Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen: Lebaran, Ibu, dan Seekor Kucing oleh Warits Rovi

Posted on Kam, 13 Mei 2021

EKORNYA yang meliuk panjang berparam bulu halus-tebal yang berwarna kuning dan putih itu tak lagi memunculkan keindahan di mataku. Setiap kali ia pulang ke kontrakan dan mengeong untuk makan, akhir-akhir ini kerap kuabaikan hingga ia hanya meringkuk di pojok dapur dengan mata redup dan lidah menjilat-jilat kaki depan. Aku baru memberinya makan bila ia ada di sana.

Aku menjaga jarak dengan kucing yang sebelumnya selalu tidur bersamaku itu. Berkali-kali ia berusaha masuk ke kamar, tapi selalu kuusir hingga ia pergi sambil mengibaskan ekornya dengan gerak yang lemas. Seiring persebaran Covid-19 makin merebak, gerak Barto makin kubatasi. Memasuki bulan puasa, ia hanya kuperbolehkan pulang hingga di teras. Ia sering mengeong keras bermaksud hendak masuk sambil ke sana kemari seperti memanggil-manggil namaku. Aku sekadar mengintip dari kaca jendela dan melemparinya makanan sekadarnya.

Setahuku Barto punya banyak betina di sepanjang gang pepaya ini. Setiap kali keluar rumah, tentu ia akan bersentuhan dengan betinanya. Di antara betina-betina itu bisa saja salah satunya milik orang yang positif Covid-19. Jika demikian, tubuh Barto sedang membawa virus mematikan itu. Aku tak ingin kucing itu menularkannya padaku. Sebab, jika itu terjadi, aku pasti sakit keras dan meninggal. Kalaupun tidak demikian, aku akan menularkan virus itu kepada yang lain. Lebih-lebih kepada ibu yang berada nun jauh di sana ketika nanti aku pulang kampung. Aku tak ingin hal itu terjadi.

“Maaf, Barto. Untuk sementara, keadaan dunia sedang mengubah keakraban dan kebersamaan kita saat ini,” batinku di balik kaca jendela. Barto mengeong mondar-mandir di luar.

#

Aku membayangkan malam Lebaran di kampung: ibu duduk di depan tungku, menyorong carahan kayu nyamplung kering hingga apinya berkobar, membuat air dalam panci bergelegak. Mengepulkan asap putih yang membubung. Keringat ibu membutir di dahinya, menduga-duga satu atau dua jam lagi ketupat yang dimasaknya akan matang.

Sedang di luar, langit kelam ditaburi pecahan cahaya kembang api dan jalanan berbedak sobekan kertas halus dari petasan yang meledak, asap bau potasium memenuhi pembauan. Aroma kue dan masakan dari dapur-dapur seolah berpapasan karib dan saling sapa dengan suara takbir dan tahmid yang melengking lembut dari speaker surau dan masjid-masjid.

Biasanya ibu akan mengingatkanku dengan tatap mata suram. Bahwa besok sesudah salat Id mesti berziarah ke makam ayah, membawa bunga, dupa, dan membaca Fatihah.

“Ah! Tahun ini tak mungkin!”

Aku menutup jendela. Menjatuhkan tubuh di kasur. Membenamkan wajah dalam impitan bantal-bantal, merasakan lelehan dingin di pipi dan di kejauhan ada sosok ibu seperti memanggil-manggil namaku dengan suara serak.

“Meooong!” tiba-tiba suara Barto di dekat telinga. Aku sangat terkejut setelah memindah bantal dan membuka mata, ternyata ia berada di samping kepalaku. Sontak aku berdiri dan mengibaskannya hingga ia sedikit terlempar ke luar pintu.

“Huhh! Virus!”

#

Ibu mengabarkan semuanya melalui telepon bahwa dia sudah menyiapkan hal-hal yang berhubungan dengan Lebaran sejak tanggal 15 Ramadan. Kue tupaserat, bajik, halwa, dan kue khas Madura lainnya yang menjadi kesukaanku telah dia kemas rapi dalam stoples karet bergambar pecahan kelopak bunga yang ibu beli atas permintaanku dulu ketika usiaku masih 5 tahun.

Rumah sudah dia bersihkan dan bagian eksteriornya telah dicat ungu sesuai dengan permintaanku beberapa minggu sebelum puasa. Ibu menghabiskan separo uang yang kukirimkan beberapa waktu lalu untuk membeli cat dan mengongkos tukang.

Tak hanya itu, ibu juga sudah memesan rentengan petasan kepada Man Umar yang sejak dulu memang dikenal sebagai pedagang petasan paling bermutu di desaku. Ingatan ibu masih tajam. Bahwa aku gemar menyulut petasan pada malam Lebaran atau seusai salat Id di surau Kiai Hanif.

“Pokoknya kamu harus pulang. Semua kesukaanmu di Hari Lebaran sudah ibu siapkan dengan susah payah, Cong!” pinta ibu di ujung telepon dengan suara lembut yang diulang dua kali. Aku menjelaskan dengan rinci kenapa Lebaran tahun ini tidak bisa pulang. Ibu menyimak dengan baik semua penjelasanku, tapi pada akhirnya tetap memaksaku untuk pulang. Ibu tidak tahu bahwa pandemi benar-benar ada. Dan dia malah mengabarkan beberapa teman sepermainanku yang nekat mudik dengan sembunyi-sembunyi. Ada yang ikut truk pengangkut barang, ada yang ikut travel dengan harga mahal, dan ada yang menempuh jalur laut melalui sampan kecil yang penuh risiko.

“Semua pulang demi berlebaran di kampung. Mereka rela berkorban demi berlebaran dengan keluarga. Kamu harus seperti mereka,” suara ibu agak nyaring. Sejenak kami terdiam. Hanya napas ibu yang terdengar naik turun.

Di akhir percakapan aku hanya minta kepada ibu untuk mempertimbangkan semua itu. Aku yang semula tak ingin mudik, sedikit demi sedikit muncul keinginan untuk mudik. Tapi, aku bimbang, khawatir aku membawa virus yang malah membawa pengantar kematian bagi ibu.

#

Aktivitas menarik yang bisa mengusir kegalauan tidak lain adalah menyiram bunga. Sore itu pikiranku berkecamuk oleh dua keinginan antara pulang kampung atau tidak. Wajah ibu selalu berkelebat di kelopak mata. Seolah aku durhaka bila di Hari Lebaran nanti tidak bersamanya. Aku memaklumi itu karena ibu hanya hidup sendirian. Setahun tanpaku tentu memunculkan rasa rindu yang mendalam dari seorang ibu kepada anak satu-satunya. Tapi, keadaan pandemi membuatku bimbang. Aku galau dan gundah.

Kuambil bor berleher mirip angsa. Mulai menyiram bunga pada pukul 4 sore. Selain mengusir galau, hitung-hitung sambil menunggu waktu berbuka puasa. Ujung bor yang dipenuhi lubang-lubang halus memancarkan air dengan alir halus yang menyebar lebar ke sekitar mirip kelopak bunga yang panjang. Aku memulainya dari jenis bunga-bunga yang kecil hingga jenis bunga yang besar. Angin sore bertiup lirih. Perlahan kegalauanku pudar.

Ketika kali keenam aku menyalin air ke tabung bor, tanpa kuduga Barto datang dan langsung menggesek betisku. Aku melompat terkejut seraya melepas bor hingga jatuh ke tanah, menimpa sebagian bunga.

“Huh! Barto!” bentakku seketika. Barto mengeong dan kembali berjalan menuju betisku dengan tatap yang lembut seperti memintaku agar menggendong tubuhnya seperti bulan-bulan lalu ketika belum terjadi pandemi. Aku berusaha menghindar, tapi ia mengejarku.

“Pergi kau, Barto. Kau pasti membawa virus,” kataku nyaring.

Ia terus mengeong, berlari menyusuri rerimbun bunga hingga ia melompat ke luar pagar di bagian timur.

Ketika berbuka puasa, aku baru sadar, sudah tiga hari Barto tak kuberi makan. Mungkin tadi ia datang untuk mengisi perutnya yang keroncongan. Aku sedikit kasihan pada kucing itu. Saat kulihat ke luar pagar, ternyata sudah tidak ada.

Saat aku melangkah untuk mencari Barto ke arah gang pepaya, tiba-tiba ponsel berbunyi, ada panggilan dari ibu. Saat kuterima, suara pertama yang kudengar adalah isak tangis. Aku terkejut. Sejenak tak ada kata-kata.

“Kenapa ibu seperti menangis?” aku membuka percakapan.

“Apa kamu tetap tak ingin mudik, Nak?” ibu balik bertanya.

Sebentar aku balik masuk ke pekarangan dan mengunci pintu pagar.

“Lebaran sudah di depan mata, Nak! Jika kamu tak punya uang, biar perhiasan ibu kujual dan uangnya akan kukirimkan kepadamu.”

“Oh, tidak, Bu, bukan karena saya tak punya uang.”

“Lalu karena apa?”

“Begini, Bu. Sekarang ada anjuran agar tidak mudik dulu. Semua orang lebih baik di rumah saja. Agar tidak terkena virus korona, Bu. Virus itu sangat mematikan.”

Ibu hanya terdiam, mungkin bimbang mau menjawab apa. Suara isaknya masih terdengar.

#

Berlebaran di tanah rantau cukup membuat rasa rindu kepada keluarga begitu tajam. Tapi, tahun ini, semua itu harus terjadi demi keselamatan bersama. Subuh hari ketika gema takbir, tahlil, dan tahmid kemenangan dilantunkan di masjid-masjid, kerinduanku kepada ibu makin mengiris batin. Tak terasa air mata berlinang. Segera kupanggil dia. Aku ingin mendengar suaranya di hari yang fitri ini.

Setelah tiga kali panggilan, akhirnya baru diterima. Aku bisa meminta maaf padanya. Suara ibu serak dan lemas. Isak tangisnya kembali kudengar, ternyata ibu sedang sakit. Tapi, meski dirinya sakit, ibu sudah menyiapkan ketupat kesukaanku sejak semalam.

“Saya kan tidak ada di situ. Lalu bagaimana dengan ketupat itu, Bu?”

“Nanti sesudah salat Id, aku akan memanggil bocah-bocah ke sini. Biar mereka yang makan ketupat ini. Aku akan menganggap mereka adalah kamu yang lain yang kini bersamaku,” suara ibu lirih, beriring isak. Tak terasa air mataku juga tumpah. Setelah puas kami berbincang, lalu telepon kumatikan. Dadaku gundah karena teringat ibu. Demi sedikit mengobati kegundahan itu, aku menuju pekarangan, menyejukkan mata dengan melihat bunga-bunga berkeramas embun.

Setelah beberapa langkah di antara barisan bunga melati, aku terkejut melihat Barto terkulai lemas. Semut-semut sudah memenuhi ekornya. Aku berteriak memanggil namanya. Tapi tak berani menyentuh. Aku tetap khawatir ia membawa virus.

Suara takbir, tahlil, dan tahmid masih menggema. Aku bingung bagaimana harus meminta maaf pada kucing kesayanganku itu. (*)

Rumah Ibel, 2021

 

WARITS ROVI: Lahir di Sumenep, 20 Juli 1988. Memenangi beberapa lomba karya tulis sastra. Telah menerbitkan buku cerpen ”Dukun Carok & Tongkat Kayu” (Basabasi, 2018) serta buku puisi ”Kesunyian Melahirkanku sebagai Lelaki” (Basabasi, 2020).

sumber : JAWAPOS, Kamis, 13 Mei 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme