Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Senja Merah Khairan oleh Beni Setia

Posted on Ming, 25 Mei 2003
Setengah berkacak, dengan lembut, Arsad menendangi bongkahan blok mesin sepeda motornya. “Nggak akan tembus kan, Sir?” katanya. Nasir menggeleng. Khairan menepuk bahunya. “Kita juga main, Sad. Kita tutup nomor jagonya, dan karenanya kita hanya narikin duit orang kampung. Ini hanya pemancing saja,” katanya. Arsad menaiki sepeda motornya, mendorongnya sehingga rodanya mencecah di tanah. Ia menahan ketegakannya dengan dua kaki yang mengangkang. Terbayang lagi, olehnya, ayahnya memberikan pesan khusus, yang harus diperhatikan agar ia bisa tetap memakai sepeda motor itu. Ini bukan punyamu, kata ayah, ini kepunyaan bapak yang dititip-pakaikan kepadamu, karenanya akan ada evaluasi setiap minggu-apa masih layak diinventariskan apa pasnya dicabut. Ya! Akan tetapi, seingatnya, gertakan itu cuma efektif tiga bulan. Setelah itu ia benar-benar menguasainya. Dan kini ia akan menjadikannya Hadiah Utama Toto (gelap) Singapura, di kisaran empat angka, per lima puluh ribu tombok.

Kemungkinan cuma sepersepuluh ribu,” kata Nasir, serius. Khairan tersenyum dan mengiyakan dengan sungguhsungguh. “Pokoknya kamu tenang-tenang saja, Sad,” kata Nasir. “Kamu duduk-duduklah, megang surat-suratnya-sementara itu masih bisa dipakai ngojek sama Sitol, dengan setoran biasa.” Setengah berbisik, menghindarkan pendengaran Khairan, “Dan sementara itu kamu pun bisa aman-aman saja ngeloni Saimah. Beres! Bapaknya pasti meneng. Lha wong kowe melu mbandari …” Khairan menatap, curiga, “Apa? Ngomong apa?” Nasir memberi isyarat telunjuk di mulut.

“Sudah sana!” katanya sambil mendorong Arsad pelan menegakkan sepeda motor. Melangkah. Melemparkan kunci kontak ke arah Nasir. Jalan ke pintu belakang warung. Menyelinap dan masuk kamar yang pengap dan remang. Saimah menyusul dari depan. Menyibak tirai pudar dan merangkul Arsad dari belakang, Arsad menangkap dan meremas dua belahan pantat yang bagai punuk dan tanpa berlapiskan celana dalam. Saimah menjerit artifisial sambil mendorong Arsad ke arah pembaringan yang berantakan, dengan payudara yang berdenyut. Radio menyerukan dangdut.

Itu hari keduapuluh delapan berada di luar rumah. Dan mungkin tepat pada hari yang keseratus satu, Arsad mengenal Suimah. Perkenalan tidak disengaja sebenarnya. Ia membolos bersama Taberi. Menghindar dari sekolah, menjauh dari keramaian, dan menyuruh di pangkalan ojek di mulut jalan ke Perumahan Ganda Mekar. Abai bergabung dengan banyak orang-para pengojek, preman dan pemabuk, dan utamanya pemalas yang hanya omong dan terus omong sambil berjudi. Motornya dipakai ngojek sembarang orang, dan karenanya mendapat duit buat modal ngombe atau ngepil. Mungkin cuma memesan kopi, makan jajan, dan makan diawali dan ditutup oleh merokok di warung Khairan. Terkadang Arsad hanya nongkrong, bermalasan di warung itu, berbincang dengan istri Khairan, atau menggoda Saimah.

Itulah awalnya, Saimah makin genit, orangtuanya semakin permisif, dan Arsad pun menikmati hari-hari manis, dengan semena-mena merangkul, menggerayangi dan menciumi Saimah. Orang-orang mendelik. Tapi, Khairan-setengah preman karena istrinya yang sebenarnya membanting tulang menyambung hidup-lembut menenangkan mereka. “Biarlah,” katanya, “Toh kita tahu ia berduit dan orangtuanya sugih.” Orang-orang tersentak. Khairan menenangkan. “Kita ini orang dagang,” katanya. “Dan mempunyai anak perawan bermakna mempunyai barang dagangan. Berharap, siapa tahu akan mendapat jodoh lelaki yang genah. Nakal sedikit kayak si Arsad lumayanlah, biar bisa kompak dengan mertua. Ya kan?” Orang-orang pada tertawa. Terlebih karena Arsad semakin sering membawa Topi Miring, yang diedarkan berkeliling di antara orang yang berbual atau main kartu. Berjoget dengan tape dan terbahak-bahak. Sepanjang waktu.

Lantas mereka pun mulai memanggil Arsad dengan sebutan bos. Sekaligus itu membuat Arsad semakin butuh duit untuk menyenangkan banyak orang. Utamanya Saimah, yang melingkar manja tanpa celana dalam dan bra-meski masih memakai rok terusan longgar. Dan Arsad pun semakin jarang pulang sekaligus semakin jarang masuk sekolah, karenanya semakin tidak mempunyai duit. Sekali-empat puluh hari lalu -menyelinap ke rumah ketika orangtuanya masih di kantor, dan menjebol lemari untuk mengambil perhiasan. Memberikan sebagian kepada Saimah, dan menjual sisanya. Khairan-matanya berkilau-cepat-cepat mengundang tetangga dan menikahkan Arsad dengan Saimah dalam perkawinan siri. Dan disusul pesta mabuk semalam suntuk. Orang-orang kampung menggeleng-gelengkan kepala. Pak RT tak berdaya, bahkan untuk sekedar mengusik keasyikan mereka. Mungkin karena lega karena kini Arsad resmi jadi suami Saimah. Ia menganjurkan agar Khairan mau mengurusnya ke KUA agar semakin kukuh. Khairan cuma tertawa. Ibunya Saimah lembut mengangguk. Saimah tersenyum dan terus tersenyum. Menemani Arsad mabuk lalu menyeretnya ke kamar meski tak lagi ada bulan madu. Siklus haid Saimah sudah telat seminggu.

Dua minggu kemudian Arsad benar-benar bangkrut. Cemberut dan makin sering marah. Khairan bungkam. Istrinya mulai menyindir. Arsad semakin sebel kepada Saimah-dan yang direcoki balas memaki. Arsad pun menyuruh Nasir untuk menjualkan sepeda motornya. Akan tetapi, Nasir malah memunculkan gagasan yang sangat kontroversial. Menjadikan sepeda motor itu modal untuk hadiah tombokan Toto (gelap) Singapura. “Seminggu bisa empat kali,” katanya. Khairan tersenyum. Itulah awalnya Arsad pun jadi orang yang berpenghasilan. Dan Saimah makin manja, sedangkan Ibu Mertuanya sukarela menyervis. Surga telah kembali.

Hari itu-seperti biasa-Nasir akan berkeliling dengan sepeda motor Arsad. Ia seorang sales yang gigih, ia seorang sales yang agresif, dan karena itu ia mampu mencukupi Arsad dan dirinya sendiri. Membawa tas pinggang, memboncengkan si Krowak atau Brewok sebagai pengawal pribadi, dan berkeliling ke mana saja. Akan tetapi, terkadang orang masih datang untuk tombok nomor di warung Khairan. Duyunan orang yang menyetor keberuntungan, pikir Khairan-yang punya dukun kuat sehingga selalu yakin tebakan mereka tidak akan tembus. Meski begitu, selalu, menjelang momen bukaan Arsad memilih mabuk dan tidur agar tidak disentakkan oleh fakta ada yang tembus dan sepeda motornya melayang. Hal yang tidak gampang meski telah dibantu minuman, pil, dan rayuan Saimah.

Hari itu-setelah sarapan nasi goreng, telur dadar setengah matang, dan minum Topi Miring-Nasir memboncengkan Krowak. Menyulut rokok, mblesar-kan gas, meraung saat membuat belokan besar dari jalan hancur arah Perumahan ke jalan utama. Belokan liar itu, penyelonongan itu, memakan marka jalan meski mereka cuma mencari jalur kiri. Pada saat yang sama, dari hadapan, melaju di kelempangan jalan yang lengang seusai jam mengantor, sebuah Station Wagon-dengan bemper depan tambahan dari pipa baja. Dan alur arah lajunya sepeda motor Arsa, yang dikemudikan Nasir, meliuk-liuk, tertekuk-tekuk pendek, bergetar karena tangan si pengendaranya goyah oleh kaget dan mabuk. Tetapi kecepatan sepeda motor itu, akselerasi pertamanya, tak bisa diturunkan. Sedangkan kecepatan Station Wagon itu tetap tinggi meski telah dicoba direm dan dibanting ke kiri. Berderit direm dan dicoba dibanting ke kiri, tetapi kemudian diluruskan lagi ke kanan ke kelurusan karena di tepi jalan itu berjajar kios-kios-bahkan sebuah Angkot berwarna kuning sedang parkir sambil kernetnya, ada di tengah jalan, menyeru ke seberang.

Bunyi tumbukan dan jeritan orang-orang menghias siang itu. Kemudian teriakan memaki dan derap orang berlari memburu. Sebagian menolong Nasir, yang lainnya memburu supir Station Wagon itu. Serentak menghajarnya-bus dalam kondisi setengah mabok yang belum sirna. Menggulingkan kendaraannya dan menghajarnya sampai kacanya remuk dan body-nya penyok. Mungkin akan segera dibakar-dan sopirnya mati-kalau tak kebetulan muncul patroli. PJR yang dengan sigap meletuskan pistol. Lalu lintas sigap diatur. Ambulan menyusul datang setelah pasukan pengaman bantuan didatangkan untuk melokalisasi masalah dan menenangkan warga. Akan tetapi, itu sudah amat terlambat karena si korban spontan diangkut dengan kendaraan yang lewat dan mau mengantarkannya ke RS.

Nasir mati. Kaki, tangan, dan sisi rusuk kanannya remuk. Krowak tertolong, tetapi kaki kanannya diamputasi sedang tangan kanannya hancur tepat di sikut dibiarkan utuh-tergantung lumpuh. Sopir Station Wagon geger otak ringan. Kendaraannya diperbaiki dengan biaya asuransi. Sedangkan motor Arsad jadi sumber masalah. Arsad dipaksa Ayahnya untuk pulang, dan diungsikan ke Panarukan-dipondokkan. Sepeda motornya dituntut dikembalikan utuh kepada keluarga Nasir dan utamanya Khairan. Ia marah ketika mengetahui kalau sepeda motor itu telah berkali-kali dijadikan barang taruhan judi Toto (gelap) Singapur. Ia menuntut. Tetapi Khairan tidak kalah sengit menuntut. Menyatakan bahwa Arsad itu suaminya Saimah sehingga Arsad itu harus bertanggung jawab sebagai suami-dengan menafkahi Saimah.

“Tapi aku tak pernah mengawinkannya!”

“Ya! Betul! Karena aku yang mengawinkannya.”

“Sembarangan! Kalau tahu aku tidak akan sudi menyetujuinya-kamu dengan anakmu yang menyebabkan ia mutung sekolah, mencuri perhiasan ibunya, dan…”

“Betul! Tapi, apakah aku harus menunggu izin Bapak, sementara mereka telah bablas? Anak saya itu, belum pernah pacaran, sudah meteng. Halim! Halim!”

“Terus? Terus?”

“Balikkan ia ke kondisi asal. Utuhkan lagi. Bisa apa ’ndak?”

Kadang Arsad mengirim uang belanja untuk Saimah. Mengeluh tak bisa ke luar dari Pondok. “Aku tidak betah. Aku seperti masuk penjara,” tulisnya. Saimah menangis. Khairan menelan ludah. Kembali mendatangi orangtua Arsad dan minta agar mereka tidak memutuskan tali kasih antara Arsad dan Saimah. Menghiba-hiba sambil lembut mengingatkan anaknya Arsad yang dikandung Saimah. Tetapi kedua orangtua Arsad cuma bungkam. Dua kali lagi Khairan mengiba-iba, tapi tidak pernah dilayani. Dipantati bahkan. Karena itu, Khairan, istrinya, dan Saimah tiba pada kesepakatan kontroversial: Akan membungkus si bayi dan langsung menyerahkannya-pada kesempatan pertama-kepada orangtua Arsad. “Nih,” kalimatnya. “Hasil karya anakmu. Lebih jos ketimbang sepeda motor yang remuk itu!”

Dan memang begitu. Dua hari setelah persalinan, dengan mobil carteran, dengan dikawal Brewok, Dominik, dan Yudiono-yang setengah mabuk-, mereka langsung mendatanginya. Segera, tanpa mampir dulu, dari rumah Bidan. Berparkir di halaman. Mengawal Saimah yang menggendong bayi-diam-diam Khairan menyelipkan celurit-dan langsung ke ruang keluarga lewat pintu ruang tamu yang terbuka di rembang petang. Lantang meneriakkan salam sambil menyelonong. Ibunya Arsad terpekik. Khairan mendelik dan membentakkannya. Ayahnya Arsad bergegas dari kamar.

Kedua lelaki itu liar bertatapan. Si bayi santun disodorkan oleh Saimah, tapi liar ditepiskan sehingga Saimah terdorong ke kursi. Khairan loncat mencabut celurit dan membabatkannya kepada bapaknya Arsad-sekitar delapanpuluh kali. Ibunya Arsad berteriak-teriak. Tetangga berdatangan, tapi mereka pada mundur (surut) ketakutan melihat amuk Khairan. Menyisih ketika Khairan melemparkan celurit pada cacahan bersimbah darah tubuh bapaknya Arsyad. Dan dengan mobil itu juga, bersama si bayi-yang lantas diberi nama Caca Handika-, Khairan melapor ke Polisi.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme