Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lelaki yang Ditelan Gerimis oleh Mustafa Ismail

Posted on Ming, 08 Feb 2004
Kami bertemu di Rex, Peunayong, ketika gerimis baru saja reda mengguyur Kota Banda Aceh itu. Aku tidak tahu dia muncul dari mana, tiba-tiba dia sudah berada di depanku. Sejenak aku sempat terperangah dengan kehadirannya. Aku hampir tidak mengenalnya jika ia tidak menyebut namanya sendiri, sambil bertanya kepadaku dalam logat Aceh yang kental, “Kau masih ingat kan?”

Jelas saja aku masih ingat Suman, teman baikku ketika di pesantren dulu. Kami satu bilik ketika mondok di dayah -sebutan lain untuk pesantren. Kalau malam sehabis mengaji, kami suka mencuri-curi untuk menonton televisi di rumah Pak Samad, yang rumahnya tak jauh dari dayah. Beberapa kali Teungku Ubit, guru ngaji kami, memergoki kami keluar dan esoknya kami kena hukuman dipukul telapak tangan dengan sapu lidi.

Perihnya luar biasa. Bekas merahnya seminggu baru hilang. Tetapi hukuman itu tidak bisa dielakkan. Bukan hanya kami, sejumlah kawan lain yang kepergok menonton televisi sehabis mengaji juga dihukum. Di dayah kami memang ada aturan tidak boleh menonton televisi.

Alasannya, televisi banyak menyiarkan sesuatu yang tak bagus untuk dilihat mata. Misalnya, perempuan yang tidak menutup aurat, bahkan mengumbar aurat, tari-tarian atau lagu-lagu yang tidak sesuai dengan nilai-nilai yang ditanamkan di dayah. Siapa pun yang melanggar peraturan itu, tanggung sendiri akibatnya.

Banyak santri memang patuh. Tetapi ada sebagian yang bandel, mencuri-curi untuk bisa keluar dari kompleks dayah demi menonton televisi. Di antara sebagian itu, ya kami, aku dan Suman. Nyaris setiap malam kami keluar lewat jendela belakang bilik dan mengendap- endap keluar melalui pintu samping tempat wudu.

Kami sengaja memilih pintu samping tempat wudu, sebab kalau kepergok sama teungku, tidak sulit mencari alasan. Kami langsung bilang: mau shalat sunat, atau berwudu untuk mengaji, dan macam-macamlah. Yang sulit kalau kepergok ketika sudah berada di luar kompleks.

Itu cerita ketika kami di pesantren. Lulus SMP, aku tidak lagi mondok di situ dan melanjutkan sekolah ke Banda Aceh. Suman melanjutkan sekolah di kampung dan tetap mondok. Ia sekolah sambil tetap bisa mondok. Antara sekolah dan dayah pesantren memang lembaga terpisah.

Maklum, tampat kami nyantri adalah pesantren tradisional, tidak ada sekolahnya. Yang ada cuma mengaji, baik mengaji Al Quran, maupun kitab-kitab klasik. Ketika era aku mondok dulu, tahun 1980-an, memang dapat dihitung dengan jari ada pondok pesantren modern, yang menggabungkan pesantren dan sekolah.

Sejak sekolah di Banda Aceh, aku masih suka ketemu sesekali kalau pas liburan dan pulang ke kampung. Suman telah menjadi asisten teungku yang mengajar anak-anak di bawah usianya. Penampilannya pun jadi berbeda. Ia menjadi lebih alim. Kemana-mana pakai peci dan bersarung. Orang-orang pun menyebutnya teungku.

Ketika aku melanjutkan kuliah ke Yogyakarta, kami sama sekali tidak pernah bertemu lagi. Kudengar ia kuliah di sebuah perguruan tinggi di Banda Aceh. Sambil kuliah, ia tetap mondok di pesantren di pinggiran Kota Banda Aceh. Di sana, ia juga menjadi asisten teungku dayah, mengajar ngaji untuk santri di bawah usianya.

Selanjutnya, aku tidak tahu lagi tentang dia. Betul-betul putus kontak. Baru kali inilah kami bertemu kembali. Cukup lama sekali kami terpisah. Tak salah kalau aku sempat pangling ketika ia mendekatiku dan menyorong tangannya untuk berjabat tangan denganku.

Suman sudah sangat jauh berubah. Dulu badannya ceking, seperti tiang listrik kata teman-teman, sekarang padat berisi. Air mukanya serius, namun tetap memancarkan kesejukan. Beberapa helai jenggotnya dibiarkan memanjang. Kalau dulu ia suka memanjangkan rambut, sekarang tidak. Ia lebih rapi kini.

“Bagaimana bisa kau ada di sini,” tanyanya setelah ia menarik kursi dan duduk menghadap ke arahku. “Kudengar kau sudah jadi pengacara hebat di Jakarta,” ujarnya lagi.

“Enggak juga. Aku masih bekerja di kantor pengacara orang. Berarti itu belum hebat. Pengacara hebat tentulah sudah punya kantor firma hukum sendiri,” kataku. “Omongomong apa kegiatanmu sekarang?”

Pembicaraan kami terhenti ketika penjual makanan datang membawa secangkir kopi panas dan menaruh di depannya.

“Setelah lulus kuliah, di samping tetap di pesantren, aku juga menjadi aktivis LSM. Aku ingin berbuat sesuatu yang nyata pada rakyat dan memperjuangkan hak-hak mereka yang selama ini tertindas.”

“Oh ya? Tapi tidak pernah kudengar namamu ditulis koran- koran.”

“Aku bukan selebriti dan tidak hendak menjadi selebriti. Aku bekerja di bawah, menggali masalah-masalah yang dihadapi masyarakat dan mencoba mengatasinya. Misalnya kalau mereka mengungsi, kami mengupayakan anak-anak mereka tetap bisa sekolah dengan mendirikan tenda sekolah darurat. Atau kalau ada orang yang menjadi korban kekerasan, kami membantu mereka untuk memulihkan trauma atau membantu mereka melaporkan kepada Komnas HAM. Hanya pekerjaan-pekerjaan seperti itu yang bisa kami lakukan.”

“Tetapi itu sangat penting.”

“Memang penting. Aku sangat senang menjalaninya. Jadi aku tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan besar seperti dilakukan teman-teman lain sehingga mereka bisa terkenal dan namanya kerap dikutip oleh koran atau teve. Kami melakukan pekerjaan-pekerjaan sederhana. Apalagi, dana dari founding kami pas-pasan. Aku tidak pandai bicara, jadi tidak bisa meyakinkan founding untuk mengucurkan dana besar.”

“Itu memang soal pilihan. Sebagai teman, aku sangat mendukung pilihanmu. Meski apa yang kalian lakukan kecil, cukup berarti dan dirasakan langsung manfaatnya oleh orang yang memerlukan. Tetapi, omong-omong bagaimana kabar teman-teman baik kita dulu?”

“Wah, mereka tersebar di mana-mana. Si Amat menjadi dosen dan hidupnya masih tetap sederhana. Maun kini menjadi anggota DPRD dan sudah kaya dia. Mobilnya aja dua, punya rumah yang cukup besar di pusat kota. Kalau Yahya kau pasti sudah tahu, setelah menjadi aktivis, dia menjadi tokoh dan selebriti. Bolak-balik ke Jakarta dan luar negeri. Hidupnya kini juga sangat makmur.”

“Luar biasa memang kawan-kawan kita. Aku senang mendengarnya. Mereka menjadi orang sukses.”

“Ya, mereka menjadi orang sukses. Tetapi rakyat di sekeliling mereka menderita.”

“Maksudmu?”

“Ah, kau kayak tak tahu saja.”

“Ali bagaimana kabarnya?” Ali yang kumaksud adalah teman sekelas kami dulu di SMP.

“Dia membantuku mengabdi pada masyarakat. Dia kerap tinggal bersama pengungsi untuk mengurus keperluan mereka di pengungsian.”

“Sekarang dia di kampung?”

Suman tidak menjawab. Ia diam dan menerawang. Lalu matanya berkedap-kedip dan ia menggigit bibir.

“Ada apa?” tanyaku.

“Ali.”

“Kenapa Ali?”

“Dia mati tertembak sebulan lalu.”

“Tertembak?”

Aku terdiam mendengarnya. Tak bertanya lagi mengapa Ali tertembak. Tidak ada yang perlu dipertanyakan. Aku tahu benar Ali. Dia orangnya alim dan pendiam, juga tidak banyak ini-itu. Dia lurus-lurus saja. Ali orang baik. Mengapa ia harus mati di ujung senjata?

“Hidup memang begitu rahasia. Hanya Tuhan yang tahu hidup dan kematian seseorang,” kataku.

“Tetapi di Aceh berbeda. Hidup dan kematian juga ditentukan oleh orang-orang yang punya kuasa dan senjata.”

Aku tidak menanggapi. Diam. Lama kami terdiam. Sunyi.

“Apa kabar kampung kita?” tanyaku kemudian.

“Aku sudah dua bulan tidak pulang kampung.”

“Mengapa?”

“Tidak bisa pulang. Kau sendiri belum sampai ke kampung?”

“Belum. Aku baru tiba tadi siang dari Jakarta. Malam ini aku ingin menikmati Kota Banda Aceh dulu. Ingin nostalgia. Besok aku baru pulang?”

“Kalau begitu, aku titip surat untuk ayahku ya?”

“Boleh. Boleh.”

“Tunggu sebentar,” katanya sambil bangkit dan berjalan meninggalkanku.

Udara malam makin menyengat mengirim gigil sampai sumsum. Meski telah mengenakan jaket yang agak tebal, hawa dingin tetap menusuk. Hujanlah yang membuat Kota Banda Aceh diselimuti dingin yang tak biasa ini. Aku baru merasakan dingin sedingin ini ya kali ini. Saat pulang dua tahun lalu, suasananya biasa-biasa saja.

“Ini suratnya,” kata Suman sambil menyerahkan kepadaku sebuah amplop putih polos yang telah direkatkan. Aku sempat kaget juga, tiba-tiba saja ia sudah berada kembali di depanku, entah dari mana ia muncul.

Aku mengambil surat itu, melipatnya dan memasukkan ke kantong baju.

“Omong-omong bagaimana keadaan pesantren kita sekarang?”

“Sudah tidak seramai dulu. Santrinya tinggal sedikit. Hanya orang-orang di sekitar itu yang menjadi santri. Santri dari luar daerah tidak ada sama sekali. Sejak gonjang-ganjing ini, mereka tidak berani keluar dari kampung. Kalau keluar kampung ya ke kota sekalian, misalnya ke Banda Aceh, Medan, atau bahkah ke Jakarta.”

“Teungku Ubit bagaimana kabarnya?”

Kembali ia terdiam. Matanya kembali menerawang. Ia menarik napas pelan-pelan dan mengembuskannya perlahan. “Nasib Teungku Ubit juga menyedihkan. Ia mati di ujung senjata beberapa bulan lalu,” katanya pelan.

Kembali aku tersentak. “Mengapa?”

“Entahlah,” Suman menggeleng.

Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Suasana memang begitu menyakitkan, begitu menyedihkan.

“Omong-omong ada acara apa kau pulang?” Suman lalu bersuara.

“Aku mau menjemput orangtuaku dan membawanya ke Jakarta. Kasihan kalau mereka terus tinggal di kampung. Banyak suara dar-der-dor. Mengerikan. Aku tidak tenang kalau mereka tetap berada di kampung. Kepikiran terus.”

“Iya, memang pilihan tepat. Banyak orang yang punya anak atau familinya di Medan, Jakarta, atau di mana, meninggalkan kampung. Mereka tak kuat hidup di kampung. Tetapi yang paling kasihan orang- orang yang tidak punya siapa-siapa di luar Aceh, mereka tidak tahu harus ke mana.”

“Kau sendiri kenapa tidak mengajak orangtuamu tinggal di Banda Aceh? Kan di sini relatif lebih tenang.”

“Orangtuaku mana mau diajak meninggalkan kampung. Meski tak nyaman dan selalu dicekam ketakutan, mereka lebih senang berada di sana.”

“Ya, memang soal pilihan. Tetapi mudah-mudahan orangtuaku tidak menolak.”

“Mudah-mudahan.”

“Kalau begitu, aku balik dulu ya,” katanya sambil menyodorkan tangan kepadaku untuk berjabat tangan sebagai tanda perpisahan. Kami berjabat tangan, setelah itu dia melangkah meninggalkan taman Rex. Tetapi, baru saja ia keluar dari komplek taman Rex, gerimis tiba-tiba mengepung. Kulihat dia tidak berhenti dan berbalik untuk berteduh, tetapi terus berjalan sampai hilang di belokan jalan. Gerimis seperti menelannya.

Tak lama, gerimis pun berubah menjadi hujan besar. Lebih dari setengah jam baru hujan itu reda. Setelah reda benar, aku meninggalkan Rex dan berjalan kaki ke hotel yang tidak jauh dari situ. Sebenarnya, kalau tidak hujan, aku pingin berlama-lama di Rex. Aku yakin bakal bertemu sejumlah kawan di sana. Maklum, Rex tempat favorit bagi warga kota untuk bersantai atau nongkrong sampai dini hari.

Masuk kamar, aku langsung ganti pakaian dengan baju tidur. Untuk mempercepat tidur, aku menyambar koran pagi yang tergeletak di tas meja. Aku hanya membuka-buka saja, halaman demi halaman, sambil membaca judul-judulnya saja. Menjelang halaman terakhir, mataku tertumbuk pada sebuah berita kecil di sudut paling bawah.

Judulnya membikin jantungku berdebar kencang. “Mayat Suman Ditemukan Membusuk di Tengah Sawah”. Aku meneliti baris demi baris berita itu dan berharap bahwa Suman dimaksud bukanlah kawan baikku, yang baru saja bertemu denganku. Tetapi harapanku sia-sia. Dari semua ciri yang disebutkan, mayat itu adalah Suman.

Ia mati dengan tiga lubang peluru tubuhnya. (*)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme