Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Buih oleh Siti Saimah

Posted on Kam, 27 Agu 2020

”Mama! Lihatlah! Ada banyak buih mengepung Monas!” seru Ningsih kepada Ibunya. Ningsih berdiri di ambang jendela kamar hotel di lantai 10 yang menghadap ke Monas. Pada Minggu pagi yang cerah itu, Ningsih akan diajak jalan-jalan menikmati car free day.

Ningsih bangun tidur lebih duluan dan langsung membuka gorden jendela kamar. Sementara ibunya masih tergolek berselimut tebal di atas ranjang. Begitulah. Sudah menjadi kebiasaan Ningsih, sejak masuk taman kanak-kanak setahun lalu, suka bangun tidur mendahului ibunya.

Di mata Ningsih, ruas jalan-jalan sekitar Monas tampak dipenuhi buih berwarna putih sebagaimana buih yang sering dilihatnya di permukaan air laut. Buih itu tampak bergerak-gerak seperti sedang mengepung Monas.

***

Sudah sejak kemarin siang, Ningsih dan ibunya masuk kamar hotel untuk menginap. Bagi ibunya, agar hidup tidak membosankan, karena tinggal di tepi pantai sebagai bos kapal-kapal yang dilayarkan sejumlah nelayan, sesekali menikmati car free day di kota metropolitan seperti Jakarta sungguh sangat menyenangkan.

Bagi ibunya, yang dua tahun telah menjanda, karena suami telah wafat, hidup melulu di tepi pantai memang membosankan. Karena itu, secara rutin tiap tiga bulan sekali Ningsih diajak bersantai menikmati fasilitas hotel berbintang lima tak jauh dari Monas.

Selama menginap di hotel itu, ibunya merasa seperti seorang ratu dengan gadis kecilnya yang sangat bahagia. Mau makan apa saja tinggal pesan lewat telepon dari kamar yang megah.

***

”Mama! Cepat bangun! Lihat buih-buih itu! Bergerak-gerak! Indah sekali.” Ningsih kembali berseru sambil menatap ke bawah. Di matanya, tampak Monas dikelilingi buih putih-putih yang bergerak-gerak. Ningsih terkagum-kagum melihat buih itu karena, kemarin, ketika mencoba membuka gorden jendela, belum ada buih seperti yang dilihatnya sekarang.

Ibunya bergegas bangkit dari ranjang dan melangkah mendekati Ningsih. Ketika menengok ke bawah, ibunya tidak melihat buih.

”Mana ada buih?” tanya ibunya.

”Itu! di sekitar Monas itu! Memangnya Mama tidak melihat buih sebanyak itu?” Ningsih bicara sambil menunjuk-nunjuk ke arah Monas.

Ibunya menggeleng-gelengkan kepala. ”Ningsih, itu bukan buih! Itu manusia! Kalau banyak manusia berkumpul seperti itu memang laksana buih!”

Ningsih menggeleng mantap. ”Mana ada manusia sebanyak itu, Mama? Itu bukan manusia! Itu buih!”

Ibunya mendadak khawatir. Diduganya Ningsih sedang berhalusinasi tentang buih yang sering dilihatnya di permukaan laut.

”Ingat, Ningsih. Kita sedang di Jakarta, tidak di kampung sendiri. Di Jakarta ini tidak ada buih sebanyak itu. Perhatikan baik-baik, itu bukan buih, tapi manusia!” Ibunya mencoba meyakinkan Ningsih bahwa yang dilihatnya bukan buih, melainkan manusia. Meski begitu, ibunya heran, karena tidak pernah menduga sebelumnya, betapa ada banyak manusia berkumpul di sekitar Monas hingga terlihat laksana buih.

Ibunya mendadak mendapat ide baru: acara menikmati car free day akan diganti dengan jalan-jalan di Taman Mini Indonesia Indah karena di sekitar Monas sedang dipenuhi banyak orang berbusana putih-putih.

”Oke, Ningsih, kalau kamu anggap itu buih. Dan, karena sekitar Monas dipenuhi buih, kita jalan-jalan ke Taman Mini Indonesia Indah saja, ya? Setuju?”

Ningsih mengacungkan jempol. ”Setuju, Mama!”

”Semoga tidak ada buih di Taman Mini Indonesia Indah sana, biar kita bisa jalan-jalan santai menikmati udara segar.” Ibunya menerawang ke luar jendela. Tampak langit biru berhias mega-mega putih. Pagi itu memang cukup cerah. Lalu ibunya menelepon taksi untuk mengantarkan ke Taman Mini Indonesia Indah.

Setibanya di Taman Mini Indonesia Indah, ketika Ningsih dan ibunya turun, dilihatnya suasana agak sepi. Ningsih tiba-tiba mengajak ibunya untuk naik kereta gantung. Ingin Ningsih melihat-lihat suasana dari atas.

Ketika sudah naik kereta gantung, Ningsih kembali berseru kepada ibunya sambil menunjuk ke arah kejauhan. ”Mama! Lihat, ada banyak buih di bawah sana!”

Ibunya melihat ke arah kejauhan seperti yang ditunjukkan Ningsih. Tampak banyak manusia berjalan kaki laksana buih yang bergerak-gerak di permukaan air laut.

Menjelang senja, setelah kembali ke kamar hotel bersama ibunya, Ningsih kembali ingin melihat Monas dari ambang jendela. Ditatapnya sekitar Monas, tak ada lagi buih.

”Buihnya sudah hilang, Mama!”

”Ya, namanya saja buih, memang muncul tiba-tiba dan akan segera hilang dengan tiba-tiba pula.”

”Kapan buih muncul lagi, Mama?”

”Mana tahu?”

”Ningsih tiba-tiba mengangkat tangan sambil berdoa. Semoga kalau aku ke sini lagi, ada banyak buih di sekitar Monas seperti pagi tadi. Amin.”

”Kok, kamu berdoa begitu, sih?”

”Aku, kan, suka buih, Mama.”

Ibunya membatin. ”Ya, memang hanya anak kecil kayak kamu yang suka buih.”

”Kalau nanti kita ke sini lagi dan ada banyak buih di sekitar Monas, kita turun ya, Mama. Pasti senang sekali kalau bisa melihat buih dari dekat.”

”Eh, bagus mana buih di permukaan laut sama di sekitar Monas?”

”Kayaknya bagusan yang di sekitar Monas, Mama.”

”Kalau kamu mendekati buih di sekitar Monas, kamu juga bisa ikut-ikutan jadi buih.”

Ningsih mendadak bergidik. ”Ih, nggak mau jadi buih!”

”Kenapa?”

”Buih tiba-tiba muncul dan tiba-tiba hilang entah ke mana!”

”Makanya, nanti kalau kita ke sini lagi melihat ada buih di sekitar Monas, tak perlu turun mendekatinya.”

”Ya, Mama.”

”Ketahuilah, biasanya buih itu tampak menarik kalau dilihat dari jauh. Kalau dilihat dari dekat, tidak menarik lagi. Malah kita bisa jijik!”

”Ya, Mama.”

Ibunya tersenyum sambil membatin: Andai kamu sudah besar, pasti akan mengerti apa yang sebetulnya sedang terjadi di sekitar Monas tadi pagi, Ningsih. Tapi rasanya kamu lebih baik tidak mengerti; karena kamu masih kecil.

***

Tiga bulan berikutnya, kembali Ningsih diajak ibunya menginap di hotel tak jauh dari Monas. Dari ambang jendela kamar hotel, kali ini Ningsih kembali melihat buih di sekitar Monas. Namun, warna buih tidak putih melainkan merah. Buih merah itu sama banyaknya dengan buih putih yang pernah dilihat tiga bulan lalu.

”Kenapa buih saat ini berwarna merah, Mama?”

”Ya, namanya saja buih, bisa berubah warna dalam sekejap saja.”

”Apakah nanti akan ada buih berwarna hijau, biru, hitam?”

”Tunggu saja.”

Ningsih ingin sekali mendekati buih berwarna merah yang sedang muncul di sekitar Monas. Tapi tiba-tiba teringat kata-kata ibunya bahwa buih itu tidak menarik atau bahkan bisa menjijikkan kalau dilihat dari dekat. Ningsih lalu mengajak lagi ibunya ke Taman Mini Indonesia Indah.

Kalau kamu mendekati buih di sekitar Monas, kamu juga bisa ikut-ikutan jadi buih.

Setibanya di Taman Mini Indonesia Indah, Ningsih mengajak ibunya kembali naik kereta gantung. Ketika sudah berada di dalam kereta gantung yang sedang bergerak, Ningsih melihat di kejauhan ada banyak buih warna kuning.

”Mama! Lihat ke arah sana! Banyak buih hitam!” seru Ningsih sambil menunjuk ke bawah agak jauh.

Ibunya memandang ke arah yang ditunjukkan Ningsih. Tampak banyak manusia berkumpul dengan busana kuning dan bendera kuning laksana buih. Ibunya tiba-tiba teringat masa kecilnya. Saat masih kecil, ibunya selalu melihat warna kuning mendominasi pemandangan di mana-mana. Rumah-rumah dicat kuning. Pagar-pagar dicat kuning. Pohon-pohon di pinggir jalan juga dicat kuning.

Ibunya juga tiba-tiba teringat nasib tetangganya yang tidak mau mengecat kuning pagar rumahnya. Tetangganya ingin tampil beda, pagar rumahnya dicat merah. Naas bagi tetangganya, tengah malam diculik regu bertopeng berkendaraan jip. Paginya, tetangganya sudah menjadi mayat yang tergeletak di totoar depan pasar dengan luka tembak di keningnya. Lalu beredar isu bahwa tetangganya adalah penjahat plus antek PKI.

Sejak saat itu semua pagar rumah kemudian dicat kuning. Di pinggir-pinggir jalan berkibar bendera kuning. Sesekali jalan-jalan dipenuhi pawai massa berbusana kuning laksana buih.

***

Ketika kembali ke hotel, Ningsih menengok ke bawah dari ambang jendela kamar. Di sekitar Monas, tampak banyak buih berwarna mirip pelangi: merah, kuning, dan hijau.

”Mama! Buih kali ini lebih indah, karena warnanya mirip pelangi!” seru Ningsih.

Mamanya bergegas ikut menengok ke luar jendela. Dilihatnya banyak manusia berkumpul di sekitar Monas dengan berbusana merah, kuning, dan hijau. Betul-betul laksana buih. Jumlah buih berwarna mirip pelangi itu jauh lebih banyak dibanding buih berwarna putih yang pernah ada sebelumnya.

”Aku lebih suka buih warna pelangi. Tampak lebih indah!” seru Ningsih.

Ibunya menukas datar. ”Sayangnya, semua buih sama saja meski beda-beda warnanya. Munculnya tiba-tiba, hilangnya juga tiba-tiba. Sayangnya lagi, semua buih hanya tampak indah dilihat dari jauh. Kalau didekati, hiii….” ***

Kandang Roda, 20052020

***

Siti Siamah : lahir di Grobogan, 26 Desember 1977. Penulis merupakan peneliti di Global Data Reform yang menetap di Bogor, Jawa Barat. Dia banyak menulis cerpen, puisi, novel, dan esai.

sumber : kompas.id, 27 Agt 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme