Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Penyanyi Jenazah oleh Denny Dominicus

Posted on Kam, 02 Apr 2020

Hari Minggu ia memilih libur. Meski ada saja yang memohon dan rela membayar tiga kali lipat. Namun, Raja tetap menolak.

Padahal, sebelum menjadi penyanyi untuk jenazah, Raja adalah penyanyi kafe. Penyanyi kawinan. Panggilannya hanya Sabtu dan Minggu. Paling banyak dua acara. Seringnya satu. Bayarannya tiga ratus ribu untuk satu acara selama tiga jam tampil.

Kalau sudah awal bulan, Raja tidak langsung pulang setelah menyanyi. Ia tunggu sampai larut malam, baru pulang ke kos. Menunggu Pak Kosih tidur. Sebab, kalau tidak, upah tiga ratus ribu jadi milik Pak Kosih, pemilik kos. Padahal, Pak Kosih tidak galak jika menagih. Raja kalau ada kesempatan menemani Pak Kosih main catur, bisa-bisa bayaran sewa kos dikorting lima puluh ribu dari lima ratus ribu. Namun, Raja tetap saja sungkan. ”Bayar separuh juga tidak apa, lumayan buat isi dapur,” ujar Pak Kosih yang merupakan cara halus untuk menagih.

Orang tuanya di kampung juga tidak berani mengganggu Raja. Mereka tahu anaknya sedang berusaha mengejar mimpi di kota. ”Nak, bapakmu akhirnya ikut Supri jadi kuli batu. Di seberang kampung kita katanya mau dibangun jalan tol. Dulu bapakmu, kan pernah kerja buka jalan di bukit. Lumayan, buat biaya adikmu.” Cerita Ibunya suatu ketika di telepon.

”Kenapa tidak telepon di hape saja bu?” tanya Raja.

”Mahal.”

”Kemarin aku sudah bilang menggunakan Whatsapp call dengan hape Ratu. Tidak perlu pulsa. Lagian, tidak enak sama Pak Kosih,” ujar Raja dengan memelankan suaranya takut didengar Pak Kosih yang sedang menonton televisi di ruang yang sama.

”Kata adikmu tidak ada paket data di hapenya. Ibu tidak mengerti juga.”

”Jadi, Bapak tidak berladang?”

”Ya, tetap berladang. Habis berladang, langsung dijemput Supri, naik motor ke lokasi.”

Tidak lama setelah percakapan telepon dengan Ibu, kawannya datang. Menawarkan pekerjaan.

”Nyanyi untuk jenazah?” tanya Raja bingung.

”Ya, sama seperti elu nyanyi di kawinan orang. Bedanya ini di depan jenazah. Tidak ada pelaminan. Adanya peti mati,” jawab kawannya enteng.

”Mainin lagu apa?”

”Ya, lagu apa saja. Biasanya lagu-lagu favorit almarhum. Nanti elu tanya saja sama keluarganya, penyanyi favorit almarhum siapa, nah, tinggal elu nyanyiin. Lima ratus ribu. Empat puluh menit mainnya.” Ujar kawannya, ”Mau gak lu?”

Mendengar honor lebih dua ratus ribu seperti biasanya serta durasi kerja yang jauh lebih singkat, Raja akhirnya setuju. Apalagi tidak sengaja melihat Pak Kosih yang tampak curi dengar. Ia jadi tidak enak karena sudah menunggak uang kos dua bulan.

Raja kemudian menghubungi klien pertamanya sebagai penyanyi jenazah. Mengikuti saran kawannya untuk menanyakan penyanyi favorit almarhum.

”Ariel, Mas. Kakak saya fans beratnya,” kata kliennya.

”Ariel Noah?”

Raja juga menyukai lagu-lagu dari band Ariel. Ia dulu berharap lagu-lagu ciptaannya dapat terkenal seperti lagu-lagu Peterpan atau sekarang namanya Noah. Namun, usaha untuk menembus industri musik belum membuahkan hasil. Raja terpaksa harus menurunkan idealismenya dan menjadi penyanyi kafe.

”Kamu apa benar nyanyi untuk orang mati?” tanya Pak Kosih suatu Minggu saat mereka bermain catur.

”Iya, Pak,” jawab Raja sambil memajukan kuda putih di papan catur.

”Kamu tidak takut? Buat apa nyanyiin orang yang sudah meninggal?”

Awalnya Raja juga takut. Namun, karena bayarannya bagus, ia berusaha terbiasa. Selama ini, ia tidak menanyakan untuk apa keluarga almarhum memanggil penyanyi. Dilarang oleh kawannya. ”Pokoknya, kamu jangan banyak tanya. Nyanyi saja. Ambil honor, lalu cepat pulang.” Begitu pesan kawannya.

”Klien kamu ini dari penganut agama tertentu?” tanya Pak Kosih lagi.

”Ternyata tidak, Pak. Padahal saya kira demikian. Bahkan klien saya dari berbagai suku.”

Rasa penasaran Pak Kosih membuat Raja sadar, satu-satunya kesamaan dari kliennya adalah usia almarhum tidak ada yang berusia senja. Paling tua usianya tiga puluh lima tahun. Dan kesamaan lainnya selalu ada benda yang berhubungan dengan musik di dalam peti matinya. Entah itu gitar lele, pianika, suling, headphone atau MP3 Player. Mungkin selama ini ia bernyanyi untuk jenazah yang dulu menyukai musik atau pemusik. Zaman sekarang tren semakin unik. Lantaran suka musik, saat meninggal ingin di-nyanyiin dulu. Begitu batin Raja.

”Besok kamu menyanyikan berapa jenazah?” tanya Pak Kosih.

”Tiga.” Dan permainan catur selesai dengan kondisi bidak catur tersisa raja putih yang diapit oleh benteng dan ratu hitam.

Raja membawa gitarnya. Berangkat jam sepuluh pagi. Naik motor skuter lalu menuju klien pertamanya untuk hari itu. Saat tiba di rumah duka, ia langsung dipersilakan menuju peti mati. Tidak lama, Raja mulai bernyanyi di depan jenazah yang menggunakan kemeja lengkap dengan dasi serta jas. Wajah putih pucat. Dingin. Dalam petinya terdapat flute yang dipeluk jenazah. Tampak bukan flute baru.

”Anak Ibu suka memainkan flute?” tanya Raja saat ingin pamit kepada keluarga almarhum. Ibu itu hanya mengangguk dan tersenyum.

”Bagaimana hari ini? Klien suka penampilan kamu?” tanya Pak Kosih saat Raja pulang.

”Selama saya nyanyi, tidak ada pihak keluarga yang memperhatikan. Di sana saya merasa sedang bernyanyi untuk diri saya sendiri,” jawab Raja dan ikut duduk di samping Pak Kosih yang sedang menonton.

”Kenapa murung? Awalnya, kamu semangat dengan kerjaan ini,” ujar Pak Kosih.

Tawaran menyanyi di depan jenazah memang membuat hidup Raja menjadi lebih baik. Ia bisa beli gitar lebih bagus. Kirim uang ke kampung untuk orangtuanya. Membelikan paket data internet untuk adiknya tiap bulan. Dan ia berencana sewa studio rekaman untuk memulai rekaman album. Kembali pada mimpi menjadi musisi yang punya karya. Namun, untuk yang satu ini belum dapat terwujud karena sulit mendapatkan waktu yang cocok.

”Berhenti saja dulu beberapa minggu, bisa kan?” saran Pak Kosih.

Saat sudah jalan enam bulan menjadi penyanyi jenazah, Raja memang ada keinginan istirahat sebentar. Namun, tidak jadi karena dapat kabar bapaknya di kampung terjatuh saat diboncengi motor waktu pulang dari proyek jalan tol. Katanya, temannya mengantuk. Bapaknya patah tulang kaki, sedangkan Supri bocor kepala.

Akhirnya Raja harus mengambil tabungannya. Dan terkuras sudah tabungan itu. Sebab, bukan hanya bapaknya saja yang dikirimi uang, Raja tidak tega kepada keluarga Supri.

Tawaran menyanyi di depan jenazah akhirnya tetap ia lakoni. Niatnya sampai uang terkumpul cukup untuk membiayai rekaman album.

Tidak perlu menunggu lama uang rekaman terkumpul. Sebab kali ini ia menerima tawaran menyanyi di hari Minggu dengan honor tiga kali lipat. Ia sudah siap kosongkan jadwal untuk fokus rekaman musik sendiri. Tetapi rencana rekaman tersebut harus tertunda karena studio rekaman yang hendak disewa Raja sudah tutup. Bangkrut karena sepi penyewa. Raja harus mencari studio lain yang ternyata harganya jauh lebih mahal. Studio yang sering digunakan penyanyi ternama untuk rekaman.

”Sewa studio rekaman itu berapa, sih?” tanya Pak Kosih.

”Tadinya kalau studio itu belum tutup, hanya butuh dana lima ratus ribu untuk satu sesi yang lamanya enam jam. Rekaman album, saya butuh tiga sesi. Selanjutnya butuh biaya mixing dan mastering itu juga butuh dana lagi. Kalau bayar studio yang lebih mahal lagi, tidak cukup dananya.”

”Ya, tidak apalah. Kerja sedikit lagi. Mungkin sudah jalan Tuhan kamu harus rekaman di tempat yang lebih bagus,” hibur Pak Kosih.

”Terima kasih Pak. Tetapi saya sudah memutuskan berhenti menjadi penyanyi jenazah. Tidak perlu memaksa album, saya tetap rekaman tetapi beberapa lagu saja. Mungkin harus dari langkah yang kecil dulu sebelum menjadi penyanyi sesungguhnya,” jawab Raja.

Kemudian dirinya bergegas masuk kamar. Malam itu ia habiskan untuk menentukan lagu yang mana ia rekam terlebih dahulu. Dan besok ia berencana untuk ke kos kawan yang telah memberikan pekerjaan. Raja belum sempat ketemu lagi dan mengucapkan terima kasih. Ia juga ingin meminta kawannya bersedia menggantikan dirinya untuk beberapa jadwal yang sudah ia sepakati.

”Kiki sudah meninggal,” jawab Ibu kos.

”Sejak kapan?” Raja terkejut mendengar kawannya sudah meninggal.

”Bulan Maret lalu. Sakit.”

Merasa kelelahan dengan apa yang terjadi akhir-akhir ini, Raja memilih untuk segera pulang dan tidur di kamarnya. Menjelang senja, Pak Kosih mengetuk pintu kamarnya.

”Ibumu telepon.”

Raja segera menuju pesawat telepon. Dari ujung telepon terdengar suara ibunya yang panik, ”Nak, kamu tidak apa, kan?”

”Ada apa, Bu?”

”Tadi siang ada yang datang ke rumah. Dia bilang, kau ingin ada yang menyanyikan lagu-lagu kesukaanmu ketika dirimu meninggal. Ada apa, ini Nak?”

__________________________

Denny Dominicus : peserta Workshop Cerpen Kompas 2014. Menerbitkan buku kumpulan puisi Semestinya Aku Jatuh Cinta Padamu pada tahun 2019. Sering menulis kisah di akun Instagram-nya.

sumber : kompas.id, 02 Apr 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme