Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sebotol Arak Li Bai dalam Cawan Corona oleh Ole Vitto P

Posted on Sab, 25 Jul 2020

Puisi-puisi di tangannya, seakan begitu letih menyusuri Sungai Mekong. Tubuhnya basah kuyup, sampannya terombang-ambing dipermainkan riak sungai yang mengalir deras. Ketika melintasi sungai, mungkin Li Bai telah menghabiskan beberapa botol arak, hingga ia tak sadarkan diri tertidur di atas sampan. Tetapi dari kejauhan bukit dan lembah terdengar sayup-sayup seseorang membaca puisi Li Bai yang begitu menyayat. Lantunan puisi ”Terbangun dari Mabuk di Musim Semi”, menggema dan membelah bukit dan hutan.

Li Bai, sepasang ilusi telah mendiami pikiranmu. Itu isi surat yang terakhir kalinya kukirimkan kepadanya. Hingga beberapa tahun lamanya, saya tidak pernah bertemu dengannya. Saya sudah terlalu sibuk, dan mungkin juga Li Bai terus melakukan perjalanannya, mengembara ke seluruh negeri Tiongkok.

Apakah Li Bai tetap menulis puisi, atau ia ikut bersama pasukan perang Dinasti Tang. Ini membuatku sangat terkejut, ketika kubuka catatan waktu. Saya sadar, kini diriku telah hidup pada era globalisasi. Sebuah era modern, di mana minuman arak kesukaan Li Bai dianggap sebagai minuman kelas bawah, yang bukan cerminan gaya hidup orang-orang masa kini. Tempat minum yang sudah sangat menjamur seperti kafé, seakan mengangkat martabat gaya hidup modern.

”Ah, sungguh malang nasibmu Li Bai,” aku mendesis pelan saat menghabiskan secangkir kopi di sebuah kafé. Aku menatap jauh, di antara kelap-kelip lampu jalanan seakan menembus ruang waktu ribuan tahun. Sekitar tahun 753 Masehi, dinasti Tang membukukan puisi-puisi karya penyair. Aku melihat nama Li Bai begitu perkasa pada buku antologi itu. Entah mengapa Raja Tang begitu tergila-gila dengan karya-karya Li Bai. Buku antologi itu diberi nama heyue yingling ji, dan aku tak pernah tau artinya. Hingga Festival Musim Gugur telah membangun ingatanku untuk lebih menyimak puisi seorang Li Bai, dan sebuah puisinya telah membangkitkan gairah cintaku yang telah membeku sejak kepergian Jin Ping Mei. Aku ingat saat membaca ”Renungan di Malam Sunyi” yang ditulis Li Bai, seakan aku berperan sangat klasik.

Malam makin larut, aku telah menghabiskan tiga cangkir kopi. Tak ada lagi lantunan musik yang diputar di kafé ini. Semua pengunjung telah pergi, hanya menyisakan aku seorang diri. Pandanganku menjadi begitu berat, melangkahkan kaki pulang ke rumah. Sepanjang jalan begitu sepi, tetapi puisi Li Bai membuatku seperti orang mabuk. Puisi ”Renungan di Malam Sunyi” telah menemani langkahku, sampai aku tidak sadar telah menyanyikannya menjadi sebuah lagu sambil melangkah menuju rumah.

Tak ada lagi puisi-puisi indah Li Bai yang kudengar. Aku menjadi begitu asing, saat melihat pesawat hanya satu-dua melintasi angkasa. Sepi itu yang membungkam pikiranku. Mungkin aku telah tertidur di tirai tidur begitu lama. Orang-orang di sekelilingku menatap sinis, dan bercerita tentang Wuhan, tentang Virus Corona. Betul-betul asing, menghitung masa yang terlewati sekian abad. Mengapa aku berada di dalam terali besi, dalam sebuah penjara.

Ingatanku membuncah di antara hembusan angin. Sedikit demi sedikit, mengingat-ingat apa yang telah terjadi pada diriku. ”Ya.” Tiga tahun lalu aku duduk di kursi pesakitan dalam sebuah sidang perkara. Pengadilan telah memutuskan hukuman, karena aku telah menyebarkan isu hoaks melalui media sosial. Dalam unggahan di media sosial aku menyatakan, ”Wuhan akan menjadi peradaban baru puisi, yang mengakibatkan wabah mematikan bagi seluruh dunia.” Hakim telah menjatuhkan hukuman penjara bagiku. ”Saudara Markeso, saudara telah melanggar pasal sekian, kitab undang-undang hukum acara pidana, dengan ancaman pidana sebanyak-banyaknya lima tahun dan denda subsider sebesar seratus juta rupiah.” Tubuhku linglung, jatuh tak sadarkan diri.

Apa pun yang telah terjadi, kenangan lama yang terasa pahit akan membekas. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana nantinya setelah keluar dari balik terali besi. Yang pasti, hukum masyarakat akan berkata lain, dan ribuan kata seakan menjadi hantu di siang bolong. Gelar yang membuatku tersisihkan di masyarakat. Semua orang akan menatap sinis, kemana kaki ini melangkah akan dipanggil dengan sebuatan mantan narapidana. Pahit rasanya seperti menyandang beban sebagai seorang penjahat. Entah, apa bedanya menjadi orang baik dan orang jahat, semua akan terasa sinis padaku.

Pada masa Li Bai hidup ratusan tahun silam, belum ada komputer. Orang belum begitu mengenal teknologi. Kesadaran ini membungkam rasa keterbatasanku, aku ingin menjadikan karya Li Bai dalam teknologi besar. Pada masanya Li Bai bisa menjadi besar, aku harus bisa menjadi besar di masaku kini. Dengan menguasai teknologi, apa yang tidak bisa kita miliki, dunia ada di dalam pikiran kita. Memulai sebuah pengembaraan entah sampai ke ujung dunia yang mana, seperti puisi-puisi Li Bai yang menyusuri sungai hingga mendaki pegunungan.

Lembah dan ngarai di tepian sungai mekong, menjadi sumber inspirasi. Lambat-laun cina sudah mulai menguasai teknologi. Kita hanya duduk, berperang dengan nalar kita sendiri, berangan-angan dalam dunia maya. Kenapa tiba-tiba aku jadi ingat dengan kawanku, Joseph Lewdonsky. Seorang berkebangsaan Jerman, yang memperdalam ilmu teknologi di sebuah universitas di Amerika Serikat. Kami bertemu disana, berkawan hingga belajar bersama. Sayangnya selera makannya berbeda dengan seleraku. Tetapi perbedaan itu, yang membuat kami saling mengerti tentang tolong-menolong, meski kadang isu ras di Amerika Serikat sering membuat kami ingin menentang sebuah ketidakadilan.

Aku duduk di teras rumah, selepas senja. Kemudian mencoba menghubungi Joseph. Entah jam berapa di Jerman. Sedikit ragu untuk menghubunginya, karena sudah tiga bulan lebih aku tak pernah berkomunikasi.

”Hai, Joseph bagaimana kabarmu?” Perbincangan kami seperti orang yang betul-betul saling merindu. Di sela percakapan kami, sempat terlintas dalam benakku,

Joseph termasuk manusia super yang begitu menghargai nilai persahabatan. Dari nada bicaranya, tidak ada rasa canggung dan seakan-akan dipaksakan meski kami berbeda budaya dan bangsa. Di akhir percakapan, aku baru tau kalau dia sudah pindah kota ke kota Utrecht, Belanda. Joseph pindah ke Utrecht mengikuti jejak istrinya, seorang warga negara Belanda, Amy. Dia sempat mengatakan kalau Amy juga punya darah keturunan Indonesia.

”Kawanku, Markeso, kita punya bisnis besar menguasai dunia dengan teknologi.” Apa maksud Joseph Lewdonsky kepadaku. Semenjak itu, komunikasi kami makin sering. Di saat aku berusaha merintis bisnis usaha-usaha kecil dengan bantuan jaringan teknologi, kawanku Joseph memberikan peluang. Ini pasti bukan karena ketidaksengajaan.

Setelah sebulan bergabung dengan anak perusahaan yang dikelola Joseph Lewdonsky, aku seperti mulai menikmati dengan gaji besar. Mungkin ini yang membuat aku semakin terjerat dengan keserakahan. Tidak ada lagi rasa ketakutan, karena tertekan ekonomi. Bahkan bulan-bulan berikutnya, aku makin sering ke luar negeri, dari satu kota ke kota lainnya. Kehidupan Li Bai yang sempat menginspirasi gaya hidupku, betul-betul sudah terlupakan. Arak yang memabukkan, hanya menjadi friksi cinta seorang Li Bai dalam kisah-kisah fiksi di selembar tulisan sajak.

Beberapa tahun kemudian, karena perkembangan teknologi yang begitu pesat, aku tidak lagi bisa membedakan mana bisnis yang legal dan tidak legal. Semua bisnis harus dikendalikan oleh pemikiran yang secara tidak sadar sudah diracuni oleh sebuah kejahatan besar melalui dunia maya. Ini sudah menjadi sebuah permainan yang terselubung, tetapi sekaligus sangat mengasyikkan.

Semua pebisnis yang memanfaatkan teknologi, adalah musuh yang harus dikalahkan. Markeso tidak lagi berkata tentang siapa dirinya. Setiap waktu dilalui untuk mendapatkan keuntungan besar. Markeso menjadi seorang peretas data sekaligus juga menjadi hacker di dunia maya dan teknologi.

Beberapa tahun kemudian, karena perkembangan teknologi yang begitu pesat, aku tidak lagi bisa membedakan mana bisnis yang legal dan tidak legal. Semua bisnis harus dikendalikan oleh pemikiran yang secara tidak sadar sudah diracuni oleh sebuah kejahatan besar melalui dunia maya. Ini sudah menjadi sebuah permainan yang terselubung, tetapi sekaligus sangat mengasyikkan.

Bagaimana Markeso hanya duduk di depan laptop, sambil mengendalikan keuntungan bisnisnya, dilakukannya tanpa banyak melibatkan orang-orang. Bisnis terselubung, yang kadang mengejar pikirannya, hingga sering mengusik ketidaktenangan hidupnya. Markeso telah terjun dalam bisnis kejahatan siber. Dan untuk menghindari dari jeratan hukum, Markeso sering berpindah-pindah kota. Hingga akhirnya beberapa tahun lalu Markeso pergi ke Wuhan, Cina dan bertemu dengan Joseph Lewdonsky untuk pengembangan bisnis baru.

”Markeso, di kota Wuhan ini, kita akan ditakuti oleh dunia. Di sini bisnis terbesar sepanjang abad ini.” Itu pesan dari Joseph Lewdonsky kepada Markeso.

Kecerobohan Markeso, yang hanya berpikir untuk menjadi tenar di seluruh dunia berbuahsenjata makan tuan bagi dirinya. Perang nalar dianggapnya sebagai sebuah kapitalisme baru yang membelenggu nuraninya sebagai manusia. Isu hoaks yang disebarkannya, akhirnya tercium oleh aparat keamanan. Markeso telah melakukan kejahatan siber, dengan menyebarkan isu agar bumi ini harus dibersihkan dengan menciptakan virus yang mematikan banyak orang.

Selama dalam penjara, Markeso tak henti-hentinya menyesali dirinya. Apa yang dirasakan sebagai sebuah keadilan bagi dirinya, ternyata sangat tidak adil bagi orang lain. Seorang Li Bai menjadi terkenal, hanya dengan menulis puisi tidak pernah membutuhkan teknologi. Tidak pernah berpindah-pindah ke luar negeri. Hidup memang harus dilalui dengan perjalanan panjang. Dan itu menjadi sebuah pilihan hidup.

”Aku telah menjadi penjahat, yang tidak lebih baik dari seorang pelacur.”

Markeso hanya sebuah nama yang meninggalkan nama di balik kebesaran nama besar seorang penyair cinta, Li Bai. Kini Markeso sadar, peradaban cinta Li Bai bukanlah mata rantai penyebaran hoaks. Sebotol arak Li Bai telah menjerumuskan kekuatan pikiran Markeso menjadi orang yang memanipulasi teknologi demi sebuah ketenaran. Tetapi ketidakadilan ini, apakah sebuah kesengajaan atau karena ketakutan pemikiran manusia? Entahlah. Kini wabah pandemi Covid-19, benar-benar terjadi.

sumber : kompas.id, 25 Jul 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme