Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Promo: Beli Satu, Gratis Satu oleh Teguh Affandi

Posted on Sab, 14 Mar 2020

Tujuh hari sudah widuri ditanam dalam tanah, tapi aromanya masih beterbangan sepenjuru rumah. Di kaca jendela, bersama aroma pembersih kaca, di depan kulkas bercampur sisa-sisa ikan peda, di sobekan catatan belanja, juga di tubuhku. Seolah ia tak mau melepasku, ibarat sepasang tangan yang mengunci semua kemungkinan.

Oleh sebab itu pula, aku ingin menjauh dari pusara kenangan ini. Berharap hidupku kembali normal; bebas hinggap di dada perempuan mana saja.

Kukemas semua barang, kecuali sebuah sofa amerald, tempatmu duduk memangku buku. Saat dokter memintamu istirahat total demi janin dalam perutmu bisa kuat bergelantungan di tali pusar, kamu hampir tidak bisa lepas dari sofa itu. Tiap kali kupandangi leher sofa yang sepusarku, lipatan renda yang sedikit terurai menguntai suara tawamu. Calon anak kita senang kalau kubacakan cerita, katamu.

Barang-barang kita sudah lebih dahulu diangkut oleh penyedia jasa pindahan rumah yang dahulu juga kita sewa saat pertama kali pindah ke rumah ini. Tentu truk dan sopir berbeda. Kusaksikan sekali lagi rumah dan plang di pagar yang terayun-ayun bertuliskan, “DIJUAL: RUMAH BESERTA SELURUH KENANGAN DI DALAMNYA .”

Johan membantuku menemukan apartemen kecil ukuran studio di daerah Kalibata. Tidak terlalu besar, sekadar nyaman untuk seorang duda. Hanya sementara, sebelum menemukan rumah baru. Katamu, kemarin telah selesai tak perlu diungkit-ungkit terlalu lama.

Hanya ada kamar tidur, dapur dan meja makan yang tersambung, dan sedikit ruang untuk satu set sofa kecil biru tua kontras dengan putih dinding. Kata Johan, setelah kamu mati aku harus mulai mengecat dinding dengan yang selain putih, favoritmu. Tapi dinding gelap di ruangan sempit bisa bikin sesak napas. Mengecat putih sama saja mematrimu untuk terus mengelilingiku. Padahal aku ingin terlepas darimu.

Kardus-kardus menumpuk di dekat sofa. Aku berpikir harus dimulai dari kardus mana. Kubuka kardus yang paling dekat dengan kakiku, berisi koleksi buku. Kuhentikan, aku belum punya rak buku untuk rumah mereka. Kupilih kardus lain, cushion bersarung merah muda menyembul keluar. Kutarik dan keempaskan debu-debu. Sofa dan bantalnya cocok, batinku.

Bel berbunyi. Kemudian suara Johan memekak telingaku.

“Jangan sampai kudobrak, ya,” Johan mulai menampilkan tabiatnya.

Aku menyeret kaki, malas. Mengapa juga Johan datang di saat seperti ini? Dia kawan yang kerap mengusulkan saran tapi tidak mau turun tangan. Saat pintu terbuka, Johan menyerbu masuk. Dua gelas es americano dan dua kotak styrofoam. Meski bossy, Johan tetap peduli.

“Makan dulu. Aku tahu, kamu pasti kelaparan dari pagi,” Johan membuka bungkusan makanan. Aroma lemak seketika menyesaki bau debu dan kenangan dari dalam kotak-kotak kardus.

“Lebih baik kamu bawa air putih dari pada kopi,” jawabku. Dapurku masih kosong dan mengapa pula Johan berpikir akan cocok makan nasi goreng cumi dengan es americano.

Aku mengunyah dalam diam. Sedangkan Johan tak berhenti menumpahkan segala saran tentang penataan apartemen. Kuiya-iyakan saja. Johan teman asyik, tapi tak suka menerima kritik.

“Aku kembali ke kantor. Kamu jadi cuti kan sampai lusa? Kalau jadi, lusa aku ke sini. Ruangan ini harus sudah rapi,” kata Johan. “Nania juga akan ikut. Dia mau masak di dapur barumu, sejenis housewarming party.” Johan menutup kalimatnya. Suara pintu ditutup menjadi yang terakhir kudengar. Sisanya, aroma lemak, plastik sampah, dan dua jejak lingkaran bekas es americano yang melekat di meja kaca.

Aku mengelus perut. Seolah kamu berdiri di depanku dan berkata, tidak baik rebahan habis makan, bisa tertimbun di perut. Seketika aku berdiri dan kembali mengatur kardus-kardus.

Ruangan di apartemen kala petang seperti ini seperti lorong rumah sakit. Dingin, sepi. Kuingat saat dokter mengabarkan kamu baru saja pergi, lorong rumah sakit begitu mencekam. Dinding-dindingnya mengimpit, tak menyisakan ruang. Warna putihnya pasi, mirip kafan.

“Aku harus mengisi dapur dan kamar mandi,” bisikku.

Kutengok angka di layar ponsel, menjelang jam 5. Ke mal di kala jam pulang kantor adalah bencana ibukota. Aku ingat toserba kecil di basement apartemen. Kukira aku bisa menemukan peralatan mandi dan sekadar roti sobek dan selai, mi instan, telur, dan sosis siap makan.

Setelah selesai berganti kaus dan celana pendek, aku keluar menuju lift. Apartemen ini punya lantai 14, tidaklah besar untuk ukuran ibukota. Untuk turun aku harus menunggu pergantian lift cukup lama. Pertama lift itu harus terlebih dahulu naik membawa penghuni dari lantai lebih bawah ke lantai lebih atas. Baru kemudian turun, berhenti di lantaiku, dan membawaku ke lantai dasar. Meskipun ada dua lift, tetap saja tak mengurangi kejenuhan menunggu.

Harusnya kamu membawa buku, kudengar kamu berbisik. Kebiasaan membawa dua buku dalam tas, lenyap setelah kamu ditanam. Juga kebiasaan membawa tas kain ketika belanja. Kamu, yang selalu menggenapi kealpaanku tak lagi ada. Belum ada rumus yang mengubah angka satu menjadi bilangan genap.

Sampai basement, lift terbuka, sekonyong-koyong seorang bocah dengan seragam sekolah tergesa masuk, hampir menubrukku. Disusul seorang perempuan hingga membuatku kurang fokus. Mata kami bersirobok sebentar. Dia seperti ingin menyampaikan, bila miliknya bebas kupandangi.

“Pelan-pelan, Evan,” kata perempuan itu sambil menarik lengan bocah. “Maaf ya, dia buru-buru katanya ingin menonton serial kartun,” dia mengimbuhi. Wajahnya sayu tapi cukup cantik, cara dia meminta maaf bukan sekadar basa-basi. Tidak kutemukan cahaya culas di bola mata dan garis mimiknya.

“Tak apa,” kujawab singkat sambil aku menyingkir dan menyilakan perempuan dan anak bernama Chris itu masuk lift.

Kutengok kembali. Dan perempuan itu memberiku sesimpul senyum. Entah mengapa hatiku yang tandus, seperti disiram segalon air. Sejuk dan mendamaikan. Apakah yang menyejukkan itu senyum perempuan itu atau tubuh yang tercetak di balik kaos ketat? Apa keduanya bisa dipisahkan atau harus selalu beli satu gratis satu?

Aku berjalan di sepanjang lorong minimarket yang memajang peralatan kamar mandi. Sabun, sampo, odol dan sikat gigi, tisu toilet, dan kamper masuk ke keranjang. Aku berhenti sejenak di bagian pengharum ruangan. Aku lupa, merek dan wangi jenis apa yang sering Widuri usulkan untuk kamar mandi. Kata Widuri, meski kamar mandi bukan berarti harus selalu berbau kapur barus. Aku menimbang kamper berbentuk balok, antara warna ungu dan kuning. Aku tidak ingat dan kali ini kamu tidak memberiku bisikan, aku memasukkan warna kuning.

Aku butuh isian kulkas. Sesuai rencana aku meraih selai cokelat, roti tawar, roti sobek, mi instan, dan sosis siap makan. Ketika kusaksikan tumpukan telur dalam kemasan, kembali kuingat katamu untuk membuang kuning telur sumber kolesterol itu. Kutimbang-timbang satu pak telur mentah. Apa aku butuh telur sekarang ini?

“Eh, kita ketemu lagi,” suara dari perempuan yang tadi berjumpa di depan lift. “Aku Jiyah. Tinggal di lantai 9,” dia menyodorkan tangan. Karena tanganku sedang membawa keranjang belanjaan, aku tidak sigap membalasnya. Kuletakkan kembali telur dalam pak ke tempatnya dan keranjang belanjaan kuturunkan ke lantai.

“Edam,” jawabku setelah telapak tangan kami bersatu. “Aku tinggal satu lantai di atasmu.”

“Baru pindahan?” tanya Jiyah, setelah menyaksikan barang yang kumasukkan keranjang belanja.

Aku mengangguk. Meski tubuh dan kelembutan tangannya menarik, aku tak banyak menimpali. Tangan-tangan Widuri seperti mencegah semua keinginanku.

“Mau beli telur?”

Aku terbelalak mendengar pertanyaan Jiyah. Pasti karena aku berdiri di area telur dan dia sempat melihatku menimbang-nimbang telur satu pak. Aku belum sempat menjawab, Jiyah kembali menambahkan.

“Dari kemarin ada promo, beli satu pak, gratis satu paks.”

Aku luput menyaksikan tanda promo di tumpukan telur.

“Bagaimana kalau kamu yang beli satu paks, gratis satu paks untukku. Evan selalu minta telur ceplok setengah matang kalau makan,” Jiyah menjelaskan.

“Tidak masalah kan? Lagi pula telur dua lusin mau habis kapan kalau dimakan sendiri?”

Aku membeli telur? Belum kuputuskan. Dan kalau pun membeli, aku tidak harus juga memberikan bonusnya itu ke Jiyah, yang dari pelafalan kalimatnya tampak sangat udik. Pasti perempuan metropolitan takkan mau meminta hadiah promo kepada orang yang baru ditemuinya.

Aku masih di ambang kebingungan. Jiyah seolah mendikteku untuk membawa dua paks telur sekaligus. Meski setelah kupikir-pikir tidak masalah membeli satu paks telur yang tidak tahu akan kumasak bagaimana karena dapurku belum siap sempurna. Dan gratis satu paks lagi bisa kuberikan untuk Jiyah. Beli satu gratis satu, beli satu paks telur dapat lagi satu paks telur gratis. Siapa tahu dengan satu paks telur yang kuberikan kepada Jiyah, aku dapat hal lebih sebagai gratisannya.

Selesai membayar, Jiyah menawariku bantuan. Kuiyakan. Mungkin ini cara dia membalas kebaikanku. Tidak ada makan siang gratis memang. Dia membawa plastik berisi peralatan mandi. Sedangkan aku, seplastik berisi peralatan mandi.

Kami naik dengan lift. Jiyah terus bicara. Menjelaskan hal-hal tentang apartemen yang sebenarnya sudah pernah kuterima dari realtor.

“Terima kasih, Edam. Bantuanmu ini sangat berarti,” Jiyah menyerahkan plastik belanjaanku. Kami berdiri di depan lift.

“Aku seorang diri, tidak akan habis kalau semuanya kubawa,” kataku. Namun sejujurnya ini adalah umpan bagi Jiyah.

“Terima kasih. Baru kali ini dapat pertolongan dari orang asing. Tak banyak yang memberi perhatian, apalagi terhadap pengasuh anak macam diriku,” Jiyah menepuk bahuku. Aku gemetar.

Jiyah masuk kembali ke dalam lift untuk turun kembali di lantai 9, barulah aku sadar. Sejatinya aku yang terkena umpan Jiyah. Kuingat katamu dulu saat aku bergurau soal poligami, kuiyakan asal kamu bisa menemukan istri kedua yang lebih cantik, lebih pintar, lebih kaya, dan lebih semua-muanya. Menemukan yang sama atau jauh di bawahku, itu namanya rugi. R.U.G.I”

___________________________________

Teguh Affandi : pernah memenangkan sayembara cerpen Femina, Green Pen Award Perhutani, dan Pena Emas PPSDMS Nurul Fikri. Menulis cerpen, esai, dan timbangan buku di berbagai media massa baik daring maupun luring. Sekarang bermukim di Jakarta sebagai editor buku sekaligus pegiat @KlubBaca.

sumber : kompas.id, 14 Mar 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme