menekan suaranya.

Tujuh hari kemudian, Mustofa melihat Faisal sedang berbisik-bisik dengan dua orang lelaki berbadan besar, tinggi dan hitam di bawah pohon mangga. Tanpa sengaja, Mustofa mendengar obrolan mereka, sebuah rencana pembunuhan. Nama Mustofa disebut sebagai orang yang mesti mati sebelum hari pernikahannya dengan Halida terjadi. Faisal menginginkan Halida, juga menginginkan kematian Mustofa.

Apabila Mustofa mati, dendam terbalas, sekaligus harapan mendapatkan Halida tercapai. Sekali dayung, dua pulau terlampaui. Faisal menepuk dada, dua orang lelaki itu pergi. Bergetar tubuh Mustofa, mulai merasa diintai oleh malaikat Izrail. Ia menelan ludahnya, bernapas pelan-pelan.

Akhir-akhir ini, menjelang hari pernikahannya, Mustofa sering duduk termenung di teras rumahnya. Bayang-bayang kematian melintas di kelopak matanya. Selain itu, Mustofa mulai merasa tak sanggup memenuhi mahar yang diminta Halida. Pernikahan tak akan pernah terjadi jika sampai satu hari sebelum hari akad pernikahan, mahar tak dipenuhi, demikian ayah Halida mengatakannya berulang-ulang pada Mustofa.

Karena sudah merasa mustahil memenuhi mahar yang disyaratkan, Mustofa memilih menemui Faisal, pada malam hari, dalam gerimis yang jatuh serupa helai rambut. Ibunya tertidur pulas, Mustofa pelan-pelan menutup pintu dari luar, mengangkat kakinya yang telanjang, dipasangnya sandal setelah jauh dari rumah.

”Saya sangat mencintai Halida. Saya tak akan mengingkari janji untuk memenuhi mahar yang dimintanya. Saya butuh uang.” Mustofa menunduk, jantungnya berdetak lemah.

”Kau bisa penuhi mahar itu dengan mudah.” Faisal berkata santai sekali.

”Bagaimana caranya?”

”Tukar nyawamu dengan uang.”

”Saya memang datang untuk itu. Setelah saya mati, tolong haturkan uang itu pada Halida sebagai mahar. Bukti bahwa saya benar-benar mencintainya, juga bukti bahwa saya tak mengingkari perkataan sendiri.”

Faisal tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba dua orang lelaki menggorok leher Mustofa. Keesokan harinya, Faisal datang memberikan segepok uang pada Halida. Kaget perempuan itu dan bertanya, ”Untuk apa ini?”

”Mahar dari Mustofa.”

”Di mana dia?” Halida mengedarkan pandangan, mencari-cari Mustofa. Cemas melingkar di wajahnya. Ia merasakan sesuatu tidak beres. Hingga kemudian pada hari pernikahan yang sudah disepakati, Mustofa tak juga muncul, padahal mahar sudah diterima Halida.

Perempuan berparas cantik itu merias diri sebagai pengantin di depan cermin, berharap Mustofa segera datang. Tapi, Mustofa tidak datang hingga matahari sudah tenggelam di ujung barat. Halida menangis histeris, memanggil-manggil nama Mustofa.

Pulau Garam, Juni 2019

Zainul Muttaqin : Lahir di Batang-Batang, Sumenep, Madura, 18 November 1991. Cerpen-cerpennya dimuat di pelbagai media lokal dan nasional. Meraih Juara II Lomba Cerpen Se-Nusantara (Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kabupaten Sumenep, Desember 2017). Buku kumpulan cerpen perdananya; Celurit Hujan Panas (Gramedia Pustaka Utama, 2019). Tinggal di Sumenep, Madura. E-mail; lelakipulaugaram@gmail.com

sumber : kompas.id, 20 Feb 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme