Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Bulan di Pelabuhan Stockholm oleh Alif Ferbriyantoro

Posted on Kam, 30 Apr 2020

Di sebuah taman di dekat pelabuhan Stockholm yang pendiam, akan selalu ada wanita-wanita yang menangis ketika memandang bulan. Bulan yang warnanya keperak-perakan, yang cahayanya jatuh dan membias di lautan, sehingga laut itu akan berkilau seperti hamparan berlian. Wanita-wanita itu akan sabar menunggu sampai air matanya menetes dengan sendirinya. Air mata yang jatuh satu demi satu tepat ketika kelopak matanya berkedip, yang kemudian membasahi sebentuk pipi yang penuh dengan bedak, yang selanjutnya akan mengalir ke bibirnya yang merah dan setengah terbuka. Semua wanita di taman itu tak akan pernah tahu kenapa mereka begitu mudah menangis hanya karena memandang bulan.

”Datanglah ke sebuah taman di dekat Pelabuhan Stockholm, Anda akan sembuh dari semua peristiwa yang telah menyakiti Anda.”

Kalimat itulah yang diucapkannya kepadaku seminggu yang lalu, ketika ia menemukanku sedang merenung sendirian di sebuah meja bar. Tentu saja aku belum mengenalnya. Wanita itu tiba-tiba saja datang kemudian duduk di hadapanku. Aroma parfumnya dan aroma samponya menyeruak. Tetapi hidungku lebih fokus pada aroma samponya yang segar. Rambutnya pirang seperti senja. Terurai sampai ke bahu. Wanita itu mengenakan kemeja putih dengan syal merah muda yang melingkar di leher. Aku menatap sepasang matanya, namun ia membalas dengan tatapan yang lebih tajam.

”Maaf, dari mana Nona yakin bahwa saya sedang bersedih?” Pertanyaanku terdengar kaku dan terlihat kacau.

”Yang bilang Anda sedang bersedih siapa? Saya hanya menawarkan sebuah tempat yang baik untuk bersedih.”

Nah. Jelas wanita selalu benar.

”Tapi, tawaran Anda itu seperti menyimpulkan bahwa orang-orang yang datang ke tempat itu adalah orang-orang yang sedang bersedih.”

”Benar sekali.”

”Itu berarti sejak awal Anda sudah menyimpulkan bahwa saya sedang bersedih!”

”Apa salahnya menyimpulkan? Jika Anda memang benar-benar bersedih, saya sarankan datang saja ke tempat itu.”

Nah. Jelas wanita tidak pernah bersalah.

”Saya harus pulang. Jika kita bertemu kembali, jangan panggil saya Nona, panggil saja Sofia.”

Wanita itu bangkit dari tempat duduknya. Kemudian lenyap ditelan ambang pintu dan, malam.

Jika kita bertemu kembali….

Entahlah kenapa pada saat itu kalimatnya membekas di kepalaku. Seakan-akan dalam ucapannya itu, ia telah menyimpulkan bahwa aku pasti akan datang ke sebuah taman yang katanya adalah tempat yang baik untuk bersedih. Aku akan datang dengan membawa segenggam kesedihan. Lantas aku akan melihatnya duduk pada sebuah bangku taman dengan wajah yang paling sendu. Pada titik itu, aku akan duduk di sampingnya. Dan aku akan berkata kepadanya, akhirnya kita bertemu kembali, Sofia. Sungguh nama yang indah.

Tetapi ramalanku itu cukup buruk. Beberapa saat kemudian, wanita itu muncul kembali di hadapanku, masih dengan aroma samponya yang segar.

”Sudikah Anda temani saya ke taman itu malam ini?”

***

Ternyata Sofia adalah wanita yang menyukai malam. Ia hanya bisa ditemui saat malam. Sudah seminggu ini aku selalu menemaninya untuk memandang bulan. Setiap malam aku selalu menyempatkan diri duduk di sampingnya, hanya untuk melihat air matanya yang mengalir tanpa alasan.

”Apakah kau tak ingin menanyakan kenapa aku menangis?”

Pertanyaan itu, sungguh sentimental.

”Bukankah semua wanita di sini menangis tanpa alasan?”

”Kau bodoh jika punya pemikiran seperti itu!”

”Kau tahu, aku pura-pura bodoh. Cerita saja.”

Sofia hanya mengembuskan napas. Mengalihkan pandangannya ke arah kapal pesiar yang baru saja menjauh dari pelabuhan.

”Kau percaya, keberangkatan adalah kepulangan bagi yang lain?”

”Tapi kapal itu pasti akan kembali ke pelabuhan ini.” Lewat matanya yang basah, aku berusaha memahami.

”Sebelum kembali, kapal itu akan bersandar di pelabuhan yang lain, bukan?”

”O… itu pasti.”

”Kau mengerti maksudku?”

Tentu saja aku mengerti. Sebuah analogi sederhana dari peristiwa ditinggalkan.

”Jadi, siapa yang meninggalkanmu?”

”Dia suamiku. Maaf, mantan suami,” katanya sambil memasukkan tangannya ke dalam saku dan mengambil selembar sapu tangan. “Sebenarnya dia tidak pergi.

Dia kembali, bersama wanita lain yang menggendong bayi.”

Aku tidak terkejut. Itu sudah biasa.

Namun yang tak biasa adalah air mata. Kenapa wanita mudah menangis? Jika setiap malam semua wanita di taman ini menangis, maka kota ini akan menjelma seperti Kota Venesia yang penuh dengan air. Dan beberapa tahun kemudian, air mata itu akan menenggelamkan kota, beserta kenangan di dalamnya.

”Kau berbohong?”

”Apa? Kau pikir air mata ini hanya ilustrasi?” Nada suaranya meninggi. Wanita memang makhluk yang sensitif.

”Bukan, bukan. Bukan itu maksudku. Ini tentang apa yang kau ucapkan pertama kali kepadaku.”

Sofia mencoba mengingat.

”Yang mana? Aku lupa.”

Nah. Kenangan memang membuat orang menjadi pelupa.

”Katamu, ketika berada di taman ini kau akan sembuh dari semua peristiwa yang menyakitimu. Jadi kenapa kau masih menangis?”

”Air mata itu menyembuhkan. Dan bulan di taman ini adalah pemicunya.”

Memang di taman ini bulan tampak indah sekali, menggantung di langit dengan bebas dan sempurna. Jauh berbeda dengan di pusat kota, gedung-gedung bertingkat yang dihiasi lampu merkuri akan mengalahkan cahaya bulan, atau jalanan di pusat kota yang dipenuhi lampu dari setiap kendaraan. Ketika malam, seluruh kota akan penuh dengan lampu-lampu. Barangkali itulah mengapa di taman ini adalah tempat yang cocok untuk memandang bulan. Tapi pertanyaannya adalah, kenapa hanya karena memandang bulan mereka mudah menangis?

”Suatu saat kau pasti akan mengerti, kenapa di taman ini adalah tempat yang baik untuk bersedih.” Sofia menatapku. Seakan-akan ia bisa membaca pikiranku.

Tapi aku hanya diam. Dan tersenyum. Aku mencoba menikmati setiap keindahan yang ditangkap oleh mataku; pohon-pohon, lanskap pelabuhan dengan jajaran kapal pesiar yang mewah, sebuah dermaga yang murung, laut yang hitam namun bersinar, ombak yang tenang, mercusuar di kejauhan, dan tentu saja bulan yang menggantung di langit, yang cahayanya menyala bersama bintang-bintang. Dan keindahan yang lain ada di sepasang mata Sofia. Bulu matanya lentik. Jika berkedip, aku teringat istriku. Ya, istriku. Bukan mantan istri.

”Kalau boleh menebak, kau pasti sudah punya istri.” Lamunku pecah. Ia membaca pikiranku lagi. Apakah semua wanita memang terlahir dengan keahlian meramal?

”Dari mana kau tahu?”

”Cincin itu. Mungkin kau lupa melepasnya.”

Aku hanya tersenyum.

”Aku sengaja tak melepasnya. Karena aku menduga kau sudah tahu hal ini sejak awal kita bertemu.”

”Malah aku berharap kau melepasnya. Sehingga pertemuan kita ini akan memunculkan kebohongan-kebohongan lain. Itu akan menjadi lebih seru, bukan?”

Apakah semua wanita yang pernah ditingalkan akan bersikap seperti ini, mencari pelampiasan lain untuk menyembuhkan hatinya, yang padahal pelampiasannya ini akan menjadi lebih pedih lagi jika ia mengetahui kebenarannya?

”Sepertinya semua ini hanya menjadi pelampiasanmu saja.”

”Maksudmu?” Sofia mengerutkan dahi.

”Pertemuan ini. Aku rasa semua ini hanya untuk mengurangi kesedihanmu saja.”

”Lagi-lagi kau bodoh jika punya pemikiran seperti itu!”

Namun kali ini aku tidak pura-pura bodoh. Tampaknya aku tak pandai meramal perasaan wanita.

”Lantas kenapa kau masih ingin bertemu denganku, jika sejak awal kau telah mengetahui bahwa aku sudah punya istri?”

”Kenapa kau masih ingin bertemu denganku, jika kau sadar kau sudah punya istri?”

Aku tertawa.

”Kenapa kau tertawa?”

”Tidak apa-apa. Sebaikanya kita membicarakan hal lain saja.”

”enar! Kali ini kau pintar. Lebih baik kita tak saling tahu apa alasan yang membuat kita tetap ingin bertemu.”

Ada sesuatu yang membuatku berpikir bahwa Sofia termasuk orang yang memiliki perspektif berbeda. Namun jika harus menghitung keuntungan perasaan dari pertemuanku dengannya, jelas Sofia yang akan lebih dirugikan. Begitulah wanita, selalu mengandalkan perasaannya sendiri.

”Bagaimana dengan istrimu, apakah tidak apa-apa?”

Kurasa aku tak perlu menjawabnya. Sebab aku menduga ia akan menjawab pertanyaannya sendiri.

”Pasti istrimu sedang pergi untuk waktu yang cukup lama.”

Nah.

”Sepertinya kau ahli dalam menganalisa hubungan.”

Kali ini Sofia tertawa. Sepasang matanya menyempit. Sungguh, jika seperti ini aku benar-benar teringat dengan istriku. Aku memang mencintainya. Namun akhir-akhir ini, hubunganku dengannya sedang tidak akur. Itulah mengapa seminggu yang lalu Sofia menemukanku sedang merenung di sebuah meja bar.

”Kalau aku jadi istrimu, aku pasti akan membunuhmu!”

Kami tertawa bersamaan. Ada sesuatu yang membuatku lebur bersama sisa air matanya. Perasaan ini. Percakapan-percakapan ini. Dan, tatapan ini. Sepertinya aku mulai tertarik dengannya.

”Bagaimana soal anak. Kau sudah punya?” Aku membuka percakapan lagi.

”Aku tidak bisa hamil.”

”Jadi….”

”Ya. Itulah mengapa mantan suamiku mencari wanita lain. Laki-laki memang brengsek!”

Sepertinya aku salah bertanya.

”Tapi sudahlah, sebaiknya jangan bahas soal itu. Bagaimana denganmu?”

”Belum punya.”

”Apakah kau juga mandul?”

Sialan.

”Tidak. Tidak. Aku hanya bercanda. Tak usah pasang wajah seperti itu.”

”Kalau kau jadi istriku, aku pasti akan membunuhmu!”

Ternyata Sofia mudah tertawa. Dan sepertinya kesedihan telah berubah menjadi kebahagiaan. Sementara bulan masih menggantung di langit. Masih bercahaya bersama bintang-bintang. Dan malam terlampau malam. Semua wanita di taman ini sudah puas mengeluarkan air matanya. Semuanya berangsur pergi meninggalkan taman. Dari kejauhan, sebuah kapal pesiar berlabuh. Orang-orang turun dari kapal dengan wajah lelah. Tatapan Sofia tertuju ke orang-orang itu.

”Itu mantan suamiku,” ucap Sofia datar.

”Mana?”

”Yang mengenakan kemeja putih bergaris dan membawa koper ungu. Bersama seorang wanita dengan rambut tersanggul yang menggendong bayi.”

Kuperhatikan gerombolan orang itu dengan teliti. Dan, ketemu. Keluarga yang tampak bahagia itu semakin mendekat ke taman ini. Semakin dekat dan menjadi lebih dekat lagi. Laki-laki itu sepertinya adalah pekerja keras. Rambutnya beruban. Tak cocok dengan wajahnya yang terlihat masih muda. Sedangkan wanita itu hanya menunduk. Menimang-nimang bayinya yang terus menangis. Sesekali wajahnya terangkat. Ketika kedua mataku melihat dengan jelas wajah wanita itu, ada sesuatu yang membuat napasku menjadi tidak teratur. Ada sesuatu yang tak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

”Kau kenal wanita itu?” Sofia bertanya.

”Tidak. Tapi bagaimana jika seandainya wanita itu adalah istriku?”

”Itu berarti kau benar-benar mandul!”

Sofia tertawa. Sepertinya ia telah melupakan kesedihannya. Namun udara dingin membuatku tak ingin tertawa. Sementara keluarga yang berbahagia itu sudah menghilang ditelan malam.

Pandanganku beralih ke bulan. Cahayanya masuk ke dalam mataku.

”Kau benar, Sofia. Barangkali aku memang mandul!” (*)

Jember – Malang, 8 September 2019

____

ALIF FEBRIYANTORO : lahir di Situbondo, 23 Februari 1996. Buku-bukunya antara lain, 60 Detik Sebelum Ajal Bergerak (kumpulan cerpen, 2017), Romila dan Kutukan Ingatan (kumpulan cerpen, 2019), dan Sebelum dan Setelah Hujan, Sebelum dan Setelah Perpisahan (kumpulan cerpen, 2020).

sumber : kompas.id, 30 Apr 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme