Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Dua Jam yang Lalu (Janji) oleh Achmad Taufik Budi Kusumah

Posted on Jum, 21 Agu 2020

Sampai di depan pintu pengadilan Lulu semakin erat menggenggam tanganku. ”Apa benar-benar siap menyaksikan semua ini?” bisiknya lirih. Aku tak jawab tanya. Hanya genggaman lebih erat pada tangannya. Semua anak barangkali tak akan pernah merasa siap sampai kapan pun untuk menjalani semua ini. Tapi begitulah dunia. Tidak pernah bertanya siap atau tidak. Semua terjadi saja. Sadar atau tidak.

Kedua manusia, pria dan wanita, itu beberapa kali ekor matanya melayang ke arahku. Mereka tampak mesra dengan menggandeng bocah umur 5 tahun. Hingga semua kemesraan pudar ketika wanita itu menyerahkan bocah ke dalam pelukanku. Dan kini keduanya sudah berada di muka sidang. Dipandangi oleh keluarga dan pekerja pengadilan. Sementara bocah yang dalam pelukanku mulai berontak dan ingin berlarian bebas. Aku melepas pelukan dan ia turun begitu saja. Lulu mulai mengusap kedua matanya dengan tisu. Berkaca-kaca.

Aku tidak mengerti kenapa harus berada di dalam ruangan ini. Apakah memang harus begitu. Tapi sesungguhnya sebelum sampai di ruangan ini pun beribu tanya sudah lebih dulu menombak hati. Terasa juga ingin aku mengacaukan jalannya persidangan ini. Hingga sang hakim mengatakan, ”Kalian batal bercerai!”

Ketika semua tengah berlangsung, aku hanya duduk terdiam. Seperti berhala hendak berontak. Kosong.

Lulu mulai gusar. Berkali-kali ia tersedak oleh tangis. Terisak kesedihan. Lulu, gadis jelita yang tak pernah kubiarkan sekalipun bersedih selama bertahun-tahun hubungan kami, kini harus kupaksa untuk tenggelam dalam prosesi menyakitkan ini. Tapi memang harus kupaksa ia melihat ini semua terjadi agar ia mengerti bagaimana manusia hidup. Bagaimana cinta dan kehidupan itu berjalan. Bagaimana kehidupan ini memang begitu sukar dimengerti.

Lulu beranjak dari duduknya. Aku begitu tersentak, bagaimana hatinya tak sanggup tetap tinggal di ruangan ini. Ketika hendak melangkah pergi, kutarik tangannya, kududukkan ia kembali dan wajah ayu itu kubenamkan ke dalam dekapanku. Tangisnya memekik. Seperti balon udara yang kutekan keras ke dadaku hingga pecah. Dan seluruh mata di ruangan itu tertuju pada kami.

Bagaimana cinta dan kehidupan itu berjalan. Bagaimana kehidupan ini memang begitu sukar dimengerti.

”Ayo, Kak, main di luar…!!! Papa dan Mama sedang apa duduk di sana, Kak? Kenapa mereka begitu lama duduk di sana? Kenapa Kakak diam saja?” Betapa hatiku tersayat olehnya. Lulu tampaknya memahami kondisi jiwaku. Gadis itu tampak tak lagi menangis. Ia mampu menenangkan bocah itu. Mungkin kini ia berusaha tegar untukku.

Sudah cukup sedih aku dengan semua ini. Tapi tidak satu butir air mata pun bisa aku teteskan. Terbayang olehku, kelak aku tidak akan bisa menyaksikan Papa dan Mama bersama lagi. Tak bisa menyaksikan Alfi tumbuh besar dalam kasih sayang mereka. Kepalaku mulai terasa pening. Tak pernah sepening ini.

Sidang berakhir. Tapi bukan berarti kesedihan berakhir. Ini hanyalah permulaan dari perpisahan. Ketika sepasang manusia memutuskan untuk hidup bersama, maka mereka bersaksi kepada banyak orang bahwa mereka akan hidup bersama dan ketika mereka memutuskan untuk berpisah, maka mereka pun bersaksi kepada banyak orang bahwa mereka telah berpisah. Memang begitulah hukum dunia atau mungkin hanya hukum yang dibuat oleh manusia itu sendiri. Ketika bersaksi hidup bersama, mereka penuh bahagia yang memuncak, tapi ketika mereka bersaksi untuk berpisah, apakah mereka juga berlimpah bahagia ataukah sedih yang memuncak. Aku tak tahu. Dan tak ingin tahu.

Semua orang mulai meninggalkan ruang persidangan. Jika orang yang menghadiri pernikahan mereka selalu mengucapkan selamat, tetapi ini tidak. Orang yang menghadiri sidang perceraian tidak pernah mengucapkan selamat. Dan aku semakin tidak ingin peduli.

Kedua orang itu mendekat ke arahku. Wanita yang sejak aku lahir kupanggil mama dan pria yang kupanggil papa itu berdiri tepat di hadapanku. Di hadapan Lulu dan Alfi. Pipi mereka basah. Sebak oleh air mata. ”Tapi untuk apa?” batinku dalam hati. Alfi sudah tertidur dalam pangkuan Lulu. Mungkin karena saat siang seperti ini adalah waktunya istirahat siang bagi bocah itu. Aku berpikir, ”Baguslah, bocah itu tidak akan mendengar dusta dari orangtuanya saat ini.”

Laki dan wanita yang kini telah resmi bercerai itu mulai menghujaniku dengan kata. Mereka bertekuk di depan aku duduk. Mereka terduduk di lantai. Dan aku masih terduduk di kursi sedari tadi aku duduk. Mereka lebih rendah daripada aku duduk sekarang. Mungkin karena memang mereka ingin merendah. Atau pengakuan sesal orang yang salah. Mereka saling menggenggam jemari kedua tanganku. ”Maafkan kami, Nak,” itulah kalimat pertama yang kudengar setelah mereka resmi bercerai. Mereka sangat ingin dimaafkan. Kulihat itu dari mata mereka. Berarti mereka sadar telah melakukan kesalahan, mungkin.

ekali lagi mereka menitikkan air mata. Entah kenapa hari itu air mata begitu murah terlinang di pipi. Terpampang dalam pandangan mata. Dan terus menyayat ke relung kalbu.

”Maafkan kami, Nak…!!!”

”Maafkan kami, Nak….!!!”

Berulang kali kalimat itu dilafazkannya.

”Maaf untuk apa?” kataku lirih dan terasa berat. Setelah sedari tadi hanya terdiam ternyata kini aku siap untuk bicara. Dan kalimat itu terlontar begitu saja dari mulutku.

”Mama tahu kamu begitu sedih dan berat menerima semua ini. Mama juga tahu Mama bukanlah ibu yang baik. Tapi Mama berjanji, kasih sayang Mama kepada kamu dan Alfi akan tetap sama seperti dulu. Dulu dan selamanya akan begitu.” Dan ia berleleran air mata.

”Papa juga berjanji akan tetap memberikan kasih sayang yang sama kepada kalian, anak-anak Papa. Sedikit pun tak akan berkurang, sayang,” ujar laki itu menimpali perkataan si wanita.

Aku sedikit menelan ludah. Terasa semuanya begitu kering dan gersang dalam kerongkongan, mulut, bahkan dalam hidupku. ”Kenapa kalian masih berani mengucap janji. Di mana janji pernikahan kalian dulu. Apa arti pernikahan buat kalian? Apa arti janji dalam hidup kalian? Kalian hanyalah penipu dan pendusta besar dalam hidupku. Aku tidak butuh janji dari manusia seperti kalian. Aku benci kalian berdua!” Aku ingin sekali meneriakkan kata-kata itu hingga menancap di hati mereka. Tapi nyatanya aku tidak sanggup mengucapkannya.

Kenapa kalian masih berani mengucap janji. Di mana janji pernikahan kalian dulu. Apa arti pernikahan buat kalian? Apa arti janji dalam hidup kalian?

Air mata yang bercucuran membanjiri pipi mereka, membuat hatiku remuk. Bagaimanapun, mereka adalah orang yang melahirkanku, membesarkanku, mengenalkanku pada dunia, mengenalkanku pada kasih sayang. Dan kasih sayang itu tidak mungkin bisa kubalas dengan kalimat seperti itu. Akhirnya segala caci maki itu hanya kupendam dan kulebur bersama hati yang remuk.

”Apa sekarang kita bisa pulang?” ujarku untuk mengakhiri semua kalimat maaf mereka.

Kugendong Alfi yang sedari tadi tertidur di pelukan Lulu. Sesampainya di parkiran, di depan mobil yang akan kami kendarai. aku mulai menyerahkan Alfi yang sedang tertidur pulas agar dibawa Mama dan Papa. ”Mama dan Papa bawa Alfi pulang saja dulu, aku dan Lulu akan pulang naik taksi. Kami berdua masih ingin di sini sebentar. Nanti kami menyusul.”

Kulihat Mama dan Papa saling mengerutkan kening seolah ingin bertanya, ”Kenapa?” Tapi kemudian mereka beranjak masuk mobil dan pulang. Barangkali ini adalah terakhir kalinya mereka satu mobil. Dan entah Alfi akan dibawa siapa. Aku benar tak menyimak dalam sidang.

Aku mulai menggenggam tangan Lulu. Gadis jelita yang sudah menjadi kekasih hati selama hampir 6 tahun semenjak aku masih kuliah hingga kini aku telah bekerja. ”Kenapa kita tidak pulang saja? Kenapa kamu masih ingin di sini?” ujarnya penuh tanya. Aku tak jawab tanya. Kubawa ia masuk ke dalam ruangan yang tadi menjadi ruang sidang perceraian dan kini sepi tak ada seorang pun. Kuajak ia duduk di kursi di mana kami tadi duduk untuk menyaksikan sidang perceraian Mama dan Papa.

Baca juga : Brewok

”Lulu, apakah kamu tahu kalau kamu adalah wanita satu-satunya yang sangat aku cintai? Kepadamulah hidup dan harapku. Kamulah wanita yang menjadi nyawaku. Yang mengambil segala perhatianku. Yang membuatku menjadi pria seutuhnya. Yang tak ada wanita yang kucintai selain dirimu. Apakah kamu meyakini itu di dalam hatimu?”

”Ya, aku yakin kamu mencintaiku dengan tulus. Dan aku pun mencintaimu seperti kamu mencintaiku,” jawab Lulu dengan yakin.

”Lulu, apa kamu tahu kenapa aku membawamu ke dalam ruangan ini? Di ruangan inilah banyak pasangan mengucapkan ikrar perceraian mereka. Entah sudah berapa banyak pasangan yang mengucapkannya. Apa kamu tahu bahwa mereka dulunya juga mengucapkan rasa cinta kepada pasangan mereka seperti aku tadi mengucapkan cinta kepadamu. Tapi pada akhirnya mereka juga tetap mengucapkan ikrar perceraian. Aku yakin mereka juga tetap ingat dengan janji saling mencintai mereka. Rasa saling cinta mereka. Tapi bukankah takdir tetap membawa mereka ke dalam ruangan ini untuk akhirnya berjanji berpisah. Lulu, apakah kamu juga masih yakin dengan arti sebuah janji? Itulah yang sedari tadi membuatku tidak bisa bicara selama persidangan cerai Mama dan Papa berlangsung. Kini aku menyadari bahwa manusia pada dasarnya begitu lemah untuk memegang sebuah janji. Dan seperti itulah diri manusia. Diri kita. Dirimu dan diriku. Diri kita semua.”

”Dua jam yang lalu mereka telah resmi bercerai. Mama dan papaku. Dan aku ingin kamu mengingat hari ini seumur hidupmu. Bahwa bagaimanapun takdir membawa hidup kita. Takdir tidak boleh membawa kita ke ruangan ini.”

Jogja, gerimis Januari 2010

*****

Achmad Taufik Budi Kusumah : adalah guru SDN Kadirejo, Kecamatan Karanganom, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang menulis puisi, cerpen, esai, cerita anak, dongeng, dan novel. Dua kumpulan puisinya berjudul Hati dan Cinta & Konyol diterbitkan cetak ataupun digital di Bitread. Beberapa cerpennya tersiar di surat kabar Kedaulatan Rakyat, Joglosemar, Solopos, Banjarmasin Post, Radar Banyuwangi, Haluan, Pen Fighters, dan Balairungpress UGM.

Dongengnya tergabung bersama penulis lain dalam antologi Dongeng Fabel 2019 terbitan SIP Publishing.

sumber : kompas.id, 21 Agt 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme