Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Sendiri-sendiri oleh Okky Madasari

Posted on Ming, 30 Agu 2020

Hanya tinggal segelintir orang yang tersisa di asrama ini. Setiap lorong begitu sunyi. Kantin, lobi utama, ruang belajar dan ruang olahraga yang biasanya selalu ramai orang, sudah lebih dari satu bulan terkunci rapat. Ruang laundry yang biasanya selalu penuh antrean, kini terasa jadi milikku sendiri.

Setiap kali naik turun lift, aku mendengar bunyi deritan, semacam mesin yang aus dan sewaktu-waktu bisa berhenti. Perjalanan dari kamarku di lantai 12 hingga lantai dasar tempat ruang laundry berada, menjadi perjalanan yang terasa begitu jauh dan penuh dengan segala kemungkinan. Bagaimana kalau sewaktu-waktu lift berhenti? Semua pegawai asrama sudah tak ada lagi yang bekerja. Jika ada ada lampu yang mati, air yang tiba-tiba tak mengalir, pintu yang tak bisa dibuka, atau mesin cuci yang tak bisa bekerja,  harus ada yang membuat laporan ke sistem yang sudah dibangun di internet. Teknisi akan datang untuk membereskannya – tapi dalam keadaan seperti ini, entah harus menunggu berapa lama. Lalu bagaimana kalau aku terkurung dalam lift?

Ah, sepertinya aku kebanyakan berpikir yang tidak-tidak. Overthinking!

Aku mengosongkan pikiranku. Menahannya untuk tak berpikir apa-apa. Mengalihkannya dengan memperhatikan setiap hal yang ada di lift; garis-garis pembatas warna biru di setiap sudut tempat orang berdiri agar tak saling bersentuhan saat sama-sama berada di dalam lift, cairan pencuci tangan yang tertempel di salah satu dinding lift, poster tentang kewajiban memakai masker.

Saat lift kembali tiba di lantai 12 dan pintunya terbuka, aku segera keluar dengan buru-buru, setengah berlari, masuk ke kamar dan menguncinya. Aku baru akan membuka pintu itu tiga hari lagi untuk membuang sampah. Mungkin juga lebih lama lagi.

Satu bulan ini, aku hanya makan apa pun yang sudah aku timbun di kamar: nasi, telur, mie instan, sarden, biskuit, dan sereal. Lagipula, tak ada lagi keinginan untuk makan macam-macam. Aku hanya perlu kopi, delapan hingga sepuluh gelas sehari. Itu saja sudah. Lalu aku akan berbaring di tempat tidur, lalu pindah ke sofa, lalu duduk di meja kerja, lalu entah apa lagi – tak ada yang benar-benar aku sadari.

Kadang-kadang aku akan menyesali, kenapa aku bisa terjebak di sini seperti ini. Mestinya aku pulang jauh-jauh hari, atau setidaknya saat aku tahu situasi semakin memburuk dan penerbangan akan berhenti sewaktu-waktu. Tapi mau bagaimana lagi, aku sedang tak pegang uang saat itu. Dan lebih dari perkara uang, aku tak lagi merasa butuh untuk pulang.

Diam-diam aku tersenyum kecil setiap kali ada pesan masuk ke Whatsapp Group mengabarkan ada sesama penghuni asrama yang kini harus dirawat di rumah sakit. Mereka tertular virus saat perjalanan pulang; saat tak sengaja bersentuhan di dalam kereta, saat sedang menunggu di bandara, saat sedang di dalam pesawat, dan tentu saja dalam berbagai kesempatan saat sudah tiba di kota mereka. Aku seperti mendapat pembenaran untuk tak pulang. Tak ada tempat yang aman selain kamar di mana aku berada sekarang.

Satu-satunya manusia yang aku lihat selama sebulan ini adalah penghuni kamar di menara seberang, yang jendelanya berhadapan dengan jendela kamarku. Jendela-jendela itu sudah terpasang sejak dulu dan aku sudah tinggal di kamar ini lebih dari dua tahun. Tapi baru sekarang ini aku sadari, jendela kamar ini berhadapan langsung dengan jendela kamar di seberang sana. Barangkali karena sebelumnya aku tak pernah tinggal lama di dalam kamar. Kamar hanya jadi tempat untuk tidur, sebagaimana umumnya penghuni-penghuni lainnya.

Tepat di balik jendela, meja kerja di setiap kamar berada. Ketika aku duduk menghadap meja kerja itu dan penghuni seberang melakukan hal yang sama, kami seperti duduk saling berhadapan. Kaca jendela yang bening membuat kami bisa melihat dengan jelas satu sama lain. Saat malam hari, kami akan sama-sama menyalakan lampu meja yang membuat wajah kami semakin terang dan setiap hal yang kami lakukan terlihat jelas dari seberang.

Setiap kali duduk berhadapan, masing-masing kami sedang menghadap laptop. Kadang aku mencoba serius mengerjakan sesuatu, kadang aku menonton film, tapi yang paling sering kulakukan hanyalah duduk tanpa melakukan apa-apa sementara mataku memperhatikan setiap gerak-gerik penghuni di seberang sana. Setiap kali pandangannya mengarah padaku, aku akan segera menunduk, pura-pura serius menatap layar. Tentu saja tak bisa selamanya semulus itu. Pandangan kami bertatapan, ia tersenyum, aku tersenyum, ia melambaikan tangan, aku balas melambaikan tangan. Begitu terus setiap hari. Kami berteman tanpa perlu mengenalkan nama dan tanpa perlu saling bicara.

Aku punya hiburan baru. Aku punya alasan untuk mandi dan ganti baju setiap hari. Teman baruku juga melakukan hal yang sama. Ia kini memakai kaus yang berbeda setiap hari. Selanjutnya kami tak hanya saling lempar senyum dan lambaian tangan. Aku yang memulainya dengan menunjukkan apa yang aku makan. Semangkuk mie instan rebus dengan dua telur. Aku angkat mangkok yang aku pegang, aku miringkan ke arah jendela agar ia bisa melihatnya. Ia membalas dengan menunjukkan apa pun yang ia minum dan ia makan.

Hari selanjutnya, kami mulai bertukar pesan. Aku menulis di papan tulis kecil yang memang sudah lama aku punya. Dimulai dengan sapaan singkat: Selamat Pagi!

Ia membalas dengan menulis di selembar kertas HVS ukuran A4. Terlalu kecil untuk bisa dibaca dengan jarak seperti ini. Tapi aku pura-pura bisa membacanya. Aku mengangguk-angguk dan melambaikan tangan. Begitu seterusnya, setiap kali aku ingin mengatakan sesuatu, aku akan menulis di papan dan dia akan membalasnya.

Sore ini aku hendak membuat semuanya lebih nyata. Ide dan keberanian itu muncul begitu saja, menggerakan tanganku untuk menuliskan nomor HP-ku di papan. Baru tiga angka aku tuliskan, HP-ku berbunyi. Aku memang sengaja membunyikan dering panggilan telepon. Karena aku percaya, di zaman sekarang ini, hanya yang betul-betul punya kebutuhan mendesak saja yang mau susah-susah menelepon. Semua orang lebih memilih mengirim pesan di WhatsApp dan sepanjang hari menulis pesan-pesan panjang di Facebook dan Instagram.

Ternyata Ibu yang menelepon. Sudah lebih dari enam bulan kami tak bicara langsung. Hanya saling bertukar pesan dengan penuh amarah, sampai kemudian WhatsApp-nya aku block dua bulan lalu. Ibu selalu mengirim pesan-pesan yang tak perlu yang membuatku semakin kehilangan rasa rindu. Aku selalu merasa

Ibu tak pernah benar-benar mau tahu apa yang sedang aku kerjakan sekarang. Ia hanya mau aku segera pulang, segera mapan, seperti orang-orang. Terdengar sepele dan klise karena dialami juga oleh banyak orang? Memang begitulah kenyataannya.

Teleponku tak berhenti berdering. Tumben sekali Ibu menelepon – apalagi di siang hari seperti ini. Pasti mahal karena lintas negara. Dan pasti ada yang benar-benar penting… Tiba-tiba aku tergagap, seperti baru teringat sesuatu. Buru-buru aku angkat telepon itu.

“Bu…,” aku menyapa dengan nada khawatir.

Ibu bicara dengan suara bergetar. Aku bisa mendengar semuanya dengan jelas. Termasuk suaranya menyedot ingus sambil terisak. Aku juga bisa mendengar suara orang-orang di belakangnya.

Bapak meninggal. Sekarang bukan lagi soal apakah aku mau pulang atau tidak pulang. Aku memang tak bisa pulang. Tak tahu kapan bisa pulang. Bahkan tak tahu kapan bisa kembali bebas keluar dari kamar ini.

Bapak akan langsung dimakamkan saat ini juga. Ia tak menunggu siapa-siapa. Tak boleh menunggu siapa-siapa. Bapak hanya akan diantar oleh Ibu dan saudara-saudara kandungnya; paman dan bibiku.

Aku tak mau menangis. Mau diapakan lagi? Menangis juga tak ada gunanya. Semua orang juga akhirnya meninggal. Aku menarik bibirku agar membuat senyum. Aku tersenyum. Aku mencuci muka di kamar mandi lalu kembali lagi ke meja kerjaku. Teman baruku tak kelihatan. Barangkali ia sedang di kamar mandi. Aku menunggu.

Setengah jam berlalu, ia tak juga muncul. Barangkali ia sedang tidur. Aku menuju dapur, memasak beras di rice cooker, lalu menggoreng telur.

Aku makan siang di depan jendela. Ia tetap masih belum muncul juga.

Aku mencuci piring, lalu kembali ke depan jendela. Ia tetap masih belum muncul juga.

Perasaanku semakin gelisah. Pasti terjadi sesuatu, pikirku. Tak mungkin orang yang setiap hari – sepanjang hari – ada di hadapannya, kini mendadak tak terlihat. Tapi tadi pagi dia masih baik-baik saja. Kami masih saling bertukar pesan. Aku menjadi bimbang. Ah, mungkin dia sedang tidur. Tempat tidurnya memang tak terlihat dari jendela.

Aku menunggu. Tapi saat aku diam menunggu, justru Bapak mendatangiku. Aku tak mau menangis. Tak mau!

Aku keluar kamar dengan gusar dan terburu-buru. Aku harus mencari tahu apa yang terjadi pada teman baruku itu. Bisa jadi ia sakit. Mungkin ia butuh bantuan. Barangkali hanya aku yang bisa menolongnya.

Suara derit di lift tak lagi terdengar, sebab aku sibuk mendengar suara-suara dalam pikiranku sendiri. Perjalanan ke lantai dasar terasa makin panjang, bukan karena aku takut berada di dalam lift itu, tapi karena aku takut terlambat menyelamatkan orang.

Aku lari menyeberang ke asrama sebelah. Aku masuk ke lobi yang senyap. Tak ada yang aneh. Memang setiap sudut komplek asrama ini senyap ditinggal penghuninya. Aku segera memencet tombol lift. Kamar itu pasti juga berada di lantai 12, sama seperti kamarku.

Pintu lift tak kunjung terbuka. Bahkan tak ada tanda yang menyala. Lift itu mati. Aku menuju ke pintu tangga. Naik tangga ke lantai 12 bukan hal yang mustahil. Beberapa kali aku pernah melakukannya. Tapi pintu itu terkunci.

Dalam kepanikan, aku berlari keluar dari gedung. Menuju pos keamanan yang berada di ujung kompleks.

Pada dua petugas yang berjaga aku ceritakan semuanya. Mereka memandang penuh keraguan. Berkali-kali aku mengulang cerita agar mereka percaya. Memang cara berteman kami aneh, kataku berulang-ulang. Tapi jangan pikirkan bagian itu. “Ada orang yang sekarang harus diselamatkan,” seruku berulang kali.

Petugas keamanan itu akhirnya tergerak. Ia mengambil kunci dari lemari. Kami sama-sama menuju gedung asrama. Sambil berjalan, petugas sibuk menelepon seseorang dan menceritakan apa yang baru saja aku ceritakan.

Aku dengar berulang kali ia berkata, “Kosong?” “Tak ada orang?”

Ah, aku tak percaya!

Kami bertiga naik tangga ke lantai dua belas. Petugas mengetok lalu membuka semua pintu. Kosong.

“Mungkin bukan lantai 12?” tanyaku.  “Mungkin hitungan lantainya berbeda antara gedung sebelah dengan gedung ini,” aku terus mencoba meyakinkan.

Dua petugas itu menggeleng.

—————————-

Okky Madasari : sastrawan yang telah menerbitkan sembilan karya fiksi dan satu buku non-fiksi berjudul Genealogi Sastra Indonesia: Kapitalisme, Islam, dan Sastra Perlawanan. Saat ini sedang menempuh pendidikan doktoral di National University of Singapore.

Amelia Budiman : pelukis otodidak beraliran Hyperrealism dan seniman tato. Berkarya melalui berbagai medium : kanvas, kayu, tembok, maupun pada kulit manusia. Portofolionya dapat dinikmati di akun instagram @paintedsister dan @ameliakeepdrawing.

sumber : harian Kompas edisi 30 Agustus 2020 di halaman 11 dengan judul “Sendiri-Sendiri”.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme