Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Warangka Excalibur Arthur oleh Yuditeha

Posted on Sab, 05 Sep 2020

Perempuan pendongeng yang masih bertahan di kota London itu bernama Haura. Senja itu, seperti biasanya di Queen’s Walk, jalan pedestrian tepi Sungai Thames, dia telah dikerumuni beberapa orang. Haura siap bercerita kepada siapa saja yang sudi mendengarkan.

”Lebih tragis mana, orangtua yang tidak diakui anaknya atau seorang anak yang tidak diakui orangtuanya?” tanya Haura sebelum memulai ceritanya.

Lalu dia menjelaskan, katakanlah dua-duanya sama-sama tragis, tapi dia tidak ingin bercerita tentang anak durhaka, karena menurut dia kejadian seperti itu sudah tak terhitung jumlahnya. Saking banyaknya, maka jika ada lagi kisah serupa akan dianggap biasa. Menurut Haura, kisah anak-anak durhaka yang tak tahu berterima kasih sudah tak mengherankan lagi. Lalu Haura bilang, kali itu dia ingin bercerita seorang anak yang tak diakui orangtuanya.

***

Bel rumahku berbunyi, aku menuju pintu depan, dan sebelum kuputuskan membukanya, aku melihat siapa yang datang melalui lubang pintu. Ternyata Merlin, seorang bidan di Bradford-on-Avon—sebuah kota yang letaknya berdampingan dengan kotaku ini. Aku membuka pintu dan begitu dia melihatku, dia langsung bilang ingin meminjam excalibur-ku untuk memotong tali pusar anak Montgomery dan Ainsley yang katanya baru lahir.

”Merlin tidak salah?” tanyaku.

Merlin menerangkan bahwa dia hanya ingin meminjam excalibur, dan aku tidak perlu pergi ke rumah Montgomery, terlebih melakukan pemotongan itu. Menurut Merlin, hanya excalibur-ku yang mampu memotong tali pusar anak Montgomery dan Ainsley. Aku terbengong. Tidak segera beranjak mengambil excalibur karena aku sedang berpikir, kalau sekadar memotong tali pusar mengapa harus memakai excalibur-ku. Dan lagi, seorang bidan harusnya selalu membawa peralatan, tentu saja termasuk pisau atau gunting, yang pastinya sudah steril. Jika lupa dibawa, dia bisa menyuruh orang untuk mengambilnya di rumah. Jika tidak, kupikir sekadar memotong tali pusar, dia bisa menggunakan pisau jenis apa pun. Tapi, sesungguhnya ada satu hal lagi yang kupikirkan dan itu sangat penting.

”Saya tahu apa yang Arthur pikirkan? Tapi saya tidak mengada-ada, hanya excalibur Arthur yang mampu memotong tali pusar itu.”

Tebakan Merlin tentang apa yang kupikirkan memang tidak salah, tapi sekali lagi, sebenarnya ada satu hal penting yang membuatku tidak lantas menyerahkan excalibur-ku. Aku memikirkan kenyataan yang selama ini ada di antara aku dan keluarga Montgomery. Sebagian besar orang tentunya juga sudah tahu, terlebih Merlin, bahwa selama ini kami tidak rukun. Kami telah berseteru lama. Bahkan bibit seteru itu tercipta sebelum Montgomery dan saudaranya lahir. Orangtua merekalah yang lebih dulu membuat masalah hingga aku terlempar dari kehidupan mereka.

”Bukankah Merlin tahu saya dan….”

Tanpa menunggu bicaraku selesai, Merlin sudah menyahut. Dia mengatakan bahwa sebelum memutuskan datang menemuiku, dia sudah mempertimbangkan semuanya. Tapi, kupikir tak ada alasan yang kuat dia mengatakan begitu. Pernyataannya tentang excalibur itu kupikir sungguh mengada-ada. Jika karena alasan excalibur-ku dikenal sakti, sesungguhnya adik Montgomery, yang bernama Jequan, juga punya excalibur yang tak kalah sakti. Karena itu, aku bilang kepada Merlin perihal excalibur Jequan itu. Aku jelaskan begitu agar bujukan Merlin berhenti.

”Excalibur Jequan pun tak akan mampu memotong tali pusar itu,” timpal Merlin.

Aku tidak mau percaya begitu saja omongan Merlin, bahkan aku mulai berpikir sesungguhnya hal itu hanya siasat jahat yang direncanakan keluarga mereka dengan memperalat Merlin untuk melumpuhkanku tanpa harus dengan pertumpahan darah. Sesungguhnya mereka takut keberadaanku akan mengganggu kenyamanan hidup mereka. Dan ketika hal itu kusampaikan kepada Merlin, dia langsung memberi penjelasan. Merlin melakukan itu semata karena alasan kemanusiaan. Bahkan, katanya, Montgomery dan keluarganya tidak tahu bahwa dia minta tolong kepadaku. Tahunya mereka, Merlin pulang untuk mengambil sebagian peralatan yang tertinggal di rumah. Bahkan, Montgomery dan keluarganya pun tidak tahu bahwa hanya excalibur-kulah yang mampu memotong tali pusar anaknya.

Ketika Merlin kutanya perihal dari mana dia yakin hanya excalibur-ku yang bisa melakukan, dia memang tidak menjawab. Dia justru lebih dulu mengingatkanku bahwa excalibur Jequan adalah excalibur pemberianku semasa kami masih remaja, dan aku belum tahu bahwa sebenarnya kami bersaudara. Merlin lalu balik bertanya kepadaku, apakah selama ini aku pernah mendengar bahwa dia telah berlaku bohong perihal kemampuannya tentang supranatural. Seketika aku sadar, selain seorang bidan di Bradford-on-Avon, Merlin juga dikenal sebagai paranormal jitu, bahkan dia juga menguasai ilmu sihir, dan selama ini aku memang belum pernah mendengar ada orang yang meragukan kemampuannya itu.

”Jika Arthur tidak percaya dengan kemampuan saya, saya hanya bisa mengatakan, Arthur ada sebelum mereka ada. Pun dengan semua hal yang Arthur punya.”

Lalu Merlin mengingatkanku lagi saat dulu dia mengajakku menemui Peri Penunggu Danau yang dari dialah aku mendapatkan excalibur-ku yang sekarang ini. Tapi, ketika Merlin melihatku masih belum memberi tanggapan, dia sepertinya mulai menyerah, hingga akhirnya memaklumi atas keberatanku, dan dia juga berjanji tidak akan memaksaku lagi untuk meminjamkan excalibur-ku.

Tapi, sebelum dia benar-benar berlalu dari hadapanku, untuk yang terakhir kalinya dia meminta izin untuk menyampaikan gagasannya. Dan apa yang dia sampaikan sungguh membuatku bimbang. Katanya, sesungguhnya setiap diri manusia tidak pernah sepenuhnya berisi keburukan, begitu juga sebaliknya, tidak semua berisi kebaikan. Kebaikan dan keburukan ada dalam diri manusia.

Lalu Merlin mengingatkanku lagi saat dulu dia mengajakku menemui Peri Penunggu Danau yang dari dialah aku mendapatkan excalibur-ku yang sekarang ini.

Anggap saja bahwa perseteruanku dengan keluarga Montgomery tetap ada, dan Merlin hanya berharap, aku berkenan meminjamkan excalibur-ku karena alasan kemanusiaan, sama halnya dengan apa yang dia lakukan dulu dan sekarang. Dia juga mengatakan, terlebih lagi apa yang akan aku lakukan nanti tidak ada yang tahu, selain hanya dirinya. Mendengar perkataan Merlin kali itu sungguh membuatku luluh, hingga tak lama kemudian tanpa membalas pernyataannya, gegas aku mengambil excalibur lalu menyerahkannya.

”Seperti katamu, ini demi kemanusiaan. Jika sudah selesai segera kembalikan.” Merlin langsung menerima excalibur yang kusodorkan tanpa cakap lagi, kemudian berlalu.

Usai Merlin pergi, ingatanku cepat ke masa itu, masa pertama aku mendengar bahwa sesungguhnya aku adalah kakak dari Montgomery dan Jequan, tapi beda ayah. Kabarnya sebelum perempuan itu menikah dengan ayah mereka—seorang penguasa di Bradford-on-Avon—lebih dulu hamil dengan lelaki lain. Perempuan itu merahasiakan kehamilannya sampai bayi itu lahir. Agar tidak ketahuan, bayi itu kemudian dibuang dengan sampan kecil di Sungai Thames. Tak sengaja penguasa kota ini, yang bernama Trustin, menemukan bayi itu dan memeliharanya sampai sekarang. Ya benar, akulah bayi itu. Pada saat pertama kali mendengar semuanya, detik itu juga hatiku berjanji dan bertekad akan setia pada Trustin. Hidup dan matiku untuk dia, karena dia yang telah menyelamatkan jiwa dan ragaku, bahkan mendidikku dengan cinta yang besar.

Tentang perempuan itu? Tentu saja aku tak sudi memanggilnya ibu, dan lelaki bangsat yang tak bertanggung jawab itu, aku juga tak mau menyebutnya ayah. Kini aku bahagia bersama Trustin. Meski banyak orang bilang Trustin bajingan, aku tidak peduli. Bagiku dia pahlawan, selamanya akan kubela sampai ajal tiba. Mengingat semua itu, aku jadi menyesal telah menolong mereka dengan meminjamkan excalibur-ku kepada Merlin.

Untunglah Merlin menepati janjinya, tidak sampai ganti hari excalibur itu telah kembali kepadaku. Tapi, ada kejadian yang tak masuk akal. Merlin mengembalikan belatiku dengan telanjang, tanpa warangkanya. Katanya, yang berhasil memotong tali pusar bayi itu rupanya bukan excalibur, tetapi warangkanya. Hanya saja, warangka itu ikut masuk ke perut bayi melalui lubang pusarnya. Merlin meminta maaf untuk itu. Pada mulanya aku terkejut, tapi karena kupikir warangka tidak lebih penting dari excalibur hingga akhirnya aku tak menganggapnya masalah. Sebenarnya Merlin berkenan mengganti, tetapi aku tidak menyetujui.

Kupikir urusan kemanusiaan telah selesai dan kini aku harus segera kembali kepada tekadku. Berdiri tegak membela Trustin, apa pun yang terjadi. Termasuk membantunya dalam menaklukkan Bradford-on-Avon. Trustin telah menyusun rencana perjudian dengan penguasa Bradford. Trustin yakin bahwa tidak lama lagi Bradford-on-Avon akan jatuh di tangannya, karena rencana pengelabuan itu telah disusunnya dengan matang. Dan akulah yang akan bertanggung jawab menyelesaikan kerusuhan yang mungkin akan dibuat oleh pasukan Bradford.

Tak ada kata menyerah dalam jiwaku. Nyawa dan ragaku telah kusiapkan sepenuhnya untuk itu. Tak ada sedikit pun rasa takut di dada, bahkan aku sudah tak sabar menantikan pertempuran itu. Karena pertempuran itu akan kujadikan sarana balas dendamku atas kehinaan yang dulu telah ditumpahkan kepadaku. Aku ingin memberi pelajaran kepada mereka, terkhusus kepada perempuan itu, bahwa dia telah salah besar menelantarkan hidupku. Tentu saja pembalasanku akan lebih kejam. Lebih menyakitkan.

Baca juga : Penjual Kematian

Sementara kisah perjalanan bayi yang tali pusarnya dipotong dengan warangka excalibur-ku dulu ternyata memiliki dinamika hidup lumayan menakjubkan. Kabarnya dia pernah maju di medan laga melawan perusuh. Setiap kali dia mendapat hantaman dari para perusuh bukan menjadi payah, tapi justru tubuhnya bertambah besar, hingga akhirnya dia bisa memenangi pertarungan. Kini dia menjadi anggota pasukan yang belum terkalahkan dan menjadi orang paling diandakan di Bradford-on-Avon.

Tiba saatnya pengelabuan Trustin dijalankan, seperti yang telah kami angankan, hampir seluruh tanah Bradford jatuh ke tangan Trustin. Para penguasa Bradford harus lengser dan mengakui kekuasaan Trustin. Jika ada yang tidak mau, mereka harus pergi dari Bradford-on-Avon. Namun, rupanya para penguasa Bradford tidak terima dengan semua itu. Mereka berontak dan ingin mempertahankan kekuasaannya. Satu-satunya jalan, harus ditentukan dengan pertarungan. Tanpa dinyana, kesaktian pasukan mereka mampu mengalahkan pasukan kami. Dan yang paling membuatku terkejut, cerita yang pernah kudengar tentang kehebatan bayi yang telah menjadi pemuda gagah itu rupanya bukan isapan jempol. Dialah yang berhasil membunuh hampir seluruh pasukan kami. Kini hanya tinggal aku yang masih bertahan. Tapi, aku ingat dengan janji dan tekadku. Hidup dan matiku hanya untuk Trustin. Tanpa sedikit pun nyaliku menciut, kuhadapi bayi kurang ajar itu. Bahkan, kupikir aku bisa melumpuhkan bocah itu tanpa susah payah untuk membunuhnya. Aku meyakini itu. Aku akan menyampaikan dua hal kepadanya. Pertama, sekadar mengingatkan bahwa aku adalah pamannya yang tertua. Paman yang sebenar-benarnya tidak pernah mereka akui. Kedua, hanya warangka excalibur-kulah yang mampu memotong tali pusarnya hingga warangka itu bersemayam dalam perutnya.

***

Haura mengakhiri cerita dengan pernyataan. ”Sesungguhnya pusar bayi itu telah menjadi warangka excalibur Arthur, dan kelak excalibur itu rindu ingin bersarang di sana.”

***

Yuditeha : penulis, tinggal di Karanganyar, Jawa Tengah. Buku terbarunya Sehimpun Cerita Filosofi Perempuan dan Makna Bom (Rua Aksara, 2020).

sumber : kompas.id, 05 Sep 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme