Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sepucuk Surat oleh Pamusuk Eneste

Posted on Ming, 28 Des 2003
Ketika Pakemon sedang membaca koran pagi di teras depan rumahnya, sambil menikmati secangkir kopi arabika, seorang kurir dari kantor tempatnya bekerja tempo hari datang. Kurir itu mengabarkan, Pak Presdir baru saja meninggal dunia.

“Saya mengantar ini, Pak,” kata kurir itu seraya mengajukan surat ke tangan Pakemon.

“Dari siapa?” tanya Pakemon.

“Tidak tahu Pak. Saya cuma disuruh antar.”

Pakemon mengira, itulah sepucuk surat yang ditunggu-tunggunya dua puluh tahun. Ternyata surat itu dari Pak Presdir almarhum.

“Apa Bapak ingin tidak melayat?” kata sang kurir sebelum meninggalkan rumah Pakemon. “Jenazah beliau disemayamkan di rumah duka.”

“Kapan dimakamkan?”

“Sore ini, Pak.”

Surat itu mengingatkan Pakemon pada masa silamnya. Masa silam yang kelabu.

Pakemon telah menunggu sepucuk surat sejak dua puluh tahun lalu. Namun, dua puluh tahun Pakemon menunggu, dua puluh tahun pula ia menunggu sia-sia.

Kalau Pakemon bertanya pada Bagian PSDM kantornya, selalu terdengar jawaban standar, “Sedang diproses, Pak.”

“Jadi, kapan saya bisa pensiun?”

“Terus terang, saya juga tidak tahu, Pak. Saya cuma tukang tik, Pak. Kalau sudah ada perintah dari atasan saya untuk mengetik es-ka pensiun dini Bapak, tentu segera saya kirimkan kepada Bapak,” kata salah seorang pegawai PSDM.

“Maaf, dengan siapa saya bicara ini?”

“Dengan Ani, Pak.”

Pada kesempatan lain, yang menerima telepon Pakemon adalah Neni. Jawabannya serupa tapi tak sama, “Es-ka-nya sedang diproses, Pak.”

“Jadi, kapan es-ka pensiun dini saya keluar?” kata Pakemon dengan nada tinggi.

“Saya tidak tahu, Pak. Pokoknya, saya sudah serahkan ke sekretaris Pak Presdir. Silakan tanya sekretaris Presdir, Pak.”

Ketika Pakemon bertanya pada Weni, sekretaris Presdir, muncul jawaban,

“Es-ka-nya sudah saya masukkan Pak ke map ’Surat-Surat yang Harus Ditandatangani Presdir’, Pak.”

“Lantas?”

“Saya ’nunggu ditandatangani Bapak Presdir. Setelah itu, baru saya kirim ke Bapak.”

Pakemon sudah hafal jawaban itu semua.

“Sedang diproses, Pak.”

“Sudah diserahkan ke Pak Presdir, Pak.”

“Pak Presdir belum menandatanganinya, Pak.”

“Pak Presdir masih sibuk.”

“Pak Presdir sedang rapat.”

“Pak Presdir sedang ke luar kota.”

“Pak Presdir sedang cuti.”

“Pak Presdir sedang liburan ke Eropa.”

Ajaibnya, jawaban itu sama dari bulan ke bulan. Sama dari tahun ke tahun. Lebih ajaib lagi, itu sudah berlangsung dua puluh tahun. “Tidak masuk akal,” pikir Pakemon.

Salah satu yang disukai Presdir pada Pakemon adalah kehematannya. Pakemon kesohor sebagai orang yang superhemat. Dalam soal uang, ia selalu berpihak pada kepentingan perusahaan. Kalau sudah soal hitung-hitungan, Pakemon mirip pemilik perusahaan.

“Setiap sen yang dikeluarkan perusahaan sepertinya dikeluarkan dari kantong Pakemon sendiri,” komentar para karyawan secara bisik-bisik.

Komentar lain pada Pakemon, “Kita tidak tahu persis apakah Pak Pakemon itu hemat atau pelit….”

Dalam soal disiplin, Pak Presdir juga salut pada Pakemon. Tak ada karyawan yang mampu menandingi Pakemon. Meskipun jam kerja dimulai 7.30 pagi, Pakemon sudah berada di mejanya pukul 6.30. Akibatnya bisa ditebak: para karyawan pun ikut-ikutan datang pagi dan merasa malu kalau masuk lebih dari pukul 7.30.

Pulangnya pun begitu. Meski jam kantor berakhir 16.30, Pakemon selalu pulang pukul 17.30. Akibatnya pun bisa diduga: para karyawan pun ikut-ikutan pulang mendekati 17.30 dan merasa rikuh pulang pukul 16.30 teng.

Tak mengherankan kalau Pakemon dipercaya Presdir menduduki jabatan direktur keuangan perusahaan MNC itu pada usia 30 tahun.

Itu juga sebabnya, Pakemon terpilih menjadi karyawan teladan selama beberapa tahun berturut-turut. Namun, itu pula sumber protes para karyawan terhadap Presdir.

“Pemilihan karyawan teladan tak perlu diteruskan, Pak,” kata mereka.

“Kenapa?” tanya Presdir.

“Lha, kalau caranya begitu, yang terpilih dari tahun ke tahun cuma Pakemon melulu, Pak,” kata yang satu.

“Kalau begitu, Pakemon saja yang kerja, Pak,” kata yang lain.

“Kita-kita ini berhenti saja semua, Pak,” kata yang lain lagi.

Sejak itu, pemilihan karyawan teladan pun ditiadakan.

Kalau bertemu dengan Pakemon, pastilah kau akan iri secara diam-diam atau terang-terangan. Bukan karena istrinya bekas peragawati. Bukan pula karena Pakemon mampu menyekolahkan anak-anaknya di sekolah-sekolah unggulan (bayarannya dengan dollar Amerika). Bukan pula karena ia memiliki rumah bagus (Lt 1000m²/Lb 500 m²) di kompleks perumahan paling bergengsi. Bukan pula karena ia memiliki vila di daerah pegunungan (yang dikunjunginya setiap akhir pekan dan hari libur lainnya). Juga bukan karena Pakemon memiliki mobil-mobil made in Germany (BMW paling gres untuk dirinya sendiri; Mercy seri terbaru untuk kegiatan istrinya; Opel Blazer untuk antar jemput kedua anaknya).

Bukan itu.

Pakemon mencapai semua itu pada usia 40 tahun!

Itulah yang menyebabkan Pakemon telah merasa di puncak kariernya. Pakemon rupanya sangat tahu diri. Tak mungkin lagi ia naik ke atas….

“Menjadi salah satu direktur saja sudah di luar impianku,” kata Pakemon pada suatu hari pada istrinya.

Pakemon sangat mensyukuri kedudukan yang diperolehnya di perusahaan MNC itu. Ia tidak ingin lagi lebih dari itu.

“Tapi, kamu kan masih muda, Mas,” sahut istrinya.

“Maksudmu?”

“Kamu masih mempunyai peluang jadi presdir.”

“Jadi p-r-e-s-d-i-r?”

“Ya, jadi p-r-e-s-d-i-r!”

Pakemon yang tak punya ambisi apa-apa ketika melamar di perusahaan MNC itu (“yang penting aku dapat pekerjaan dan bisa hidup”), serasa berada di awang-awang. Jadi presdir? Ah, tidak. Tidak!

Pakemon sangat tahu diri.

“Ah, itu tak mungkin, Pak,” kata Pakemon kepada Presdir pada suatu audienasi. Pakemon sengaja minta waktu untuk menghadap.

“Lalu rencana Saudara selanjutnya apa?”

“Kalau kita sudah di atas, tentu tak ada jalan lain kecuali turun secara terhormat dan sopan.”

Rupanya, Presdir kurang paham maksud Pakemon.

“Maksud Saudara bagaimana?”

“Saya ingin pensiun saja, Pak.”

“P-e-n-s-i-u-n?”

“Ya, pensiun, Pak,” kata Pakemon dengan kalem. “Pensiun dini….”

“Pensiun pada usia empat-puluh tahun?”

“Betul, Pak.”

“Saudara sudah yakin?”

“Yakin, Pak.”

Setelah membaca basa-basi pada awal surat, Pakemon membaca inti surat Presdir itu.

Sebetulnya, saya sangat senang dengan reputasi Anda di perusahaan.

Sayangnya, Anda terlalu cepat berpuas diri. Buktinya, Anda meminta pensiun pada usia 40 tahun, justru saat usia Anda sedang produktif.

Coba Anda bayangkan. Kalau Anda saya perkenankan pensiun dini, tentu saja banyak orang kelak yang akan meminta pensiun dini. Itu preseden buruk, Saudara! Apa jadinya perusahaan yang saya bangun ini dengan susah payah?

Kini usia Anda sudah 60 tahun. Saatnya untuk pensiun. Ya, pensiun normal.

Pensiunlah dengan tenang. SK-nya sudah saya tanda tangani. Silakan ambil di PSDM.

Di bawahnya masih ada kata-kata berikut.

Jangan dendam pada saya. Itu tak baik.

Dua baris terakhir berbunyi:

Anda telah menunggu 20 tahun.

Maaf.

Setelah tanda tangan Pak Presdir, masih ada NB yang berbunyi: Saya ingin menyampaikan satu hal pada Anda. Sebenarnya, saya menjagokan Saudara sebagai kandidat pengganti saya kelak. Sayangnya, Saudara bersikukuh minta pensiun dini.

Istri Pakemon yang mengetahui adanya surat Pak Presdir itu dan telah membacanya berusaha menghibur Pakemon.

“Sudahlah, Pap. Nggak usah dipikir lagi ulah Presdirmu itu.”

Pakemon tak bereaksi. Ia masih merasa sakit hati pada Pak Presdir. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Dibiarkan menunggu dua puluh tahun. Tak digaji. Tak diberi pesangon. Cuma dianggap non-aktif!

“Lupakah saja surat pensiun dini itu, Pap.”

Pakemon menarik napas panjang. Ia perhatikan surat Presdir itu. Dibacanya lagi. Namun, sakit hatinya tak hilang-hilang jua; malah makin menancap lebih dalam. Kenapa dia biarkan aku menunggu dua puluh tahun? Kenapa aku harus menanti dua puluh tahun tanpa kabar? Kenapa aku dipingpong ke sana kemari hanya untuk sepucuk surat?

“Toh semua sudah berlalu, Pap, buat apa dipikiri?”

Pakemon mengangkat cangkir dari tatakannya, kemudian menyeruput kopi arabika kesukaannya. Ditaruhnya surat Presdir di meja di hadapannya, kemudian diteruskannya membaca koran pagi.

Ketika istri Pakemon mengajak, “Ayo kita melayat, Mas!” Pakemon tampak bergeming. Pakemon belum tahu, apakah ia akan melayat atau tidak.

Jakarta, 8-9-2003

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme