Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Jalan Sunyi Menuju Mati oleh Fandrik Ahmad

Posted on Ming, 09 Agu 2020

Tak ada kesunyian yang lebih sunyi selain mati bersamaku. Kematian tanpa iringan pelayat. Kematian tanpa tangis sanak dan kerabat. Bukankah kematian mestinya dirayakan, bukan terjebak dalam kesunyian?

Aku bersembunyi di sebuah tempat paling sunyi. Tempat tanpa cahaya. Tempat yang sejatinya bukan pilihan yang tepat untuk menghabiskan hari tua. Pilihan ini semata demi menyelamatkan manusia dari kesunyian yang menyayat hati. Diriku mengandung ribuan zoonosis mematikan yang bisa menular kepada siapa pun. Kapan pun. Di mana pun. Seperti virus rabies, SARS, MERS, ebola, hanta, dan berbagai virus mematikan lainnya. Demi misi sosial, biarlah sunyi, aku dan sebangsaku yang menikmati.

Dimensi gelap, sunyi, dan dingin merupakan cara terbaik mengisolasi diri. Itulah sumbangsihku menjaga kesinambungan roda kehidupan. Tahukah engkau betapa bulu hitam kelabu di kulitku akibat sebaran hormon yang tidak stabil? Ya, ribuan zoonosis itulah yang mengacaukan sebaran hormon di tubuhku.

Aku memang meminta kepada Tuhan agar bangsaku dilahirkan dalam keadaan buruk rupa. Rupa yang menyeramkan. Rupa yang menjijikkan. Rupa yang membuat bulu kuduk merinding. Aku juga meminta kepada Tuhan agar anak-anakku dilahirkan dalam keadaan tidak sempurna penglihatannya agar mereka tidak terbebani dengan nasibnya sendiri. Permintaanku kepada Tuhan bukan tanpa alasan. Sebagai bagian dari darah dan dagingku, tentu aku juga akan mewariskan ribuan penyakit yang bertakhta di sepanjang aliran darahku.

Tuhan bermurah hati. Anak-anakku terlahir sesuai yang aku inginkan: bermata hitam legam, bulu kulit hitam kelabu, bermoncong, dan bertaring. Mungkin doaku terkabulkan sebagai balas jasa karena aku sudah bersedia menanggung titipan ribuan penyakit dari-Nya.

Ketika anak-anakku lahir, aku bawa mereka ke tempat paling gelap dan sunyi. Tempat yang tak mungkin terjamah oleh tangan-tangan siapa pun. Aku latih mereka mempertajam ekolokasi. Mendengar dan mengeluarkan pantulan bunyi sebagai alat navigasi. Bukankah anak siapa pun, meski bukan sebangsa dengan kita, apabila diasuh dengan cara kita, maka ia akan hidup dengan cara kita? Semua hanya butuh pembiasaan.

Aku ajari mereka cara hidup tidak normal. Mencari makan di waktu malam. Istirahat di waktu siang. Sepasang sayap tipis yang dihadiahi Tuhan sangat membantu kami terbang di kesunyian malam. Apabila matahari telah menyumbulkan cahayanya, di situlah sepasang sayap tipis ini beralih fungsi menjadi pelindung diri. Kami istirahat. Bergelantungan membungkus diri. Sepasang mata yang sudah terbiasa dengan kegelapan, terlalu silau dan perih menatap cahaya.

Malam jatuh tanpa sepotong rembulan. Kepakan sepasang sayap terbang di antara reranting. Daun-daun tampak basah oleh embun. Pada sebuah gang yang meninggalkan sunyi, aku dan anakku melesat di bawah temaram lampu jalanan. Sesekali memburu serangga yang mengerumuni bohlam. Namun, kami lebih suka mencicipi buah, daun, nektar, dan serbuk sari sambil lalu menatap bintang yang bertengger di angkasa.

Tahukah engkau, melihat dunia dari sisi berbeda membuat banyak hal tercipta. Nama codot atau kampret, misalnya. Nama itu ternyata tidak hanya disematkan kepada kami. Manusia-manusia yang terbelalak mengais rezeki di sepanjang malam, di jalan-jalan kelam nan sunyi, sering dikaitkan dengan kami. Bedanya, kami terbang di antara reranting, sementara mereka merayap di antara pagar dan tembok tetangga.

”Apa mereka saingan kita?” tanya anakku.

”Tidak, Sayang. Mereka tidak suka makanan kita,” tukasku.

”Lantas mengapa mereka mencari makan di malam hari juga?”

”Mereka hanya kurang beruntung. Menempel, mengais, bahkan merampas hak orang lain.”

”Apakah kita juga seperti mereka?”

Aku tercekat sebentar. Berpikir memberikan jawaban yang tepat dan benar. Tak bisa aku mungkiri betapa mereka dipanggil codot atau kampret karena hampir mirip dengan pola dan tingkah kami. Tetapi kami merasa masih lebih terhormat. Apa yang kami lakukan semata hanya siklus rantai makanan. Menjaga keseimbangan proses kehidupan.

Anakku menatap tajam menunggu jawaban. Akhirnya, aku ceritakan saja apa yang pernah aku pinta kepada Tuhan.

Aku teronggok lemas di sudut los pasar. Golok dan pisau bergantian berayun di atas talenan. Mencabik, mencincang, dan mengiris daging dengan berbagai macam ukuran. Sesekali benda-benda tajam itu dibilas dengan air di dalam drum besar. Anyir darah meruak tajam.

Entah bagaimana caranya aku bisa sampai ke sini. Sekawananku yang lain juga tampak terlihat. Ada ular mendesis geram di dalam goni. Ada jangkrik meloncat panik di dalam plastik. Ada kodok menatap pasrah. Ada tikus menggigit jeruji kawat. Ada laba-laba berputar-putar. Ada kalajengking bersikap awas. Ada anak koala tampak cemas. Ada rubah teronggok mati dan ada buaya tinggal kulitnya. Ada babi terlihat hangus dan salakan anak anjing yang menyedihkan.

Anakku! Di mana anakku?

Aku memberontak sekuat tenaga. Namun, balok kawat yang mengurungku terlalu kuat untuk dipatahkan. Golok dan pisau terus berayun bergantian. Belum lagi percakapan antara pedagang dan pembeli yang terdengar sangat memuakkan. Pendengaran coba kuruncingkan. Mencari setitik suara yang sangat aku kenal. Gagal! Benar-benar gagal. Suara anakku tak terdengar. Hanya suara gemuruh sekawanan laba-laba yang masuk wajan penggorengan.

Anakku! Di mana anakku?

Aku mendesis geram. Kekuatan sudah tak sebanding dengan kepanikan. Sepasang tangan terbungkus sarung karet memindahkan tubuhku pada balok kaca yang berukuran lebih kecil. Balok kaca yang disodorkan oleh dua lelaki di depannya. Aku hanya bisa menatap geram.

Dua lelaki membawaku keluar dari pasar. Mataku tak menangkap nuansa hitam pada pakaian yang mereka kenakan. Mereka terus berjalan. Bercakap-cakap dengan bahasa yang tidak aku mengerti. Aku terus memberontak di dalam balok kawat. Sekujur tubuh mulai perih karena luka-luka. Virus-virus yang bersarang di tubuhku mulai menemukan ruang terbuka. Berhamburan tanpa jeda.

Anakku! Di mana anakku?

Aku masih bersama dua lelaki yang kini mengenakan pakaian hazmat. Mataku terasa tak melihat apa-apa. Semua serba putih dan terasa silau di mata. Aku terus berdoa semoga Tuhan menyelamatkanku dan mempertemukan kembali dengan anakku. Jika tidak, aku akan terus mengembara. Mencarinya sampai ujung dunia.

Mataku mulai berkunang-kunang. Cairan pada jarum suntik tadi melemahkan seluruh persendian dan organ saraf. Aku teronggok tak berdaya di dalam kotak kecil berdinding kaca. Mataku berkaca-kaca. Perasaan bercampur aduk antara memikirkan nasib anakku dan nasib virus di dalam tubuhku yang akan keluar dan mencari inang baru.

Lelaki itu mulai memainkan irama. Sesekali bercakap-cakap dengan nada yang sangat pelan. Tangannya yang terbungkus sarung lateks mulai memainkan handle scalpel. Ia memilih blade berukuran paling kecil. Terasa denyut nadinya beradu pelan. Barangkali sudah saatnya aku menyerah. Aku kalah. Aku pasrah. Kotak pandora telah terbuka!

Ribuan virus terbang bebas. Hinggap pada pakaian hazmat dan benda-benda di sekitar. Aku turut bermoksa. Menjadi zarah tak kasatmata. Menjadi bagian dari mereka. Aku bisa menyaksikan tubuhku terbujur kaku. Teronggok tak berdaya. Kedua lelaki itu terus bermain-main dengan tubuhku.

Anakku! Di mana anakku?

Aku terus mengembara dalam wujud yang berbeda. Tubuh kedua lelaki yang penuh timbunan daging dan lemak itu sangat cocok bagi tubuhku yang baru. Mereka menjadi inang baru. Di situlah aku tahu betapa lelaki itu kerap keluar masuk pasar membeli binatang sebagai bahan percobaan.

Beberapa pekan terakhir suhu tubuhnya mengalami peningkatan. Batuk kerap tak bisa ia tahan. Tetapi lelaki itu masih tetap sering ke pasar. Kendati terkesan dipaksakan, ia terus berjalan di antara kerumunan. Seperti biasa, golok dan pisau berayun di antara suara-suara yang tawar-menawar. Setelah berhasil mendapatkan apa yang diinginkan, ia melangkah pulang.

Lelaki itu terus terbatuk-batuk di antara pejalan kaki yang melintasi footbridge. Kendati terkesan dipaksakan, ia terus berjalan di antara kerumunan. Tubuhnya seperti menyimpan bara. Bahkan, ia merasa seolah menelan pecahan beling setiap kali menarik napas. Kepalanya mulai terasa berat. Pening tak dapat ditolak. Satu dari sepersekian detik tubuhnya ambruk. Telungkup meregang nyawa.

Berkat lelaki itu, aku bisa bermutasi. Menyebar sangat cepat. Aku tidak punya pilihan lain untuk terus bertahan hidup selain menjadikan manusia sebagai inang. Imun mereka tak sekebal imunku. Siapa yang tidak kuat akan terkapar mengenaskan. Siapa yang tidak sigap akan segera menatap ajal. Seperti lelaki itu.

Aku terus mengembara. Dari manusia ke manusia, kota ke kota, negara ke negara. Aku pernah tiba di negara yang gemar menggoreng berita-berita palsu. Pernah pula tiba di negara adikuasa yang malah takluk tak berdaya. Banyak negara menutup diri. Kota-kota menjadi mati. Manusia terisolasi. Mereka menutup wajahnya sendiri.

Seorang anak kelaparan. Seseorang ibu marah tak karuan. Seorang ayah kehilangan pekerjaan. Seorang kekasih merindukan belaian. Mereka tak mau bersalaman. Tak mau berdekatan. Aku tak peduli dengan segala kepanikan yang ditimbulkan. Sama halnya mereka, aku hanya berusaha untuk terus bertahan hidup. Berpindah dari inang ke inang untuk sampai pada suatu tempat: bertemu anakku.

Anakku! Masihkah engkau mengenaliku? Izinkan aku masuk ke tubuhmu.

Jember, 7 Mei 2020

Fandrik Ahmad : cerpenis sekaligus jurnalis. Menulis cerita di sejumlah media nasional. Novel terbarunya, Asmara Anak Asrama (Surya Pustaka, 2019). Kini bermukim di Jember, Jawa Timur.

I Ketut Jaya (Kaprus) : Lahir di Budakeling, Karangasem, Bali, 15 Juli 1970. Menempuh pendidikan di STSI Denpasar. Menggelar pameran tunggal ”Ocean And The Subconscious” di Kubu Art Space, Ubud (2015), aktif dalam berbagai pameran bersama.

sumber : harian Kompas edisi 09 Agustus 2020 di halaman 11 dengan judul “Jalan Sunyi Menuju Mati”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme