Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Saku Suami oleh Yusrizal KW

Posted on Ming, 02 Nov 2003

Aini mestinya tersinggung ketika suaminya setelah hari pernikahan mereka berdua mengatakan, “Aku tidak suka istri pemeriksa saku suami. Kukatakan itu padamu, penting artinya!”

Tapi, Aini cuma menatap mata Warahum, suaminya itu. Ingin ia mengatakan, apakah aku seperti yang kau bayangkan dengan begitu buruk?

Dan, ketika menjalankan kehidupan berumah tangga, Aini memang tidak sekalipun berusaha untuk mengetahui, maksudnya merogoh isi saku baju maupun celana suaminya. Lagi pula, ia menganggap tidak penting. Namun, sesekali melintas juga pikiran curiga, tepatnya perasaan bertanya-tanya, apakah Warahum, suaminya itu, suka menyimpan sesuatu di sakunya. Misalnya pada dompet, bukan mustahil ada foto perempuan selain dirinya. Atau suaminya takut ia mendapatkan sejumlah uang, lalu mencurinya untuk keperluan yang hanya dirinya sendiri yang tahu. Atau suaminya tidak ingin ia tahu jumlah uang dalam saku suaminya.

Pantangan Warahum akhirnya bisa ia pahami sebagai pantangan serius, dan tidak perlu dipermasalahkan. Untuk itu, ia berhati-hati. Ketika hendak mencuci celana atau baju suaminya, ia terlebih dulu mengatakan kepada suaminya, apakah sudah tidak ada sesuatu di dalam saku? Untuk itu, ia akan mendapatkan jawaban singkat, berulang-ulang untuk pertanyaan yang sama, “Cuci saja!”

Tapi, setiap pantangan, selalu mendatangkan godaan. Suatu kali, ketika suaminya di kamar mandi, ia tergoda untuk merogoh saku celana suaminya yang tergantung di balik pintu. Ketika hendak melakukan, jantungnya berdebar. Takut ketahuan. Akhirnya Aini sekadar meraba saku depan dan belakang dari celana suaminya. Mungkin kertas atau sejumlah uang, batinnya. Jangan-jangan surat cinta dari perempuan. Ah, tak mungkin, elak hatinya. Itu gegabah.

Maka, ketika anak mereka satu-satunya lahir, kemudian menanjak remaja, ia pun mengingatkan hampir persis apa yang pernah dikatakan suaminya dulu.

“Nak, ayahmu tidak suka anak pemeriksa saku ayah. Ibu katakan itu padamu, penting artinya!”

Tapi, anak laki-lakinya itu, Yusuf, merasa larangan tersebut seperti menyuruh untuk memeriksa saku ayahnya. Hingga suatu hari, ketika ayahnya dilihat sedang asyik sarungan memberi makan burung, dengan diam-diam Yusuf mengendak ke kamar, lalu melongok ke balik pintu. Tangannya menurunkan celana sang ayah dari gantungannya. Namun, baru saja celana itu utuh dipegangnya, ayahnya masuk mendadak. Ia gelagapan.

“Kamu memeriksa saku ayah?” bentak Warahum pada anaknya dengan suara keras dan mata menatap tajam. Yusuf gelagapan, bagai tercagut dalam air.

“Jawab!” bentak ayahnya.

“Belum sempat, Ayah!”

Plak! Sebuah tamparan ke pipi Yusuf. Yusuf lari menyimpan tangis. Ia mendadak merasa benci pada ayahnya sehingga ia menduga ayah menyimpan sesuatu dalam sakunya. Untung perasaan benci itu hanya seketika.

Kepada ibunya ia minta maaf. Ibunya hanya menjawab, “Larangan bukan untuk dilanggar, tapi untuk mempertegas kepercayaan orang lain pada kita!”

Lalu sebuah nasihat untuk Yusuf.

“Nak, apa pun alasannya, memeriksa saku atau dompet yang bukan milik kita, itu tidak baik. Tabu malahan!”

Yusuf hanya menunduk.

Suatu hari, Sofia ia lihat bermata sembab. Ia habis menangis tampaknya. Aini menilai sesuatu yang buruk telah terjadi pada Sofia. Tetapi, ia merasa tidak perlu tahu karena memaksa tahu masalah orang lain sama tabunya dengan merogoh saku suaminya.

Ketika ia sedang duduk di teras rumah, suatu pagi, kala Warahum telah berangkat kerja, Sofia datang. Wajahnya muram sekali. Sofia, tetangga yang selalu berkunjung ke rumahnya setelah pekerjaan dapur selesai. Saat itulah mereka ngobrol, kadang gunjing dan berangan-angan.

Tetapi kali ini, Sofia datang dalam maksud yang masih teka-teki bagi Aini.

“Aku sedih, Ai, sedih sekali. Sebab, pagi-pagi sekali, kami bertengkar. Suamiku nyaris menampar pipiku….” Begitu Sofia memulai pembicaraan sembari mengenyakkan pantatnya di kursi rotan teras rumah Aini.

“Ada apa Sofia?”

“Aku cuma iseng merogoh saku suamiku. Tapi, ia marah karena merasa malu. Sebab, di dalam saku celananya kudapati kupon togel, angka-angka menawarkan mimpi kaya….”

Aini ingat Warahum. Jangan-jangan alasan itulah yang membuat suaminya melarang sakunya diperiksa.

“Untuk apa kamu merogoh sakunya, Sofia?”

“Iseng. Lagi pula, suamiku tidak pernah berpesan untuk tidak memeriksa saku baju maupun celananya….”

“Sudahlah, tidak usah dipersedih. Maklumi saja, siapa tahu ia juga iseng pasang angka!”

“Soal pasang angka tidak soal bagiku. Tapi…”

Sofia tidak melanjutkan. Ia malah mendadak jadi terisak, menutup wajahnya dengan dua tangannya. Menangis.

Aini diam, bagai linglung. Tak tahu bagaimana menghibur teman yang juga tetangga dekatnya itu.

“Aku terluka. Terluka sekali,” katanya di tengah isak. Aini mengernyitkan kening sehingga lipatannya nyaris menyaingi kusut hati Sofia.

“Semestinya kamu tidak melakukannya, Sofia. Saku adalah wilayah pribadi, begitu juga dompet. Coba kamu tidak iseng merogoh saku suamimu, tentu semua akan berjalan baik-baik saja!”

“Tapi, aku bagai digerakkan tangan Tuhan untuk merogoh sakunya ketika ia sedang mencuci motornya. Kamu tahu apa yang kudapat selain kupon putih itu?”

Aini diam sesaat, lalu menggeleng.

“Kondom. Aku menemukan kondom dalam saku celananya. Apalagi semalam ia tidak pulang. Bayangkan, untuk apa benda itu baginya. Selama ini kami tidak pernah menggunakan benda itu dalam berhubungan.”

Mata Aini terbelalak. Ia gelisah. Terbayang Warahum, yang tiga hari terakhir ini suka pulang larut malam. Jangan-jangan suaminya juga menyimpan kondom dalam saku, pikir Aini. Cepat-cepat ia membuang pikiran buruk itu. Ia pun tak ingin mendengar kelanjutan cerita Sofia.

“Sebaiknya kamu tenangkan hatimu dulu di rumah. Selesaikan baik-baik, tanya dari mana dan untuk apa kondom itu untuknya….”

Sofia makin terisak.

“Menurutmu, apakah aku kurang menarik, Ai?”

Aini hanya menatap Sofia, lalu menarik napas. Diam-diam dalam hati, ia mematut diri sendiri, apakah aku masih cantik sebagaimana puji Warahum waktu hendak menikah dulu.

Peristiwa Sofia membuat perasaan Aini gelisah. Kegelisahan itu mungkin tidak akan ia alami kalau suaminya tidak pernah melarang dirinya untuk memeriksa saku celana maupun baju Warahum. Pantangan suaminya itu tentu setelah mendengarkan cerita Sofia membuat ia harus mempertanyakan dengan kecurigaan. Kenapa mesti dipesankan. Tentu, ya tentu ada sesuatu yang dirahasiakan suaminya. Atau, suaminya sejak lahir suka punya bagian-bagian yang menurutnya boleh ada yang tahu dan sebaliknya.

Pengalaman buruk Sofia menimbulkan dorongan baginya untuk berusaha memeriksa saku baju, tepatnya celana, kemudian dompet suaminya. Laki-laki ternyata tidak melulu bisa dipercaya ketika ia selalu tampak baik-baik dan penyayang di hadapan istri, seperti suami Sofia misalnya. Burhan, suami Sofia, terlihat baik, murah senyum, dan suka menyapa. Tapi, ketika benda mencurigakan itu ada di dalam sakunya, alasan apa yang tepat diberikan kepada seorang istri.

Karena itu, kadang ia merasa aneh oleh pantangan-pantangan suami, yang diam-diam merahasiakan sesuatu. Misalnya, ia kadang ingin marah ketika suaminya cemberut ditanyai dari mana, jam berapa pulang, kenapa terlambat sampai di rumah. Tapi, mungkin, itulah laki-laki. Punya banyak pintu yang tertutup, dan kuncinya seperti disembunyikan jauh-jauh di sebuah tempat gelap.

Aini ingat Yusuf yang pernah ditampar Warahum ketika anak itu mencoba merogoh saku. Ingatan terhadap pengalaman buruk Yusuf mengentalkan kecurigaan. Pasti ada apa-apanya, sebab suaminya begitu sangat marah sampai-sampai harus menampar anak sendiri. Bisa jadi selalu ada persediaan kondom di saku celana Warahum.

Pikiran buruk beranak pinak dalam kepala Aini. Ia berniat, sungguh berniat, dan akan mengupayakan niatnya tercapai untuk mengetahui apa saja isi saku suaminya. Tapi, apakah mungkin bisa ia lakukan, sementara ia sadari suaminya begitu awas terhadap celananya dan juga bajunya yang selalu tergantung di balik pintu kamar.

Warahum baru pulang kerja. Aini sengaja merajut taplak meja di dalam kamar, menghadap jendela. Sore.

Suaminya membuka celana panjang, kemudian sebagaimana biasa, menggantungkan di balik pintu. Sesaat kemudian, terlihat Warahum mengenakan kain sarung kotak-kotak kecil. Setelah mengenakan oblong, ia minta dibuatkan kopi.

Aini meletakkan rajutannya di atas kasur.

“Mau minum di teras sambil baca koran, atau di kamar?” tanya Aini.

“Biasa, di teras!”

Di dapur, Aini membuatkan kopi lebih hati-hati dari biasanya. Harapannya, tepatnya ia berdoa, semoga kopi sore ini jauh lebih nikmat dari biasanya. Sebab, itu bukan tidak mungkin membuat Warahum keasyikan sembari membaca koran sore.

Kopi terhidang di meja kecil pada teras. Suaminya dengan santai mengenyak duduk, membaca koran.

Cepat-cepat Aini masuk kamar. Ia mesti melanggar pantangan.

Setelah menutup pintu rapat-rapat, sehingga pintu seakan sejajar dengan dinding, ia setengah gemetar berusaha menurunkan celana suaminya. Walau keringat dingin mengucur, keberaniannya memuncak. Namun, jantungnya nyaris berhenti berdetak ketika dari teras terdengar suara suaminya berteriak, “Aini, tolong ambilkan rokok di meja dekat telepon!”

Saking gugupnya, celana panjang Warahum di tangannya jatuh ke lantai. Cepat-cepat ia ambil dan digantungkan kembali.

Setelah memberikan rokok pada suaminya, ia gugup sendiri. Sebab, pikirannya terganggu ketika mengingat ada empat paku cantelan di balik pintu. Ia lupa, pada paku baris ke berapa dari kiri celana suaminya tergantung. Biasanya, orang yang punya pantangan saku celananya diperiksa, tahu persis di paku mana celananya dicantelkan. Ia cemas suaminya masuk kamar dan mengamati celananya pada gantungan.

Buru-buru ia masuk kamar, lalu menatap celana yang tergantung pada paku baris kedua dari kiri. Ia mencoba mengingat, benarkah di situ celana suaminya tergantung semula.

Tapi keinginan untuk tahu apa saja isi celana suaminya, membuat Aini cepat-cepat menurunkan celana tersebut dari gantungannya. Tangannya cekatan merogoh saku kiri. Ia keluarkan isinya, hanya uang Rp 10.000 ditambah tiga lembar uang Rp 1.000. Kemudian ia rogoh saku kanan, ia mendapatkan benda bulat sebesar jempol kaki, berbungkus kain hitam dengan ikatan benang tujuh warna.

Ia timang benda itu, sebuah jimat. Lama ia terpaku, bertanya-tanya, berdebar-debar.

Jimat?

Jimat apakah ini.

Seketika melesat bayangan almarhum ayahnya. Waktu ayah meninggal, ibu mendapatkan benda itu di saku celana ayah, yang kata ibu juga tidak boleh diperiksa istri. Diam-diam, seminggu setelah ayah dikubur, Pak Jaya, seorang paranormal yang tinggal di depan rumah, menemui Aini yang kebetulan sedang duduk berdua dengan suami.

“Benda sebesar jempol kaki yang dibalut kain merah dengan ikatan benang tujuh warna itu, kamu tahu apa itu sesungguhnya, Ai?”

Aini menatap suaminya. Lalu menoleh kembali ke Pak Jaya yang mengenal benda ayah tersebut dari ibu, sembari melepaskan gelengan.

“Ayahmu menyimpan jimat supaya dicintai istri sampai mati, supaya ibumu penurut, walau diam-diam di luar banyak perempuan yang menyukainya!”

Aini hanya tersenyum. Kurang percaya, sulit yakin. Pak Jaya setelah berpesan, agar ia atau ibu menyimpan baik-baik sebagai kenangan dari ayah, lalu pamit. Tapi tak lama, ia balik lagi.

“Tapi kamu jangan percaya seratus persen. Kadang laki-laki punya impian dicintai habis-habisan, tidak hanya oleh istrinya. Maka itu banyak laki-laki nakal di luar! Aku tidak tahu bagaimana ayahmu mendapatkan jimat itu.”

Gila, pikir Aini.

Kini, lihatlah, benda merah berbalut benang tujuh warna itu, sedang ia pegang. Padahal, padahal, ia pernah menyimpan punya ayahnya di balik lipatan kain dalam lemari ibu. Tapi, ketika ia berpikir hendak membuang jauh-jauh, benda tersebut hilang. Kalau diceritakan pada Warahum, suaminya berkata antara serius dan gurau, “Mungkin diambil kembali oleh roh ayahmu!”

Aini mencibir, dan mendesis, “Percaya yang gituan, ya?”

Tercenung dan makin berprasangka buruk hati Aini. Jangan-jangan ini benda ayah yang hilang dari lipatan kain di lemari ibu. Tapi, kalau memang benar makna yang dipaparkan Pak Jaya soal jimat merah tersebut, misalnya untuk menjadikannya selalu mencintai dan penurut, berarti suaminya bisa mungkin nakal di luar dan agar ia tergantung habis-habisan pada Warahum dan tak berdaya. Tapi, bukankah larangan memeriksa saku itu ada sebelum ayah meninggal. Yap. bukan tak mungkin, jimat itu bisa diperoleh untuk banyak orang. Dan suaminya mungkin saja mendapatkan di tempat yang sama dengan ayah.

Tiba-tiba pintu dikuakkan dari luar kamar. Aini terkejut. Jimat merah itu terjatuh dari tangannya. Pintu ternganga, Warahum mencongok dengan mata mulai curiga. Aini diserang cemas bagai kapal hendak karam.

Aini tiba-tiba pucat. Ia menjadi sangat takut, apalagi ketika menekurkan kepala menyembunyikan kecemasannya dari sorot mata, di lantai jimat merah itu teronggok jelas.

Beberapa detik berlalu, Aini belum berani mengangkat wajahnya. Ia merasa bersalah, juga merasa marah. Sebelum ia mengangkat wajah menatap suaminya dan menyatakan maaf kemudian mempertanyakan benda itu, di benaknya telah melesat bayangan suaminya yang juga sedang terpaku menahan amarah menatap ke lantai, ke benda yang sama.

“Kau akhirnya lancang memeriksa sakuku, Aini?”

Terdengar suara Warahum berat, mengisyaratkan ia telah tahu semuanya.

“Maaf, maafkan aku. Aku takut, kamu menyimpan kondom dalam saku!” hanya jawaban gugup yang terbata keluar dari mulut Aini

Padang, 2 Agustus 2003

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme