Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Keroncong Cinta oleh Agus R. Sarjono

Posted on Ming, 24 Agu 2003

Dengan sebal Madelaine meneguk habis jus jeruk dan menyelesaikan sarapannya. Ditengoknya jendela. Langit sepenuhnya warna aluminium. Gerimis di luar membuat pohonan dan jalanan basah kuyup. Sejak pagi cuaca begini terus. Bahkan, dari kemarin. Madelaine menghela napas berat. Tak ada pilihan. Dia meraih mantelnya, lalu payung dan jas hujan. Dengan cepat ia mengenakan mantel dan mengalungkan syal. Bimbang sejenak. Memakai jas hujan atau membawa payung. Akhirnya dilemparkannya jas hujan dekat sepeda. Diraihnya payung dan bergegas ke luar. Segera saja dingin menyerbunya tanpa ragu- ragu. Dia mempercepat langkahnya. Memakai sepeda di musim dingin dan hujan menjengkelkannya karena sudah bisa dipastikan wajahnya akan basah kuyup. Namun, jalan kaki dan memakai payung juga menyebalkan. Dia harus berjalan lebih jauh mengarungi udara dingin. Salju yang kemarin masih elok jadi becek dan kotor dan licin.

Dikenangnya matahari yang benderang dan udara hangat Indonesia. Cuti yang kelewat sebentar. Cuma sebulan! Sungguh sialan, pikirnya. Sambil menyelinap dari satu gang ke gang lain, dia membayangkan gang-gang di Indonesia. Tak serapi di sini, namun seronok.

Wajah Eric Mulyana yang serba tersenyum seperti cuaca tropis membuat Madelaine jadi ikut tersenyum. Mengapa wajah begitu, kok, tidak menjadi penyanyi rock atau pop, melainkan justru keroncong! Tapi, kalau dia menyanyi rock atau pop, bagaimana mereka bisa bertemu? Keronconglah yang mempertemukan mereka. Dan permainan biolanya, dan suaranya yang hangat: rindukah kau padaku… Madelaine dengan kaget menghentikan langkah. Sebuah sepeda melintas di mukanya.

Dia mencoba berhati-hati sekarang. Hujan makin deras. Dingin makin mengiris. Wangi roti dari toko di simpang jalan menerpa hidungnya. Madelaine terkenang wangi sate di Indonesia. Tajam dan menggoda, seperti mata Eric. Apa, ya, nama group keroncongnya? Oh, ya, “Zonder Rindu”. Madelaine tersenyum. Nama yang lucu. Benarkah setelah berpisah Eric menyanyikan semua lagu-lagu cintanya zonder rindu?

Sebuah lagu lama, yakni “Keroncong Pertemuan” akan kami nyanyikan sebagai persembahan kepada tamu kita malam ini, Madelaine. Madelaine, semoga anda suka lagu ini. Dan bergemalah suara emas Eric “Pertemuan malam ini sangat berkesan. Pertemuan kali ini tak terlupakan… ” matanya yang hangat berkali-kali menyinari hati Madelaine. Di pertengahan pertunjukan, Madelaine didaulat Eric menyanyi. Sungguh Madelaine gugup. Tapi, akhirnya ia nyanyikan “Jembatan Merah” satu-satunya lagu yang syairnya dia hafal meskipun logat Belandanya tak bisa hilang. Dan, “Jembatan Merah” dia harapkan benar-benar menjadi jembatan antara dia dan Eric.

Madelaine sudah sampai di gerbang taman kanak-kanak yang dia tuju. Dia langsung menuju ruang “Play Group” dan melihat anak-anak sudah ada semua di sana. Dia bergegas ke ruang kantor dan mengambil gitarnya.

“Anak-anak, siapa yang sayang papa….”

Anak-anak mengacung dengan serentak.

“Siapa yang sayang Mama?”

Mengacung lagi serentak.

“Sekarang kita menyanyi untuk Mama dan Papa. Siaaaaap! Ohhh mijn Papa ….”

Mereka bernyanyi bersama-sama. Tapi belum lagi lagu itu selesai, seorang anak sudah berteriak,

“Mendongeng Bu, mendongeng….”

Sebagian anak menghentikan nyanyiannya dan ikut berteriak

“Bercerita… yang lucu Jufrow…”

“Tidak! Yang ngeri, yang sereeeeem!”

“Cerita rajjaaaa”

“Yang Sereeemm…”

“Raja saja….”

“Raja yang sereeeem!!!!”

“Husss! Baik, kita bercerita….”

“Horeeeee!!”

Anak-anak segera berkumpul mengerumuni Madelaine. Ada yang menyandar di pahanya, ada yang berusaha naik ke pundaknya.

“Hey, tenang dulu. Ibu mau ceritaa.”

“Naik kuda… aku naik kuda,” kata anak yang mencoba naik ke pundaknya.

“Yang tidak bisa duduk tertib tidak disayangi peri. Dia disihir oleh nenek sihir menjadi kura-kura.”

Anak yang mencoba naik ke pundaknya ragu-ragu sejenak, tapi kemudian mencoba meneruskan usahanya. Namun, ketika Madelaine mulai bercerita dan anak-anak lain tidak lagi memperhatikannya melainkan memperhatikan cerita Madelaine, anak itu menghentikan usahanya dan diam-diam memasuki kerumunan untuk mendengar cerita juga.

“Akhirnya dia diperkenalkan dengan seorang boneka pangeran dari kayu, bernama Eric. Pangeran Eric adalah seorang pangeran yang gagah dan tampan. Dia pandai menyanyi dan suaranya bisa mengubah musim dingin menjadi musim semi.

“Horeee, Pangeran Eric suruh menyanyi Bu… suruh menyanyi… biar cepat musim semi.”

“Jangan. Nanti kalau kita loncat ke musim semi, tidak ada hadiah Natal.”

“Benar Bu, kalau musim semi tidak ada hadiah Natal….”

“Natal itu bulan Desember. Jadi musim dingin. Kalau musim semi tidak ada natal.”

“Pangeran Eric menyanyinya nanti saja sesudah Natal.”

“Bagaimana kalau musim semi, tapi tetap ada Natal….”

“Tidak ada Natal kalau tidak musim dingin….”

“Di sini memang tidak ada Natal jika tidak musim dingin. Tapi di tempat lain, Natal tidak harus musim dingin. Di Indonesia, misalnya, udara tetap panas, matahari bersinar terang, daun- daun hijau, tapi tetap ada Natal.”

“Ibu bohoong!”

“Dengar anak-anak, Indonesia tidak punya musim dingin.”

“Apakah karena di sana Pangeran Eric selalu menyanyi terus-menerus sehingga selalu musim semi.”

“Benar, anak-anak. Di sana Pangeran Eric terus-menerus menyanyi. Itu sebabnya di sana matahari selalu bersinar, udara hangat dan daun-daunnya selalu hijau.”

“Aku mau ke Indonesia.”

“Aku mau Pangeran Eric terus-menerus menyanyi….”

“Tenang, ibu nyanyikan nyanyian Pangeran Eric: …Jembatan Merah sungguh gagah berpagar gedung indah….”

Tapi, anak-anak tak bisa mengikuti lagu itu. Sebentar kemudian mereka bosan dan meminta permainan lain.

Madelaine melirik jendela. Masih gerimis. Dan anak-anak sebegitu banyaknya. Dan ribut. Dan Madelaine terkenang liburan. Tangkuban Perahu, mandi air panas. Ahh musim dingin begini, gumam hatinya. Dan anak-anak begini banyak.

Tapi akhirnya pelajaran usai. Medelaine menarik napas lega, menyusuri koridor menuju kantor. Anak-anak sudah pada berlarian ke tempat orang tuanya masing-masing yang segera memakaikan baju hangat pada anak mereka masing-masing.

Peter tersenyum melihat Madelaine masuk.

“Sejak kapan Tchaikovsky menggubah lagu keroncong?”

Madelaine tersipu.

“Sekali-kali saja, buat variasi. Lagi pula sulit memainkan Nut Cracker Tchaikovsky dengan gitar.”

“Itu alasan kedua. Alasan pertama kamu masih ada di Indonesia.”

“Masih di Indonesia?”

“Ya, hati dan pikiranmu masih di sana. Hanya badanmu yang ada di sini.”

“Peter!!!” Madelaine melemparkan tissue yang dipegangnya.

Peter menghindar.

“Mau kopi?” tanya Peter. Tapi, dia tidak menunggu Madelaine menjawab. Dia menyeduh kopi instant dari termos yang ada di dekatnya dan menyerahkannya pada Madelaine

“Bagaimana Indonesia?” tanya Peter sambil tersenyum.

“Bagaimana?” Madelaine tergagap. Bagaimana menceritakan Indonesia? Matahari bersinaran, keroncong, senyum Eric. Tak mungkin ini diceritakan pada Peter. Madelaine tertawa. “Datanglah ke sana, nanti akan tahu sendiri.”

Madelaine bergolekan dengan malas di ranjangnya. Di luar tak ada matahari. Langit seperti hamparan aluminium dingin. Winter semacam ini kerap membuatnya depresi. Hari jadi cepat malam seperti usia. Ah usia! Madelaine menarik napas berat. Bulan depan empat puluh dua tahun sudah usianya dan masih melajang begini. Belum juga ada pasangan tetap, bahkan tak tetap pun jarang. Ia menelungkupkan tubuh di ranjang, meraih bantal. Tidak bisa dibayangkan ia akan menghabiskan waktu menjadi pengasuh play group hingga masa tua, berada selalu di tengah begitu banyak anak-anak yang ribut, yang nakal, yang cengeng, yang menuntut cerita, yang minta diantar ke toilet, yang… dan tak satu pun dari begitu banyak anak-anak itu adalah anaknya. Mereka tumbuh besar dan Madelaine selalu berganti anak-anak baru. Tak satu pun dari mereka anaknya. Alangkah indahnya anak-anak yang nakal, yang menangis, yang harus diantar ke toilet dan minta didongengi jika saja anak itu anaknya. Mereka akan tumbuh, dan dia mengurus pertumbuhan itu saat demi saat. Tapi tak ada anak-anak. Dan usia seperti winter, cepat sekali jadi malam.

E-mail dari Eric kemarin membuat hatinya terhibur. Surat yang selalu hangat dan kadang berselipkan rayuan. Menikah dengan Eric tentunya menarik. Bahkan, jika perlu dia siap tinggal di Indonesia. Indonesia bagi dia identik dengan keroncong. Ternyata tak banyak lagi di Indonesia yang memainkan keroncong dan Eric kekecualian. Diingatnya kembali dia membaca sajak dan Eric bermain keroncong. Mereka dipersatukan oleh keroncong. Ia bisa berbincang berjam-jam dengan Eric perihal keroncong. Kemana pun dia pergi, Eric selalu menemani.

Madelaine segera bangun dan membuka Internet mengecek harga-harga tiket untuk musim dingin yang akan datang. Dia sudah memutuskan untuk datang ke Indonesia lagi dan memastikan hubungannya dengan Eric. Alangkah indahnya berkeluarga, pikir Madelaine. Tidak bisa lain, demikian pikirnya, aku harus memastikan hal ini pada Eric. Jarak mereka jauh. Tak masuk akal jika tidak segera dipastikan duduk soalnya.

“Tapi aku tidak menyatakan diri akan menjadi pacarmu.” Wajah Eric agak pucat.

“Tapi lagu cinta sebagai ucapan selamat datang. Rayuan-rayuanmu lewat e-mail. Kita selalu bersama ke mana-mana, dan saya yakin semua orang beranggapan kita pacaran.”

“Madelaine, kamu tidak mengerti. Lagu cinta sebagai sambutan selamat datang itu adalah… ah sudahlah. Sulit menjelaskan. Kami di sini biasa menyanyikan lagu semacam itu sebagai persembahan buat siapa saja.”

“Jadi aku sama sekali tidak istimewa….”

“Bukan begitu. Aku cuma ingin ramah. Ingin bersahabat. Engkau orang asing dan aku ingin memastikan engkau mendapatkan pengalaman menyenangkan di sini.”

“Nah, betul bukan. Kau begitu penuh perhatian padaku. Bukan salahku menganggapmu istimewa. Kukira kau pun menganggapku istimewa. Kukira kita telah mulai menjalin….”

“Madelaine, bagaimana lagi aku harus menjelaskannya.”

Madelaine tak menjawab. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan. Tersedu. Tiga belas jam lebih di perjalanan. Bahkan sepertiga dari tabungan tahunannya sudah dia gunakan untuk membeli tiket kemari. Dan Eric…

Madelaine mengenang dengan pedih pertemuannya dengan Eric. Kedatangannya ke Indonesia sepenuhnya adalah bencana. Ia sudah bercerita pada satu dua temannya yang benar-benar dekat bahwa dia sedang jatuh cinta. Bahwa dia mungkin sekali akan bertunangan, atau bahkan menikah di Indonesia selama cuti tahun itu. Bahkan, dia hampir yakin teman-teman dekatnya bakal mengenal Eric begitu mereka bertemu karena begitu kerap dan detailnya dia bercerita tentang Eric. Dan Eric… mereka berpisah dengan buruk malam itu. Matanya sembap oleh air mata. Dan wajah Eric pucat serta kebingungan. Eric kemudian pamit dan menghilang. Madelaine tidak ingat apakah dia melambaikan tangan atau tidak. Hatinya sepenuhnya hancur. Matahari bersinar terang esoknya, tapi dia merasa semua hari telah berubah menjadi musim dingin, seperti salju kotor dan becek.

Dan kini ia ada di pesawat menuju Indonesia. Dia kerap heran dengan keputusannya untuk kembali ke Indonesia. Mengapa setelah menjalani hari-hari sedih di Indonesia tempo hari ia justru memutuskan untuk kembali ke Indonesia? Dia tidak tahu untuk apa. Dia kembali bersuratan dengan Eric lewat e-mail. Tak ada rayuan lagi di sana. Pertukaran kabar di antara mereka lebih resmi dan menjaga jarak. Mungkin dia ingin sekali lagi memastikan hubungannya dengan Eric. Mungkinkah? Beranikah dia mempermasalahkan itu lagi? Mungkin dia hanya ingin menjaga masih adanya hubungan. Tidak perlu asmara, tapi paling tidak masih bisa bersama main keroncong, berjalan-jalan, mengobrol. Paling tidak dia memiliki semacam tambatan entah apa, agar bisa tahan menjalani hari-hari penuh anak-anak yang ribut, yang minta didongengi, yang berebut menaiki punggungnya, yang minta di antar ke toilet, yang tak satu pun di antara mereka adalah anaknya.

Di pandangnya layar TV di pesawat. Sejam lagi mereka akan mendarat di Jakarta. Selama di pesawat bisa dikatakan dia tidak bisa tidur. Ia selalu gelisah. Hatinya hangat dan hampa. Hampa karena sekarang dia bisa melihat ketakmasukakalan kepergiannya ke Indonesia. Hangat karena wajah Peter berkali-kali melintas dalam angannya.

Peter telah pindah dari pekerjaannya sebagai pengasuh play group dan kini bekerja di perusahaan konstruksi serta pindah ke Amsterdam. Mereka bertemu di rumah Jolanda, teman sesama pengasuh playgroup, ketika Jolanda merayakan ulang tahun. Madelaine merasa aneh mengapa selama ini dia tidak pernah memperhatikan Peter. Apakah karena Peter sesama pengasuh anak dan sama-sama tidak memiliki anak-anak itu? Atau karena mereka sama-sama tinggal di kota kecil Zoetemeer yang membuat semua hal seperti membeku dan kehilangan daya tarik. Entahlah. Tapi, dalam pesta itu ia bertemu dengan Peter. Dengan senyumnya yang lebar seperti biasa dia langsung bertanya: “Bagaimana kabarnya Indonesia?”

Dan Madelaine tersipu. Indonesia? Apa yang harus dia ceritakan mengenai itu semua. Keroncong cinta yang hampa. Rayuan-rayuan hangat tanpa makna. Air mata… Tapi mereka kemudian berdansa. Entah bagaimana mulanya, mereka pulang bersama. Peter mengantar dia sampai rumahnya. Dia menawarkan secangkir kopi buat Peter dan Peter setuju. Dia mempersilakan Peter masuk apartemennya, mengobrol bersama dan begitu saja ternyata mereka malam itu tidur bersama. Tengah malam Madelaine terbangun dan dengan takjub memandangi wajah Peter yang lelap di sampingnya. Ditelitinya detail wajah itu: alis, mata, dagu yang kehijauan habis dicukur, rambutnya yang pirang kecoklatan. Disentuhnya pipi Peter dengan lembut. Peter terbangun dan menatap Madelaine di antara kantuk.

“Ada apa memandangku begitu, sweetie?”

Madelaine tidak menjawab. Ia mencium kening Peter lembut dan Peter melanjutkan tidurnya sambil memeluk bahu Madelaine. Besoknya mereka masak berdua. Sama sekali tidak keluar rumah sepanjang hari itu.

Minggu depannya mereka berdua menyusuri jalanan bersalju memandangi camar laut yang meluncur indah di atas kanal-kanal. Sepanjang malam mereka tak pernah berjauhan. Pada salju musim dingin Madelaine mendapati hangatnya kehidupan.

Ketika Madelaine mengatakan pada Peter bahwa dia akan ke Indonesia, Peter terperanjat.

“Untuk apa ke Indonesia, sweetie…. Apakah kamu kedinginan….”

“Tidak honey, sama sekali tidak. Tiket ini sudah kubeli lama sebelum kita berhubungan. Aku mencoba mengembalikan, tapi tidak bisa. Tiket ini akan hangus jika tidak dipakai.”

“Apakah kamu punya urusan penting atau hubungan penting di Indonesia….”

“Sama sekali tidak Peter. Sama sekali tidak. Tapi, bagaimana tiket ini.”

“Kalau aku harus memilih, aku lebih suka tiket itu hangus. Kau akan di Indonesia sebulan lebih… itu lama sekali sweetie…”

“Aku segera pulang, honey. Aku hanya akan membaca puisi di beberapa tempat, kemudian memberi lecture sedikit mengenai Sastra Indo-Belanda….”

“Bukankah kau sendiri yang bilang akan berhenti menulis puisi dan mengurus sastra lagi. Aku sendiri tidak mengharapkan kau berhenti. Kau bahkan berhenti mendengarkan keroncong. Kau sendiri yang bilang bahwa….”

“Honey, aku memang akan berhenti. Ini perjalanan terakhir. Aku bahkan tidak akan pernah ke Indonesia jika tidak bersamamu.”

“Kau kira tidak berat menunggumu di sini… musim dingin begini. Mengapa kau tidak cerita jauh hari akan ke Indonesia….”

Madelaine tidak tahu harus bercerita apa. Kedatangannya ke Indonesia tanpa alasan yang jelas. Ia sendiri tidak bisa menjelaskannya, bukan hanya pada Peter bahkan pada hatinya sendiri.

Kurang satu jam lagi Madelaine sudah akan ada di Indonesia. Eric berjanji akan menjemputnya, tapi untuk apa? Dia membayangkan hari-hari di Indonesia yang panas dan berkeringat, melewati bising mal-mal dan kemacetan lalu lintas. Dulu semua itu rasanya menakjubkan, tapi sekarang? Belasan jam perjalanan dan sepertiga tabungan tahunan hanya untuk meninggalkan Peter dan malam-malam indah dan musim dingin yang mengesankan. Ia menduga-duga masih akan adakah lagi sambutan lagu keroncong selamat datang dengan syair-syair cinta yang mesra dan tak bertanggung jawab dari Eric.

Ketika ia menginjakkan kakinya di Bandara Soekarno-Hatta, hatinya sudah sepenuhnya berada di Eropa.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme