Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Saat Bertemu Suamiku oleh Desi Puspitasari

Posted on Ming, 13 Sep 2020

Mata mama bengkak. Kakak perempuan suamiku meremas tisu dalam genggamannya. Saudara-saudara yang lain diam menunduk. Aku beringsut mundur. Sebuah tangan mencengkam kuat lenganku.

”Bertahanlah.“ Air mata menggenang di pelupuk mata Rob, adik laki-laki suamiku, ”Ini saat terakhir.“

”Tidak bisa.“

”Kau lebih dari bisa.“ Rob balas berbisik. Ia merengkuh lenganku dalam lengannya. Menyeret kembali ke dalam barisan.

Aku mengalah meski tidak dapat mendengar baik semua perkataan. Seperti gumaman tidak jelas. Semacam dengungan lebah. Isak tangis yang kadang-kadang terdengar seperti desiran daun kering di atas trotoar. Entah telingaku yang tidak bekerja baik, entah pikiranku. Si ponakan kecil tiba-tiba mundur. Menggenggam tanganku dan ikut berdiri di samping.

Lima menit terasa seperti lima jam. Sepuluh menit terasa bagai sepuluh jam. Kakiku kesemutan. Leherku pegal. Keringat mengalir di punggung di balik blus hitamku. Beberapa kali Rob menepuk tanganku pelan-pelan seolah-olah ia takut aku akan pingsan. Aku menggeleng. Aku tidak akan pingsan. Hanya tidak tahan berlama-lama di sini.

Sebagian anggota keluarga menabur bunga. Anggota keluarga yang lain meletakkan bertangkai-tangkai bunga. Mataku semakin pedas. ”Aku harus segera pergi.“

Rob menoleh. ”Apa aku harus menemanimu?“

”Aku tidak mabuk. Aku masih bisa mengendarai mobil dengan waras.“

”Kau masih ingat jalan pulang, kan?“

”Ya,“ jawabku murung.

”Jangan berlaku yang aneh-aneh.“

”Tidak.“ Aku memeriksa kunci mobil di dalam tas. Ada.

”Aku mengkhawatirkanmu.“

”Ya. Hanya butuh sedikit waktu menyepi. Sebentar saja.”

Orang-orang mulai berbubaran. Aku harus segera pergi.

Anak kecil di sebelah menarik-narik tanganku. Aku berjongkok di dekatnya. Ia memelukku.

“Terima kasih,” kataku.

Aku mengendarai mobil seorang diri. Tidak dalam kecepatan tinggi. Pelan-pelan saja. Tidak untuk menikmati pemandangan di tepi jalan atau keadaan ramai yang tidak sampai penuh sesak di Minggu siang, aku memang tidak tahu hendak ke mana.

Aku ingin menangis. Tapi, air mata tertahan semua di tenggorokan. Menggumpal-gumpal sedikit membikin mual. Keringat dingin muncul sebagai titik-titik di bagian atas bibir dan kening. Aku mematikan mesin pendingin.

Aku menepikan mobil di salah satu pinggir taman kota. Suaranya berdecup pelan saat aku keluar dan mengaktifkan kunci otomatis.

Di depan sebuah kedai minuman ringan tanpa perlu melihat papan menu yang menawarkan jenis minuman lain aku langsung saja, ”Kola. Es. Dalam gelas.“

Seorang pelayan dalam seragam dan celemek merah mengangguk.

“Sepuluh gelas.”

Pelayan itu berhenti.

“Lima gelas maksudku.”

Pelayan itu mengangguk. Pesananku siap dalam beberapa menit.

Aku berlalu sambil membawa satu dalam dekapan dan mencangking wadah berisi empat gelas kertas berisi kola di tangan satunya. Terlihat seperti penjual minuman di pertandingan bola. Masa bodoh. Ada satu bangku kosong di taman kota. Bagian sisi baratnya agak terlindung teduh rimbun pepohonan. Aku mengambil duduk di sana.

Gelas kola pertama kuteguk-teguk. Aku mengernyitkan mulut dan dahi. Soda di mulut menimbulkan sensasi geli dan sedikit pahit-pahit manis. Aku tidak begitu terbiasa sebenarnya. Tidak apa-apa. Kuteguk lagi. Sensasi menyengat pahit-pahit manis muncul lagi. Begitu terus. Habis gelas pertama aku bersendawa panjang. Aku melanjutkan gelas kedua. Jelang gelas ketiga, telingaku sedikit berdenging, kepalaku mulai pening. Aku mabuk kola.

”Di sini kosong, kan?“ Sebuah suara laki-laki bertanya.

Aku mengangguk tanpa menoleh. Semua berhak duduk di bangku taman kota, kok. Tidak terasa derak perlahan saat pria itu mengambil tempat di sisi timur.

”Suka sekali kola, ya?“ Suara itu kembali menyapa.

Gelas itu berhenti menggantung di mulut. Lalu kuturunkan. Aku terdiam sebentar sebelum menjawab. ”Tidak.“

”Tapi… lima gelas?“

Aku mengurangi isi gelas dengan tiga kali teguk. Lalu kuturunkan gelas dan kuputar-putar dalam genggaman. ”Kopi sebenarnya.“

”Ahh, kau suka kopi.“

”Tidak.“ Aku berdiam agak lama. ”Suamiku.”

Laki-laki di sebelah ber-”oh“ pelan.

”Dia suka kopi buatanku. Kopi murni. Kopi pahit. Tanpa gula. Atau sedikit gula. Katanya, ia baru bisa memulai hari bila sudah meminum kopi murni racikan tanganku di saat pagi.” Aku berhenti. Mereguk kola sekali lagi. Perutku kembung. Penuh gas. ”Aku jadi suka kopi sedikit-sedikit.“

”Laki-laki yang berbahagia,“ komentarnya sambil tersenyum. Aku seperti mendengar ia tersenyum.

”Bagaimana bisa?“

”Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang suami saat istri tercintanya menyiapkan sarapan. Perhatian kecil itu; saat istri menjerang air, menakar kopi dalam jumlah tepat, kemudian suara kucuran air panas dan aroma kopi. Secangkir yang dihidangkan di atas meja dan senyum yang disunggingkan. Bukan kopinya, bisa diganti dengan susu, atau orak-arik telur, atau sebutir apel, atau apapun yang disajikan, tapi perhatian sebagai wujud cinta dari si istri… yang bisa membuat seorang suami bisa bersemangat memulai hari.”

Aku menelengkan kepala. ”Begitu?”

”Kenapa kau malah memesan kola?“

”Minum kopi saat ini hanya akan membuatku sedih.“

”Begitu?“

Aku bersendawa sekali lagi. Mengaduh pelan; seperti ada sengatan kecil listrik di hidung. Soda. Aku menunggu sengatan itu reda baru berkata, ”Dia—suamiku sudah meninggal.“ Suaraku seperti tercekik. ”Hari ini pemakamannya. Baru saja. Tadi pagi. Maksudku… aku baru saja dari pemakamannya. Lalu ke sini. Menyendiri. Kau tahu… yah… ini sulit.“

”Hmm ….“

”Meninggal karena kecelakaan. Mobilnya ringsek. Padahal dia baru pulang dari kantor… dan…. Ia sempat dibawa ke rumah sakit tapi tidak bisa diselamatkan.“

Sisa sedikit di dasar gelas, aku menenggak habis kola. Kembali bersendawa. Sepertinya ini akan jadi kola terakhir. Aku tidak sanggup lagi. Kepalaku pusing padahal aku masih harus berkendara pulang. Setelah ini aku akan membeli dan meneguk banyak-banyak air mineral. Apa laki-laki di sebelah bersedia menghabiskan jatah kola yang tersisa? Aku ingin bertanya tapi mulutku malah berkata, “Waktu itu hujan. Hari ini dia dimakamkan. Tadi pagi. Maksudku… aku sudah mengatakannya tadi, ya? Maafkan aku.”

“Itu mengapa kau mengenakan pakaian hitam?“ Suaranya terdengar simpatik.

Aku menunduk. Air mataku bergulir. Keluar dari ujung mata, melorot turun sepanjang pipi, menggantung di dagu. Tes.

”Saat malam terlalu letih bagi kami untuk banyak bercerita. Setelah makam malam kami kadang menonton HBO atau saluran lain. Saluran film atau musik yang kami dengarkan dalam volume lirih. Untuk mengobrol agak panjang kami memanfaatkan waktu ’sempit‘ sebelum berangkat bekerja. Ia suka kopi buatanku. Ia juga suka saat remah roti isi jatuh mengotori bagian depan seragam kerjaku. Kami suka menertawakan hal-hal sepele yang kami temui sepanjang hari yang kami obrolkan sembari sarapan. Ia mengantarku terlebih dulu baru kemudian berangkat ke kantornya sendiri. Aku pulang sore hampir selalu tepat waktu. Naik bus. Ia sering lembur. Jadi, aku makan malam sendiri baru kemudian menemaninya saat ia sudah tiba di rumah.“

Aku berhenti. Menarik napas panjang yang sedikit susah karena hidungku bumpat. Suaraku tertahan-tahan. ”Bagaimana bisa aku menjalani hari-hari sendiri setelah ia pergi? Aku harus bercerita pada siapa kemudian!? Tidak ada lagi yang menemaniku sarapan! Makan malam! Menonton televisi! Mendengarkan musik!“

Tidak ada tanggapan.

”Aku kini bahkan sudah merindukan suara mesin elektrik pencukur janggutnya!“ Aku menggosok mata. Menghapus jejak air mata. Menarik napas panjang-panjang, tersendat-sendat. Lalu, mengembuskannya pelan-pelan. Menenangkan diri. Aku menurunkan wadah gelas kola dari pangkuan ke atas bangku. ”Kau mau?“

”Terima kasih. Tapi, aku lebih suka kopi murni.“

Aku menoleh. Ups! Mataku silau. Seluruh paras laki-laki itu terhalang sinar matahari. Aku kembali memalingkan wajah.

“Kukira kau bisa melalui semua ini.“

Apa maksudnya?

”Kesendirian itu. Saat sedih atau kesepian, ingat-ingat saja hal-hal yang membuatmu bahagia. Fisik memang telah terpisah. Tapi, perasaan hangat saat bersama akan selalu ada.“

Hatiku terasa nyeri kembali. Kali ini entah; apakah disebabkan rasa kehilangan, rindu yang amat sangat, atau perkataan laki-laki itu ada benarnya?

”Kau perempuan yang memiliki senyum paling memesona yang suamimu pernah kenal. Meski kadang rapuh, sebenarnya kau cukup tegar.“

”Apa kau kenalan suamiku?“ Aku menoleh dan melindungi pandanganku dengan telapak tangan. Laki-laki itu menunduk membetulkan sepatunya. Tidak tahan lama-lama terkena silau matahari, aku lagi-lagi memalingkan wajah ke arah semula.

”Kurasa aku harus segera pergi. Terima kasih.“ Laki-laki itu berdiri. ”Dia sangat mencintaimu.”

”Dia?“

”Suamimu.“ Laki-laki itu tersenyum. Aku mendengar ia mendengus tersenyum.

”Selamat tinggal.“

”Apa kau kenalan suamiku?“

Tidak dijawab. Aku mendongak dan mengangkat tangan di pelipis demi menghindari silau. Punggung laki-laki berjas itu perlahan menjauh.

”Tepatnya—” Laki-laki itu menoleh. Wajahnya yang agak ternaung teduh kini terlihat jelas.

Ya, Tuhan!

”Aku mencintaimu.” Laki-laki itu tersenyum untuk terakhir kali sebelum berbalik dan berlalu.

Mataku panas. Hidungku bumpat. Tenggorokanku sakit.. Pandanganku kabur. Dari balik genangan air mata aku melihat laki-laki itu seakan berpendar putih.

Dia suamiku.

Aku mengerjap.

Sosok suamiku menghilang.

Aku berhasil kembali ke rumah dalam keadaan baik. Tidak sempoyongan. Tidak berantakan. Ibu dan keluarga yang lain menyambut cemas. Aku bilang aku baik-baik saja. Tidak ada yang percaya. Saat keadaan sudah tenang, aku berdiri mengambil sudut sepi. Membawa selepek makanan ringan yang tidak kusentuh sama sekali. Rob mendekat.

”Aku baik-baik saja. Sungguh.”

Rob tersenyum. ”Ya. Kakakku pernah bilang begitu. Kau akan baik-baik saja karena kau perempuan tegar. Ia mencintaimu.“

”Ya. Ia juga bilang begitu. Persis seperti itu.“

Rob menatap tidak mengerti. Aku tidak ingin menjelaskan. Biarlah kejadian saat bertemu suamiku menjadi kenangan terakhir yang kumiliki sendiri.

Desi Puspitasari : lahir di Madiun, 7 November 1983. Kini menetap di Yogyakarta. Karya-karyanya berupa novel dan cerpen, beberapa telah diangkat ke layar kaca dan film. Cerpen dan cerita bersambungnya telah dimuat di berbagai media.

Polenk Rediasa : lahir 18 Maret 1979 di Tambakan, Buleleng. Ia menempuh pendidikan Pascasarjana Kajian Budaya, Universitas Udayana dan kini menjadi pengajar di Universitas Ganesha Singaraja, Bali. Memperoleh berbagai penghargaan di bidang seni rupa.

sumber : kompas.id, 13 Sep 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme