Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Mereka Mungkin Ada di Sekeliling Kita oleh Ganda Cipta

Posted on Ming, 30 Mei 2021

YA, ke kiri. Tak sekali pun terlihat ke kanan. Jangan ditanya kenapa. Coba pikir saja sendiri. Barangkali dia sedang menyimpan kegetiran, kebohongan, amarah, atau entah lah.

”Ketiadaan jangan sampai membuatmu hilang pegangan. Apalagi sebagai lelaki,” tiba-tiba dia bicara pada awal malam. Tapi tertawanya tak serta-merta berhenti.

Dia tidak gila. Waras sewarasnya. Masih tahu dengan orang. Kewajiban sebagai manusia pun masih dijalani.

Tapi begitulah. Biasanya soal kerjaan. Dari kantor. Tepatnya bukan kerjaan itu betul. Tapi orang yang di sekeliling pekerjaannya itu.

”Bos… hahaha, gila!” Nada suaranya tinggi seiring dengan kaleng kerupuk nasi berderam di lantai.

Nah, kan. Apa aku bilang. Bos lagi, bos lagi. ”Hei…! Jangan kausetel keras-keras musik itu. Mengganggu tetangga. Kalau kau mau, tumpahkan saja padaku.”

”Di masa chaos, musiknya harus cadas,” jawabnya sambil mengempaskan pintu kamar.

”Edan. Aktivis gagal. Seniman tanggung. Laki-laki tak…, agh.” Tak tega aku menyambungnya. Dia sahabatku. Kawan dari kecil.

Saat sudah begitu, memang jarang dia mau mendengarkan. Seandainya mau, pilihan kami main catur. Baca puisi di atap rumah. Atau keliling kota.

Bila tak digubris, aku duduk di warung Bang Bintang di depan kos-kosan putri Nenek Salma. Kopi setengah gelas, kerupuk jengkol lima bungkus, dan donat dua. Itu habis dua atau tiga jam sambil ngomong banyak hal dengan Bang Bintang. Lalu pulang lagi.

*

Soal bosnya itu sudah sering aku nasihati. Matahari jangan ditentang. Kalau minta rokok, belikan saja. Kalau suka memotong uang makan siang, bawa bekal dari rumah. Kalau si bosnya itu suka dipuji-puji, paling tidak kasih lah jempol dan katakan mantap.

Saat dia memburuk-burukkan koleganya, bila benar-benar tak bisa pergi seperti dalam rapat, senyum-senyum saja lah. Tapi jangan miring ke kiri. Ke kanan pun tak usah. Angguk-anggukkan juga kepala sedikit. Bukan tanda setuju. Itu tanda seolah-olah menyimak saja. Apa susahnya?

”Aku tahu, Bur. Tapi lihat sekelilingmu. Teman-temanmu orang yang takut kehilangan pekerjaan. Kau tidak ada kawan, tapi tak mau pula meninggalkannya. Heran.”

Pembicaraan yang tenang akhirnya bisa kami mulai. Sudah tengah malam.

”Mereka ada di mana-mana. Merasa jagoan. Giliran diminta maju ke depan, ngakunya nanti tak bisa bendung emosi dan tak ingin terjadi perkelahian. Beh…!”

Selain si bos, yang sedang dibicarakan Bur itu adalah seniornya. Arif Talago. Orangnya juga tak mau makan kritik. Sering merasa bisa mengerjakan kerja orang lain.

Yang membuat Bur tak simpatik padanya adalah tingkat kepelitannya. Jahit sakunya rapat. Kalau ada seseorang yang mendapat fee proyek sibuk dia menyindir-nyindir untuk ditraktir. Bila yang bersangkutan tak mau, habis lah di-bully.

Nah, kalau dia yang sedang mendapat, banyak alasannya. Mungkin bisa dimaklumi juga. Sebab, gajinya pas-pasan, punya tanggungan lima anak dan dua bini.

Cerita tentang ragam koleganya di kantor sudah sangat sering dia ceritakan padaku. Terutama ketika ada masalah yang menampar mukanya di kantor. Tapi dia tak kunjung angkat kaki. Mencari di tempat lain. Bahkan sudah datang sejumlah tawaran.

Nah, soal itu, satu setengah bulan lalu aku tahu alasannya. Ternyata karena cinta. Tidak pada pekerjaan, tapi pada perempuan. Via namanya. Sering muncul dalam bait-bait puisinya setelah ajakan menikahnya ditolak dengan halus.

Karena ditolak secara halus, Bur beranggapan dia masih punya kesempatan. Apalagi Via yang memang baik hati itu tak pernah menjauhinya. Bahkan suka dengan puisi-puisi Bur. Sering Via memberi like pada setiap posting-an puisi Bur di Facebook.

Dan yang membuat Bur merasa masih punya kesempatan karena Via kerap minta dibelikan es krim bila mereka berjumpa di kantor. Permintaan yang tak pernah ditolaknya. Sesekali, tanpa diminta pun akan dibawakannya untuk Via.

”Makasih es krimnya ya, Bur. Moga rezekinya makin banyak.” Dapat pesan singkat seperti itu dari Via, senangnya tak dapat dikata. Jadi pula satu puisi. Judulnya Es Krim Itu Meleleh di Jantungku.

Sekali saja aku baca puisi itu. Dalam hati saja. Jelek. Sulit untuk dipahami. Mungkin hanya Via yang paham. Karena satu-satunya like pada posting-an puisi itu ya dari Via.

Bur suka Via, bukan karena Via cantik dan juga baik hati. Ini alasannya. ”Kami memiliki jiwa yang sama,” kata Bur pada suatu ketika.

Ya, paling tidak alasan itu berlaku hingga Via tiarap karena serius diancam akan dipecat. Biasa, sebagai mantan aktivis, Via tak bisa diam kalau melihat sesuatu tidak pada tempatnya. Tak peduli itu pada sikap atasannya. Jadi, alasan Bur menyukai perempuan berkacamata itu sepertinya omong kosong saja.

*

Enam bulan berlalu. Jam makan siang baru saja lewat beberapa menit lalu. Tapi Bur, lelaki ikal berbadan atletis itu, sudah pulang saja. Langkahnya agak lunglai. Pintu pagar dibiarkannya terbuka. Masuk rumah, sepatu tak dibuka.

Sepertinya, ada yang dia genggam di tangan kirinya. Sesampai di kamar, sepatu tak juga dilepaskan. Lagu-lagu Barat romantis 80-an dan 90-an yang ada dalam playlist-nya dia setel. Tidak keras-keras. Ia pun menjatuhkan badan ke tempat tidur. Tanpa sepatah kata pun. Pandangannya ke langit-langit.

Sesuatu yang dalam genggamannya tadi ada di meja kerja. Aku buka dan baca. Surat mutasi kerja. Pindah ke daerah. Ke kampung halamannya. Tapi naik jabatan. Jadi kepala perwakilan.

”Selamat, Teman. Sudah berkawan kau dengan si bos? Harusnya ini dirayakan,” aku girang. Tapi dia senyum saja tidak.

Lalu, meski dengan nada rendah, amarahnya tetap terasa. ”Begitulah cara menyingkirkan orang-orang yang sering berseberangan denganmu. Agar orang lain tak bisa merabanya.”

Seketika dia bangkit. Kini tepat di depan mukaku. Tatapannya intimidatif. ”Kau mau tahu, apa kata tikus itu saat memberikan surat ini? ’Bur. Orang sepertimu punya talenta yang tak boleh disia-siakan. Ini kepercayaan besar untukmu.’ Dia ucapkan itu tanpa melihat mataku. Tapi ke samping kiri telingaku, tepat ke arah pintu ruang kerjanya. Kautafsirkan saja lah lagi.”

Ini, cerita Bur, bukan ide si bos. Ini ide busuk Edo. Salah seorang kepercayaan si bos. Info itu didapatkannya dari Joko yang di kantor tersebut terkenal punya antena tinggi untuk cerita-cerita semacam ini.

Dan ini bukan soal perjalanan karier dari mereka berdua, yang sejak awalnya memang sudah bersaing dengan ketat. Memang, Edo saat ini sedang berada di atas angin. Dia lebih didengarkan si bos. Edo pun sangat pandai dengan si bos. Mau memahami dan mengikuti keinginan si bos. Bekerja baginya betul-betul mencari uang. Jadi, bila dekat dengan kekuasaan, sumber uang pun semakin dekat.

Gaya Edo sangat bertolak belakang dengan Bur. Namun sekali lagi, amarah itu muncul bukan karena persaingan dalam karier. Ini soal cinta. Sebab, mereka juga bersaing untuk mendapatkan Via. Pindah ke daerah berarti jauh dari perempuan berlesung pipi itu. Edo pun jadi punya banyak kesempatan mendekati Via.

Itu yang tak mampu dibayangkannya. Melepas begitu saja pengharapan, pujaan hati, yang selama ini membuat dia bertahan di perusahaan itu.

Menolak perintah berarti memilih untuk keluar dari perusahaan. Itu tidak bijak pula. Via pun akan tetap jauh dari pandangan dan jangkauan.

”Waktumu hanya dua pekan. Keputusan harus diambil. Apa yang akan kaulakukan, Bur? Puisi dan es krim sudah terbukti tak mampu meluluhkan hatinya,” kataku.

”Aku akan melamarnya sekali lagi. Kali ini dengan sesungguh-sungguhnya. Akan kuminta ibu melamarkannya langsung kepada orang tuanya. Doakan aku, Bro.”

*

Belum sempat Bur pulang kampung dan meminta ibunya melamarkan Via untuknya, kabar yang paling menyayat hatinya datang tiba-tiba. Di tengah kesibukan jam kantor yang sedang pada puncak-puncaknya.

Menjelang siang ketika itu. Edo datang dan berteriak minta perhatian dari seluruh orang yang ada di ruangan tempat Bur bekerja. ”Pengumuman! Kabar gembira. Perempuan yang jadi incaran banyak lelaki di kantor ini akan segera menikah!”

Pernyataan Edo berhenti sampai di situ. Dia pun mondar-mandir di depan orang-orang sembari memperlihatkan tumpukan undangan pernikahan yang dibawanya. Undangan itu tak langsung dibagikan. Dia kembali ke posisi semula. Di depan pintu masuk.

”Namanya Via!” teriak Edo melanjutkan pengumumannya.

Kata terakhir tersebut mengguncang batin Bur. Saat yang lain bertepuk tangan, dia tertunduk. Tangan kursi diremasnya sekuat tenaga agar amarahnya tak meluap seketika itu.

Orang-orang pun bertanya, ”Siapa lelaki beruntung itu?”

Dengan langkah penuh kemenangan, Edo membagikan undangan itu. Bur sekuat tenaga menyimpan emosi saat undangan itu sampai ke tangannya. ”Hampir kau tak diundang. Beruntung aku ingat namamu. Datang, ya!” ucap Edo.

Di undangan tertera nama Via dan si bos.

*

Telah 20 jam Bur di kamar. Itu setelah dua hari undangan tersebut diterimanya. Sesekali terdengar dia tertawa. Tapi ingat. Dia tidak gila. Masih waras sewarasnya.

Dan aku hanya bisa mengirim pesan singkat padanya, ”Ini bukan kekalahan, Kawan!” (*)

Padang, Januari 2021

GANDA CIPTA : Lahir 4 Mei 1984. Alumnus Jurusan Sastra Indonesia Universitas Andalas. Selain menulis cerpen, juga menulis puisi, resensi buku, dan wartawan di Kota Padang.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 30 Mei 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme