Skip to content

CERPENDEK.COM

Indeks Sastra Cerpen di Indonesia

Menu
  • Account
  • HOME FULL WIDTH
  • INDEKS MEDIA
  • INDEKS PENGARANG
  • Login
  • Logout
  • Members
  • Password Reset
  • Privacy Policy
  • RANDOM POST
  • Register
  • User
Menu

Cerpen : Hari Itu, Laut Sedang Pasang oleh Rizky Alvian

Posted on Kam, 24 Sep 2020

Bhari duduk di dermaga, lalu mengedar pandangan di cakrawala. Ia iri pada ombak yang mengajak buih-buih untuk bersama bergulung, berkejaran, tanpa meninggalkan satu sama lain

”Ayo, bujang!” Bang Toni menepuk bahu Bhari, membuyarkan lamunannya.

Bang Toni si Batak-Jawa, dengan tampang garang, namun mudah trenyuh. Apalagi ketika Bhari menceritakan bahwa ia dan kedua adiknya sudah dua hari tidak memegang uang. Bahkan denting recehan pun tak terdengar sayup-sayupnya.

Lampu pijar dinyalakan. Bhari menebar jala, dibantu anak buah Bang Toni. Sesekali Bhari memukul-mukul air dengan galah, agar ikan mau mendekat. Setelah dua jam menunggu, jala yang ditebar itu tampak dipenuhi ikan.

Maka setelah tugas itu rampung menjelang dini hari, Bang Toni pasti melebihkan upahnya terkhusus pada Bhari.

***

Bhari bangun agak siang. Itu pun setelah dicipratkan air oleh adik pertamanya, Nyiur.

”Kak, tolong dibaca.”

Setengah sadar, Bhari mengangguk. Nyiur menaruh selembar surat di telapak tangan Bhari. Dengan menarik napas panjang, Bhari membuka lipatan kertas itu. Bhari terbelalak saat membaca lembaran yang diberikan Nyiur.

”Tak bercanda ini? Tiga ratus ribu? Minggu depan?”

”Iya Kak, nanti aku lebih rajin jual bolunya. Itu kan biaya seragam pelantikan paskibra,” ujar Nyiur sambil menyodorkan kelingkingnya.

Bhari hanya menggeleng, lalu menggaruk-garuk kepala.

Dari kamar, Ardi, si bungsu keluar, menghampiri meja makan. Ia melongok,

”Tempe lagi, tahu terus!”

Sambil mengalungkan dasi SD-nya, Ardi bergegas berangkat sekolah, tanpa berpamitan. Membuat Bhari mengepalkan tangannya. Nyiur yang menyadari kakaknya tersulut emosi, bergegas menenangkannya. Gadis itu mengusap lembut, bahu Bhari, sambil menarik senyum tipis. Setidaknya emosi Bhari bisa sedikit turun.

Setelah dua adiknya pergi. Giliran Bhari bergegas ke sekolah, meski masih digelayuti kantuk. Sebagai siswa kejuruan Otomotif tingkat akhir, Bhari dan kawan-kawannya disibukkan dengan praktik. Rupanya, situasi ini membantu Bhari. Terutama jika guru pembimbing tak ada, ia bisa mencuri waktu untuk tidur sebentar.

Di perjalanan pulang, Bhari tak absen melirik gedung berlantai tiga itu. Sekolah pelayaran militer adalah mimpi yang dibunuh nasib.

Jika saja ayahnya tak celaka di pulau seberang; jika saja ibu tak minggat; jika saja adik bungsunya tak membuat naik darah setiap saat, dan berbagai pengandaian lainnya.

Beberapa meter sebelum sampai rumah, wanita setengah baya, berbadan tambun, dengan rambut sebahu mencegatnya. ”Anak sundal! Bilang adikmu kalau main bola jangan di halaman saya. Tak mau tahu, kamu harus ganti kaca jendela saya yang pecah!”

Kepalan tangan Bhari semakin kuat. Satu sisi ia marah pada adiknya, tapi di depannya, ada ibu-ibu dengan mulut yang membuat Bhari ingin cepat-cepat menjahitnya.

~~

Nyiur memerosotkan tubuhnya di teras rumah, untuk melepas penat. Gadis itu dapat tersenyum lega. Ia mengantongi seratus ribu lebih, setelah menjajakan bolu dari sekolah hingga ke tetangga-tetangga.

Dari jauh, wanita tinggi semampai berjalan ke arah Nyiur. Setelah semakin dekat, barulah wanita paruh baya itu memanggil.

”Yur, anakku!”

Wanita paruh baya menubruk Nyiur. Gadis itu baru ingat yang memeluknya adalah sang Ibu. Tak terasa ada sesuatu yang membasahi pipi Nyiur. Ia bergegas menyeka air matanya, menyuruh wanita paruh baya itu masuk.

”Jualanmu laris, Nak?”

Nyiur mengangguk antusias. Ia menawari makan ibunya, namun wanita paruh baya itu hanya ingin teh manis.

Ketika Nyiur sedang membuatkan teh manis, di ambang pintu bocah lelaki, dengan seragam lusuh berkeringat, dan sepatu yang dijinjing, menatap heran pada wanita yang duduk di rumahnya.

”Ardi!” seru wanita itu.

Bocah lelaki itu terdiam seraya mengingat-ingat. Kemudian ia berseru, ”Ibu!”

Keduanya berpelukan erat.

”Bagaimana sekolahmu, jagoan?”

”Lancar! Oh ya, Bu. Boleh minta jajan?” Tatapan Ardi memelas. Membuat wanita itu tak tega menolaknya. Ia memberikan dua lembar sepuluh ribuan. Ardi ke kamarnya untuk berganti baju. Sedang Nyiur juga menghidangkan teh lalu pamit sebentar untuk ganti seragam putih birunya.

Ketika Ardi hendak keluar, di ambang pintu sudah ada Bhari yang menghadang.

”Mau merusuh di mana lagi?”

”Tidak sengaja, Kak. Lagian kenapa bangun rumahnya di pinggir lapangan,” kilah Ardi.

Bhari yang emosinya sudah di ubun-ubun mencengkeram leher adiknya. ”Kalau kamu tidak tanggung jawab. Aku panggil polisi!”

”Hei, sudah! Bhari.”

Bhari melepas cengkeraman di leher adiknya. Ia melihat dari atas sampai bawah wanita paruh baya itu. Setelah sudah ingat, ia malah membuang muka lalu membanting pintu kamar.

Nyiur yang keluar dari kamar menanyakan ada keributan apa? Perempuan itu bercerita banyak pada Nyiur. Kemudian melintas Bhari tergesa-gesa. Perempuan itu menghampiri Bhari, seraya memberikan sebuah amplop coklat. Buru-buru Bhari menepisnya.

”Ke mana waktu Bapak sakit? Sibuk jual diri? Simpan uangmu. Kami masih bisa cari sendiri, daripada menerima uang yang tak tentu asalnya. Harus setebal apalagi muka kami mendengar ledekan keluarga pelacur. Dari Bapak ada, sampai meninggal.”

Perempuan itu menunduk. Ada sesuatu yang menancap di hatinya. Hasil melaut ayahnya di pulau seberang memang belum cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, ditambah sewa rumah, dan keperluan sekolah. Air mata perempuan paruh baya itu hampir saja jatuh, namun bergegas ia membendungnya dengan punggung tangan.

Perempuan itu kembali duduk di samping Nyiur.

”Yur, boleh Ibu tinggal sebentar?”

”Memang Ibu mau ke kota lagi? Apa benar Ibu…” bibir Nyiur tertahan sambil menatap perempuan itu dalam-dalam.

Perempuan paruh baya itu paham kalimat yang tercekat dari mulut anaknya.

”Jangan percaya kata orang. Ibu di sana jadi barista.” Perempuan itu menjawab dengan senyum teduh.

~~

Semenjak ada Ibu di rumah, Bhari enggan untuk pulang. Ia lebih suka duduk di dermaga, sambil menunggu waktunya menangkap ikan bersama anak buah Bang Toni hingga menjelang dini hari.

”Dua bulan lagi ada lomba hias perahu pesta laut Nadran,” kata seorang anak buah Bang Toni.

”Ada hadiahnya, Bang?”

Anak buah Bang Toni mengangguk. ”500 juta, juara pertama.”

Tiba-tiba Bhari terpikir sesuatu. Ia akhirnya terpaksa pulang, menuju belakang rumah, membuka pintu gudang, menyibak terpal biru yang menutupi sesuatu. Setelah dibuka, sebuah perahu sepanjang enam meter, yang ditutupi debu, masih tampak anggun dan kokoh. Dua tahun lalu perahu sederhana itu masuk tiga besar di lomba hias pesta laut Nadran. Satu tingkat di bawah perahu milik Bang Toni, yang dikerjakan delapan anak buahnya.

Bhari menyisihkan upah dari Bang Toni untuk membeli hiasan perahu. Ia juga mengundang beberapa teman sekolahnya untuk membantu. Bagian depan, Bhari membuat patung putri duyung dengan taring dan rambut tergerai, didampingi sepasang lumba-lumba. Kemudian di belakang, ia juga membuat patung hiu raksasa sedang menyeringai. Sebenarnya, tinggal menambah sedikit pencahayaan, agar tampak lebih gagah.

~~

Ketika ibunya menghampiri ke tempat menghias perahu yang ada di kebun, Bhari malah tenggelam dengan kesibukannya. Ia tampak enggan mengucap sepatah kata pun.

Walaupun pesta laut baru dimulai lusa, kemeriahan sudah lebih dulu tiba, dengan adanya pasar malam di lapangan dekat pantai. Ardi, si bungsu, adalah yang paling semangat jika ada keramaian, ia bahkan menarik-narik kakaknya untuk segera jajan di pasar malam itu.

Sementara Bhari lebih suka mengagumi perahu yang ia selesaikan, daripada kemeriahan di lapangan balai desa. Tak lama, teman-teman Bhari mengajaknya ke pasar malam. Awalnya, pemuda berambut belah tengah itu menolak. Tapi, dipikir-pikir, tak salah menyegarkan diri sejenak. Akhirnya mereka berangkat meninggalkan perahu yang telah rampung.

Tanpa sepengetahuan Nyiur, Ardi diam-diam mengambil uang lima puluh ribuan untuk membeli kembang api. Menjelang tengah malam, Ardi dan teman kelasnya berkerumun di kebun. Namun, sebelum dinyalakan ada perdebatan hendak dipegang apa ditaruh saja kembang apinya. Namun menurut Ardi, lebih baik ditaruh saja, lalu diimpit beberapa batu bata.

Telepon Bang Toni berdering, air muka pria paruh baya itu seketika berubah. ”Kebakaran?! Di kebun?!” Bang Toni dan anak buah meninggalkan sebentar jaringnya, kembali ke dermaga.

Penduduk bahu-membahu memadamkan api. Bhari tersentak, seperti diberondong peluru, dan semuanya tepat sasaran. Menyakitkan! Begitu melihat perahu warisan yang dihias dengan dana pribadinya gosong seketika. Ia histeris dengan mata merah padam. Bahkan semalaman Bhari masih sesenggukan, hingga paginya ia bangun dengan kantong mata tebal menggelayut.

Baca juga : Buih

~~

Hari itu laut sedang pasang. Bhari membanting pintu. Ardi yang sedang berbaring di ruang tamu diseretnya ke tembok.

”Karena ulahmu bikin hasil kerja keras berhari-hari, ludes seketika!” gertak Bhari dengan napas menggebu-gebu.

Baru saja Ardi membuka mulut untuk menjelaskan. Namun tamparan lebih dulu mendarat di wajahnya. Lalu, dengan emosi yang meletup kencang, Bhari melayangkan tinju mentah ke ulu hati Ardi. Bocah sepuluh tahun itu terkapar dengan mulut keluar darah.

Nyiur yang baru pulang terkejut mengetahui adiknya terbujur kaku. Sementara Bhari tak sadar apa yang dilakukannya melebihi batas.

”Kakak kesetanan?!”

Ada tarikan napas panjang dari Ardi, lalu ia terpejam.

Tak ada denyut, ketika Nyiur memegang leher adik bungsunya.

”Pergi! Tak ada rumah yang sudi ditinggali pembunuh.” Nyiur mendorong Bhari kuat-kuat.

”Yur, aku benar-benar minta maaf. Tadi sedang kalap dan… khilaf.” Bhari membujuk Nyiur sembari menyodorkan kelingkingnya. Namun semuanya terlambat, tingkah lakunya dibutakan oleh kemarahan yang menjerat dalam, hingga yang tersisa penyesalan.

Bhari kini ada dalam persimpangan. Menyerahkan diri, atau berpura-pura tidak pernah dilahirkan sebelumnya.

Cirebon, 2019-2020

***

Rizky Alvian : lahir di Cirebon, November 1998. Cerpen pertamanya dimuat di detik.com pada Juni 2019. Paruh waktu sebagai pengarang.

sumber : kompas.id, 24 Sep 2020.

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

MEDIA

  • BHIRAWA (1)
  • FEMINA (1)
  • HALUAN (9)
  • HARIAN FAJAR (2)
  • HORISON (2)
  • JAWA POS (216)
  • KALTIM POST (35)
  • KEDAULATAN RAKYAT (23)
  • KOMPAS CETAK (698)
  • KOMPAS ONLINE (867)
  • KORAN MERAPI (2)
  • KORAN SOLOPOS ONLINE (59)
  • KORAN TEMPO ONLINE (228)
  • MAJALAH PANJI BALAI (1)
  • MAJALAH SASTRA PUSAT (1)
  • MEDIA INDONESIA (89)
  • NOVA (7)
  • PADANG EKSPRES (2)
  • PIKIRAN RAKYAT (13)
  • PONTIANAK POST (6)
  • RADAR BANYUWANGI (7)
  • RADAR BOJONEGORO (5)
  • RADAR BROMO (1)
  • RADAR JEMBER (1)
  • RADAR JOMBANG (1)
  • RADAR KEDIRI (2)
  • RADAR MADIUN (1)
  • RADAR MOJOKERTO (6)
  • RAKYAT SULTRA (1)
  • REPUBLIKA CETAK (12)
  • REPUBLIKA ONLINE (24)
  • SINGGALANG (6)
  • SUARA MERDEKA (75)
  • SUARA NTB (1)
  • SUARA SARAWAK (1)
  • THE JAKARTA POST (22)
  • UTUSAN BORNEO (1)
  • WASPADA (7)

ARSIP

  • Januari 2026 (1)
  • Desember 2025 (1)
  • Oktober 2025 (4)
  • Agustus 2025 (6)
  • Juli 2025 (8)
  • Juni 2025 (15)
  • Mei 2025 (32)
  • April 2025 (25)
  • Maret 2025 (26)
  • Februari 2025 (32)
  • Januari 2025 (28)
  • Desember 2024 (25)
  • November 2024 (23)
  • Oktober 2024 (29)
  • September 2024 (31)
  • Agustus 2024 (32)
  • Juli 2024 (43)
  • Juni 2024 (41)
  • Mei 2024 (37)
  • April 2024 (26)
  • Maret 2024 (40)
  • Februari 2024 (31)
  • Januari 2024 (33)
  • Desember 2023 (34)
  • November 2023 (29)
  • Oktober 2023 (29)
  • September 2023 (34)
  • Agustus 2023 (34)
  • Juli 2023 (37)
  • Juni 2023 (40)
  • Mei 2023 (29)
  • April 2023 (29)
  • Maret 2023 (36)
  • Februari 2023 (41)
  • Januari 2023 (46)
  • Desember 2022 (44)
  • November 2022 (40)
  • Oktober 2022 (38)
  • September 2022 (19)
  • Agustus 2022 (18)
  • Juli 2022 (20)
  • Juni 2022 (19)
  • Mei 2022 (19)
  • April 2022 (19)
  • Maret 2022 (19)
  • Februari 2022 (18)
  • Januari 2022 (21)
  • Desember 2021 (16)
  • November 2021 (18)
  • Oktober 2021 (23)
  • September 2021 (19)
  • Agustus 2021 (21)
  • Juli 2021 (19)
  • Juni 2021 (17)
  • Mei 2021 (19)
  • April 2021 (14)
  • Maret 2021 (10)
  • Februari 2021 (13)
  • Januari 2021 (16)
  • Desember 2020 (13)
  • November 2020 (13)
  • Oktober 2020 (13)
  • September 2020 (13)
  • Agustus 2020 (14)
  • Juli 2020 (14)
  • Juni 2020 (11)
  • Mei 2020 (13)
  • April 2020 (13)
  • Maret 2020 (11)
  • Februari 2020 (12)
  • Januari 2020 (11)
  • Desember 2019 (13)
  • November 2019 (12)
  • Oktober 2019 (11)
  • September 2019 (11)
  • Agustus 2019 (13)
  • Juli 2019 (12)
  • Juni 2019 (19)
  • Mei 2019 (3)
  • April 2019 (4)
  • Maret 2019 (6)
  • Februari 2019 (5)
  • Januari 2019 (7)
  • Desember 2018 (8)
  • November 2018 (4)
  • Oktober 2018 (3)
  • September 2018 (5)
  • Agustus 2018 (7)
  • Juli 2018 (8)
  • Juni 2018 (4)
  • Mei 2018 (5)
  • April 2018 (6)
  • Maret 2018 (5)
  • Februari 2018 (4)
  • Januari 2018 (4)
  • Desember 2017 (5)
  • November 2017 (6)
  • Oktober 2017 (5)
  • September 2017 (4)
  • Agustus 2017 (4)
  • Juli 2017 (5)
  • Juni 2017 (4)
  • Mei 2017 (2)
  • April 2017 (5)
  • Maret 2017 (2)
  • Februari 2017 (2)
  • Oktober 2016 (1)
  • Mei 2016 (1)
  • Agustus 2015 (2)
  • April 2015 (4)
  • Maret 2015 (5)
  • Februari 2015 (4)
  • Januari 2015 (3)
  • Desember 2014 (2)
  • November 2014 (5)
  • Oktober 2014 (3)
  • September 2014 (4)
  • Agustus 2014 (4)
  • Juli 2014 (3)
  • Juni 2014 (5)
  • Mei 2014 (3)
  • April 2014 (4)
  • Maret 2014 (5)
  • Februari 2014 (7)
  • Januari 2014 (3)
  • Desember 2013 (5)
  • November 2013 (4)
  • Oktober 2013 (4)
  • September 2013 (5)
  • Agustus 2013 (3)
  • Juli 2013 (4)
  • Juni 2013 (5)
  • Januari 2013 (4)
  • Agustus 2012 (2)
  • Juli 2012 (5)
  • Juni 2012 (3)
  • Mei 2012 (3)
  • April 2012 (5)
  • Maret 2012 (4)
  • Februari 2012 (3)
  • Januari 2012 (4)
  • Desember 2011 (3)
  • November 2011 (2)
  • Oktober 2011 (5)
  • September 2011 (4)
  • Agustus 2011 (4)
  • Juli 2011 (5)
  • Juni 2011 (4)
  • Mei 2011 (5)
  • April 2011 (4)
  • Maret 2011 (4)
  • Februari 2011 (4)
  • Januari 2011 (5)
  • Desember 2010 (5)
  • November 2010 (4)
  • Oktober 2010 (5)
  • September 2010 (3)
  • Agustus 2010 (4)
  • Juli 2010 (5)
  • Juni 2010 (4)
  • Mei 2010 (4)
  • April 2010 (4)
  • Maret 2010 (4)
  • Februari 2010 (3)
  • Januari 2010 (4)
  • Desember 2009 (4)
  • November 2009 (5)
  • Oktober 2009 (4)
  • September 2009 (3)
  • Agustus 2009 (5)
  • Juli 2009 (4)
  • Juni 2009 (4)
  • Mei 2009 (5)
  • April 2009 (4)
  • Maret 2009 (5)
  • Februari 2009 (4)
  • Januari 2009 (4)
  • Desember 2008 (4)
  • November 2008 (5)
  • Oktober 2008 (4)
  • September 2008 (4)
  • Agustus 2008 (4)
  • Juli 2008 (3)
  • Juni 2008 (5)
  • Mei 2008 (4)
  • April 2008 (4)
  • Maret 2008 (6)
  • Februari 2008 (4)
  • Januari 2008 (3)
  • Desember 2007 (5)
  • November 2007 (4)
  • Oktober 2007 (3)
  • September 2007 (5)
  • Agustus 2007 (4)
  • Juli 2007 (5)
  • Juni 2007 (4)
  • Mei 2007 (4)
  • April 2007 (5)
  • Maret 2007 (4)
  • Februari 2007 (3)
  • Januari 2007 (4)
  • Desember 2006 (3)
  • November 2006 (4)
  • Oktober 2006 (5)
  • September 2006 (4)
  • Agustus 2006 (4)
  • Juli 2006 (5)
  • Juni 2006 (4)
  • Mei 2006 (4)
  • April 2006 (5)
  • Maret 2006 (5)
  • Februari 2006 (4)
  • Januari 2006 (3)
  • Desember 2005 (3)
  • November 2005 (4)
  • Oktober 2005 (5)
  • September 2005 (3)
  • Agustus 2005 (4)
  • Juli 2005 (4)
  • Juni 2005 (4)
  • Mei 2005 (4)
  • April 2005 (4)
  • Maret 2005 (3)
  • Februari 2005 (5)
  • Januari 2005 (5)
  • Desember 2004 (4)
  • November 2004 (3)
  • Oktober 2004 (8)
  • September 2004 (2)
  • Agustus 2004 (5)
  • Juli 2004 (4)
  • Juni 2004 (4)
  • Mei 2004 (5)
  • April 2004 (4)
  • Maret 2004 (4)
  • Februari 2004 (4)
  • Januari 2004 (4)
  • Desember 2003 (4)
  • November 2003 (5)
  • Oktober 2003 (4)
  • September 2003 (3)
  • Agustus 2003 (5)
  • Juli 2003 (4)
  • Juni 2003 (5)
  • Mei 2003 (4)
  • April 2003 (3)
  • Januari 2001 (1)
  • Januari 2000 (1)
  • Desember 1998 (1)
  • Juli 1998 (1)
  • Mei 1998 (2)
  • April 1997 (1)
  • Mei 1993 (1)
  • Juli 1966 (1)
©2026 CERPENDEK.COM | Design: Newspaperly WordPress Theme