Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Asap-asap Itu Telah Menghilang oleh Rizqi Turama

Posted on Ming, 23 Feb 2020

Lebih dari dua puluh tahun lalu, di tengah sesak napas karena gas air mata, Basau jeri melihat kepala temannya bocor dihantam pentungan oleh petugas. Sang teman sempat bingung karena ada sesuatu yang menetes. Lalu mengerang dalam takut sekaligus sakit setelah sadar bahwa yang menetes berwarna merah dan berasal dari kepalanya sendiri.

Wajah kesakitan serta teriak meminta ampun itu masih terekam dengan jelas di kepala Basau. Tersemai dengan sendirinya bersama setiap tetesan darah yang jatuh.

Saat itu semua keberanian yang dipupuk sejak berminggu-minggu sebelumnya perlahan melemah. Lalu runtuh seutuhnya saat sang teman terus digebuk dan ditendang meskipun ia tak melawan sama sekali. Atau justru karena ia tak melawan?

Massa mulai berpencar. Tercerai-berai tak karuan arah. Sebagian merangsek maju. Melemparkan segala batu dan benda-benda lain ke arah petugas. Sebagian sisanya berlari mencari tempat sembunyi. Sempat ada rasa bingung di hati Basau: menolong teman yang digebuki atau ikut yang lain untuk berlari. Basau tak tahu. Satu hal yang ia tahu ketika itu: bahaya mengancam. Petugas-petugas yang lain menunjuk-nunjuk ke arahnya.

Sebisa mungkin Basau berlari. Sekencang-kencangnya. Beberapa kali ia terpeleset dan terjerembab. Beruntung para aparat tertahan oleh banyaknya orang yang lintang pukang. Pelipis kiri Basau berdarah, kakinya luka, dan rusuknya mungkin patah karena bertabrakan dan terinjak-injak, tapi nasibnya lebih baik. Ia bisa selamat dan menjauh dari pusat kerusuhan.

Sebulan setelah kejadian tersebut, Basau mendapat kabar bahwa temannya di barisan depan menghilang, mungkin diculik. Sementara, petugas masih mencari teman-teman terdekatnya serta orang lain yang dicurigai. Tahu bahwa dirinya masuk dalam radar, Basau meninggalkan ibu kota. Pindah ke pulau seberang.

Bertahun-tahun setelahnya, Basau masih tinggal di tempat persembunyian. Di sebuah desa yang benar-benar jauh dari mana-mana, berbaur dan menjadi bagian warga transmigran. Dalam masa-masa sulit, sering kali Basau menyesali diri. Menganggap bahwa kata-kata ayahnya dulu benar belaka. Tapi darah muda mengguyurnya dengan amarah, membalas dengan berkata bahwa ayah terlalu naif serta pengecut dan tak mau peduli pada nasib bangsa.

Memang pada akhirnya Basau mulai kerasan. Di tempatnya sembunyi ada banyak pohon. Udara sejuk. Waktu bisa dinikmati dengan hanya bernapas. Betul. Ia tidak berlebihan. Karena bernapas di sana, terutama saat matahari baru akan terbit, memberikan rasa lega yang luar biasa. Tak pernah bisa ia dapatkan saat dulu masih tinggal di ibu kota. Bukan hanya itu, ia kemudian menikahi seorang gadis dan mendapatkan seorang anak. Sebuah penghiburan yang tak terbayangkan menyenangkan.

Hanya saja, di momen-momen tertentu, misalnya ketika ia menganggap kunang-kunang di tepi hutan sawah serupa dengan lampu-lampu di jalan raya yang dulu akrab dengannya, Basau tak bisa tidak ingat dengan kehidupan lama. Tentu, selama bertahun-tahun itu, ada keinginan Basau untuk kembali ke kota asalnya, tapi semua harus ditekan. Ia tak yakin teman-temannya masih di tempat yang sama. Jika pun ia bertemu dengan satu saja teman semasa masih muda dulu, ia tak bisa membayangkan dirinya harus mengaku sebagai seorang yang begitu saja meninggalkan sesuatu yang pernah mereka sebut sebagai perjuangan para pemuda. Tidak. Ia tak akan sanggup menceritakan kekalahannya.

Kekalahannya di masa lalu membuat Basau menutup rapat-rapat segala cerita yang terkait, bahkan dengan anak dan istri sendiri. Istrinya bisa mengerti. Tak banyak menuntut dan bertanya. Sebab mungkin ada luka yang masih menganga. Tapi tidak dengan sang anak. Ia tak pernah puas dengan hanya mendapatkan jawaban berupa sebuah nama kota tempat ayahnya berasal. Ia ingin tahu lebih dari itu. Keingintahuan yang tumbuh bersama dirinya. Dari hari ke hari. Dari tahun ke tahun. Hingga akhirnya menerbitkan sesuatu yang mendekati obsesi.

Basau sendiri menandai tumbuhnya obsesi sang anak muncul di saat yang sama dengan terbangunnya sebuah pabrik yang berjarak delapan kilometer dari rumahnya. Ia juga mendapati ada beberapa persamaan antara anaknya dengan pabrik itu. Misalnya dalam hal keras kepala. Warga desa pernah melakukan protes ke berbagai pihak terkait, tapi rupanya bangunan itu tetap berdiri juga. Anak Basau sendiri rupanya tak mau kalah. Selama proses pembangunan pabrik, ia berdiri di depan pagar proyek. Tak hendak beranjak. Sesuatu yang kemudian diikuti oleh warga lain dan mendapatkan sorotan. Pembangunan pabrik sempat terhenti, tapi hanya sebentar sebab mereka telah mengantongi izin resmi.

Sejak kejadian itu, anak Basau menemukan bahwa ada hal yang tidak disukai dari ayahnya. Sebabnya jelas, Basau tak pernah mau ikut melakukan unjuk rasa dan hal yang sejenis. Bagi anak Basau, itu memalukan, naif, dan pengecut.

Saat sang anak beranjak remaja, Basau menemukan bahwa pemuda itu mulai gemar mengebulkan asap dari mulutnya: kesamaan kedua dengan pabrik tersebut. Bahkan, saat pihak pabrik kemudian melakukan pembakaran lahan untuk memperluas daerah perkebunan yang ada di bawah nama mereka–asap pembakaran begitu pekat–anak Basau tetap merasa perlu membeli batangan tembakau untuk menambah variasi aroma asap.

Basau sendiri tidak melarang anaknya mengisap asap. Sebab ia dulu juga begitu. Ia berhenti sebab aroma tembakau mengingatkannya pada seorang teman yang menghilang diculik aparat. Dulu, temannya itulah satu-satunya orang yang mampu mengimbangi Basau dalam hal mengisap dan mengebulkan asap. Hanya saja, asap yang dikebulkan oleh pabrik serta pembakaran lahan itu sudah berlebihan.

”Tak perlu kau tambahi lagi. Asap dari pabrik sudah cukup,” ucap Basau pada anaknya di suatu pagi.

“Kita selalu merasa cukup, Pak. Tapi pabrik itu tidak pernah. Aku cuma membiasakan diri dengan asap. Lagi pula, asapku ini adalah asap perlawanan terhadap asap mereka.”

Basau tersenyum. Anaknya kurang ajar. Sama seperti dia di masa muda.

Di hari anaknya pergi ke kota untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi, Basau mendapati kenyataan baru. Ia kehilangan udara pagi yang begitu menyejukkan dan menyenangkan sejak kedatangan pabrik. Ia juga kehilangan anaknya yang pergi ke kota tempat ia dulu berasal. Anak itu, mungkin sama seperti pabrik, begitu obsesif. Anaknya obsesif membuka masa lalu sang ayah. Pabrik di desa obsesif membuka lahan baru.

Saat musim pembakaran lahan dan napas semakin sesak, Basau mendapatkan telepon dari anaknya di kota.

”Aku sudah tahu ayah dulu tukang demo.” Kalimat itu dilontarkan sebagai pembuka yang kemudian dilanjutkan dengan, ”Tenang, Yah. Nama ayah tidak busuk sebagai seorang pelarian seperti yang ayah khawatirkan.”

Basau hanya menjawabnya dengan terbatuk. Batuknya lebih keras saat sang anak melanjutkan, ”Teman ayah, ia juga lari sebagai buronan dan tidak diculik oleh aparat seperti kabar yang beredar. Anaknya sekarang jadi temanku. Kami sama-sama sering maju aksi. Seperti kalian di masa muda.”

Di saat itu, ketimbang penasaran dengan nasib temannya, Basau lebih ingin menceramahi anaknya. Mengatakan bahwa ia harus menghindari kesalahan-kesalahannya di masa muda. Tapi ia tahu, hal itu hanya akan disangkal oleh si anak. Seperti ia dulu menyangkal ayahnya.

”Besok kami akan aksi lagi. Menuntut adanya aturan tentang pembakaran lahan oleh pabrik. Aku tahu asap di sana sudah semakin parah. Batuk ayah juga makin payah.”

Anak Basau mematikan sambungan telepon.

Telepon berdering, tapi tak kunjung diangkat. Anak Basau terlalu sibuk. Matanya perih karena gas air mata. Tak hanya itu, ia merasa takut sekaligus sakit ketika sadar bahwa ada sesuatu yang menetes dari kepalanya.

Sementara itu, di tempat lain, air menetes dari langit. Jatuh menghantam bumi. Satu per satu dalam ritme yang begitu cepat. Basau memegang telepon genggam. Nada tunggu tak kunjung sampai pada ujung penantian.

Basau begitu ingin memberikan kabar pada anaknya. Bahwa hujan telah turun dengan begitu lebat. Setidaknya dalam dua jam terakhir. Meluruhkan asap-asap yang beberapa minggu terakhir tampak begitu berkuasa, menjadi seperti tanpa daya. Membuat udara sore jauh lebih bersahabat.

Di antara nada tunggu yang semakin membuat jemu, Basau tahu telah terjadi sesuatu. Televisi di rumah mengabarkan kerusuhan yang terjadi saat mahasiswa berunjuk rasa di ibu kota.

Asap telah semakin tipis. Bahkan nyaris menghilang, tapi dadanya justru terasa bertambah sesak. Matanya perih. Perih sekali. Ingatannya melayang pada kejadian dua puluh tahun lalu.

Rizqi Turama : lahir di Palembang, 4 April 1990. Dosen di Universitas Sriwijaya. Pernah mengikuti lokakarya cerpen Kompas tahun 2016. Salah satu cerpenis pilihan Kompas tahun 2018. Aktif di Sanggar EKS dan Komunitas Kota Kata Palembang.

Joko Suharbowo : biasa disapa Bowo, pernah menempuh studi di Institut Teknologi Bandung. Saat ini bekerja sebagai pegawai negeri sipil di Jakarta dan masih tetap berusaha bergiat dengan kegiatan seni rupa.

sumber : harian Kompas edisi 23 Februari 2020 di halaman 13 dengan judul “Asap-asap Itu Telah Menghilang”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme