Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : 3033 oleh Martin Aleida

Posted on Ming, 22 Jun 2003

(Penjudi Togel dan Warisannya)

Kata-kata tak berdaya untuk melukiskan betapa buruknya nasib penjudi togel yang satu ini. Dan siapakah yang bisa menuturkan dengan saksama perasaan petaruh yang selalu menelengkan kupiahnya ini, yang selama lebih empat puluh tahun terus-menerus menggantungkan sebagian dari nasibnya pada keberuntungan yang dijanjikan oleh angka-angka liar. Dan siapa yang bisa bertahan terhadap kekecewaan seteguh Huripto, yang selama hidupnya mengotak-atik angka, tapi tak sekali pun tebakannya yang mengena.

Dia mulai berangan- angan jadi kaya dengan menebak toto sepak bola awal 1960-an. Ketika padang rumput di bagian barat Stasiun Gambir masih jadi lapangan sepak bola, karena imajinasi yang melambung belum menggoda Presiden Soekarno untuk membangun monumen di situ. Sehingga hampir saban hari di lapangan itu ada pertandingan bola, yang dijadikan penduduk kota sebagai ajang mengadu nasib di meja toto. Sejak zaman itu judi benar-benar menggoda hidup Huripto.

Kata-kata tak kuasa melukiskan kegigihan penjudi kita ini. Dia tak pernah menyesal bahwa sebagian dari keuntungan yang dia petik dari gerobak rokoknya telah terbang ke kantong bandar judi. Huripto selalu berpandangan positif. Dia beranggapan uangnya yang lenyap ditarik bandar merupakan sumbangan yang akan memperbesar kebahagiaan teman-temannya yang beruntung.

Jalan pikiran dan ketulusan hati seperti itu terutama muncul ketika saban minggu dia membeli lembar-lembar Undian Harapan yang dikeluarkan oleh Departemen Sosial. Dia bukannya tak tahu, sebagaimana yang dikatakan berbagai laporan koran, bahwa uang undian itu bukannya mengalir untuk membantu penduduk miskin, tapi ditilap oleh para pejabat pemerintah untuk mempertahankan kekuasaan. Sekalipun dia seorang penjudi berat, hatinya tetaplah muak mengingat tingkah laku pejabat yang korup. Hanya saja dengan gampang dia bisa berdamai dengan kekesalannya. Yang penting buatnya kesempatan bertaruh selalu terbuka. Menang atau kalah soal belakangan. Dan yang paling utama adalah bahwa dengan secarik kertas taruhan, dia bisa berangan-angan. Dia punya kredo sendiri: Alangkah suntuknya dunia ini kalau berangan-angan saja orang tak bisa.

Angan-angan membuat hatinya sejuk tenteram. Dia merasa regangan sarafnya menjadi kendur. Teman-teman sebayanya sudah banyak yang meninggal disambar stroke, kena serangan jantung, gula, atau pneumonia. Dan dia yakin ketenteraman yang ditawarkan oleh angan-angan yang dipersembahkan kertas judilah yang membuat pembuluh darah jantungnya tetap lentur walaupun tubuhnya gemuk gempal. Sementara gula darahnya, sekalipun lebih tinggi dari ambang batas normal, jadi terkendali. Berkat apalagi kalau bukan angan-angan yang membuai.

Keluhuran hatinya tiada terkira terhadap teman-temannya. Dia berpantang berjudi dengan teman sendiri. Lawan-lawannya dalam perjudian haruslah pihak yang tidak dia kenal, mereka yang ingin membangun kekuasaan dengan uang. Baginya tak ada lagi pekerjaan yang lebih hina daripada hidup di atas nasib buruk handai tolannya sendiri.

Di tepi jalan, sepelemparan batu dari jalan tol yang melayang di atas gerobak rokoknya, Huripto kelihatan mengipas-ngipas wajahnya dengan karton bekas pembungkus rokok, menyedot kreteknya dalam-dalam, dan meningkahi kepulan asapnya dengan seruputan kopi yang sudah dingin. Ada ketegangan yang membawa nikmat yang sedang menguasai perasaannya. Nyata sekali terlihat dari kakinya yang terus dia goyang-goyangkan. Sebentar-sebentar dia menghela napas.

Beberapa saat kemudian, dia menghentikan kibasan karton di tangannya itu. Menatap tajam coretan-coretan angka yang dia buat di situ beberapa jam yang lalu. Seluruh permukaan karton itu berjejalan dengan angka tiga. Tiga! Dalam jumlah yang jauh lebih kecil, berpendar angka nol. Karton itu seperti menampilkan satu sketsa yang acak-acakan, yang melukiskan sekawanan besar burung terbang menutup langit, dengan balon-balon awan tercecer di sana-sini.

Dia menyedot kreteknya lagi. Mengencangkan letak kupiahnya supaya tegak lurus, bukan miring sebagaimana biasanya orang yang kalah berjudi. Pengecer rokok merangkap penjudi yang tekun itu lantas bangkit dan meninggalkan gerobaknya menuju ke gang yang terbentang di belakang. Sesiang seperti itu, tentu belum ada yang berkerumun mengisi togel. Kedatangan Huripto menjadi penglaris bagi agen togel yang menyempil, berkedok pedagang minuman, di perut gang itu.

Huripto mematikan rokoknya, menginjaknya kuat-kuat sampai lumat. Dia ambil bolpen dan dengan mantap dia memasang 3033. Seluruh kekayaan dalam bentuk uang tunai yang dimiliki penjudi bujangan yang sudah bangkotan itu, dia tumpahkan untuk nomor itu. Dia tidak khawatir kalau akan kalah lagi karena stok rokok dan barang dagangan yang lain masih cukup. Dia juga menutup taisen maupun kemungkinan keluarnya “angka setan” dari nomor itu. Dan dia kepung angka itu dengan memasang semua kemungkinan yang bisa muncul dari angka yang dia simpulkan dari tanda-tanda alam yang dia baca tadi pagi. Selepas subuh, entah datang dari mana, seekor angsa tiba-tiba menjadi pengunjung pertama di gerobak rokoknya. Dan yang muncul sebagai pembeli paling awal adalah tiga anak kecil yang baru dididik orangtua mereka untuk berbelanja senilai Rp 3.000. Sementara di jalan tol yang membentang di atas, tiga truk yang bertabrakan tadi malam masih belum juga disingkirkan. Dia ingat betul, menurut primbon hwa-hwe, angka 3, yang bersimbol angsa, juga berarti kematian, kekosongan. Maka tafsir perjudian menasihatinya untuk jangan mengabaikan 0.

Biasanya dia luangkan waktu barang sebentar untuk memperbincangkan angka-angka taruhan dengan penjual kertas togel atau para petaruh yang lain. Tetapi, hari ini mulutnya tersumbat. Dia langsung meninggalkan meja togel dan kembali ke gerobaknya. Agen togel terperangah. Tak pernah dia melihat orang memasang sebesar taruhan Huripto yang menjadi penglarisnya siang itu. Dia mengikuti pelanggan yang selalu bernasib buruk itu dengan mata setengah melotot sampai lenyap di ujung gang.

Bertambah tinggi matahari, bagai semut, satu demi satu para penjudi muncul dan berkerumun di meja togel yang terletak di gang sempit itu. Semua melirik, menatap, memelototi, menafsir rupa-rupa kode yang terhampar di meja.

Penjual togel berupaya membuka pembicaraan dengan menyampaikan keheranannya bagaimana Huripto telah memasang taruhan yang begitu besar. Sejak meja togel dia gelar di situ, tak pernah ada orang yang bertaruh sebanyak itu. Tetapi, cerita pemancing percakapan itu tak bersambut. Huripto sama dengan nasib yang apes. Menjadi pemasok rezeki bandar nomor satu. Seumur hidup tebakannya ngawur. Begitu mereka tahu Huripto memasang 3033, maka tak seorang pun yang mau meletakkan taruhan pada 3, dalam variasi angka yang bagaimanapun.

Menjelang pengumuman nomor sore hari, Huripto menunggu pembeli sambil rebah-rebahan mendengarkan radio dua band. Dia tak perlu datang ke agen hanya untuk mengetahui nomor yang keluar. Cukup menyetel stasiun radio tertentu. Sebagai seorang penjudi yang tekun, maka jarum penunjuk pemancar radionya tak pernah bergeser dari stasiun radio itu. Angan-angannya melayang ke Brebes, ke kampung halamannya. Lebaran tahun kemarin dia tidak mudik. Panen bawang berhasil, tapi harganya anjlok habis-habisan, sampai-sampai para petani membuang hasil panen ke jalan raya untuk menunjukkan rasa kesal terhadap pemerintah yang tidak punya perhatian terhadap petani. Tahun ini dia sudah mantap akan menjenguk kampung halamannya. Sekadar mengenang masa kecil karena seluruh sanak famili dalam garis keturunannya sudah tiada.

Melawan gerah, dia kibas-kibaskan karton bekas pembungkus rokok yang penuh coretan angka. Begitulah selalu. Angin buatannya sendiri itu meninabobokan matanya hingga terpejam. Dia tak pernah menyetel jam weker untuk membangunkannya beberapa menit menjelang pengumuman togel. Saking sudah terbiasanya, bawah sadarnyalah yang akan menyentakkan matanya, persis beberapa menit sebelum semua pecandu togel bagai lebah berkerubung memasang kuping menyimak radio.

Renowo, agen togel di gang sempit itu, mendadak melompat keluar dari ruang depan rumahnya. Dibantingkannya tinjunya ke daun meja yang bertabur kode. Cepat seperti tupai, dia meloncat ke jalan.

“Tiga-nol-tiga-tiga! Tiga-kosong-tiga-tiga…! Jebol dia! Bandar jebooool…. Pakde Ripto menjebol bandar. Jeboool! Jeboool…!” dia melompat-lompat seperti bocah sambil berteriak-teriak di jalan sempit itu dan berlari-lari kecil menuju ke mulut gang di mana gerobak Huripto bertengger. Orang-orang yang bertempat tinggal di kiri-kanan gang pada menjulurkan kepala dari jendela dan pintu rumah, ingin melihat apa yang terjadi dengan agen togel itu.

“Selamat Pakde. Edan tenan (Sungguh gila).”

Renowo menyodorkan kepalanya lewat pintu gerobak. “Jebol, Pak. Panjenengan luar biasa!” katanya lagi, girang bukan main. Di dalam gerobak, kepala Huripto tetap bersender ke dinding. Kupiahnya terjungkal ke depan, menutupi jidatnya. Ada sesuatu, seperti ujung pojok kertas menyembul dari bawah kupiah itu. Sudut mulutnya tampak menahan cairan yang mau muncrat. Perlahan, radio yang terletak dekat ketiaknya terus memainkan lagu-lagu dangdut. Kakinya lurus melonjor.

Perasaan suka cita agen togel yang kesurupan itu jadi tertahan ketika dia sadar bahwa orang yang dia sapa, yang mestinya gembira bukan main karena telah memenangi taruhan dalam jumlah yang belum pernah dia dengar, cuma tergolek kaku.

“Pak…, Pak Ripto…,” dia memegangi kaki tukang rokok itu. Yang diajak bicara cuma diam. Dia raba dan goyang-goyangkan betisnya. Huripto tak menyahut. Dia tetap menyenderkan kepala ke dinding.

“Pak…,” seru Renowo pelan, putus asa. Rona wajahnya dengan cepat berubah menjadi pucat. Lekas dia menarik anggota tubuhnya dari gerobak rokok itu. Lantas dia berlari seraya menjerit-jerit. “Ampun Gusti…. Pak Ripto mati! Bandar jebol. Tapi, Pak Ripto mati. Ooooi…, dengarlah! Bandar curang. Karena jebol, mereka mengirim dedemit untuk membunuh Pak Ripto,” dia berlari-lari dari ujung-ke-ujung gang itu. Mengumandangkan kabar gembira dan kemalangan dalam sekali tarikan napas.

Seorang demi seorang, berdua-dua, atau bertiga-tiga manusia tumpah ke jalan kecil itu, dipikat gerobak rokok yang menunggu di ujung gang. Ketua rukun tetangga di lingkungan daerah padat itu menjorokkan kepalanya ke dalam gerobak. Meraba nadi di kaki Huripto. Tak ada detak. Dia maju lebih menjorok ke dalam. Menempelkan ujung jarinya ke leher penjudi yang membikin gempar itu. Pembuluh darah itu juga diam. Dia menyingkapkan baju dari tubuh tukang rokok yang diam tak bergerak itu. Melekatkan kupingnya beberapa saat ke dada warganya yang tergeletak layu itu. Ah, jantung Huripto sudah berhenti.

“Inna lillaaah…,” orang itu berbisik. Dia memungut kupiah Huripto, meletakkan kertas taruhan di dalamnya, dan memberikannya kepada Renowo.

“Apakah dia tahu nomor yang dia pasang mengena?”

“Saya yakin. Ya…, ya, dia tahu dia menang. Pak RT lihat sendiri tadi kertas nomornya terletak di ubun-ubunnya, di dalam kupiahnya. Biasanya kertas togel dia selipkan di lipatan kupiah,” kata Renowo.

“Syukurlah. Saya kira dia tak tahan menerima kemenangan ini. Jantungnya, gulanya….”

Ketua rukun tetangga memutuskan untuk mengeluarkan jasad Huripto dari gerobak rokok merangkap rumah huniannya itu. Renowo dengan senang hati menyediakan rumahnya sebagai rumah duka. Segala perangkat togel dengan cepat disingkirkan dan sekat di dalam rumahnya dijebol untuk memberikan ruang kepada Huripto dan para pelayat. Jasad penjudi yang gigih itu diletakkan dengan terhormat di tengah ruang dan ditutupi dengan selendang batik, sebelum disembahyangkan.

“Renowo,” sapa ketua rukun tetangga di tengah-tengah mereka yang datang duduk mengerubung. “Bersediakah kamu menguruskan uang almarhum?”

Agen togel itu kelihatan agak gentar. Dia tak pernah melihat uang sebanyak yang “dijebol” Huripto. Mendengarnya saja belum.

“Saya siap. Tetapi, harus dibantu teman-teman. Uangnya terlalu banyak. Takut. Zaman sekarang…,” jawabnya.

“Tak masalah, banyak yang mau menolong. Saya juga bersedia. Tetapi, soalnya mau diapakan uang sebanyak itu?” Ke arah pelayat yang duduk berkerumun, dia berujar, “Apakah ada di antara saudara-saudara yang pernah mendengar Huripto berpetuah, bercita-cita, bernazar, berkeinginan, atau pernah mengatakan, ’Saya akan begini… begitu’ atau semacamnya, apabila dia meninggal?”

Lama tak terdengar suara. Kemudian, seorang berkata agak ragu-ragu, “Kepada saya Pak Huripto pernah bilang kalau dia punya uang banyak dia ingin sumbangkan untuk pembangunan masjid di jalan menuju Brebes. Soalnya, Pak Ripto tidak sudi orang-orang jadi peminta-minta kepada para penumpang bus, truk, atau yang lain, apalagi dengan cara mempersempit jalan di pantai utara Jawa itu. Jalan sudah diperlebar kok malah dipersempit lagi atas nama masjid.”

“Ingat. Uang hasil togel memang tak masalah kalau disalurkan untuk memperlancar lalu lintas. Cuma, apakah uang judi boleh disumbangkan untuk masjid?! Saya hanya ingin mengingatkan, bukan apa- apa,” kata seorang yang dikenal sebagai pedagang keliling pakaian jadi.

Renowo memberanikan diri berbicara dan katanya, “Yang penjudi kan orangnya, bukan uangnya. Apa salahnya uang?”

Tak ada tanggapan. Ketua rukun tetangga yang memimpin pertemuan juga tak bersuara.

Sementara itu, angka togel Huripto dan jumlah uang yang dimenangkannya secepat listrik tersebar sampai ke pojok-pojok kota yang jauh. Sudah tentu banyak yang berangan-angan ketiban nasib serupa dia. Tetapi, banyak pula yang mau memanfaatkan keberuntungan tukang rokok itu sebagai jalan mudah untuk memperoleh uang.

Seorang berbaju hijau agak luntur, setelah mengucapkan salam, langsung masuk ke gelanggang, menempel bahu ketua rukun tetangga. Orang itu membisikkan sesuatu ke kuping pemimpin pertemuan. Ketua rukun tetangga kelihatan mesem dibuat-buat. Ada yang tak rela dia lakukan, tapi harus dia perbuat. Dia merogoh kantong, menempelkan tangannya kepada orang yang baru masuk itu. Orang itu mengucapkan salam, lantas melengos pergi.

“Apakah dia pernah bercita-cita, misalnya, mau berangkat ke Mekkah, atau apa?” pemimpin pertemuan melanjutkan.

Hadirin saling memandang.

“Mana mungkin uang judi dibuat naik haji. Saya ngerti, cita-cita Pakde Huripto naik haji, kalau memang itu niatnya, bisa kesampaian dengan diganti oleh teman-teman dekatnya. Tapi, bagaimana, ini uang hasil judi…,” dari pojok seseorang mengutarakan pikiran.

“Saya pernah dengar dia ingin berbuat baik dengan membiayai mereka yang sudah jadi janda menunaikan ibadah haji,” cetus suara dari dekat pintu.

“Yang berkaitan dengan haji tak bisa kita putuskan. Apakah ada yang pernah mendengar cita-cita, keinginan, atawa kehendak Huripto yang lain?”

“Dia sayang pada anak-anak. Semua kita mengetahui itu. Anak kecil saya sering dia persenin permen, anak-anak remaja dia belikan bola. Dia juga suka memberikan uang jajan kepada anak-anak yang dia sayangi. Jadi, saya kira uangnya itu sebagian bisa disumbangkan untuk sekolah, untuk anak-anak.”

“Baik, usul ini saya catat. Akan saya bawa ke kelurahan.”

Tiba-tiba terdengar beberapa orang mengucapkan salam di bendul pintu. Mereka datang bertiga, mengenakan baju loreng-loreng. Langsung duduk dan merangsek mendekati ketua rukun tetangga. Sama seperti tamu terdahulu, juru bicara geng berbaju loreng ini juga membisikkan kata-kata yang kelihatannya diterima dengan sangat menjijikkan oleh ketua rukun tetangga. Namun, dia berupaya untuk berpura-pura senyum. Sambil berkusip-kusip dia memindahkan isi genggamannya kepada tamu itu. Seperti kucing yang diusir dengan makanan, tiga sekawan itu lantas pergi, lagi-lagi sambil mengucapkan salam.

Setelah orang berbaju loreng itu, muncul pula kelompok berbaju loreng yang lain dengan warna berbeda. Kemudian muncul pula satu-dua orang berpakaian seragam berwarna khaki. Yang paling tidak mengenakkan kelihatannya adalah ketika beberapa orang yang berbadan tegap, berkaus ketat, yang sebentar-sebentar memegangi sesuatu yang terselip di pinggang mereka, memasuki gelanggang yang sedang berkabung.

Ketua rukun tetangga mulai gerah dengan tamu-tamu yang sama sekali tidak bisa menghormati Huripto yang diam terbaring di tengah ruang.

Tiba-tiba pemimpin lingkungan itu berdiri. Matanya melirik ke sekeliling.

“Saudara-saudara lihat tadi berapa banyak John Towel yang datang menginterupsi perkabungan ini,” katanya. John Towel adalah julukan bagi mereka yang hidup dengan menguntit, lantas menowel, dan tanpa malu meminta uang kepada orang-orang yang baru menang berjudi. “Saya tahu, Renowo besok bisa mengganti uang yang sudah saya keluarkan. Tapi, kita harus hentikan ini sampai di sini saja. Manusia macam apa mereka itu semua. Orang yang sudah mati masih mau diperas. Saya kira perkabungan langsung saja kita sudahi setelah sembahyang jenazah. Kita tak usah menunggu mobil jenazah yang akan membawa almarhum ke Brebes, ke kampungnya, untuk dimakamkan. Akan tambah banyak lagi pemeras yang mengganggu. Mari kita sewa kendaraan. Kita bawa saja jasad Huripto langsung ke pangkalan mobil jenazah. Dari sana ke Brebes.”

Seperti mau berbicara kepada Huripto yang sudah terbaring diam untuk selama-lamanya, ketua rukun tetangga itu berkata, “Rip, maafkanlah saya, karena telah mengeluarkan kata-kata yang tak senonoh, mengumpat orang-orang yang saya kira memang pantas dicerca. Orang-orang itu tak pernah tahu berapa lama kau menunggu sampai nasib sebaik hari ini datang kepadamu. Mereka membuat kami tergesa-gesa, kelimpungan dalam mengenang menghormatimu. Maafkan.”

Di jalan raya yang membentang di pantai utara Jawa, mobil jenazah yang membawa Huripto lancar melaju. Lihatlah, di belakangnya puluhan bahkan ratusan motor yang mengiringi. Mereka semua ingin ketularan nasib baik dari orang yang sekarang terbaring dengan tenang di dalam keranda yang mereka kuntiti. Di dalam mobil jenazah, ketua rukun tetangga serta handai tolan almarhum, yang sejak meninggalkan Jakarta tak putus-putusnya berunding dengan suara yang sengaja ditahan supaya tidak mengganggu ketenteraman Huripto, masih belum juga menemukan ilham akan dikemanakan uang dari penjudi yang terbaring berbedung kafan di dalam keranda yang membujur di depan mereka.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme