Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Jampe Pamake oleh Yus R. Ismail

Posted on Sab, 02 Mei 2020

Motor yang melaju pelan itu meninggalkan kepulan debu di sepanjang jalan desa. Di depan sebuah warung kecil motor itu berhenti. ”Esih…! Jadi nanti siang…?!” teriak pengemudinya.

Esih yang sedang berada di dapur bergegas ke warung. Begitu dilihatnya Pak Sutardi di atas motornya, Esih gugup. Tenggorokannya tersekat.

”Nanti siang jadi, kan?” tanya Pak Sutardi sambil tersenyum.

”I… iya Pak, nanti siang,” jawab Esih terbata-bata.

”Iyalah, harus berani. Biar warungmu ramai… seperti yang lain. Bapak tunggu, ya!”

Motor Pak Sutardi melaju lagi. Debu beterbangan dari bekas gilasan ban motor. Esih duduk di depan warung. Matanya memandang ke depan, tapi dia tidak melihat apa pun. Kemarau tahun ini terasa lebih mencekik. Setiap hari matahari memanggang.

Tapi sepanas apa pun matahari, tidak membuat orang-orang mengalah. Orang Pasir Nanjak masih pergi ke sawah, menyiram di kebun, apalagi para pegawai yang sedang mengerjakan proyek jalan tol. Sudah sebulan lebih mereka bekerja siang malam.

Anehnya, meski warung Esih tidak jauh dari proyek jalan tol, para pegawai itu lebih senang makan di warung-warung lain yang letaknya lebih jauh. Padahal sejak lama warung Esih menjual nasi dan pasakan.

Awalnya ide menyediakan nasi dan pasakan itu untuk menyelamatkan tempe-tahu yang tidak habis hari itu. Esih belum mempunyai kulkas. Tempe-tahu sering kali basi bila belum laku dua hari. Barang dagangan yang basi dan terpaksa dibuang sudah lama sering membuat perkara.

**

Sudah lama Esih dan Kang Endang menyadari warungnya itu tidak ramai. Pelanggannya hanya tetangga terdekatnya. Meski begitu, awalnya Esih tidak begitu menghiraukan. Kedatangan orang-orang yang mengerjakan proyek jalan tol itulah yang menanamkan kepercayaan bahwa warungnya memang sepi.

”Berdagang zaman sekarang itu tidak boleh kosong, jangan sabongbrong,” kata Ceu Awang, tetangga Esih. ”Warungmu itu kalah pelet.”

”Maksudnya gimana, Ceu?” Esih tidak mengerti.

”Seminggu pertama orang-orang proyek jalan tol itu bekerja, banyak yang makan atau membeli nasi bungkus di warungmu. Tapi kemudian semakin berkurang dan menghilang sama sekali. Lihat saja di warung lain, orang-orang proyek itu beralih ke sana.”

Esih menarik napas panjang. Kenyataan pahit itu memang pernah dibicarakan dengan Kang Endang. Mereka percaya, pasakan mereka itu kurang enak. Wak Ningsih pernah bicara ketika suatu hari mampir ka warungnya. ”Masakanmu itu cawerang, tidak jelas bumbunya. Kalau mau berdagang masakan, belajar dulu kepada Uwak,” kata Wak Ningsih. Wak Ningsih pernah menjadi koki di rumah makan besar di Bandung.

”Berdagang zaman sekarang itu tidak boleh kosong, jangan sabongbrong,” kata Ceu Awang, tetangga Esih. ”Warungmu itu kalah pelet.”

Tapi kenyataan sekarang yang dihadapi Esih adalah penglihatan Ceu Awang. ”Warungmu itu harus dibukakan auranya, harus ada jampe pamake yang cocok,” kata Ceu Awang.

Esih sebenarnya ragu-ragu. Bagaimanapun dia pernah sekolah sampai SMP. Waktu sekolah dia malah termasuk siswa berprestasi. Rankingnya selalu sepuluh besar. Pernah juara menulis kaligrafi sesekolah. Jampe pamake yang akan diberikan seorang dukun tidak masuk akal sehatnya.

Tapi Kang Endang sangat mempercayainya. ”Tidak semua persoalan bisa dimengerti akal sehat,” katanya. Esih tahu betul, pendapat Kang Endang itu didukung oleh keluarganya. Lagipula, siapa di kampung ini yang tidak percaya orang pintar seperti Pak Sutardi? Mungkin hanya satu-dua orang saja yang ragu-ragu seperti Esih.

Esih sebenarnya ingin tidak mempercayai jampe pamake itu. Tapi kehidupan ekonomi keluarganya tidak bisa menunggu lama. Esih tahu, keluarganya bukanlah penganut agama yang taat. Tapi untuk tidak mempercayai dukun tidaklah mesti taat beragama dulu. Kenyataan warungnya yang sepi dan keadaan ekonomi keluarganya yang morat-marit membuatnya menyerah.

Ketika malam itu Esih dan Kang Endang mendatangi rumah Pak Sutardi, mereka terhenyak. Pak Sutardi adalah orang pintar tempat bertanya segala persoalan. Langganannya datang dari sejumlah daerah. Katanya orang tenar dari Jakarta dan kota besar lainnya juga bukan seorang dua orang yang sering datang ke rumahnya.

Berhari-hari Esih dan Kang Endang membisu setelah pulang dari rumah Pak Sutardi. Mereka tidak saling menyapa. Pak Sutardi waktu itu bilang, ”Warung kalian itu dingin dan gelap karena aura jelek dari Esih. Tubuh Esih yang harus dibersihkan.”

Cara membuka aura warung, membersihkan tubuh Esih, ya dengan didatangi sang dukun, disetubuhi sambil membacakan mantra jampa pamake itu. Itulah yang menjadi persoalan. Kang Endang berhari-hari melamun. Esih sendiri merasa tersinggung. Hanya membayangkannya saja dia merasa jijik. Dia melihat serigala menyeringai di wajah Pak Sutardi.

Tepat malam kesepuluh sejak mereka tidak saling menyapa, Kang Endang menghampiri istrinya. ”Esih, Akang sudah menemui Pak Sutardi. Besok siang kamu bisa membersihkan auramu,” kata Kang Endang, lalu dia pergi ke dapur sambil membawa sehelai tikar. Esih sekarang melihat serigala itu menyeringai di wajah suaminya. Serigala yang lebih buas. Serigala yang meneteskan air liur mengerikan.

**

Besoknya hari terasa pengap. Kang Endang sejak pagi sudah pergi. Dia membuat nasi timbel sendiri, meminjam pancingan dari tetangganya, lalu pergi entah ke sungai mana. Esih melihat langkah suaminya langkah yang lesu, langkah yang bingung, langkah yang kalah. Tapi serigala di wajahnya itu semakin mengerikan. Taring-taringnya runcing siap merobek Esih.

Esih sendiri tidak tahu apa yang mesti dikerjakan. Makanya ketika Pak Sutardi menghentikan motornya, memanggil Esih dari pinggir jalan, Esih cemas dan gugup. Napasnya terasa pengap. Warungnya yang sepi begitu lengang. Tengah rumahnya yang berukuran 3 meter x 3 meter penuh dengan suara televisi 14 inci yang sejak pagi bicara sendiri. Tapi Esih merasa sepi.

**

Menjelang senja Kang Endang pulang dengan langkah gontai. Pancingannya terikat rapi seperti yang berkali-kali dibereskan. Tidak ada ikan yang dibawanya. Ketika dilihatnya warungnya tutup, ludah keringnya tercekat di tenggorokan. Kang Endang duduk di depan warungnya.

”Esih, sudah pulang?” kata Kang Endang. Maksudnya berteriak, tapi suaranya kecil karena tertahan.

Kang Endang maklum kalau beberapa saat tidak ada jawaban. Dia menajamkan telinganya, konsentrasi mendengar suara dari dalam rumah. Siapa tahu ada suara tangisan. Ya, ada suara tangisan. Semakin jelas. Tapi bukan dari dalam rumah. Suara tangisan itu semakin jelas dari dalam dirinya. Kang Endang melengos, tersenyum kecut. Laki-laki kok menangis, gumamnya.

”Esih, sudah pulang?” kata Kang Endang. Maksudnya berteriak, tapi suaranya kecil karena tertahan.

Karena hampir setengah jam tidak ada jawaban dari dalam rumah, tidak ada reaksi apa pun, Kang Endang melangkah mendekati pintu. Pintu depan terkunci. Kang Endang ke belakang rumah, pintu dapur yang terhalang oleh kamar mandi biasanya tidak dikunci. Pintu itu menjadi pintu rahasia yang hanya diketahui berdua dengan Esih.

Kang Endang mendorong pintu perlahan. Ada yang mengiris sakit di dalam hatinya saat suara pintu berderit. ”Esih, maafkan Akang,” katanya pelan. Tapi di dapur Esih tidak ada. Ketika Kang Endang melongok ke dalam rumah, begitu banyak kertas berserakan. Semua potongan kertas itu bertuliskan.

”Hari Ini Bayar, Besok Gratis”, ”Beli 5 Bungkus Mie Instan, Gratis Sosin”, ”Belanja Rp 50,000 dapat 1 Kupon. 10 Kupon Dapat Ditukarkan Dengan Sebungkus Garam”, ”Hari Ini: Kangkung Disc 50%”. Dan banyak lagi tulisan lainnya. Kang Endang tidak sempat membacanya. Karena perhatiannya tercuri sobekan kertas kecil yang menempel di televisi. “Saya ke rumah Wak Ningsih, mau kursus memasak.”

Kang Endang menarik napas panjang.

***

Catatan:

Nyelekit = sakit

Sabongbrong = sewajarnya

Pelet = mistik agar disukai orang lain

Jampe pamake = mantra

——-

Yus R Ismail : menulis cerpen, novel, dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya Hantu Pohon Mangga (Indiva, 2018), Si Kabayan Return (BIP, 2017), Dongeng Puteri Bulan (kumcer, Bitread 2017), Mahacinta (novel, ebook BIP, 2017). Lima carpon (cerpen berbahasa Sunda) diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh CW Watson dan dimasukkan ke dalam buku Miss Maya and other Sundanese Strories (2014 dan 2017) dan dimuatkan dalam majalah The Malay World yang terbit di London. Buku kumpulan cerpennya yang sudah terbit antara lain, Pohon Tumbuh Tidak Tergesa-gesa, Disebabkan oleh Cinta, Sepanjang Jalan Cinta, Pencuri Hati, dan Si Kabayan Jadi Sufi. Cerpen-cerpennya pernah dipublikasikan di Koran Tempo, Media Indonesia, Kompas, Jawa Pos, Solo Pos, Republika, Suara Karya, Tribun Jabar, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Lampung Pos, Bangka Pos, Padang Ekspres, Banjarmasin Pos, Suara Merdeka, Femina, Hai, NOVA, Citra, dan Horison.

sumber : kompas.id, 02 Mei 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme