Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sisa Badai di Sepasang Mata oleh Puthut EA

Posted on Ming, 13 Jul 2003

Setiap kali aku menatap matanya, aku merasa melihat tanah-tanah kuburan tua, seperti melihat ladang-ladang yang terbakar dalam senja, mengingatkanku pada pantai murung dengan onggokan kapal rusak dan lelah. Ada badai yang selesai bertiup di matanya, dan kemudian diam selamanya. Puing-puing dan segala yang berserpih adalah matanya yang sekarang, mata seusai badai menerpa. Dan ternyata tidak sederhana bagiku, setiap kali aku sendiri di malam hari, aku merasa sepasang matanya menyergap dan menikamku dari balik gelap sana. Aku seperti dihisap dan digulung ke dalam badai yang telah selesai bertiup di matanya.

Aku tidak ingin tahu namanya. Aku tidak ingin tahu cerita tentangnya. Aku sungguh tidak ingin menambah teror yang sudah merayap di tengkukku hanya lantaran sepasang matanya. Orang-orang di kampung ini pun sepertinya tidak memasukkan orang pemilik sepasang mata yang misterius itu dalam kehidupan mereka sehari-hari. Tidak ada yang bercerita tentangnya. Ia tidak ada pada setiap hajatan dan upacara kematian. Ia tidak ada di warung kopi dan pos ronda. Ia mungkin juga tidak tercatat sebagai warga kampung ini, tidak direcoki oleh kewajiban membayar berbagai pajak-sekalipun ia tinggal di sebuah rumah dan punya dua ekor sapi-dan aku sangat yakin dia tidak pernah ikut pemilu.

Tapi bagaimana mungkin aku tidak memikirkannya? Bukan karena aku sudah merasa terteror dengan sepasang matanya. Tapi aku sekarang tinggal tepat di depan rumahnya! Aku datang kurang lebih empat bulan yang lalu di kampung ini untuk keperluan penelitian. Dan, oleh seorang kenalan kemudian aku mendapatkan sebuah rumah kecil yang bisa kutempati dengan biaya yang sangat murah. Rumah kecil tepat di depan rumah sepasang mata yang penuh dengan teror itu.

Pada malam ketiga setelah kedatanganku, aku bertemu dengannya. Tiga hari dan dua malam setelah kedatanganku kuhabiskan dengan menata dan membersihkan rumah yang kutinggali. Malamnya tentu saja aku sangat lalah dan kupakai untuk istirahat. Baru pada malam ketiga, aku keluar untuk bersilaturahmi dengan tetangga kiri-kanan. Tapi aku urung mengetuk pintu rumah di depan rumah yang kutinggal karena gelap tidak berlampu. Aku berpikir untuk mengunjunginya besok pagi saja.

Dan kemudian aku menuju ke rumah kenalanku satu-satunya, lalu kami berdua pergi ke sebuah warung kopi yang cukup ramai. Di sana kenalanku bertambah banyak, apalagi setelah saling bersulang arak. Saat aku pulang, dengan kepala yang begitu berat, aku melihatnya. Saat itu, ketika aku hendak membuka pintu rumahku, aku merasa ada yang mengawasiku. Lalu aku menoleh ke belakang, namun tidak kudapati siapa pun. Gelap ada di mana-mana. Hanya beberapa kelip lampu yang menerobos dari dinding kayu tetangga kiri-kananku, dan lampu redup yang menyala di pagar rumah yang kutinggali. Dan, ketika aku hendak melangkah masuk, aku tetap merasa ada yang mengawasiku. Lalu kuputuskan untuk keluar lagi, dan kuedarkan pandangku sekalipun segalanya tampak lamur karena bersloki-sloki arak. Dan kudapati sepasang mata itu. Aku mendapatinya dari pendar lampu di dekat pagar rumahku.

Awalnya aku tidak yakin bahwa itu sepasang mata. Tapi memang kutangkap bayang-bayang tubuh yang sedang berdiri di pintu rumahnya yang gelap. Dan kemudian baru kuyakini bahwa itu sepasang mata. Aku mencoba tersenyum dan ingin menghampirinya. Tapi entah kenapa, langkah kakiku seperti tertahan. Sepasang mata orang itu seperti menjelma menjadi tembok kokoh yang menahanku untuk maju mendekatinya. Sepasang mata seperti bolam susu yang kotor karena debu, sepasang mata yang usai dari badai, sepasang mata yang melempar teror dengan cara asing dan semena-mena.

Aku hanya bisa membalikkan tubuh, menutup pintu. Senyum yang kulemparkan bukan hanya sia-sia, senyum yang kulemparkan balik dengan kekuatan ganda melabrakku penuh beda rasa. Aku pikir, aku bukan seorang penakut. Tapi begitu kututup pintu, menguncinya, aku merasa tatap mata orang itu masih terus lekat di tubuhku, seperti mengintaiku dari balik dinding-dinding kayu, dari lubang ventilasi, bahkan ketika aku mencoba tidur, aku merasa sepasang matanya terus menyorotku dari segala benda yang mencipta ruang-ruang gelapnya; dari lubang kunci, dari sela-sela buku, dari atap dan di bawah dipan yang kutiduri.

Aku baru saja tidur ketika hari mulai pagi. Dan semenjak itu, aku hanya bisa tidur ketika sudah ada sinar matahari. Aku sudah mencobanya dengan mengganti bolam di kamarku dengan yang lebih terang, dan aku mencoba tidur dengan lampu yang menyala terang itu. Tapi sungguh sia-sia. Aku justru merasa seperti ada di sebuah akuarium, dan sepasang mata itu terus melihatku dengan begitu leluasa.

Di siang hari, aku merasa tak ada gangguan dengan sepasang mata itu. Siang hari, ketika aku bangun dari tidur yang kumulai di pagi hari, aku bisa mendapati rumah di depan sebuah rumah yang biasa saja. Di sekelilingnya tumbuh beberapa pohon buah- buahan. Di sampingnya agak jarak, aku melihat sebuah kandang dengan dua ekor sapi. Di sekeliling kandang itu tumbuh subur pohon-pohon pisang dan sayur-sayur. Aku melihat laki- laki itu pulang pada senja hari dengan sekeranjang penuh rumput di atas kepalanya, cangkul dan sabit, juga lintingan rokok besar di tangannya. Tapi sepasang mata yang penuh teror itu selalu tak bisa terlihat. Aku pikir mungkin karena ada topi lusuh yang bertengger di kepalanya, juga keranjang penuh rumput yang di sana-sini rumputnya jatuh di kepala dan punggungnya. Tapi kemudian aku benar-benar menyerah. Dari berbagai arah, berkali-kali pada saat bertemu dengannya di siang hari, aku tetap tak bisa melihat sepasang matanya. Aku ingin menantang tatapan matanya di siang hari. Mata yang membuat malam-malamku menjadi resah dan menakutkan.

Ia dan sepasang matanya berkuasa padaku di malam hari. Pernah pada niat yang begitu bulat, kukerahkan dan kukumpulkan segenap keberanianku untuk menemaninya di malam hari. Tapi sekali lagi entah karena apa, aku hanya bisa sampai pada pagar hidup rumahnya. Rumah yang masih tetap gelap. Aku melewatinya berkali-kali dengan perasaan tak menentu.

Akhirnya kuputuskan untuk menemui kenalan-kenalanku di warung kopi sambil minum arak, berusaha melupakan kebulatan tekatku yang tidak menghasilkan apa-apa. Dan peristiwa yang makin memojokkanku datang di malam itu. Aku merasa ingin kencing, lalu aku keluar dari warung menuju arah jalan yang agak sepi untuk kencing. Sebetulnya begitu keluar dari warung, aku merasa malam segera menyambutku dengan tusukan sepasang mata yang ada di mana-mana, ada di balik setiap gelap. Tapi aku mencoba tidak peduli, juga karena aku memang harus kencing.

Namun tiba-tiba langkahku terhenti, di dekat sebuah satu tiang listrik, yang lampunya di sekitarnya menyala redup, aku melihat sosok itu. Dan aku menatap matanya dengan cukup jelas saat itu. Mata yang seperti selesai namun maih menyimpan sisa badai. Aku gemetar. Tubuhku dingin namun mengeluarkan keringat. Suaraku seperti hilang, dan aku seperti tak punya napas. Seluruh kulit di tubuhku tiba-tiba bergerak sendiri. Aku hampir dihabisi oleh ketakutan yang terkutuk. Lalu kulihat kemudian ia pergi, melenggang dengan langkah-langkah pendek dan nyala api dari tangannya. Api lintingan rokok yang besar. Beberapa saat kemudian, aku merasa sangat malu pada diriku sendiri.

Segera aku diburu oleh rasa marah yang sangat pada diriku, dan balik ke warung kopi, minum bersloki-sloki arak, lalu kupinjam parang dari pemilik warung. Beberapa orang agak heran, tapi kemudian aku bisa berdalih. Dengan tubuh yang menahan marah aku melangkah menuju rumahnya. Aku masukkan parang di balik jaketku, setelah aku sadar betapa memalukannya diriku. Apa salahnya padaku? Kenapa aku bisa begitu terganggu dan ketakutan? Tapi aku tetap melangkah menuju rumahnya. Apapun yang terjadi, aku harus bicara dengannya, paling tidak berkenalan, dan aku ingin memastikan bahwa sepasang mata itu sesungguhnya tidak penuh dengan teror. Tapi jika kemudian memang marabahaya yang ditawarkannya, aku meraba gagang parang di balik jaketku, seperti meraba kemungkinanku untuk mempertahankan diri.

Dan kudapati ia di depan pintu rumahnya, masih dengan nyala rokok yang jika dihisap menjadi bertambah nyalanya, dan sepasang matanya semakin terlihat mengerikan. Aku tetap hanya bisa tertegun di pagar hidup rumahnya. Kami berdua hanya dibatasi dengan pagar hidup pohon beluntas setinggi perutku , dan beberapa meter kemudian tubuhnya bersandar pada salah satu sisi pintu yang terbuka, seperti menungguku. Aku habis kata dan keberanian. Aku tetap mendapati sepasang matanya sebagai teror menakutkan. Sangat menakutkan. Aku berbalik arah, dan seiring dengan pengaruh arak yang merayap turun, aku semakin dirundung takut yang menyesakkan. Sampai pagi tiba.

Sebulan sekali, aku ke kota untuk berkonsultasi dengan peneliti seniorku. Dan pada saat yang agak jauh dari kampung itu, dari sepasang mata itu, aku bisa berpikir dengan agak jernih. Itu sepasang mata orang yang telah mati, mata yang keruh. Tapi kenapa di tubuh yang tegap dan hidup bisa memiliki mata orang yang telah mati? Dan mengapa itu hanya terjadi di malam hari? Atau baiklah, aku tidak bisa mengatakan itu hanya terjadi di malam hari, sebab aku tidak pernah melihat matanya di siang hari.

Tapi menurutku pertanyaan itu bisa kuganti dengan: mengapa aku merasa ada sepasang matanya yang menakutkan itu, hanya menerorku di malam hari? Mungkin banyak orang akan menjawab, mereka mengira aku takut hantu dan sejenisnya, yang selalu hadir di malam hari. Itulah masalahnya. Aku tidak pernah percaya hantu, dan malam hari bukan sesuatu yang selama ini menakutkan. Aku hanya takut pada dua hal selama ini: kecoa dan ulat bulu.

Lalu sesungguhnya apa yang menakutkanku, sehingga aku harus tidak nyaman tidur, tidak leluasa berpergian ketika malam, dan beberapa kali gemetar tak karuan ketika bertatapan mata dengan bertemu dengan orang itu? Dan lalu muncul keinginan-keinginan untuk tahu siapa pemilik sepasang mata itu.

Tapi setiap kali aku balik lagi ke kampung itu, segala keingintahuanku tiba-tiba lenyap, bahkan aku tidak ingin mengerti dan tahu apa-apa tentang orang tersebut. Tiba-tiba aku seperti berada dalam sebuah situasi dimana pemilik sepasang mata yang menerorku itu tidak pernah ada di kampung itu. Tidak pernah ada orang yang membicarakannya, menyebut namanya. Dan aku merasa bahwa memang sepasang mata yang seperti orang yang telah mati itu memang hanya untukku dan itu hanya ada di malam hari. Selalu saja, jika aku ada di kampung itu, aku selalu merasa seperti tidak perlu dan tidak butuh semacam latar belakang dan cerita tentang laki-laki itu. Aku tidak ingin menambah derajat ketakutanku. Biarlah dia hadir dengan sorot matanya ketika malam. Toh aku tidak selamanya ada di sana.

Tapi pada saat jauh dari kampung dan orang itu, selalu saja aku dirundung tanya dengan begitu saja. Umur laki-laki itu kira-kira seumur dengan pamanku, lima tahun lebih muda dari ayahku. Tubuhnya gempal berisi dengan kulit yang agak gelap terbakar matahari. Tidak pernah kulihat beralas kaki. Selalu melangkah dalam langkah-langkah pendek dan mantap. Benar-benar tubuh orang hidup. Tapi sepasang matanya….

Suatu saat, dalam sebuah perjalanan balik menuju ke kampung itu, aku berhenti di kota kecil. Dari kota itu ke kampung yang hendak kutuju masih berkisar satu setengah jam masuk ke dalam bebukitan penuh ladang naik angkutan yang sehari paling hanya ada tiga atau empat kali dalam sehari. Aku berhenti untuk berbelanja beberapa kebutuhanku yang lupa kubeli. Selesai berbelanja, sambil menunggu angkutan, aku masuk ke sebuah warung untuk makan siang. Begitu masuk, entah mengapa, perhatianku langsung tertuju pada seseorang berbaju dan bercelana hitam, baju dan celana yang komprang dan warna hitamnya mulai pudar.

Aku duduk di sampingnya. Kuperhatikan lagi orang di sampingku. Cukup tua. Kutangkap keriput di wajahnya. Hampir semua kumisnya berwarna putih. Ia memakai ikat kepala dari kain. Diam. Asyik dengan rokok dan secangkir kopinya yang hampir tandas.

Ia menoleh padaku, melempar senyum. “Mau ke Dalam, Anak?” tanyanya sambil menggeser tubuhnya, memberiku tempat agak leluasa.

Aku mengangguk. ‘Dalam’ adalah istilah untuk menyebut daerah yang kutuju. Lalu aku memesan kopi dan makan.

“Saya juga mau ke sana.”

Aku merasa agak lega. Setidaknya aku merasa ada teman menuju satu tujuan. Sebab kadang-kadang memang tidak ada angkutan yang pasti ke sana. Aku berharap, dalam hari yang masih siang seperti itu, masih ada sisa angkutan ke Dalam.

“Bapak berasal dari sana?”

“Dulu. Tapi sudah lama saya keluar dari sana.”

Aku meneruskan makan, dan berharap tidak mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang sepertinya enggan di jawab. Ia nampak masih asyik dengan kopi dan rokoknya.

Sudah beberapa saat kami berdua menunggu. Tapi angkutan menuju Dalam tak juga muncul. Lalu kami putuskan untuk menunggu tepat di jalan menuju Dalam, siapa tahu ada mobil maupun truk yang lewat dan kami bisa numpang. Hari berangkat menuju sore.

Di sebuah rumah-rumahan yang mungkin bekas warung makan sederhana, kami menunggu. Kami tidak banyak bercakap. Laki-laki itu lebih sering memunggungiku, menebarkan pandangnya ke lanskap, ke arah Dalam, yang dari jauh terlihat hanya sebagai bebukitan.

“Waktu aku kecil, Dalam adalah hutan yang menghijau.” Laki-laki itu berucap, tapi tidak seperti ditujukan padaku, sedangkan ia masih juga memunggungiku.

“Bapak pernah tinggal di sana?”

“Hanya beberapa keluarga yang tinggal di sana. Kami hidup dari hutan. Lalu datanglah orang-orang itu, orang-orang yang mengaku berpendidikan. Mereka membangun kompleks perumahan untuk orang-orang yang mengelola hutan. Lalu satu per satu kemudian, ada sekolahan, ada tempat ibadah, ada tanah lapang. Dalam beberapa tahun, banyak sekali orang yang datang. Tiba-tiba kami punya pasar, balai desa, jalan diperlebar, angkutan dan mobil melintas. Membawa yang baru, dan membawa pergi apa-apa yang dulu kami hormati dan junjung tinggi.”

Laki-laki itu membalikkan tubuhnya, dan kulihat wajah yang mengeruh. Murung.

“Mau tidak mau kami masuk dalam kehidupan mereka. Anak-anak dari keluarga kami bersekolah, hutan dan alam adalah uang. Listrik masuk. Tidak terlalu ada beda antara siang dan malam. Ikan-ikan di sungai menyusut, binatang-binatang hutan langka. Hutan-hutan diatur dan dipetak-petak. Kami tidak bisa leluasa lagi keluar masuk hutan, mendapatkan apa yang kami butuhkan. Mereka menjaga hutan seperti menjaga barang perhiasan. Mereka membawa senapan yang siap ditembakkan bagi penebangan-penebangan. Tetap saja ada kayu yang hilang, yang tidak mungkin kami lakukan. Orang-orang kekurangan uang yang melakukannya, dan mereka mendiamkannya, bahkan ada yang diam-diam dari mereka sengaja melindungi dan membantu menjualnya.”

Ia berhenti sejenak, melinting rokok dalam ukuran besar, mengingatkanku pada orang bermata teror.

“Mereka bilang akan mengelola hutan dengan baik, tapi itu semua bolong. Diam-diam di antara mereka sendiri telah mencurinya. Mereka tidak benar-benar menjaga alam. Orang-orang yang dulu menggantungkan hidupnya dari hutan diajari bertani dengan sistem tumpang sari, tapi kebutuhan yang diajarkan mereka datang lebih cepat dan besar.

Kami berubah dengan merasa semakin miskin. Tiba-tiba kami ingin punya televisi, ingin punya sepeda motor, dan hasil dari pertanian seperti itu tidak memungkinkan. Lalu di antara kami yang menebangnya, menjual dengan diam-diam ke orang- orang mereka. Tetap juga mereka yang kaya. Yang menebang yang kena resikonya, tapi mendapatkan hasil yang tidak seberapa. Jika ada pemeriksaan dari pusat, kami yang kena. Rumah-rumah kami digeledah, atau saat kami menebang, mereka datang bersenjata dan menangkapi kami. Harus tetap ada yang dianggap mencuri, sekalipun hasil terbesarnya ada pada mereka sendiri.”

Orang tua itu membalikkan tubuhnya lagi, memandang Dalam dari kejauhan. Senja mulai jatuh.

“Sekarang, hutan itu habis. Terbukti mereka tidak bisa menjaganya, sebab mereka sendiri yang mencurinya. Memang ada beberapa di antara kami yang menebangnya, itu karena kebutuhan yang mereka ajarkan. Anak-anak kami yang merengek minta sepeda dan mobil-mobilan. Perempuan-perempuan kami harus ikut arisan, rapat, pengajian. Semua itu artinya uang. Itu pun tidak seberapa yang kami dapatkan, dibanding dengan yang mereka dapatkan. Sebentar lagi, bukit-bukit itu juga akan rata dengan tanah. Setelah tidak ada kayu, mereka akan mengambil tanah dan batu.”

Aku terperanjat seperti diingatkan. Dengan cepat kuraba tas punggung yang ada di samping dudukku. Tas berisi berkas-berkas penelitian tentang kandungan tanah dan batu di daerah Dalam.

Senja beranjak gelap. Orang tua itu membalikkan tubuhnya. Tiba-tiba aku merasa gemetar. Aku mencari-cari sesuatu, dan pandangku berhenti pada sepasang matanya. Sepasang mata itu! *

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme