Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Lelaki Dua Babak oleh Radja Sinaga

Posted on Sab, 15 Agu 2020

[1]

Hantu itu sangat sering melintas di pekarangan rumahnya. Sebab itu pula, dirinya sering kali cemas. Dan anehnya hantu itu selalu menampakkan wajahnya tatkala ia memperhatikan hantu itu diam-diam. Setelah mereka bertatapan, hantu itu kemudian mengangkat kepalan tangan kirinya ke udara, mulutnya bergerak, seperti mengatakan sesuatu, dan tak lama hantu itu pun menghilang.

Kejadian itu membuatnya seperti orang gila. Ia ceritakan kepada pembantunya tetapi pembantunya mengira itu hal yang wajar terjadi ketika sudah tua. “Coba bapak cari kegiatan lain, itu pasti karena bapak bosan.”

Ia memang bosan. Tinggal sendiri dengan seorang pembantu di masa pensiun. Istrinya telah lama berpulang. Sedang ketiga anaknya telah menikah.

Barangkali, hanya di akhir pekan kecemasan itu sedikit mereda tersebab anak-anak dan cucu-cucunya berkunjung. Namun hantu itu tetap datang.

Pernah ia ceritakan kepada anak-anaknya. Tetapi mereka mengira bahwa lelaki itu memang kebosanan. Orang yang kebosanan akan melihat dan mengatakan hal yang tidak-tidak.

Hingga suatu malam di akhir pekan, ia dongkol dengan hantu itu. Ia ambil sepucuk revolver dari kamarnya dan mewanti-wanti. Menunggu di depan rumah sendirian. Pembantunya sejak pagi pamit disebabkan orangtuanya sedang mengapa-mengapa. Ia mengizinkan dan lagi pula pembantunya akan pulang besok sore. Sedang anaknya belum datang. Mereka terjebak macet? Ia tak peduli, karena ia harus menidurkan isi revolver itu ke hantu tersebut.

Dentang berjalan dan angka-angka pada jam semakin mengisut. Tak ada gelagat hantu itu mampir seperti biasanya. Kantuk menggelepar di pelupuk mata. Tiba-tiba di pelataran rumah, sebongkah cahaya merambat mendekat. Matanya terbelalak, ia tarik hammer dan ia berdiri, mengambil posisi siap mengudarakan isi perut revolver itu. Nafas satu-satu terdengar. Ketika jarak tembak telah pas menurutnya, ia mundurkan jari kelingking pada trigger. Dan cahaya itu jatuh, mencium ke parit-parit lorong rumahnya.

[2]

Betapa janggal lelaki yang sudah senja itu duduk di halte bus seberang gerbang kampus itu. Bukan tersebab lelaki senja seharusnya telah rehat di kasur atau duduk santai di depan televisi sambil melihat perkembangan penyebaran epidemi. Hanya saja, apa yang menyenangkan bagi lelaki senja seperti dia, di pangkal malam dengan angin yang menusuk-nusuk?

Hotman memperhatikan gelagat lelaki itu. Jarak mereka berdekatan. Barangkali ia orang yang berbahaya. Bagaimana pun seseorang harus tetap waspada kepada siapa saja. Siapa saja patut dicurigai dan tak terkecuali pada lelaki itu.

“Hendak ke mana, dik?” katanya tiba-tiba sambil meletakkan tasnya di tengah-tengah mereka.

Hotman memperhatikan dengan serius lelaki itu. Disusurinya setiap inci tubuh lelaki itu. Dari bentuk wajah, ia seperti pensiunan seorang angkatan, batinya. Wajah yang keras dan bersuara berat. Tangannya memiliki kepalan yang hebat. Tapi Hotman yakin, semua itu tidak ada apa-apanya ketika lelaki itu masih muda.

“Mau ke rumah tulang, Pak.”

Lelaki itu diam sejenak. Dingin makin merongrong sebab beberapa waktu yang lalu perut langit pecah. Hotman mengeluarkan rokok. Ia sulut dan menyalakan.

Dan, tiba-tiba, lelaki itu meminta rokoknya.

“Bukannya merokok tak baik untuk usia seperti bapak?”

“Dengan atau tidak merokok, tetap saja malam ini aku akan mati.”

***

“Berarti kau mahasiswa baru?” Hotman ingin menjawab, namun buru-buru lelaki itu melanjutkan pembicaraannya.

“Dua puluh tahun yang lalu, saat itu aku masih muda. Aku diturunkan ketika batu-batu berhamburan. Dari arah seberang mahasiswa melemparkan apa saja yang mampu melawan kami. Tugasku waktu itu hanya menjemput kawanku yang disandera di dalam kampus oleh mereka. Karena situasi memanas, aku dan beberapa kawan lainnya terpaksa menggunakan peluru karet. Kami masuk ke dalam dan pertikaian tak terbendung. Kami terpaksa menjatuhkan mereka. Satu demi satu runtuh. Banyak kaca pecah dan pintu ringsek. Saat itu semuanya benar-benar mengerikan. Mereka seperti binatang.”

Lelaki itu memandang ke langit. Ia sulut satu batang lagi rokok Hotman. Hotman tak keberatan. Baginya itu sebuah upah karena lelaki itu telah menemaninya di tengah menunggu angkot. Malahan Hotman takjub, lelaki renta seperti dia masih kuat merokok. Hotman letakkan tasnya di tempat lelaki tua itu juga meletakkan tasnya.

Dua puluh tahun yang lalu, saat itu aku masih muda. Aku diturunkan ketika batu-batu berhamburan. Dari arah seberang mahasiswa melemparkan apa saja yang mampu melawan kami

“Tapi kau tahu, setiap orang mesti melindungi dirinya bukan? Saat kami keluar, satu temanku terkena lemparan batu. Mereka seperti babi! Aku tersulut emosi, kutarik peluru asli dari dadaku. Kuarahkan moncong senjataku ke mereka, dan peluru itu lepas saja. Dari belakang temanku juga menghujani mereka, mereka berlarian. Mencari lindung dari bayangan peluru. Aku tak tahu mereka juga menarik peluru dari dadanya sebelum ikut menembak.”

Hotman menelan ludah. Hotman tahu peristiwa itu. Meskipun ia mahasiswa semester dua. Seorang senior menceritakan peristiwa itu padanya. Peristiwa yang mengerikan. Dua mahasiswa tumbang dan puluhan luka-luka, kampusnya hancur lebur.

Ia ingat, kejadian itu berselang sebelas hari, dua tahun, setelah peristiwa di Jalan S. Parman, di ibu kota. Dua mahasiswa mendekap aspal pada waktu itu. Hanya seratus-dua ratus meter dari halte, tempatnya berada.

Mulanya terjadi karena mahasiswa melakukan protes atas penangkapan teman mereka yang ditangkap dengan alasan yang entah. Situasi panas dan sumpek, ditambah dengan tuntutan mereka tak dipenuhi.

Namun, peristiwa itu tidak pernah diusut tuntas. Hingga kejadian itu menjadi hari besar bagi mereka tersendiri. Setiap tanggal itu jatuh, mereka akan mendatangi kedua makan mahasiswa yang tewas itu, berdoa, dan kemudian melakukan unjuk rasa di jalan-jalan, sambil meneriakkan kedua nama itu. Peluru boleh menidurkan badan, tetapi tidak pada ingatan!

Hotman mengepal tangan sangat kuat. Ia tak tahu mengapa ia mesti mengepal tangannya. Lelaki itu menatap ke arah seberang. Tepat bangunan kampus itu. Dan lelaki itu melanjutkan ceritanya.

“Di lantai empat itu, di situlah teman saya disandera. Mereka benar-benar nekat menyandera aparat seperti kami.”

Sesuatu berbisik dan sangat memabukkan. Ia sudah renta, menghabisinya di sini adalah kesempatan terbaik.

Baca juga : Asmaraloka

Hotman gelap. “Semua akan pulang, meski tak tahu kapan, pak.” Lelaki itu memandang Hotman dengan heran. Ia lirik ke arah kepalan tangan Hotman. Dan sebelum lelaki itu berucap, di kejauhan sirene meraung-gaung. Lamat-lamat semakin mendekat.

Hotman membalikkan badan. Sirene itu membisu ketika memarkirkan di depan KFC, tak jauh dari halte bus. Beberapa orang berpakaian preman mendekat.

Semua akan pulang, meski tak tahu kapan, pak

“Dengan atau tidak merokok, tetap saja malam ini aku akan mati,” kata lelaki itu sambil menggesek bara rokok itu ke tanah dengan kakinya. “Terima kasih atas perbincangannya.”

Hotman termangu. Tak mengerti maksudnya apa. Dari belakang, seseorang menerjangnya. Hotman memeluk aspal, dan dirasakannya diborgol mendekap paksa.

“Apa ini?”

“Periksa dia!”

Hotman digeledah. Hanya uang receh, telepon, dan dompet. Kemudian mereka menuju ke dipan, menggasak dua tas yang ada di sana. Ia mendongak, dan melihat lelaki senja itu, dibekap di sisi satunya. Tangannya terborgol rapat.

“Barang bukti dapat, Ndan! Sepucuk revolver!”

“Gajah dia!”

Hotman berteriak! Seorang dari mereka memberikan bogem mentah. Rambutnya ditarik dan dari belakangan beberapa tendangan berumah di punggung. Ia mencoba melihat lelaki itu tetapi tak terjangkau matanya.

Sayup-sayup, sebelum pandangannya berkunang-kunang, ia lihat orang-orang yang menyaksikan kejadian itu menatap najis!

Dari salah satu bibir orang-orang itu, telinganya berusaha menangkap percakapan mereka, namun teriakan aparat bersangkar tepat di gendang telinga sehingga membuat semuanya berantakan.

Medan, Nommensen Berdarah, 2020

****

untuk Ricardo Silitonga dan Calvin Nababan.

Radja Sinaga : lahir di Medan 20 Januari 2000. Alumni Kelas Menulis Prosa Sumatera Utara 2019. Aktif di Komunitas Lantai Dua (Koldu) Medan. Artikel, cerpen, dan puisinya terpercik di banyak media cetak dan digital. Dapat disapa melalui Facebook Radja Sinaga.

sumber : kompas.id, 15 Agt 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme