Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Valentina oleh Daisy Rahmi

Posted on Ming, 13 Jun 2021

SAMBIL menghela napas, aku geser keduanya ke samping dengan kaki, kemudian mengalihkan perhatian pada sosok lelaki yang berdiri di depan kompor. Yang ditatap melirikku masuk. Lars memindahkan telur yang telah matang dari wajan ke piring dan membawanya ke ruang makan.

”Kubuatkan sarapan,” ucapnya.

Aku menuju kamar tanpa menjawab, melepas jaket dan menggantungkannya. Lars telah mulai menyuap ketika aku keluar.

”Kapan datang?” tanyaku.

”Baru saja,” gumamnya di sela-sela kunyahan.

”Ke mana selama ini?”

Pertanyaanku diabaikan.

”Setidaknya kau bisa memberi tahuku.”

Lars mendengus.

”Aku tinggal di sini bukan agar kau bisa bersikap seperti seorang ibu.”

Tak ingin memperpanjang, kutarik kursi di seberang meja dan mulai makan. Sesaat tak ada yang bicara.

”Ada pos hari ini?” tanyanya tiba-tiba.

”Entahlah.”

Lars bangkit dan bergegas keluar. Ia kembali beberapa menit kemudian dengan setumpuk amplop di genggaman. Kulanjutkan aktivitas mencuci piring tanpa keinginan bertanya.

”Ada surat untukmu.”

Terkejut, aku spontan berpaling. Lars membalikkan benda segi empat di tangan.

”Dari Donie. Kau kenal?”

Sesuatu berdenyut di dada. Aku menelan ludah.

”Letakkan saja di meja,” jawabku, kemudian melanjutkan pekerjaan yang terhenti.

Bunyi pintu terbuka dan tertutup di belakangku. Laki-laki itu pasti masuk ke kamarnya dan takkan keluar sampai sore seperti biasa. Aku berhenti mencuci, menekan pinggiran bak dengan tangan berbusa. Kelopak mata mulai terasa panas. Tidak siap menghadapi sepucuk surat yang berjarak semeter sekaligus luka masa lalu yang dibawanya. Aku tak mengharapkan apa-apa lagi, tidak surat atau yang lain, sejak hari itu. Hari ketika hidupku yang sebenarnya dimulai.

”Aku tak percaya kau menunggu ayah dan ibu meninggal sebelum melakukan ini!”

”Apa yang kauharapkan dari kami?! Mendukungmu?!”

Kalimat Marin dan Stefie terngiang bersamaan dengan mengucurnya air dari mulut keran. Mereka benar. Aku tidak sanggup melakukannya saat orang tua kami masih hidup dan berharap pengertian kakak-kakak perempuanku setelah keduanya tiada. Harapan berakhir dengan cercaan dan pengusiran. Lars satu-satunya kerabat yang memahami pilihanku.

Aku bersihkan tangan, lalu meraih surat tersebut. Sudut bibir terangkat melihat gaya tulisannya masih sama; besar, acak-acakan, dan condong ke kanan. Jari telunjuk menelusuri coretan dengan mata berkaca-kaca. Setitik air mata jatuh, menimbulkan bercak di permukaan amplop. Gagang pintu kamar Lars bergerak. Tak ingin tepergok menangis, cepat kusurukkan ke saku dan bergegas pergi.

*

Setelah tiga hari aku putuskan menemui seseorang yang bisa diajak bicara. Matahari tepat ada di puncak kepala ketika mesin mobil dimatikan, sinarnya memantul di kaca gedung. Gadis cantik di meja resepsionis menyapa ramah. Kubalas sapaannya dengan senyum dan anggukan. Usai melewati selasar panjang, aku naik tangga dan mengetuk pintu di ujungnya.

”Aku ingin bicara,” ucapku kepada si pembuka pintu.

Ia menyisih memberi jalan. Ruangan di belakangnya berantakan. Tumpukan piring kotor memenuhi bak cuci, beradu kotor dengan gorden yang tergantung. Di lantai bertebaran kertas-kertas yang telah diremas. Seekor kucing tidur melingkar di dudukan kursi. Hewan tersebut mengangkat kepala saat aku masuk dan menatap dengan mata hijaunya.

”Duduklah di mana kau suka.”

”Aku dipecat minggu lalu,” lanjutnya menjawab pertanyaan di sorot mataku.

”Kalau kau butuh bantuan….”

”Aku bisa mengurus diriku sendiri.”

Disingkirkannya kotak bekas makanan sebelum mengempaskan tubuh ke sofa.

”Ada apa? Mustahil kau jauh-jauh ke sini hanya untuk mengecek kondisi keuanganku.”

Memilih tetap berdiri, kuulurkan amplop yang masih tertutup.

”Bacakan untukku.”

Setelah membaca lembar surat, mata lawan bicaraku menyipit di balik kacamata.

”Ini dia?”

Aku mengangguk. Si lelaki meringis.

”Dia ingin bertemu.”

”Ironis, bukan?”

Diselipkannya lipatan surat ke dalam amplop, lalu mengembalikan padaku.

”Tampilan luarmu memang telah berubah, operasi memberi hidup yang kau inginkan, tapi di dalam kau tetap saja bocah lelaki yang takut mengakui masa lalu.”

Aku menghindari tatapannya. Pria itu bangkit dan menepuk bahuku.

”Temui dia.”

Pulang dalam keadaan kacau, aku berusaha keras tidak membiarkan pikiran mengembara selagi mengemudi. Belum sepenuhnya yakin akan saran tersebut, tapi juga tak punya pilihan lain. Pembicaraan barusan sama sekali tak menolong. Perasaanku masih sama tertekannya seperti tiga hari lalu. Aku menghela napas dan menginjak pedal gas.

Hal lain mengganggu setiba di rumah. Keningku berkerut melihat sepeda motor Lars tak ada. Sudah beberapa lama aku curiga. Kepergian misterius selama berhari-hari serta keengganan memberi tahu mengisyaratkan ada yang tidak beres. Aku buka pintu kamar Lars dengan kunci duplikat dan menggeledah isinya. Amarah bergolak membuatku terpaku menatap sesuatu yang ditemukan. Ia telah memanfaatkanku!

Yang ditunggu muncul lima hari kemudian. Pemuda tersebut masuk rumah sambil bersiul kecil. Ia melirik tak acuh. Ayunan langkah terhenti menyadari diriku mengawasi gerak-geriknya.

”Ada apa?”

Kutunjuk dua koper besar dengan gerakan kepala.

”Pergi. Sudah kukemasi semua milikmu.”

”Kau masuk ke kamarku?” balasnya tercengang, ”Apa-apaan ini?”

Sebuah bungkusan cokelat kulemparkan ke dekat kakinya.

”Bawa juga barang terkutukmu.”

”Tunggu! Aku bisa jelaskan.”

”Aku tidak butuh alasan kau menyimpan narkoba,” tukasku tajam, ”Aku ingin kau angkat kaki. Masalahku sudah banyak tanpa perlu kedatangan polisi untuk menangkapmu.”

Pria itu mendekat dengan sikap mengancam. Dua tangan terkepal di sisi tubuh. Wajahnya beringas.

”Dengar baik-baik, sialan!” desisnya geram, ”Hanya aku yang ada di pihakmu waktu itu!”

Kutentang tatapannya.

”Tak akan kuulangi kali kedua. Tinggalkan kunci rumahku yang ada padamu.”

Usai beberapa lama beradu mata, kepalan itu mengendur. Lars menyeringai kecut. Ia mengangkat tangan dengan sikap menyerah.

”Baiklah. Terserah.”

Diempaskannya anak kunci ke atas meja, berbalik dan keluar sambil membanting pintu.

*

Pagi yang basah dan dingin setelah hujan malam hari. Masih dalam balutan jubah mandi, kukeluarkan lembaran kertas dari amplop; membacanya untuk kali pertama. Keputusan itu dibuat tanpa pikir panjang. Lima menit berselang aku telah dalam perjalanan ke stasiun, membeli tiket kereta api dan membiarkan mobil di parkiran.

Kota yang selama ini dihindari kali ini jadi tujuan. Hangatnya sinar matahari mengiringi diriku saat menghampiri deretan taksi. Duduk bersandar di kursi belakang dengan telapak tangan lembap oleh keringat, aku abaikan ocehan si sopir yang sepertinya berniat jadi pemandu wisata dadakan. Perlu konsentrasi untuk membulatkan tekad.

Taksi berhenti di seberang gedung. Aku masuk ke kafe, memesan secangkir kopi susu dan sebutir telur rebus sebagai pengisi perut. Memilih meja dekat jendela, berharap bisa melihatnya. Pesananku baru saja diantar saat sosoknya menyeberang jalan. Dia sama sekali tak berubah. Alis tebal menaungi sepasang mata yang bersinar cerdas. Setelan yang dikenakan mengingatkan aku pada hari terakhir kami bertemu.

Aku tinggalkan makanan yang masih utuh, kemudian membuntuti pria itu dengan hati-hati meski yakin ia tak mungkin mengenali. Yang diikuti masuk ke gedung lalu membuka salah satu pintu di koridor. Kupejamkan mata dan menghitung sampai sepuluh sebelum melangkah maju. Perempuan dengan rambut dicat biru merespons ketukanku.

”Ada apa?”

Tak siap berhadapan dengannya, aku sedikit tergagap.

”…Donie.”

Setelah mengamatiku dari puncak kepala hingga kaki, ia berpaling dan berteriak ke dalam.

”Donie, kemarilah!”

Langkah kaki mendekat. Laki-laki yang ingin kutemui muncul.

”Ada apa?”

”Dia mencarimu.”

”Bisa kita bicara berdua?” selaku.

Si biru memandang sinis, lalu masuk. Donie menutup pintu sebelum menanyaiku.

”Apa yang bisa kubantu, Nona?”

Ujung runcing pisau mulai menusuk hati. Ini lebih menyakitkan dari yang dibayangkan. Aku menelan ludah.

”Kau mengirim surat padaku.”

”Maaf?”

Donie menerima amplop yang kuulurkan. Lama lelaki itu terdiam setelah membaca isinya, kesulitan berkata-kata.

”…kau …berubah, Valen.”

”Valentina,” koreksiku, ”Apa kabar, Donie?”

Menjaga agar senyum tetap tersungging di bibir, aku yakin tidak akan pernah terbiasa menerima tatapan itu. Tatapan dari orang-orang yang mengenalku sejak kutambahkan kata ”tina” di belakang nama tahun lalu. (*)

—

DAISY RAHMI : Penulis kelahiran Manado dan kini tinggal di Jakarta.

sumber : JAWAPOS, Minggu, 13 Juni 2021

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme