Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Humor tentang Tembakan-tembakan oleh Surya Gemilang

Posted on Ming, 08 Mar 2020

Pajenong sedang memakai deodoran di depan cermin, sambil mendengarkan pembawa berita di TV berbicara tentang terus bertambahnya kasus pemerkosaan di kota ini setahun belakangan. Tiba-tiba pistol Sarimin memuntahkan pelor ke belakang kepalanya. Pajenong seketika tumbang.

Sarimin yang dari tadi telah menyusup ke apartemen itu dan mengamati pemiliknya diam-diam dari kolong ranjang pun merangkak keluar dan memeriksa ponsel Pajenong. Screensaver ponsel itu berupa tulisan Kencan dengan Vianna pukul sembilan malam di Kafe X dengan font Times New Roman berwarna putih, berlatar belakang hitam.

Untuk tiba di wallpaper, Sarimin mesti memasukkan PIN yang tepat. Jika Sarimin berhasil memasukkan PIN yang tepat, pasti ia akan mengirim pesan ke Vianna, berbunyi, ”Maaf, Sayang, aku tidak bisa kencan hari ini. Aku mendadak ingin putus denganmu. Omong-omong, kupikir Sarimin-lah pria yang paling tepat untukmu.” Sarimin lalu mencoba memasukkan PIN beberapa kali secara acak. Ketika ponsel Pajenong terblokir, Sarimin melempar ponsel itu keluar melalui jendela yang terbuka, bodoh amat perihal kepala siapa pun yang bakal terhantam sebuah ponsel yang terjun bebas dari ketinggian sepuluh lantai.

Akhirnya Sarimin tak tahu lagi mesti berbuat apa. Awalnya ia memang sengaja datang ke apartemen Pajenong berbekal sepucuk pistol. Tapi ia sama sekali tak berencana untuk membunuhnya, melainkan hanya secara tiba-tiba keluar dari kolong ranjang, menakut-nakuti Pajenong, memaksanya untuk membatalkan kencan dengan Vianna, dan memaksanya untuk memutuskan hubungan dengan wanita itu. Namun, kemarahan yang secara mendadak menggigit kepalanya membuat Sarimin refleks menjulurkan tangan dari kolong ranjang dan menembak belakang kepala Pajenong, tanpa sempat ia memikirkan cara untuk mengamankan mayat korbannya, maupun cara menyelamatkan diri seandainya ia dikejar-kejar polisi.

Yang kemudian Sarimin lakukan, setelah menatap jam dinding yang menunjukkan pukul tujuh malam, adalah melangkah cepat mendekati mayat Pajenong dan menendang-nendangnya sekuat tenaga hingga kakinya sendiri terasa sakit. Sarimin menganggap tendangan-tendangannya adalah pembalasan dendam atas pemerkosaan yang Pajenong lakukan terhadap Vianna. Lantas Sarimin memuntahkan enam peluru yang tersisa di pistolnya hingga kepala Pajenong hancur betul dan menganggap tembakan-tembakan itu sebagai pelampiasan kefrustrasiannya, karena tak dapat mengerti kenapa Vianna mau berkencan dengan pria yang telah memerkosanya.

Tiba-tiba terdengar pintu apartemen Pajenong diketuk. Suara tembakan-tembakan pasti telah menarik perhatian orang yang kebetulan berada di dekat pintu itu. Gempa dahsyat segera melanda jantung Sarimin sebab ia sama sekali belum siap untuk dipenjara. Keringat dingin mengucur deras dari tubuhnya seakan ketuban bocor.

Ketika sebentar kemudian terdengar pintu diketuk lagi dengan sedikit lebih keras, Sarimin langsung bergerak cepat menutup pintu kamar, mematikan TV, dan mengguling-gulingkan mayat Pajenong ke kolong ranjang. Deodoran Pajenong ia letakkan di tempat semula setelah dibersihkannya darah di sana dengan beberapa lembar tisu. Lantas jejak-jejak kematian di lantai ia bersihkan dengan handuk yang diambilnya dari lemari pakaian dan dibuangnya juga ke kolong ranjang.

Sarimin berpikir untuk melangkah tanpa suara ke pintu dan mengintip sang pengetuk. Namun terdengarnya ketukan berikutnya yang jauh lebih keras membuatnya batal mendekat ke pintu, sebab ia merasa ketukan itu adalah ketukan mengancam, semacam yang dilakukan para penagih utang terhadap pintu rumah si Pemilik Utang yang tak kunjung melunasi utang sejak seabad lalu.

Sarimin menyesal berat karena telah menghabiskan pelurunya. Penyesalan ini sama beratnya seperti saat ia menyatakan cinta kepada Vianna dua minggu lalu, mengakibatkan rusak totalnya persahabatan yang telah mereka jaga seperti aib-aib sendiri selama bertahun-tahun. Oh, seandainya malam itu aku memutuskan untuk diam saja, Vianna pasti tidak akan marah-marah, tidak akan lari dari rumahku, tidak akan bertemu dengan Pajenong di tengah jalan, tidak akan diperkosa di dalam mobil, dan tidak akan berujung pada pembunuhan yang kulakukan hari ini, Sarimin membatin.

Kali ini pintu bukan lagi terdengar diketuk, melainkan ditabrak dengan keras, tapi belum sampai terlepas dari engsel-engselnya. Jantung Sarimin nyaris terlontar keluar ke jendela yang terbuka, yang jika dimanfaatkannya untuk kabur sekarang pasti malah akan membuatnya bunuh diri. Sarimin pun mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari apa saja yang dapat digunakannya untuk menyelamatkan diri: tongkat bisbol, tongkat golf, dan kaki lampu berdiri.

Dipukul dengan ketiga benda tersebut mestinya lumayan sakit. Tapi seketika terlintas dalam pikirannya bahwa semua itu belum tentu dapat menyelamatkan dirinya, jika ternyata yang menunggu di balik pintu adalah lebih dari satu orang. Ataukah aku mesti menjelaskan secara baik-baik kepada sang pengetuk bahwa Pajenong layak dibunuh, tak lain karena ia telah memerkosa Vianna dan dengan bangganya meneleponku untuk mengabarkan pemerkosaan itu?

Bagaimanapun, pembunuhan sama saja jahatnya, sambung Sarimin dalam hati. Akhirnya tatapan Sarimin terpaku ke lemari pakaian yang ukurannya lumayan besar. Tepat setelah terdengar pintu berhasil ditumbangkan, tanpa pikir panjang Sarimin mengumpet ke dalam lemari pakaian tersebut. Aroma harum seluruh pakaian Pajenong memenuhi bagian dalam lemari, mengingatkannya pada aroma bebunga harum yang ditaburkan ke dalam peti mati.

Mulailah terdengar suara langkah kaki di luar sana. Langkah kaki yang sangat ringan, seakan sang pemilik kaki mencoba melangkah di udara sebelum menyergap lawannya dari atas. Meski Sarimin benar-benar ketakutan, ia masih sanggup untuk fokus pada apa yang didengarnya, dan ia bisa menyimpulkan bahwa itu adalah suara langkah kaki satu orang—tak mungkin lebih. Dan karena hanya ada satu orang, semestinya Sarimin bisa keluar dari lemari sekarang juga dan bertarung melawannya, atau sekadar menodongkan pistol ke arahnya sambil melangkah keluar dari apartemen. Tapi melakukan yang mana pun di antara dua kemungkinan itu tidaklah mudah. Orang di luar sana mestilah orang yang kuat lagi pemberani, terbukti dari beraninya ia mendobrak masuk ke apartemen ini.

Beberapa jenak kemudian suara langkah kaki itu lenyap sekonyong-konyong. Tidak mungkin orang itu telah keluar dari apartemen ini. Jika ia melangkah keluar, semestinya yang terdengar adalah suara langkah kaki itu semakin mengecil dan mengecil dan hilang, alih-alih seketika hilang. Orang itu pasti sedang terbang! Dan, pintu lemari pakaian itu terdengar dikunci dari luar.

Harusnya Vianna menembak Pajenong ketika mereka berjumpa di Kafe X pukul sembilan malam nanti, tanpa peduli akan diapakan dirinya oleh orang-orang di sekitar. Namun Vianna keburu tak sabar untuk membantai Pajenong saking murkanya ia, sehingga ia memutuskan untuk langsung berangkat ke apartemen mantan kekasihnya itu berbekal sepucuk pistol, menumpang sebuah taksi—yang radionya menyiarkan berita tentang terus bertambahnya kasus pemerkosaan di kota ini setahun belakangan—dan tiba di tujuan pada pukul tujuh malam.

Karena tak kunjung dibukakan pintu, Vianna menerjang pintu apartemen Pajenong hingga roboh, dan ia sendiri kaget karena dirinya bisa menjadi sekuat itu. Alih-alih mendapati Pajenong yang terkejut, Vianna mendapati ketidakberadaan siapa pun di dalam sana. Mungkin Pajenong sudah berfirasat aku akan datang membunuhnya, sehingga sekarang ia sedang mengumpet. Wanita itu lantas melangkah masuk dengan sangat perlahan, seakan mencoba melangkah di udara sebelum menyergap Pajenong dari atas.

Apartemen Pajenong tidaklah luas, sehingga sebentar kemudian Vianna telah usai menjelajahi seluruh sudutnya tanpa mendapati keberadaan siapa-siapa, termasuk di kolong ranjang. Sambil duduk di tepi ranjang, Vianna berpikir, Apakah Pajenong begitu tak sabar berkencan denganku, sehingga ia sudah berangkat ke Kafe X?

Mendadak sesuatu entah apa membuatnya memaku tatapan ke lemari pakaian. Tubuhnya sontak menggigil. Dengan langkah tanpa suara, Vianna pun mendekati lemari tersebut dan mengunci pintunya. Lalu ia mundur beberapa langkah, menarik napas panjang-panjang, dan memuntahkan ketujuh butir peluru di pistolnya.

Darah menetes-netes dari celah bawah pintu lemari.

Vianna tersenyum dingin, menjatuhkan pistolnya ke lantai, dan meninggalkan apartemen itu dengan perasaan damai.

Vianna tetap datang ke Kafe X pukul sembilan malam. Ia merayakan kemenangannya yang cukup gemilang dengan memesan makanan mahal. Sembari menunggu makanan pesanan tiba, ia mengeluarkan ponselnya, mengakses situs berita tepercaya, dan membaca berita tentang terus bertambahnya kasus pemerkosaan di kota ini setahun belakangan.

Mendadak ia merindukan Sarimin dan membayangkan pria itu duduk di hadapannya. Ah, seharusnya waktu itu aku tidak usah marah-marah kepadanya. Tidak ada yang salah dengan ia jatuh cinta….

Tepat setelah makanan pesanannya tiba, Vianna melihat seorang pria berpakaian rapi memasuki kafe. Pria itu melambaikan tangan ke arahnya sambil melangkah mendekat. Napas Vianna sontak tercekat. Dan ia hampir pingsan ketika Pajenong, dengan wajah dipenuhi bekas luka yang baru kering, duduk di hadapannya.

Surya Gemilang : lahir di Denpasar, 21 Maret 1998. Buku-bukunya antara lain: Mengejar Bintang Jatuh (kumpulan cerpen, 2015), Cara Mencintai Monster (kumpulan puisi, 2017), Mencicipi Kematian (kumpulan puisi, 2018), dan Mencari Kepala untuk Ibu (kumpulan cerpen, 2019). Karya-karya tulisnya yang lain dapat dijumpai di lebih dari 10 antologi bersama dan sejumlah media massa.

Achmad Yasin : lahir di Bandung, 21 April 1972. Menamatkan pendidikan seni rupa dan magister desain di Institut Teknologi Bandung. Kini mengajar di Fakultas Seni dan Desain Universitas Negeri Makassar, selain menjadi artisan lepas pada beberapa proyek.

sumber : harian Kompas edisi 08 Maret 2020 di halaman 13 dengan judul “Humor tentang Tembakan-tembakan”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme