Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Aroma Kopi Surga oleh Tiqom Tarra

Posted on Kam, 25 Jun 2020

Tak ada kopi di surga, di sana hanya ada sungai susu dan madu. Itu yang aku dengar dari orang-orang. Kalau begitu, datanglah ke surgaku. Akan aku buatkan secangkir kopi yang jika lidah dan indera penciumanmu rusak sekali pun, kau tak akan bisa menyangkal kelezatannya. Akan kualiri kerongkonganmu dengan hitamnya cairan kopi yang kental, dan akan kupenuhi penciumanmu dengan harum semerbak kopi yang aku racik sendiri. Datanglah ke surgaku, karena aku hanya menyajikan kopi untuk dewa, malaikat, dan manusia-manusia pilihan.

Aku tak menyajikan kopi untuk sembarang orang, meski kau membayarku dengan emas berlian, karena aku harus melewati kematian serta neraka untuk meraciknya. Tak akan kubiarkan manusia bodoh menikmati kopiku, bahkan untuk sekadar mencium aromanya.

Orang-orang berbondong datang setelah mendengar tentang aroma kopi racikanku yang katanya seperti aroma surga. Mereka memintaku membuatkan secangkir kopi agar bisa membaui surga. Kami rindu pada surga, begitu yang mereka katakan padaku. Semua orang itu kuusir. Kukatakan, aku hanya meracik kopi untuk manusia pilihan. Mereka pergi dengan wajah kecewa. Namun, esok harinya mereka datang lagi, menawarkan emas, berlian, jabatan, dan wanita paling cantik sedunia demi mendapat secangkir kopi racikanku.

Aku mulai geram. Kukatakan aku hanya meracik kopi untuk dewa, malaikat, dan manusia pilihan, bukan manusia tamak seperti kalian. Mereka tak percaya.

”Tak pernah benar-benar ada manusia pilihan di dunia ini bahkan nabi sekali pun. Manusia pilihan macam apa yang kau maksud di sini?” tanya mereka yang tengah terbungkuk-bungkuk memikul emas batangan puluhan kilo. ”Manusia pilihan hanya ada dalam benak dan penilaianmu saja.” Mereka pulang meninggalkanku untuk esok datang kembali.

Tentu mereka tak akan pernah percaya, tapi manusia pilihan memang pernah singgah ke surgaku. Ia laki-laki berwajah teduh dengan senyum damai yang selalu menghiasi wajahnya.

”Aku ingin hidup untuk mengabdi pada rakyatku. Mereka semua adalah tanggung jawabku, dari bayi yang masih dalam kandungan, hingga orang tua yang telah mempersiapkan kepulangannya.” Manusia yang ternyata seorang pemimpin itu mulai bercerita.

Tak pernah aku lihat seorang pemimpin yang begitu bersahaja. Setiap tarikan napasnya adalah untuk kepentingan rakyat, setiap geraknya adalah untuk kesejahteraan negeri. Ia berkata, bahwa rakyat harus dirangkul dan dibimbing. Maka, ia mengajak rakyatnya membangun saluran air bersama-sama agar sawah serta ladang kembali menghijau, menghasilkan bahan makanan.

”Rakyatku tak boleh kelaparan, mereka harus kenyang untuk terus berkarya dan ikut membangun negeri.” Ia kirim putra-putri terbaik untuk menimba ilmu di berbagai negeri. Mengambil ilmu sebanyak-banyaknya kemudian pulang untuk ditularkan pada yang lain. Menerapkan setiap ilmu agar negeri mereka semakin maju, tak ada lagi kebodohan, kemiskinan, apalagi kelaparan.

”Setelah ini, aku siap pulang ke surga tanpa rasa malu pada Tuhan.” Pemimpi bersahaja itu meneguk kopinya perlahan. Namanya akan terus dikenang dari generasi ke generasi sebagai pembawa kemakmuran. Sebuah monumen telah disiapkan di alun-alun kota untuk mengenang jasanya.

Suatu hari, pernah ada malaikat yang datang padaku dengan sayap putih bersih yang sangat lebar. Aku pikir sayap seperti itu hanya ada dalam dongeng, ternyata memang ada. Aku menyentuh sayap dengan bulu-bulu halus itu. Lembut seperti pantat bayi, juga harum seperti campuran antara hutan pinus dan bunga setaman yang basah tertimpa hujan semalam. Malaikat itu mengepakkan sayapnya beberapa kali sebelum memintaku meracik secangkir kopi untuknya.

”Secangkir kopi surga ini untuk merayakan kemenangan melawan keburukan di muka bumi.” Malaikat tampan itu mulai bercerita sembari menikmati secangkir kopi buatanku. Ia menelanjangi aroma yang menguar dari uap yang terlihat putih, menghirup aromanya dalam-dalam dengan mata terpejam. ”Aroma surga, ternyata benar ada peracik kopi surga di sini. Aroma ini mengingatkanku pada tempat asalku dan di sanalah aku akan kembali setelah perjalanan yang melelahkan.”

Ia bercerita tentang sebuah perang nun jauh di negeri seberang. Perang melawan keburukan, kejahatan, dan ketidakadilan. Ia memimpin pasukannya, mempertahankan negeri, menyelamatkan anak-anak, wanita, dan lansia. Ia memorak-perandakan benteng pertahanan lawan hingga kemenangan mereka raih dengan keringat, darah, dan air mata. Orang-orang di negeri itu memujanya. Mereka mencium sepasang sayap sang malaikat sebagai tanda terima kasih dan kesetiaan. Kini negeri itu damai.

Secangkir kopi surga ini untuk merayakan kemenangan melawan keburukan di muka bumi.

”Setelah ini, aku akan pergi ke negeri lain yang sedang berperang. Akan kubela kaum yang lemah, calon penghuni surga yang selalu ingin menjaga kedamaian bumi, tapi terusik oleh kepentingan golongan.”

Aku bangga karena bisa meracik kopi untuk malaikat bersayap putih ini. Aroma kopiku memanglah untuk malaikat seperti dirinya yang membela kaum lemah serta calon penghuni surga. Setelah menghabiskan secangkir kopi, ia pamit.

Dibentangkannya sayap indah yang sangat lebar. Kepak-kepak sayapnya menerbangkan dedaunan kemudian tubuhnya terangkat dan meluncur membelah cakrawala, melesat di balik awan-awan putih menuju medan perang lain. Orang-orang terkagum-kagum melihatnya, tak terkecuali aku. Sisa-sisa harum semerbak wanginya bercampur dengan aroma kopiku dan orang-orang bodoh mengendusinya demi bisa merasakan nikmat surga.

Tak banyak memang malaikat yang datang padaku. Mungkin mereka sangat sibuk dengan tugas yang Tuhan embankan pada mereka. Seperti malaikat yang datang tempo hari. Tak seperti malaikat sebelumnya yang mempunyai sayap putih, malaikat ini memakai jubah hitam menjuntai dengan sabit bergagang panjang di tangan kanan. Siang mendadak menjadi malam. Angin bertiup membawa hawa dingin mengingatkanku pada kematian. Aku bergidik ngeri. Ia berjalan masuk ke surgaku. Aku tahu, aku harus meracik kopi untuknya. Kuracik secangkir kopi hitam, sehitam jubah yang ia kenakan. Orang-orang mencuri pandang ke arahnya dengan wajah ketakutan, tapi aku tak boleh takut karena ia adalah tamu yang harus aku layani.

”Aku begitu lelah,” ucapnya dengan suara yang bergaung. ”Aku mencabut banyak nyawa di negeri seberang. Perang selalu membuat tugasku makin berat.” Ia duduk bersila di hadapanku.

”Istirahatlah sejenak sembari menikmati kopi surgaku.”

”Benar, ini adalah kopi dengan aroma surga. Aku nyaris melupakan aroma ini karena terlalu sibuk mencabut banyak nyawa di bumi. Mungkin, kini orang-orang itu telah damai di surga.”

”Perang macam apa yang membuatmu harus mencabut banyak nyawa, Tuan Malaikat?”

Ia bercerita tentang perang melawan keburukan, kejahatan, dan ketidakadilan. Sebuah negeri menciptakan sesosok malaikat bersayap putih yang bisa terbang melintasi cakrawala. Malaikat itu memorak-perandakan benteng tempat berlindung, tak ada nyawa yang selamat. Semua meregang nyawa, tak hanya laki-laki, tetapi juga anak-anak, wanita atau pun lansia. Semua musnah di tangan sang malaikat bersayap putih.

”Aku harus melanjutkan perjalanan. Di negeri seberang sana ada sekelompok golongan yang tengah berjuang. Aku datang untuk membawa mereka pulang ke surga.” Ia beranjak. Berbeda dengan malaikat putih yang terbang dengan sayapnya, malaikat berjubah hitam ini menghilang di balik gelap malam.

Sejak itu, tak pernah ada lagi malaikat yang datang padaku. Mereka pastilah sangat sibuk. Aku bisa mengerti. Perang yang berkecamuk di muka bumi tak bisa dihindari, membuat orang-orang semakin rindu pada surga. Manusia-manusia bodoh semakin banyak yang berdatangan padaku. Kini bukan hanya sekarung atau dua karung emas, mereka membawa setidaknya satu truk emas untuk ditukar dengan secangkir kopi.

”Semua emas itu untukmu, tapi buatkan aku kopi dengan aroma surga paling kuat.” Seorang lelaki dengan dada yang selalu dibusungkan datang bersama banyak pengawal.

Kukatakan aku tak mau, sama seperti sebelumnya.

”Aku adalah pemimpin dari sebuah negeri adidaya. Tidakkah kau segan? Aku telah membawa negeriku dalam kemakmuran. Aku ini manusia pilihan seperti yang kau cari.”

Nyatanya, bagiku, ia tak lebih dari seorang laki-laki sombong. Aku ingat seorang pemimpin yang telah menjauhkan rakyatnya dari kemiskinan dan kelaparan, ia memiliki wajah teduh dan senyum damai, bukan laki-laki yang membusungkan dada. Aku mempersilakan ia untuk pulang bersama pengawal dan satu truk emas miliknya.

Esoknya ia datang lagi, sama seperti manusia-manusia bodoh lain. Ia memamerkan uang, emas, jabatan, dan wanita untuk menggodaku. Lama-lama aku muak juga dengan manusia macam itu. Kuusir ia dari surgaku, kukatakan aku tak lagi mempunyai serbuk kopi untuk diseduh. Ia tak percaya dan menuduh bahwa aku mempermalukannya. Mengusir seorang pemimpin besar adalah penghinaan, begitu katanya. Ia menyuruh pengawal untuk menyeretku. Memalukan sekali. Setiap pasang mata menatapku prihatin, mereka tahu bagaimana nasibku selanjutnya.

Aku tak peduli. Manusia seperti dirinya tak akan pernah bisa mencium aroma surga bahkan dalam bentuk kopi buatanku sekalipun. Aku tahu dia adalah pemimpin yang menciptakan malaikat bersayap putih. Kini, di negeri seberang sana, malaikat itu tengah mengamuk dengan sayapnya dan malaikat berjubah hitam tengah sibuk mencabut nyawa orang-orang tak berdosa untuk membawa mereka pulang ke surga. Dan aku tahu, emas yang kini ia pamerkan tak lebih dari harta rampasan dengan embel-embel kerja sama dua negara. Sebuah gunung emas telah ia keruk hingga jadi danau untuk mendanai perang paling keji. Lalu, bagaimana mungkin orang seperti itu bisa mencium aroma surga? Ingin sekali aku meludah tepat di wajahnya yang penuh kepalsuan.

Pemimpin sombong itu memasukkanku ke bui. Dingin dan lembap dindingnya menemani malamku. Namun, aku ingat, semalam, sebelum pemimpin sombong itu datang, malaikat berjubah hitam menemuiku. Ia mengajakku ke surga untuk membuat kopi di sana. Ia juga telah menyiapkan biji kopi terbaik untukku. Aku menyetujuinya. Siang nanti ia akan menjemputku dan aku akan meracik kopi untuk para penghuni surga.

****

Tiqom Tarra : lahir di Pekalongan pada 30 Oktober 1992. Cerpen-cerpennya pernah dimuat di Majas, Media Indonesia, Detik.com, Gogirl!, Tribun Jabar, Denpost, Solopos, Radar Surabaya, Fajar Makassar, Apajake.id dan ideide.id. Juara dua lomba novelet Loka Media dengan novelet Renjana (Loka Media, 2017). Buku kumpulan cerpen perdana Anak Kecil yang Memamerkan Bayinya dan Orang Dewasa yang Menyimpan Biji Mentimun di Saku Celana (JWriting Soul, 2018).

sumber : kompas.id, 25 Jun 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme