Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Ubi Jalar Madu oleh Agus Pribadi

Posted on Sab, 08 Agu 2020

Ibu—dia adalah ibu tiriku yang kerap menyakitiku saat ayah masih hidup—sepertinya telah berubah sejak ayah tiada awal tahun 2020 ini. Beliau—sebelumnya sering marah-marah padaku tanpa sebab, terutama jika ayah sedang tidak di rumah—lebih banyak mengunci mulut, tetapi juga lebih banyak menyibukkan diri dengan menanam berbagai tanaman di halaman rumah. Aku tak tahu, apa ibu berpura-pura berubah menjadi baik padaku atau ibu memang sudah benar-benar berubah. Aku kerap mendapatinya sedang menanam berbagai tanaman, dan akhir-akhir ini aku melihat ibu kerap melamun di depan tanaman ubi jalar madu yang ditanamnya di halaman rumah. Seperti memandang sebuah lautan yang permukaannya berwarna hijau keunguan, ibu betah berlama-lama mengamati daun-daun tanaman menjalar yang siap panen itu.

Seperti sore itu, ketika aku datang ke rumah ibu, ia sedang memandangi tanaman itu. Sedikit kaget ibu mengampiriku.

”Kau datang sendiri Asih, mana suami dan anakmu? Ibu kira kau sudah melupakan ibu.” Ibu menyambutku dengan pelukan, kusambut dengan pelukan hambar. Aku hanya mengangguk kemudian bergegas masuk ke dalam rumah lewat pintu samping. Aku masuk ke sebuah kamar di bagian pojok belakang—kamar yang dulu kutempati di rumah itu sebelum aku menikah dengan Mas Budi, suamiku.

Aku belum bisa menghilangkan ganjalan di hatiku pada ibu. Aku masih teringat perlakuannya padaku saat dulu ayah masih hidup. Ayah menikah dengan ibu ketika usiaku sembilan tahun, sementara ibu seorang gadis dari kampung sebelah. Ibu kandungku meninggal karena sakit. Bersama ayah, ibu tidak dikaruniai anak sampai ayah tiada.

Ayah meninggal—karena sakit yang cukup lama dideritanya— tepat di malam tahun baru 2020. Kami begitu kehilangan, termasuk juga ibu yang hanya tinggal bersama ayah. Setelahnya, ibu tinggal seorang diri—menjalani sisa umur dengan menanam tanaman yang disukainya di halaman rumah. Aku menawarkan ibu untuk tinggal bersama kami di luar kota, tapi ibu menolaknya.

”Sampai kapan pun ibu akan tinggal di sini. Ibu ingin selalu mengenang ayahmu di rumah ini. Tak mungkin ibu meninggalkan tempat ini. Jika pergi dari sini berarti ibu meninggalkan ayahmu. Tak Mungkin. Makna ayahmu bagi ibu terlalu dalam, Nak.” Begitu jawaban ibu setiap kali aku mengajaknya untuk tinggal bersama. Mas Budi juga selalu khawatir pada ibu dan mendesakku untuk mengajaknya tinggal bersama kami. Namun, ibu selalu menolaknya. Aku pun mengalah, setiap aku ada keperluan ke kota di mana rumah ibu dekat dengan kota itu, aku menyempatkan diri mampir ke rumah ibu, tentunya sudah minta izin pada Mas Budi. Dan, Mas Budi pun mengizinkan dan mendukung penuh apa yang aku lakukan, kecuali sikapku pada ibu yang belum bisa berubah: aku masih memendam bara di hati pada ibu. Awalnya aku berniat akan bersikap ramah, tetapi ketika bertatap muka dengannya, aku tak mampu melakukannya.

Baca juga: Aroma Kopi Surga

Aku selalu teringat ketika ibu memaki-makiku tanpa sebab; menghukumku ketika telat pulang karena mengerjakan PR secara berkelompok di rumah teman. Jika ada ayah pun ibu kerap membentak dan menghukumku, apalagi jika tidak ada ayah. Misalnya ketika tak sengaja aku memecahkan piring yang baru saja kucuci. Sumpah serapah ibu seperti peluru yang diberondongkan dari sebuah senapan ke arahku.

Suatu sore—waktu itu aku kelas tiga SMP— aku belajar kelompok di rumah teman. Aku pulang terlambat karena ada tugas sekolah yang harus kami kerjakan, dan tugas itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Aku pulang ke rumah bakda magrib, padahal ibu telah mewanti-wantiku untuk pulang sebelum magrib.

”Kalau nanti kamu pulang terlambat, tidur di gudang atas!”

Sesampai di halaman rumah, aku disambut oleh wajah ibu yang seperti bara. Mulut ibu seperti mengeluarkan suara petir. Mata ibu seperti keluar dari tempatnya. Tangan ibu berkacak pinggang seperti capit kepiting yang hendak menjepit mangsanya. Malam itu ayah sedang tidak di rumah karena piket kerja malam hari. Semalaman aku diperintahkan ibu untuk tidur di gudang. Semalaman itu aku menangis sesunggukan. Kejadian bertahun-tahun lalu itu seperti melekat kuat di batok kepalaku.

Di kamar, aku tiduran, sambil terbayang kejadian-kejadian menyakitkan dulu yang dilakukan ibu padaku, juga mengingat ayah yang selalu kurindukan. Ayah bagiku seperti embun yang selalu kurindukan kesejukannya. Tutur katanya embun. Senyumnya embun. Kasih sayangnya embun.

Aku melinangkan air mata mengingat itu semua. Tak terasa waktu sudah cukup sore, aku harus pulang. Ibu menyapaku, ”Mau ke mana, Asih? Masih belum terlalu sore kok.”

”Pulang.”

”Kamu bawa ubi jalar madu ya? Bisa direbus atau untuk buat kolak, rasanya enak sekali.”

”Mas Budi dan Wening kurang suka ubi jalar. Nanti malah mubazir kalau aku bawa.”

Terlihat wajah kecewa ibu karena aku menolak pemberiannya. Padahal sebenarnya aku ingin sekali mencicipinya. Namun, rasa gengsi mengalahkannya.

Dalam perjalanan pulang—di atas sepeda motor matic—aku terus memikirkan tentang ibu dan ubi jalar madu. Ingin rasanya memaafkan ibu, tetapi sampai detik ini aku belum mampu melakukannya.

Aku melinangkan air mata mengingat itu semua. Tak terasa waktu sudah cukup sore, aku harus pulang. Ibu menyapaku, ’Mau ke mana, Asih? Masih belum terlalu sore kok.’

Meski masih ada ganjalan di hati, tetapi aku tak bisa untuk tidak mampir ke rumah ibu. Rumah di mana aku dulu dilahirkan dan dibesarkan oleh dua ibu, dan seorang ayah. Rumah yang ditumbuhi berbagai tanaman. Menurut ayah, tanah di mana rumah itu berdiri dulunya adalah sebuah kebun yang sering digunakan oleh warga untuk membuang sampah. Setelah ayah membeli tanah itu, kemudian ayah membersihkannya dan meratakannya. Secara perlahan ayah membangun rumah, membuat tembok keliling, dan menanami tanaman di halaman depan, samping kanan, kiri, dan belakang. Berbagai tanaman buah dan sayur ditanamnya, seperti: mangga, jeruk, bayam, kangkung, jahe, sereh, rambutan, sawo, cabe, kedondong, ubi kayu, ubi jalar, dan banyak tanaman lainnya.

Sesampai di rumah, aku menceritakan semuanya pada Mas Budi.

”Seharusnya kamu tidak bersikap seperti itu.”

”Aku masih teringat perlakuan-perlakuan ibu padaku dulu.”

”Sekarang ibu sudah berubah.”

”Aku belum bisa berubah.”

”Harus bisa.”

Semalaman aku tak bisa tidur. Wajah ibu memenuhi isi kepalaku. Sudah ada gurat-gurat ketuaan di wajahnya—ketika aku menatapnya dari dekat—meski masih kentara wajah cantiknya saat muda dulu. Usia yang sudah di atas 60 tahun, tetapi ibu masih tampak cantik dan sehat.

***

Hari-hari berlalu, keinginan untuk mampir ke rumah ibu dan mencicipi enaknya rasa ubi jalar madu harus aku tunda. Kasus Covid-19 telah sampai ke Indonesia. Aku dan suami harus bekerja dari rumah di masa pandemi ini. Perasaanku bercampur aduk antara kerinduan pada ibu dan keinginan yang tertahan. Empat belas hari mengurung diri di rumah seperti empat belas bulan. Pada hari berikutnya, aku memutuskan untuk ke rumah ibu.

”Jangan lupa pakai masker,” ucap Mas Budi.

”Iya Mas.”

Aku melaju—dengan motor matic-ku—menyusuri jalanan menuju rumah ibu. Jalanan terlihat lengang, hanya satu dua yang melintas. Setiap orang yang berkendara memakai masker. Sebuah pemandangan yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Sesampai di depan rumah, aku melihat ibu sedang memanen ubi jalar madu. Rumah ibu seperti berada di tengah-tengah lautan berwarna hijau keunguan. Setelah ayah meninggal, ibu rajin menanam tanaman itu di sekeliling rumah. Ibu tetap hangat memelukku. Aku membalas pelukan hangatnya. Aku menangis sesenggukan.

”Mari kita ngopi. Ibu sudah merebus ubi jalar madu untuk teman ngopi.”

Kami menuju ke dapur. Ibu membuat dua cangkir kopi, dan menghidangkan sepiring ubi jalar rebus. Aku mencicipinya.

”Enak sekali, Bu. Empuk dan manisnya pas.”

’Mari kita ngopi. Ibu sudah merebus ubi jalar madu untuk teman ngopi.’

”Tanah di halaman rumah ini memang sangat subur. Dulu ayahmu rajin memberi pupuk kandang. Ibu hanya melanjutkan apa yang dulu biasa ayahmu lakukan. Tetangga dekat rumah pun ada yang dengan senang hati memberi pupuk kandang pada ibu. Dan, para tetangga pun senang dengan rasa ubi jalar yang ditanam ibu. Mereka ingin membelinya, tetapi ibu ingin memberinya saja.”

Aku mendengarkan cerita ibu sambil menikmati empuk dan manisnya rasa ubi jalar madu. Ibu melanjutkan ucapannya, ”Nanti kamu membawa ubi jalar ya? Sebentar lagi kan ramadan, bisa kamu buat kolak dicampur dengan kolang kaling, rasanya sungguh nikmat.”

***

Ketika akan pulang, aku mengurungkannya ketika melihat para tetangga berdatangan. Mereka semua mengenakan masker.

”Kami ingin membeli ubi jalar Madu, Bu.”

”Iya Bu. Rasanya enak sekali, dan tubuh kami terasa segar sepanjang hari.”

”Iya, Bu. Di masa sulit seperti ini, kami suka sekali merebus ubi jalar madu, dan membuat makanan lainnya dari ubi itu.”

”Iya rasanya empuk sekali, manisnya pas. Pokoknya enak sekali.”

”Iya kami ingin membelinya, Bu Hamdan.”

Mereka berdatangan tidak hanya tetangga dekat, tetapi juga tetangga jauh di ujung kampung. Berita tentang enaknya ubi jalar madu yang ditanam ibu telah menjalar ke seluruh penjuru kampung. Meskipun jumlahnya banyak, mereka tidak berdekatan, mereka berbaris rapih lurus ke belakang satu satu, dengan jarak sekitar satu setengah meter.

”Baik ibu-ibu, nanti akan saya bagi saja secara gratis. Memang saya niatkan menanam tanaman ini untuk dibagikan pada ibu-ibu semua,” ucap ibu pada mereka yang datang.

Aku dan empat orang tetangga membantu ibu memanen ubi jalar madu. Hasil panen sungguh menakjubkan. Ubi jalar madu besarnya rata-rata sebesar tangkupan dua telapak tangan orang dewasa. Sampai senja hari, kami selesai memanen dan membaginya pada para tetangga yang datang. Tak ada satu pun dari mereka yang tidak kebagian. Masih ada sisa ubi jalar madu yang disimpan ibu di dapur.

Mas Budi dan Intan—anak semata wayangku yang berusia lima tahun—menyusulku ke rumah ibu. Malam ini kami menginap di rumah ibu. Keesokan harinya, kami membantu ibu menanam ubi jalar madu di sekeliling rumah.

”Ibu akan menanam tanaman ini terus sampai pandemi ini berlalu. Ini perintah ayahmu dalam mimpi. Ayahmu berpesan untuk terus membagi ubi jalar madu pada tetangga selama masa sulit ini. Dan ayahmu pun mendoakan semoga pandemi ini cepat berlalu.”

Malam-malam berikutnya ibu seperti kelelahan. Ibu mencegah kami pulang. kami menunggui ibu yang terbaring. Tubuhnya kian lama terlihat kian ringkih dan letih. Meski telah berobat, ibu tetap terbaring di kamarnya, kemudian memejam selamanya.[]

Banyumas, Juni-Juli 2020

****

Agus Pribadi : lahir di Purbalingga, 10 Mei 1978. Guru IPA di SMP Negeri 5 Mrebet, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Mengikuti: Kelas Cerpen Kompas 2018, Ruang Kreatif #ProsaDiRumahAja Galeri Indonesia Kaya 2020, Webinar Cerpen Merawat Ingatan Lewat Cerita Kompas Institute 2020. Buku kumpulan cerpen terbarunya ”Hadiah Istimewa untuk Ibu” (2020).

sumber : kompas.id, 08 Agt 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme